
Arland semakin menatap lekat Glesty. Sedetikpun pria itu tidak mau mengedipkan matanya dari wanita itu, menunggu jawaban.
"Ap.. apa,, mak..sudmu..?" Glesty berusaha menormalkan mimik wajahnya.
Arland menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk senyum seringai kecil.
"Mak..sudku? Kau bertanya apa maksudku? Apa aku harus mengulanginya? Jawab saja IYA jika itu benar, Glesty.!"
"Kenapa kau terdengar sangat percaya diri, Arland?" Glesty memberi sinyal perlawanan dengan cara membesarkan matanya.
"Aku memintamu menjawab Glesty, bukan balik bertanya padaku!"
"Jangan asal Arland, dia bukan anakmu. Dia anakku! Puas?" Tegas Glesty
"Lalu bagaimana mungkin kau, dengan lelaki lain memiliki anak yang sangat mirip denganku! Hmm? Bahkan setiap orang asing mengira aku dan dia adalah ayah dan anak. Kau masih mau bilang dia bukan berasal dariku?"
"Jika aku mengatakan bukan, ya bukan Arland." Dengan nada sedikit menekan.
"Bilang saja iya, kalau itu benar Glesty! Tidak perlu menyangkal. Anak itu bahkan memiliki gol....." Arland hampir saja keceplosan mengatakan tentang golongan darah, untung saja Glesty menyambar dan memotong kalimat Arland.
"Selama mengandung dia, aku banyak menghabiskan waktuku untuk membencimu Arland. Yang aku dengar, jika kita membenci seseorang saat mengandung, ketika anak itu lahir dia akan mirip dengan orang tersebut."
"Cih, kau pikir aku percaya dengan hal konyol itu? Lalu aku ingin tahu Glesty, bagaimana perasaanmu saat melihat bahwa anak yang kau lahirkan ternyata memiliki wajah yang mirip denganku, orang yang katanya kau sangat benci?!" Arland mulai geram karena Glesty terus saja berkilah.
Glesty diam seribu bahasa. "Bagaimana dia terdengar begitu percayadiri? Apa dia sudah tau kalau dirinya adalah ayah mereka? Tapi siapa yang lancang memberitahunya? Leon? Lea?" Glesty mengingat kembali yang dikatakan Lea melalui pesan texsnya. "Apa jangan-jangan Lea?"
"Apa yang kau pikirkan? Otakmu tidak bisa berfikir sekarang Glesty?" Arland kembali mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu. Glesty dengan Reflek memundurkan kakinya, namun sialnya ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh. Mungkin pengaruh gugup berhadapan lama-lama dengan Arland.
Beruntung Arland dengan sigap menangkapnya. Jika tidak, Glesty sudah tergeletak dilantai. Sakitnya mungkin tidak seberapa tapi malunya itu yang lama.
Jadilah mereka kini saling memeluk.
.
.
Lean menggeliat dalam tidurnya. Ia terbangun karena merasa kedinginan, dan mencari keberadaan Arland yang tadi memberi pelukan hangat untuknya saat tidur. Lean melongo melihat dua orang dewasa yang berdiri jauh darinya dan tidak menyadari bahwa Lean melihat mereka saling berpelukan.
"Mamaaa... Pamaaan.."
Suara imut Lean memanggil menghentikan acara berpelukan tak sengaja itu.
"Lean! Kenapa bangun sayang? "Arland menghampiri Lean.
"Lean?" Glesty berlari kearah anaknya. "Apa tadi Lean memanggil mama?" Tanya Glesty.
Lean mengangguk.
Glesty menyentuh telapak tangannya pada kedua belah pipi putrinya itu. "Panggil mama lagi. Mama ingin dengar.."
__ADS_1
"Mama"
"Lagi sayang"
"Mamaaa" Lean tersenyum.
"Sekali lagi sayang"
"Mamaa"
"Trima kasih, terima kasih, Trima kasih sayang.." Glesty mendekap tubuh putrinya itu. Kini air mata sudah tidak bisa dibendung lagi Glesty menangis bahagia.
"Terima kasih Tuhan, engkau telah mendengar do'a dan permohonanku" Ucap Glesty bersyukur dalam tangis harunya.
Arland tampak tersenyum kecil melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Glesty.
"Dia sampai lupa keberadaanku disini." Batin Arland. ia pun membalikkan tubuhnya melangkah pergi dan ingin memberi waktu kepada Glesty dan Lean untuk menikmati kebahagiaan baru ini.
"Arland" Glesty tiba-tiba memanggil Arland. Membuat Arland memghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap sumber suara. Arland hanya mengangkat satu alisnya seolah mengisyaratkan kata "apa?"
Glesty tersenyum. Untuk pertama kalinya senyuman tulus yang wanita itu tunjukkan pada Arland setelah lebih dari tujuh tahun tidak pernah Arland lihat.
"Anakku ini sudah bisa bicara Arland." Ucap Glesty dengan nada bergetar namun bibir itu tetap tersenyum.
"Iya... Aku bisa mendengarnya." Jawab Arland singkat. "Iya, tersenyumlah terus seperti itu padaku Gles! Batin Arland.
Ponsel Arland berbunyi. Ia pun berlalu keluar ruangan itu untuk menjawabnya.
"Bos, saya sudah menyelidikinya ternyata.. mantan istri anda tidak pernah menikah dengan lelaki manapun setelah berpisah dari anda boss."
Arland tersenyum senang mendengarkan berita yang disampaikan oleh orang suruhannya.
"Trus, bagaimana dengan anak-anaknya?"
"Maaf bos, untuk anak-anaknya saya masih cari tahu bos."
"Baik! Cari tahu secepatnya. Jangan membuatku menunggu lama." Tegas Arland datar.
.
Arland melangkah menuju ruang operasi untuk melihat perkembangan Arles.
"Arland! Bagaimana dengan Glesty nak? Apa dia sudah sadar? Tanya mama, begitu Arland muncul dihadapan mereka.
"Iyeaa dia sudah bangun." Jawab Arland datar namun wajahnya tidak bisa menyembunyikan raut bahagia yang terlukis disana.
"Anton! Aku minta tolong, belikan makanan enak untuk Lean dan Glesty."
Anton yang tadinya terpaku dengan raut bahagia bosnya ini, menjawab dengan terbatah-batah. "i..iya pak Arland." Anton menelan ludahnya kasar. "Entahlah, kenapa aku merasa takut melihat ekspresinya itu." Batinnya.
__ADS_1
.
Tidak lama, pintu ruang operasi terbuka lebar nampaklah dokter dan para perawat keluar dari sana, menandakan bahwa Arles sudah ditangani dengan baik.
Arland dan kedua orangtuanya merasa senang karena Arles keluar dari ruang operasi dalam keadaan selamat, meskipun bocah itu belum sadarkan diri.
"Kami sengaja membius total pasien, agar bisa beristirahat lebih lama pak Arland dan tidak merasa sakit saat bangun nanti, seperti yang anda minta." Jelas sang dokter.
"Baiklah, trima kasih atas pekerjaan baik anda pak dokter." ucap Arland.
Kini petuga medis akan memindahkan Arles ke kamar rawat inap. Arland meminta supaya Arles akan dirawat diruang rawat yang ditempati Glesty. Karena menurutnya, Ruangan tersebut adalah yang paling baik dirumah sakit ini.
"Land, apa Kamu sudah memberitahu Glesty tentang keadaan putranya?" tanya papa.
"Belum pa.. aku akan menjelaskannya saat Arles tiba dikamar itu nanti." Jawab Atland.
.
.
Glesty dan Lean menghabiskan banyak waktu untuk berbicara sepuasnya. Mereka seakan baru pertama kali bertemu setelah sekian lama. Ditengah-tengah obrolan mereka, Glesty tiba-tiba mengingat pertanyaan Arland tentang Arles.
"Arlesss? Lean, mama lupa kalau mama punya anak satu lagi. Ayo sayang, kita bersiap."
"Mau kemana ma?" Tanya Lean, polos.
"Kemana lagi, kita harus pulang sayang, Arles pasti masih dikamar karena mama hukum. Kasihan Arles.." Lean melihat jam digital diatas meja menunjukkan pukul 00.05. "Ini sudah tengah malam?"
Dengan langkah tergesa-gesa Glesty menarik tangan putri kecilnya itu. Isi kepalanya kini penuh dengan kekhawatirannya tentang Arles.
Saat Glesty membuka pintu, ia dikejutkan dengan keberadaan Arland yang juga membuka pintu.
"Ar..land..." Nama itu keluar begitu saja dari bibir Glesty.
Arland memperhatikan Glesty dan juga Lean dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Kalian mau kemana?" Tanya Arland dengan wajah datar.
"Emm.. ku dengar dari Lean, kau yang membawaku ke rumah sakit. Te..rima kaaasih Arland. Aku.. aku.. kami berdua akan pulang. Arles menunggu dirumah. Aku sedang menghukumnya." Entah kenapa Glesty menyebutkan tentang menghukum Arles pada Arland. Ia menjelaskannya dengan terbata-bata. Raut wajahnya Glesty seperti orang yang kebingungan.
Air muka Arland seketika berubah mendengar pengakuan Glesty yang sudah menghukum Arles.
"Jadi, kau... telah menghukum anak itu?"
.
.
Ber..sam..bung!
Gaes.. tetap sehat ya..
__ADS_1
Makasih😊