
Disebuah kamar mewah, tepatnya diatas kasur berukuran King size, seorang wanita paruh baya tengah menagis terseduh - seduh didalam pelukan suaminya.
"Tenanglah ma... jangan menangis. Anak itu tidak akan kenapa-kenapa." Tuan besar menenangkan isterinya itu dengan penuh kelembutan.
"Opa,,, opa.." tiba - tiba suara Aurel memanggil membuat si oma menghapus airmatanya. "Sebentar ma, aku akan membuka pintu untuk cucu kita itu".
"Ini opa, seseorang menelpon opa," Aurel menyerahkan ponsel Tuan Besar, yg td tertinggal di ruang keluarga. "Wah, trima kasih cucuku," ucap Tuan besar. "Sama - sama opa," jawab Aurel.
Tuan besar pun menjawab telpon yang ternyata dari seorang suruhannya.
"Halo, bagaimana, ada kabar baik?" seolah mengerti apa yang akan dilaporkan oleh orang tersebut.
Nyonya besar yang tadinya ngelamun, langsung memfokuskan perhatiannya pada suaminya.
"Tuan, kami menemukan wanita itu" jawab orang tersebut, membuat tuan besar mengembangkan senyuman diwajahnya.
.
.
\=\=\=\=\=
Diperjalanan.
__ADS_1
Arland menepikan mobilnya dijalan yang terlihat lumayan sepi.
Arland kembali mengingat pertemuannya dengan Glesty beberapa kali. "Dia bahkan masuk ketempat hiburan malam untuk mengantarkan barang pesanan pelanggannya?. Kemarin, motornya tiba-tiba rusak diperjalanan saat mengantar pesanan juga. Apa dia benar-benar seorang kurir?"
Arland sudah mencari tahu tentang kedatangan Glesty ke diskotik malam itu. Ia bertanya pada sahabatnya, dan sahabatnya memeriksa CCTV yang merekam Glesty. Wanita yang memesan tas ditoko Glesty itu pun nenjelaskan kepada bossnya bahwa Glesty adalah kurir yang mengantarkan barang yang ia pesan.
"Aaaaaa," Arland memukul - mukul stir mobilnya. Kenapa? Kenapa kau berakhir seperti ini Glesty? Teriak Arland. Ia berpikir bahwa Glesty adalah karyawan toko yang bekerja sebagai kurir.
"Apa yang dilakukan oleh suaminya? Kenapa membiarkan Glesty bekerja keras seperti itu? Aku mengira, setelah meninggalkanku yang sedang sekarat, dia akan hidup lebih baik. Tapi apa ini? Dia harus bekerja susah payah seperti ini?" Arland merasa sangat sakit melihat Glesty bekerja terlalu keras.
"Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, kami pasti hidup dengan bahagia bersama anak-anak kami." Arland bermonolog panjang lebar. Ia menyesali kebodohannya yang tidak jujur dari awal kepada Glesty tentang siapa dia sebenarnya. "Itu adalah satu - satunya kesalahanku padanya." Gumam Arland.
Setelah puas meluapkan emosinya, Arland memutuskan untuk kembali ke kota J. Arland berfikir, jika ia terus berada dikota ini, sangat mungkin bagi dirinya menjadi orang jahat yang merebut istri orang lain.
Seorang gadis cantik sedang bergaya didepan kamera yang tak hentinya mengambil gambar dirinya bersama produk yang baru saja dikeluarkan oleh Perusahaan milik Adi Wijaya. Gadis itu tak lain ialah Lea, yang dikalangan model biasa dipanggil Alin.
Lokasi pemotretan hari ini tidak dilakukan di lingkungan kantor, melainkan di salah satu objek wisata, yaitu pantai.
Seorang pria tampan berkaca mata sedang memandang Lea dengan tatapan kagum.
"Adikku memang sangat cantik," batin pria itu.
"Hei... hei.. kenapa? terpesona padaku?" Tanya Lea dengan melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Leon yang sedang melamun.
__ADS_1
"Eh, kau sudah selesai? Iy..iya bocah, kau terlihat sangat cantik," ucap Leon, kemudian mengusap pelan kepala adiknya itu. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat mereka dan mensalahartikan sikap Leon pada Lea.
"Ayo, temani aku makan siang." ajak Leon, dan merangkul Lea.
"Kak, hati-hati... orang bisa melihatku dan salah sangka." ucap Lea setengah berbisik.
"Tidak apa-apa. Kau bisa langsung bilang bahwa aku kakakmu." Leon terus saja merangkul bagu Lea sembari berjalan ke arah mobil.
"Tunggu! Apa kakak sudah tidak marah lagi? Kakak sudah setuju dengan usulku?" Tanya Lea dengan menengadahkan wajahnya tersenyum menantikan jawaban Leon.
"Emmm. entalah, aku masih mempertimbangkannya." Ucap Leon dan membuka pintu penumpang untuk Lea, menyuruhnya masuk. "Kakak, tumben sekali kau membukakan aku pintu" ujar Lea, merasa heran pada kakak lelakinya yang tidak biasanya seperti ini.
Leon tidak menjawab.
"Silahkan nikmati perasaan terbakar cemburu Direktur,! Batin Leon, lalu menjalankan mobilnya.
Lelaki yang tadi memperhatikan mereka dari kejauhan, mengepalkan kedua tangannya. Tentu saja dia adalah Devan.
Bersambung...
Guys, maaf yah, telat up.. trima kasih telah membaca.
Ayo.. semangat gaes..
__ADS_1