I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Ingin Pindah Sekolah


__ADS_3

**Hai gaes, author balik lagi nih! Part ini lebih panjang gaes, semoga kalian suka ya. hehe.


________________


"Hei.. Nak Arles, kenapa kamu ada disini sayang?" Ucap kepala sekolah yang baru saja membuka pintu ruangannya dan terkejut melihat tiga orang yang dikenalnya berada di depan pintu, yakni nyonya besar sebagai donatur terbesar untuk sekolah ini, Arland yang merupakan putranya, dan satu lagi, Arles yang merupakan kakak dari salah satu murid Sekolah Luar Biasa ini. Sang Kepala sekolah juga menyapa nyona besar juga anaknya yang berada disitu "selamat pagi bu, selamat pagi pak Arland, sambutnya, hormat.


Arland juga mamanya merasa sedikit terkejut, karena ternyata Arles bukan salah satu murid di sekolah ini. Oh tentu saja, bagaimana mungkin Arles tergabung disekolah ini, mengingat sekolah luar biasa ini, dikhususkan untuk anak - anak yang punya keistimewaan khusus.


Arles tak kunjung menjawab, ia hanya menundukkan kepala, dan menggigit bibir atasnya, membuat sang kepala sekolah berinisiatif mempersilahkan ketiganya untuk masuk. "Maaf karena tidak langsung mempersilahkan anda masuk bu, pak," ucapnya sungkan kepada ibu dan anak itu.


Merekapun dipersilahkan duduk, tapi Arles tidak langsung duduk. Lalu ia memberanikan diri berkata "bu guru, saya ingin bersekolah disini saja," ucapnya polos.


"Apa?" Ketiga orag dewasa itu cukup terkejut. "Kenapa?" Timpal Arland. "Karena disini tidak ada teman yang nakal paman" jawabnya takut - takut dan mengecilkan suaranya.


Jawaban Arles membuat keriganya tersenyum, dan menggelengkan kepala. "Astaga kamu ini, itu namanya perbedaan sayang, memang ada teman yang nakal, dan banyak juga yang baik, ucap mama Arland, dan mengelus rambut Arles.


\=\=\=\=\=


Diruangan direktur utama, Devan.


Masih larut dalam rasa yang membuncah diantara keduanya, sentuhan bibir yang semakin saling menuntut, kini mereka dalam posisi duduk pada sofa yang mereka tuju tadi, namun Devan sengaja mendudukan Alin diatas pahanya. Jantung yang berdebar dari keduanya seolah menjadi irama dalam setiap ******* bibir mereka.


"Lea, kau harus mengendalikan diri dan perasaanmu." Kalimat itu tiba - tiba singgah di kepala Lea dan membuatnya sadar. Lea menghentikan aktivitas bibirnya.


"Kenapa sayang? Sudah puas?" Suara serak Devan yang sangat menggoda terdengar lagi, dibarengi dengan senyum seringai dari bibir bawahnya yang sengaja ia gigit pelan.


Lea mengangguk malu "sudah,, cu,,kup."

__ADS_1


Tak tahan dengan tatapan mata Devan yang terus saja menatapnya, Lea menutup wajahnya dengan majalah yang ada di meja sofa tersebut. Ia tersenyum dibalik majalah.


"Hei, jangan bersembunyi.. majalah ini sangat menganggu mataku." Jelas Devan dan menarik pelan majalah sialan itu. Leapun melepasnya, dan kini ia kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lea merasa sangat malu. Bagaimana tidak, untuk oertama kalinya ia mencium bibir seseorang seperti itu.


Devan menggeser tubuhnya kearah Alin, lalu mendekap hangat tubuh gadis itu, dan mengecup puncuk kepalanya. "Terima kasih ya Alinku" ucapnya datar dan tulus.


Mendengar ucapan terima kasih tulus dari Devan, dan sudah tidak terdengar seperti sedang menggodanya, Lea yang masih berada dalam pelukan pria itu, mengangkat pelan wajahnya menghadap Devan "kenapa berterima kasih?"


"Terima kasih karena telah memberikan ciuman pertamamu untukku" Devan tersenyum dan menaikkan sebelah alis matanya.


"iiihh kau ini, kapan aku bilang ini ciuman pertamaku?" Alin melepaskan tubuhnya dari dekapan pria itu. Ia merasa kesal karena sepertinya Devan sedang menggodanya. Dan lagi, sudah seusia ini ternyata dirinya belum pernah berciuman. Ah, payah sekali dirinya.


Dengan gerak cepat Devan menangkap kedua lengan gadis itu, membuat mereka saling berhadapan "kau tidak perlu mengatakan bahwa dirimu pernah atau tidak melakukannya Alin, tapi aku bisa merasakannya." Mendengar itu, Alin memalingkan wajahnya menandakan bahwa ia tidak ingin mendengarkan suara Devan yang sepertinya semakin jadi mengolok - olok dirinya.


"Tapi aku senang. Aku sangat bersyukur menjadi yang pertama untukmu. Mendapatkan wanita yang pandai menjaga diri sepertimu, seharusnya seperti itulah seorang wanita. Ada banyak wanita diluar sana, yang melakukan hal - hal diluar batas, bersama dengan pasangan yang belum tentu menjadi milik mereka. Tapi aku percaya, kau pasti mempercayaiku, itu sebabnya kau jadikan aku yang pertama, iya kan?" Tutur Devan. Ia menurunkan tangannya dari lengan gadis itu dan menggenggam jari jemari Lea, dan mengecupnya.


Deg...


"Ada apa ini? Kenapa malah minta maaf? Batin Devan. Sesungguhnya ia sangat takut mendengar kata maaf dari Lea, ia takut, wanita yang telah mengikat hatinya ini, akan pergi meninggalkannya. Oke, mungkin Devan merasakan ada sedikit keanehan dalam hubungan mereka, tapi ia menepis jauh perasaan itu. Hatinya benar - benar ia mantapkan untuk Alin seorang.


"Alin, kenapa minta maaf sayang?" Kamu tidak perlu menjelaskan perasaanmu ke aku, aku juga bisa merasakan bahwa kita punya perasaan yang sama" ucap Devan Tulus.


Keduanya kembali dalam posisi berpelukan. Tapi kali ini, Alinlah yang lebih dulu memeluknya erat. Dan Devan? Tentu saja ia membalasnya.


\=\=\=\=\=\=


Glesty mendapat kabar dari guru Arles, bahwa putranya itu tidak tiba disekolah. Berulang kali ia menghubungi pihak sekolah Lean, untuk memastikan apakah Lean ada disekolah ataukah membolos sama seperti saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Karena tidak mendapat tanggapan dari pihak sekolah Lean, Glesty terpaksa harus segera kesana. Menurut informasi yang ia dapatkan dari jasa Taxi yang mengantar anaknya, mereka mengaku bahwa Arles juga turun di sekolah yang sama dengan Lean.


Dengan perasaan yang teramat sangat gugup, Glesty setengah berlari kearah kelas Lean. Ia harus memastikan bahwa putrinya sedang belajar dikelas saat ini. Karena jika tidak, ia pasti akan gila bila harus kehilangan anak - anaknya. Glesty sangat takut.


"Hfuh,hfuh, hfuh, dengan nafas tersengal Glesty bersyukur, putrinya sedang berada di ruang kelasnya. "aku harus mencari Arles," gumamnya. Ia melihat sekelilingnya, tidak juga menampakkan Arles. "Semoga anakku ada bermain disekitar sini," batinnya lagi.


Deg...


Langkah cepat Glesty tiba - tiba terhenti.


Entah kenapa rasanya ia harus menoleh ke arah ruang kepala sekolah yang sedikit terbuka.


"Apakah tidak apa - apa jika aku menanyakan keberadaan anakku pada kepala sekolah ini? Ah, nanti beliau akan mempertanyakan orangtua macam apa aku ini, sehingga anakku yang baru kelas 1 SD sudah berani membolos,!"


Glesty mengurungkan niatnya. Saat akan melangkah, Glesty merasa seperti melihat ada seorang anak yang berseragam sekolah seperti yang dikenakan Arles, di dalam ruangan kepala sekolah tersebut.


.


.


.


BERSAMBUNG


Gaes.. trima kasih sudah baca ya, jangan lupa dukungannya juga buat author😁😁


Trima kasih🙏

__ADS_1


__ADS_2