
Dua orang pria terdiam mematung tak jauh dari tempat dimana Glesty dan mama sedang bicara empat mata.
Mereka adalah Arland dan juga Leon, yang datang bersama ke rumah sakit untuk menjenguk Arles. Keduanya terlihat syok menyaksikan Glesty yang sedang berkata-kata dengan suara bergetar.
Arland nampak tak ingin mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Sedangkan Leon, pria muda itu memilih menghindar dari sana. Ia harus memberi waktu pada keluarga ini untuk menyelesaikan masalah mereka dengan kakak tercintanya, pikirnya.
Yaa.. sebenci-bencinya Leon terhadap Arland dan keluarganya, tapi namanya punya tabiat baik, ia tetap akan dengan mudahnya berbesar hati untuk memaafkan. Leon yang dulu, telah kembali utuh.
.
.
Kemunculan Arland, sama sekali tidak disadari oleh Glesty, maupun mama. Sehingga suara dering ponsel Arland mampu membuat kedua wanita beda generasi itu sangat terkejut, terutama mama.
Jangan ditanya bagaimana perasaan wanita paruh baya itu saat ini. Dia sangat gugup dan takut. Hal yang ia sembunyikan rapat-rapat dari Arland, kini sudah diketahui oleh putranya itu.
Raut wajah Arland yang semula tak percaya, kini berubah ke mode datar. Arland menahan rasa sesak di dadanya. Ia lalu menjawa panggilan dari ponselnya, namun tatapan matanya tak lepas dari kedua wanita yang ada didepannya ini
"Halo, bicaralah!" Ujar Arland, datar.
"Halo bos, ini bos, mau melaporkan penyelidikan saya tentang kedua anak itu bos. Ternyata... keduanya adalah anak kembar bos. Dan satu lagi, saat lahir, nama anda tertulis sebagai ayah kedua anak itu bos."
"Kerja bagus. Terima kasih!" ucap Arland, singkat. Panggilan pun terputus.
Mama mendekat perlahan ke arah Arland.
"Ar...land, mama akan men..jelas..kan semuuuanya."
"Terlambat ma, aku sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas."
Saat ini Arland merasa sangat marah. Harusnya, saat ini ia menjadi orang yang paling bahagia karena mendapat kenyataan bahwa Arles dan Lean adalah anak kandungnya.
Tapi apa ini? Dalam waktu bersamaan justru ada kenyataan lain yang sangat menyakitkan.
"Jadi selama ini kalian semua telah membohongiku ma? Mama tidak merasakan sakitnya perasaanku dan bahkan aku merasa hampir gila, saat terbangun dari tidur panjang selama tujuh tahun, harus menerima kenyataan pahit bahwa istriku telah pergi meninggalkanku!
"Arland.. Arland, mama---"
Sang mama nampaknya ingin menjelaskan. Namun, Arland tidak memberi kesempatan bagi mama untuk membuat alasan.
"Mama tidak tahu sebesar apa aku telah membencinya padahal dia tidak bersalah? Aku seperti orang bodoh yang menyakiti diri sendiri ma." Ucap Arland setengah berteriak.
Arland merasa sakit saat melihat Glesty meluapkan isi hatinya kepada mama barusan dengan nada menangis. Arland membayangkan betapa sakit hatinya wanita yang dicintainya itu, karena ulah kedua orang tuanya.
.
__ADS_1
.
\=\=\=\=\=
Leon menuju ke arah mobilnya yang terparkir rapi di parkiran luas rumah sakit itu. Dirinya hendak pulang ke rumah minimalis kakaknya untuk beristirahat, mandi dan berganti pakaiaan. Karena ia belum sempat membersihkan dirinya usai bergelut dengan Devan siang tadi.
Sebenarnya ia bisa saja dengan mudah pergi ke hotel terdekat, tapi ia merasa rindu akan rumah itu. Saat hendak masuk kedalam mobilnya, Leon dikejutkan dengan suara seseorang yang memanggil namanya.
"Leooon."
Ternyata lelaki yang memanggilnya itu ialah Devan.
Leon hampir tidak mengenali lelaki ini. Bagaimana tidak, Saat ini Devan terlihat sangat kacau. Selama bekerja di Grup X, Leon tidak pernah melihat penampilah Devan seperti ini. Sudah persis seperti orang hilang berhari-hari yang tak tahu arah jalan pulang.
"Mau apa lagi si brengsek ini memanggilku?" Leon membatin.
"Jangan melihatku begitu. Ini masih aku. Bukan hantu." Ujar Devan, yang menyadari penampilannya yang acak-acakan.
Leon terlihat membuang nafasnya kasar. "Ada apa lagi? Anda ingin kita melanjutkan yang tadi siang?" Ketus Leon tak ramah.
"Leon, ayo kita bicara! Kali ini, bukan sebagai rekan kerja atau lawan, tapi sebagai keluarga." Devan berusaha bersikap seramah mungkin.
"Keluarga katanya? Cih!"
"Keluarga? Siapa yang keluargamu? Jangan sok akrab. Kita tidak sedekat itu." Ketus Leon dengan angkuhnya.
"Tadi anda mengajakku bicara. Tapi sekarang minta tolong? Mana yang benar? Jadi orang harus konsisten!" Ketusnya lagi.
"Beri aku tumpangan. Mobilku sedang mogok dan ternyata aku tidak membawa dompetku." Ucap Devan, tenang! Namun, terdengar seperti perintah yang menjengkelkan ditelinga Leon.
"Kalau memerlukan bantuan, katakan dengan benar. Apa anda tidak tau cara meminta tolong?" Kesal Leon.
"Baiklah. Leon, tolong beri aku tumpangan!" Tanpa aba-aba, Devan masuk kedalam mobil Leon, dan duduk manis di kursi penumpang sebelah kemudi. "Ayo, tunggu apa lagi, masuklah" Seru Devan dengan PDnya.
"Apa? Pria ini sungguh tidak berakhlak. Aku heran kenapa dia bisa menjadi seorang Direktur perusahaan besar. Inikan mobilku. Kenapa malah dia yang masuk duluan? Tidak sopanq" Batin Leon Kesal.
Kedua pria muda itu kini melaju di keramaian jalan.
"Katakan dimana alamat anda!" Ucap Leon dengan nada kesal.
"Aku sudah bilang, tolong beri aku tumpangan. Jadi aku ikut kemanapun kau pergi." Jawab Devan santai.
"Hei, pak Direktur, apa anda sudah gila? Saya mau pulang kerumah saya." Nada Leon semakin meninggi.
"Lalu bawa aku kerumahmu. Aku juga mau menumpang disana."
__ADS_1
"APAAA? Leon tak percaya, ada apa dengan direktur brengseknya ini.
Devan tertawa dalam hati melihat ekspresi terkejut Leon.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=
Kembali ke Rumah sakit.
Arland, dengarkan mama dulu nak,"
"Mulai detik ini juga, aku, walaupun aku tahu dia, Glesty bukan lagi istriku, tapi aku akan kembali pada mereka. Setuju atau tidak setujunya Glesty." Ucap Arland kembali, penuh dengan penekanan.
Glesty yang mendengar keterusterangan Arland, merasa terharu dengan ucapan lelaki itu. Ia hanya bisa menatap lirih Arland, yang berbicara menghadap kearah mamanya dengan penuh penekanan. Ditambah lagi cairan bening yang keluar begitu saja dari mata pria itu, membuktikan kesungguhan dari setiap kata-katanya.
Mama? Tentu saja wanita paruh baya itu sangat bersedih. Saat ini sang suami tidak ada disampingnya untuk membantunya berbicara dengan putra mereka ini.
"Pulanglah ma.. Aku tidak ingin melihat mama ada disini." sambung Arland, namun dengan nada datar. Arland benar-benar kecewa pada kedua orang tuanya.
Mama pun tak punya pilihan. Ia melangkah pergi dari sana membawa kesedihan yang mendalam dihatinya.
.
Setelah kepergian mama, Arland mendekat ke arah Glesty. Wanita itu tidak lagi menatap Arland.
Arland memutar pelan tubuh Glesty, membuat wanita itu berdiri membelakanginya. Lalu tanpa berkata apapun, Arland memeluk Glesty. Memeluk wanita itu dari belakang.
Glesty hanya bisa mematung menerima perlakuan Arland. Terkejut, mungkin saja.
Tangan Arland kini turun, mengelus perut Glesty yang rata. Lalu membisikkan satu kalimat yang berhasil membuat air mata keduanya mengalir dengan sendirinya. "Terima kasih, sudah merawat anak-anak kita sejak mereka berada didalam sini." Lirih Arland dengan nada serak, mengusap perut wanitanya itu dengan penuh kelembutan.
.
.
Bersambung gaes....
Cieh,,, yang seneng tebakannya benar. hehe.
BTW, makasih yah kalian selalu suport author😁.
Dengan segala kerendahan hati, author berharap kalian lanjut ya, karena ceritanya belum kelar😊
__ADS_1
oia, maaf upnya telat🙏