I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Supir Panggilan (Season 2)


__ADS_3

Seperti biasa, Calista mengisi waktu senggang di tempat kerjanya itu dengan sedikit mengubah tata letak tas baranded yang terpajang di rak dan etalase toko tersebut.


drrrrt drrrrrt drrrrt.


Calista tersenyum melihat nama pemanggil pada ponselnya.


"Halo.." jawab Calis.


"Halo Nara, aku mau ngabarin kamu. Besok sore kita ketemu di Cafe biasa. Aku sama mama tunggu kamu ya.."


"Oh ya? Lalu dimana sekarang? Bagaimana liburan 2 harinya? apa seru?"


"Hmmm. Lumayan. Hehe. Nara, tolong jangan lupa datang yah besok sore, aku sekalian pengen kenalin kamu ke seseorang."


"Hmmm.. baiklah." Jawab Calist.


"Kalo gitu dah ya.. awas ya lupa, aku ada belikan kamu ole-ole tau. hehe."


"Hmmm.. baiklah boss!"


tuuut tut tut.


\=\=\=\=//


"Eh.. Nara... kamu tau ga? Tadi malem anaknya bu boss datang ke toko. Naraaa.. sumpah.. ternyata anaknya bu bos ganteeeeeng banget." Ucap Lena, teman kerja Nara.


"Oh ya? Mata kamu bermasalah kali Len." Goda Calis.


"Ih.. bener-benar yah ni bocah.. aku lahir lebih dulu dari kamu. Jadi aku sudah banyak ketemu cowok dari barbagai rupa."


"Asik dong Len, bisa cuci mata. hehehe."


"Iya.. makanya kamu, sekali-sekali kerja shift malam dong. Kamu ga bosen kerja dari pagi sampai sore terus gak ganti-ganti suasana?"


"Hmmm kamunya aja yg ga tahu Len, aku bekerja di semua shift ditempat yang berbeda😆." Batin.


"Eh... ngelamun lagi ni bocah."


"Ah... oh.. itu.. hidup aku memang monoton sih, memang kurang seru. Hehehe."


"Kamu tu kenapa? Aku perhatikan, kamu tu terkadang seperti menyimpan sesuatu dibalik senyum kamu."


"Hah? aku?" Calis menunjuk wajahnya sendiri dan memasang ekspresi pura-pura polos.


"Ya iyalah kamu.. siapa lagi?"


"Cieeeeee.. akak Lena para normal ya... kok tau sih?" Calista Nara malah menggoda Lena dengan tingkah lucunya.


"Naraa.. kamu itu masih muda. Cantik. Pinter. Berbakat. Sudah pasti banyak yang suka dengan kamu. Nikmati hidup kamu Nara. Kamu tau gak.. Punya pacar itu bisa hilangin stress loh. Kenapa kamu malah jomblo? Hei... banyak karyawan mall ini yang menatap kamu dengan cara yang berbeda. Coba buka hati kamu untuk para pria. Pilih satu untuk dijadikan pacar."


"Hehehehe. Aku... gak mau kak." Calis malah menjawab dengan cengengesan.


"Ya sudah. Aku cuma pengen kasih saran aja Nara. Keputusan ada ditangan kamu." Lena tersenyum lembut.


"Mana ada orang di jaman sekarang mau memacari orang yang hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja? Aku bahkan lupa memperhatikan diriku sendiri. Apalagi mau memikirkan seorang pacar?" Batin Calista.


Ya.. teman akrab Calis ditempat kerjanya ini memang tidak tahu tentang Calist. Calis adalah type orang yang tidak mau menceritakan masalahnya pada orang lain.


Calista bukannya tidak tahu jika banyak pria yang berminat padanya. Akan tetapi, Calis benar-benar tidak ingin berpacaran. Dia tidak ada waktu untuk hal itu. Bayangkan saja, setip hari Calis bekerja hingga larut malam. Dan ketika sudah selesai dari pekerjaannya, Calista hanya akan tidur. Baginya, ada waktu untuk memejamkan mata dan tertidur merupakan anugerah terindah yang diberikan Tuhan padanya.


"Aku tidak percaya. Bisa-bisnya mantan pacar ku hanya dia."

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Ditempat lain.


Terlihat Arles dan dua pria tampan lainnya, yang bernama Fran dan Bagas. Keduanya adalah teman baik Arles saat belajar diluar negeri.


Ketiga pria tampan itu tengah berada di apartemen Bagas. Mereka bertiga memang kerap kali mengadakan pertemuan kecil seperti ini untuk sekedar reuni dan menghabiskan sebotol bir misalnya.


"Gas.. gimana rencana merid tahun ini? Jadi?" Tanya Fran.


"Tunggu aja. Kalau undangan tersebar, itu tandanya jadi." Jawab Bagas, sedikit terbahak.


"Kalau kamu gimana Bro? Masih betah ngejomblo?" Ledeknya pada Arles.


Arles hanya menyunggingkan senyumannya. "Aku masih ada misi lain. Belum mau urus pacar. Jawab Arles.


"Misi apaan? Ngehancurin kehidupan mantan?" Tanya Fran, asal. Tak disangka pertanyaannya membuat Arles menatapnya tajam.


"Hei bro.. kenapa? Apa aku menyinggungmu? Tatapanmu menakutkan." Sepertinya Fran sudah mulai mabuk, dan Arles hanya bisa mengerti akan hal itu. Sejujurnya, Arles ingin menabok mulut temannya yang sok tau ini. Tapi itu tidaklah salah. Yang dikatakan Fran memang benar.


2 Jam kemudian. Waktu sudah hampir tengah malam.


"Emmm kurasa kalian berdua sudah mabuk. Tinggallah disini malam ini. Jangan menyetir saat mabuk." Ucap Bagas, karena melihat kedua temannya itu bersiap untuk pulang.


"Aku tetap akan pulang. Aku takut jika menginap disini, tidak ada yang membangunkanku besok pagi. Ada banyak pasien yang menunggu. Aku duluan." Arles pun berlalu.


"Broo aku juga akan pulang. Fran meraba ponsel yang ada di saku celananya."


"Jangan gila. Kau tidak akan aman dijalan. Apa kau mau pulang kerumah sakit? Atau bisa saja akan pulangnya ke kuburan." Ketus Bagas.


"Oh no teman. Aku ada aplikasi OPER (Online Helper). Dengan sekali klik, maka supir panggilan akan datang." Ucap Fran.


"Wah Fran, supirnya cewek. Cantik lagi." Seru Bagas. Fran berusaha mengedip-ngedipkan matanya agar wajah yang tertera pada ponselnya dapat terlihat dengan jelas. Fran tersenyum senang bukan main.


Tak lama, ponsel Fran berbunyi, karena mendapatkan chat dari calon helpernya. "Hai.. saya akan tiba di lokasi anda dalam waktu 5 menit."


Fran: Oke, saya tunggu!


Fran kini berada di basement disamping mobilnya.


"Permisi..apakah anda yang membutuhkan supir manggilan?" seseorang menyapanya dengan ramah.


Fran menoleh ke sumber suara. "Cantik. Sangat cantik." Batinnya.


"Oh benar. Silahkan! Fran menyerahkan kunci mobilnya pada gadis itu.


Bukannya duduk dikursi penumpang dibelakang kemudi, Fran malah duduk manis di kursi penumpang sebelah kemudi.


"Maaf tuan, anda seharusnya duduk dibelakang." Ucap gadis itu.


"Ayo jalan saja nona. Aku tidak terbiasa duduk dibelakang. Maaf." Ucap Fran asal.


Tidak butuh waktu lama, mobil Faran tiba di tempat tujuan.


"Ah.. kau sangat hebat menyetir nona." Puji Fran. Gadis itu hanya tersenyum tipis. Keduanya sama-sama keluar dari mobil.


Fran mengambil dompetnya dan mengambil 5 lembar uang seratus ribuan dari sana. "Ini nona. Apa segini cukup?"


Gadis itu merasa sedikit kesal lantaran pelanggan selalu bersikap sombong, mentang-mentang mereka punya uang banyak.


"Itu terlalu berlebihan tuan. Satu lembar saja cukup." Ucap gadis itu.

__ADS_1


"Ah.. tidak apa-apa. Ambil saja sisanya, anggap saja bonusmu karena telah mengantarku pulang dengan selamat." Sambung Fran lagi.


Gadis itu mendengus kesal ia lalu mengambil uang itu. membuka dompetnya dan mengambil pecahan 20ribu didalamnya dan memasukkan 100ribu kedalamnya.


"Maaf tuan, tagihan anda seluruhnya Rp.50.000. Karena ini tengah malam, ada tarif tambahan Rp.30.000 untuk jaminan keselamatan saya. Jadi total keseluruhan Rp.80.000. Uang anda Rp.500.000, jadi kembalian untuk anda Rp.420.000."


Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu meletakkan uang sebanyak 420ribu tersebut ditelapak tangan Fran. "Terima kasih!" Ucapnya dan pergi dari sana.


Fran tersenyum memandang kepergian gadis itu. "Benar-benar gadis yang langka!" Batinnya.


******


Keesokan harinya.


Drrrrt drrrrt drrrt.


Ponsel milik Arles berbunyi. Dilihatnya nama yang tertera disana yakni Kirana. "Wanita gila ini lagi!" Gumam Arles. Pria itu hanya mengabaikan ponselnya.


Tok tok tok.


"Arleeees banguuuun!" Lean berteriak dengan nada cemprengnya. Gadis imut itu benar-benar tidak sopan kepada kakak kembarnya ini. Seenaknya saja meneriaki Arles dengan memanggil namanya saja. Tidak pernah sekalipun Arles mendengar Lean memanggilnya kakak.


Clek.


Pintu kamar Arles terbuka.


"Eh kunyuk! Ga bisa apa biarin aku tidur tenang.?" Kesal Arles.


"Mamaaaa.. Arles maaa! Huuaaaaaaaa.." Lean tiba-tiba akting menangis.


"Hus. Kamu tu apa-apaan sih?"


Pletaak.


Arles menjitak kepala Lean.


"Arles... apa-apaan ini? Kenapa menjitak kepala Lean?" Papa tiba-tiba muncul karena mendengar teriakan putrinya.


"Papaaaaa! Sakit pa.. Arles jitaknya kuat." Lean berlari ke arah Arland sambil mengadu.


"Pa.. dia yang salah pa.. masa pagi-pagi sudah teriak-teriak nama aku. Ganggu tau gak!" Kesal Arles.


Begitulah keseruan dua kembar itu. Khususnya dipagi hari seperti ini, selalu dihiasi dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Lean memang sangat usil terhadap kembarannya itu. Sedangkan Arles, dia tidak pernah mengganggu ketentraman Lean. Maklumlah, pria itu bersikap lebih dewasa daripada Lean.


*****


"Ayo sarapan sayang-sayangnya mama!" Glesty memanggil suami dan anak-anaknya yang tengah berdebat ringan.


Tidak lama ayah dan anak kembarnya itu muncul menuruni tangga. Terlihat Lean bergelayut manja di lengan Arles. Glesty tersenyum geli melihat ekspresi kesal putranya itu terhadap Lean. Yah begitulah Lean. Beberapa menit setelah berulah, Lean akan kembali bertingkah manja pada Arles, sehingga hubungan mereka kembali adem dan normal lagi.


.


.


Bersambung.


Trima kasih telah membaca gaes..


oia, othor akan usahakan up lagi hari ini. doain yak😇


Ehmmm. othor tggu komennya kalian🤭

__ADS_1


__ADS_2