I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Hadiah Untuk Dion (Season 2)


__ADS_3

"Arles.... tunggu!" Arles menghentikan langkahnya karena panggilan dari Nino.


"Tolong ajak masuk adikmu."


"Eh?" Arles mengeryitkan dahi. "Ajak Lean masuk? Ada apa dengan kalian berdua?"


"Begini Arles........"


Nino pun menceritakan tentang semuanya. Berharap Arles bisa membantu untuk memberi pengertian kepada orangtuanya.


"Dalam hubungan, selalu akan ada yang namanya tantangan. Percayalah, itu akan membuat cinta kalian semakin kuat." tutur Arles sebagai tanggapan bijak atas situasi ini.


Nino pun pamit untuk pulang. Arles mengenggam tangan Lean untuk membawanya masuk. Sikap lembut yang sangat tumben ia lakukan terhadap kembarannya ini. Selagi keduanya menapaki kakinya Arles kembali bersuara untuk menguatkan Lean.


"Tenang saja Lean, Papa dan Mama akan segera merestui kalian. Tidak ada yang tak bisa mereka lakukan demi kebahagiaan kita berdua."


Arles menuntun adiknya itu, duduk di kursi taman rumah itu. Ia sangat tahu, adiknya ini butuh seseorang tempatnya bersandar.


"Arless... bagaimana kalau aku dan Nino tidak mendapat restu? Aku tidak mau berpisah dari Nino Arles. Apa yang harus ku lakukan?" Lean menatap Arles yang duduk disebelahnya dengan tatapan yang sangat memperihatinkan.


Arles kini menarik Lean, membawanya kedalam dekapan hangatnya. Iya kembali berusaha meyakinkan Lean.


"Tenanglah Lean. Seperti kataku, Mama dan Papa akan merestui kalian. Percayalah. Aku jamin 100% akan hal itu."


"Iya, aku mempercayaimu Arles.. tapi bantulah aku bicara dengan mama yah.. disini Mama adalah yang paling keukeh. Aku ingin marah pada Mama, tapi aku juga tidak tega."


Keduanya pun memasuki tempat tinggal mereka itu. Kebetulan Glesty dan Arland masih terlihat menonton sebuah acara televisi.


Arles memutuskan untuk bergabung dengan orangtuanya untuk mengobrol, sedang Lean memilih langsung ke kamarnya.


"Ma... Pa.." sapa Arles, lalu duduk.


"Arles, kenapa kamu tidak cerita dari awal tentang Nino itu? Kamu membuat mama terlihat bodoh, merestui kemudian memisahkan mereka." tanpa basa-basi, mama mengatakan maksudnya.


"Ma... lagi pula itu sudah sangat lama. Siapa yang peduli akan masa lalu ma? Sudahlah.. lupakan Ma.. Mamaku ini adalah orang baik. Tidak akan menyimpan dendam. Iya kan Pa?" Arles mencoba membujuk Mama. Glesty hanya diam membisu.


"Arles... sudahlah.. Mama sedang tidak ingin mendengar kamu membelanya." Glesty menyudahi pembahasan dan hanya diangguki oleh Arles.


"Boy, bagaimana persiapan kamu untuk berangkat ke Thailand 3 hari kedepan? Kamu tidak berubah pikiran kan?"


"Iya Pa.. aku bahkan sudah memasukkan surat cutiku di rumah sakit. Aku akan berangkat besok." jelas Arles.


"Besok? Yang benar kamu? Tumben buru-buru?"


"Ah... aku berencana ke Jepang dulu Pa.. untuk menemui adik iparku.. aku ingin memberinya hadiah sebelum berurusan dengan pekerjaan."


"Wah.. kenapa tidak mengajak Calista sekalian untuk bertemu adiknya?"


"Tidak usah Pa.. aku tidak mau nanti dia lelah."


"Oh.. terserahmu saja boy" ucap Arland.


"Arles,,, bagaimana rencana pernikahan kamu?" tanya Glesty tiba-tiba.


Mama Gless adalah orang yang paling tidak sabaran akan kelanjutan hubungan Arles dengan Calista.


"Baik, karena mama membahasnya, jadi... aku berencana melamar dan bertunangan dengan dia begitu pulang minggu depan."


"Bagus sayaang.. Mama dan Tante Dini akan menyiapkan segalanya." seru Glesty bersemangat.


πŸ’πŸ’πŸ’


Tokyo, Jepang.


Arles kini berada di depan sebuah gedung yang merupakan asrama bagi para mahasiswa/mahasiswi dari berbagai negara. Disinilah Dion Alnaro, calon adik iparnya itu.


Arles mengambil ponselnya untuk segera menghubungi Dion.


"Halo kakak ipar.." sapa Dion, bersemangat.


"Dion, ayo bertemu!"


"Hah? Bertemu?" tanya Dion, bingung.

__ADS_1


"Kakak sedang di ruang tunggu asramamu."


"Ah... baiklah-baiklah.. aku segera turun."


Dion pun bersiap dengan instan. Calon kakak iparnya ini benar-benar tidak tahu cara berbasa-basi. Dia bahkan tidak menghubungi Dion sejak kemarin jika ingin mengunjunginya.


5 menit menunggu.


"Kakak..." Dion memanggil Arles, dan disenyumi oleh pria itu.


Sedetik kemudian, Dion merasa bahwa sedang mendapat tatapan dari banyak orang. Ia pun mengedarkan pandangannya. Benar saja. Banyak mata yang sedang menatap kearah dia dan Arles. Tidak. Dion sadar, bukan dia yang menjadi objek perhatian, melainkan calon kakak iparnya ini.



"Astaga.. dasar wanita.. tidak bisa melihat pria keren sedikit saja." batin Dion.


"Hei.. ayo.. tunggu apa lagi!" Arles melangkah dan di ikuti oleh Dion.


Sebuah mobil yang terlihat sangat keren berparkir manis di halaman parkir asrama. Arles dengan santai menaikinya sementara Dion hanya menatap kagum.


"Kak... mobil siapa ini? Kakak tidak salah kan?" tanya Dion, tak percaya.


Arles tersenyum lalu berkata. "Aku adalah seorang dokter Dion. Mataku masih sangat normal. Aku tidak salah lihat. Ayo.. naiklah. Jangan hanya berdiam disitu."


"Ah... baiklah kak." Dion pun menaiki mobil itu dengan senang hati dan ini pertama kalinya Dion menaiki mobil sport.


"Kakak ipar.. mobil siapa ini?" tanya Dion dengan polosnya, masih tidak percaya bahwa dirinya berada di dalam mobil sekeren ini.


"Mobilmu!" jawab Arles, enteng.


"Haah?" Dion memgencangkan suaranya yang hanya disenyumi oleh Arles. "Ku kira kakak ipar akan selalu serius. Ternyata kakak bisa bercanda juga." sahut Dion.


Arles tertawa renyah dan berkata "aku serius Dion. Mobil ini hadiah untukmu."


"Hadiah? hah.. jangan kak. Terima kasih!"


"Kenapa? Tidak suka? Kita bisa ganti dengan yang lain jika kau ingin."


"Tidak perlu. Masyarakat disini terbiasa berjalan kaki. Lagi pula biaya parkir bulanan sangat mahal. Belum lagi bahan bakarnya. Aku bisa tambah melarat jika harus mengeluarkan biaya untuk sebuah mobil."


"Jadi kau melarat?" tanya Arles mengulang perkataan Dion.


"Oh... maksudku adalah, seorang mahasiswa dengan beasiswa penuh sepertiku tidak membutuhkan mobil."


"Hei.. aku mempersiapkan mobil ini untukmu tidak dengan mudah. Prosesnya lumayan lama. Kau tahu sendiri peraturan negara ini. Jadi, jangan menolaknya Dion"


"Kakak ipar, kau berlebihan. Aku tidak bisa menyetir. Jadi aku tidak membutuhkannya."


"Apa? Kau sudah seusia ini tapi belum bisa menyetir?" Heran Arles.


Dion hanya Diam.


"Aku akan memperkerjakan seseorang untuk mengajarimu. Kau tenang saja."


Kini mobil yang membawa keduanya memasuki ruang bawah tanah sebuah gedung yang cukup tinggi.


"Ini lahan parkirmu Dion. Dan sudah di bayar"


"Ha? Maksudnya?"


"Ayo turun, ikuti aku."


Tentu saja Dion hanya bisa menuruti.


Arles nembawa Dion memasuki lift dan menekan tombol 10, yang menandakan tujuan mereka.


tit tit tit tit tit tit, Arles menekan beberapa angka sebagai sandi untuk membuka sebuah pintu yang ada di hadapan mereka.


"Ayo masuk, apartemen ini adalah milikmu."


"Haaah?" 😢


"Tinggallah disini mulai hari ini. Tidak perlu berdesakan di asrama sesak itu."

__ADS_1


"Kakak ipar, maksudmu apa memberiku apartemen? Aku cukup tinggal di asrama itu."


"Memang benar, asrama itu sesak, tapi... aku memang sepantasnya tinggal disana."


"Ini hadiah untukmu Dion. Terima saja."


"Kakak ipar, aku tahu kau adalah seorang dokter yang mungkin saja memiliki pendapatan yang terbilang banyak. Tapi, RSUD itu tidak akan membuatmu mampu memberikan apartemen dan mobil sebagai hadiah. Kakak tidak korupsi dana rumah sakit kan?"


"Hahahahahahah... Dion.... apa yang kau pikirkan? Baiklah.. aku akan menjelaskan padamu, aku memiliki pekerjaan sampingan yang menghasilkan banyak uang. Jadi, tenang saja... Apa katamu? Korupsi? Aku hanya bertempur dengan pisau bedah setiap hari. Bukan mengurus keuangan rumah sakit." πŸ˜„.


Pekerjaan sampingan macam apa yang dia maksud?.. Aku curiga padanya. Jangan bilang dia berencana menyiksa kakakku setelah ini.


Malam harinya.


Saat melihat Arles tengah sibuk dengan beberapa file, Dion mengambil ponselnya untuk menghubungi kakak tercintanya.


Drrruuuut.


"Halo Diooonnn.." sahut Calis dengan nada gembiranya.


Dion pergi menghindar dari Arles agar pembicaraannya tidak di dengar.


"Kak.. apa kakak sehat?"


"Belum.. ini masih jalan menggunakan kursi roda."


"Kak.. apa kakak ipar itu... baik padamu?"


"Hah? Arles maksud kamu?"


"Ya iyalah kak.. memangnya aku punya ipar yang lain selain dia?"


"Hadeh.. dia belum jadi suami kakak. Bagaimana mungkin kamu memanggilnya kakak ipar?"


"Ah... lupakan kak.. aku ingin bertanya.. apa kakak tahu tentang pekerjaannya?"


"Pekerjaan? Dia seorang dokter bedah."


"Bukan. Maksudku, pekerjaan sampingannya."


"Pekerjaan sampingan? Apa itu? Kakak tidak tahu Dion. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan dia?"


"Saat ini dia bersamaku kak."


"Apaaaaa? Kenapa bisa?"


"Kok kakak terkejut? Dia tidak memberitahukan kedatangannya ke negara ini?"


"Ahhh... tunggu Dion, apa yang dia lakukan disana?"


"Aku tidak tahu apa tujuannya kesini, tapi dia memberiku apartemen dan mobil."


"Haaaah? Kau tidak bercanda? Mungkin saja kamu salah dengar Dion."


"Aku serius kak. Kami sedang berada di apartemen sekarang. Aku sudah menolak hadiah gilanya ini tapi dia memaksa. Aku tidak mau dia memberiku kenyamanan ini namun pada akhirnya kalian berdua yang akan hidup melarat nantinya. Dia malah mengatakan bahwa ada pekerjaan sampingannya yang menghasilkan uang banyak."


"Dasar Arles Gila, bisa-bisanya dia menganggap pekerjaan dari papanya hanya sampingan!?πŸ€¦β€β™€οΈ. Calista merutuki Arles dalam hati.


"Kak kenapa diam? Aku khawatir jika ini hanya modus. Kak, jujurlah padaku kalau setelah ini dia semena-mena terhadapmu. Jika dia berani macam-macam terhadap kakak, aku akan membakar semua pemberiannya ini."


"Iya Dion.. begini, tolong katakan padanya, hubungi kakak sekarang juga." Perintah Calis.


"Baiklah kak."


Obrolan pun berakhir.


.


.


.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2