
Waktu istirahat belajar disekolah pun tiba.
"Baiklah anak-anak, kalian boleh keluar kelas selama 15 menit untuk berisrirahat." Seru bu guru.
Arles dan Aurell telah janjian untuk bertemu saat jam istirahat. Aurell mengatakan akan membagikan kue kesukaannya yang ia bawa dari rumah, sebagai bekal saat jam istirahat disekolah.
"Wah.. mungkin kak Aurel telah menungguku," guman Arles.
"Hei Arles, kenapa kemarin kamu tidak masuk sekolah ? tanya salah satu teman nakal yang ada dikelas tersebut.
"Apa kamu membolos Arles?"
"Mungkin Arles pergi mencari ayahnya teman - teman!"
"Hahahahahaha." Suara teman - teman nakal menertawai dan merendahkan Arles.
Kata-kata yang sangat mengganggu ditelinga Arles dari mulut anak-anak pengganggu itu menghentikan langkah Arles yang ingin keluar dari kelas.
Arles memandang sekelilingnya. Tampak sekali tatapan menjengkelkan dari wajah teman - teman nakalnya.
Memang tidak semua teman seberani mereka. Hanya lima orang teman saja yang selalu mengganggu Arles.
"Iya, dan aku sudah bertemu dengan papaku." Ucap Arles. Tentu saja orang yang ia maksud adalah paman Arland. Karena Arland kemarin berjanji akan membelanya sebagai papa. "Tapi, bagaimana jika paman tidak akan pernah muncul di sekolah?" batin Arles.
"Oh ya? Trus dimana papa mu?" Aku tidak percaya kamu sudah punya papa, atau jangan - jangan papa baru? Arles, apa kamu punya banyak papa?" Ucap mereka bergantian.
Aneh, perkataan dan tingkah mereka seperti orang dewasa. Masih kecil tapi seakan sudah mengerti bagaimana seharusnya sebuah hubungan keluarga. Biasanya, anak - anak yang seperti ini sering mendengar orang lain ataupun orangtuanya sendiri membicarakan kurangan atau keburukan orang lain.
Arles hanya bisa menarik dan membuang napasnya kasar, merasa jengkel mendengarkan perkataan teman - temannya.
"Awas saja. Sekali lagi aku akan membalas kalian." Batinnya kesal. Ia lalu melangkah pergi bertemu dengan Aurel, teman barunya.
__ADS_1
Hah, mereka, anak-anak itu belum tahu saja bagaimana sikap pemberani Arles. Tunggu saja Arles, mereka juga akan tahu nanti (Author).🤭
\=\=\=\=\=
Ditempat lain.
Ponsel Glesty berdering. Ia tersenyum melihat siapa yang menelfonnya.
"Hallo Leon! Bagaimana kabarmu? Apa kau makan dengan benar? Apa kau sehat?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Glesty kepada adiknya.
"Satu - satu kak." Bukannya menjawa, Leon malah ajukan protes, seraya tersenyum usil dari seberang sana.
"Itu karena kau tidak pernah menjawab telpon kakak. Mentang - mentang menjadi seorang manager? Bossmu memberimu banyak sekali pekerjaan? Apa kakak perlu mendatanginya dan memberinya pelajaran karena menyusahkanmu?" Canda Glesty diiringi dengan suara tawanya yang sangat Leon rindukan.
"Heh, memangnya boss yang mana yang kak Glesty maksud? Jika aku berutahu bahwa boss besarku adalah lelaki itu, memangnya kakak pikir sanggup membiarkanku bekerja disini? Kau bisa mati muda jika mengetahuinya kak,! Seru Leon dalam hati.
"Leoooon, kenapa hanya diam?" Glesty bingung karena tidak mendengar respon adiknya.
Aku sangat sehat kak. Aku makan dengan benar setiap hari. Berat badanku malah semakin bertambah dan berhasil membuat pesonaku menurun." Sambungnya lagi. Ia dapat mendengarkan tawa kakaknya itu dari seberang sana.
"Jadi ada apa Yon?" Tanya Glesty serius.
"Emmmm.. Aku hanya ingin mendengarkan suara kakak." Jawabnya datar.
"Apa kau yakin? Feeling kakak bilang, ada yang ingin kamu katakan. Ayo.. bilang saja Yon. Jangan ditahan. Kakak akan mendengar." Jelas Glesty.
"Oh kakak, maaf, aku lupa harus mengerjakan sesuatu. nanti aku menghubungi kakak lagi yah." Ucap Leon dan diikuti dengan suara tuuut tuuut tuuut, menandakan bahwa panggilan telah berakhir.
"Dasar, bocah ini!" Gumam Glesty.
Sedangkan ditempatnya, Leon tengah bersandar di kursi kerjanya. "Kak, Lea tidak bisa diajak kerjasama. Padahal aku hanya ingin dia membantuku untuk beri pelajaran pada orang itu dan keluarganya." Batin Leon lemas.
__ADS_1
Sebenarnya maksud Leon menelpon Glesty barusan adalah untuk meminta izin pada kakaknya untuk membalas Arland. Leon sadar, kekuatannya sangat kecil dibandingkan Arland. Ia berpikir, sekaranglah saatnya memberi pelajaran pada orang itu, mumpung Arland belum mengenalinya maupun Lea.
Ia ingin meminta Glesty menjadi sekutunya karena Lea dengan tegas telah menolak mengikuti rencananya. Leon merasa geram memikirkan Arland yang kini terlihat baik - baik saja tanpa tekanan apapun.
"Aaah, apa yang aku pikirkan? Kenapa aku ingin melibatkan kak Glesty? Menyebut dan mendengar namanya saja kak Glesty tidak mau, apa lagi memikirkan untuk membalas orang itu? Kakak bahkan belum tau jika orang itu sudah bangun. Aku pasti sudah gila!" Leon merutuki dirinya sendiri panjang lebar.
\=\=\=\=\=\=\=
Terlihat seorang wanita dipinggir jalan dan wanita itu ialah Glesty. Glesty dalam perjalanan dari tokonya menuju ke tempat Agen yang bekerjasama dengannya. Glesty membawa beberapa pasang sepatu yang hendak ia retur sebelum waktu returnya terlambat.
Sebenarnya Glesty punya karyawan yang bertugas mengantarkan barang returnya, namun hari ada banyak sekali barang baru yang masuk jadi kali ini Glesty mengambil alih mengurusnya. Lagipula hanya ada 4 pasang sepatu saja.
"Aduuuh, ada apa dengan motorku?" Glesty menggerutu tidak tahu harus berbuat apa. Ditengah kebingungannya, tiba - tiba sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti disampingnya.
Tentu saja Glesty sedikit gugup dan takut. Ia langsung curiga. Sebab tidak sedikit orang yang selalu berbuat jahat pada wanita dijalanan apabila ada kesempatan.
Tapi orang itu tidak juga keluar. Glesty merasa penasaran, namun bertambah curigaa. "Apa jangan - jangan dia lagi?" Ingatan Glesty langsung kepada orang itu. Ia pun merasa semakin takut.
Keluarlah seseorang itu dari mobilnya dan menghampiri Glesty dengan tatapan yang tak bisa dibaca.
.
.
.
Bersambung...
Gaes,, maaf, Author belakangan ini updatenya kesiangan. Hehehe.
Salam sehat.
__ADS_1
Like jika suka yah Gaes. Trima kasih😁