
Sudah banyak tamu yang hadir di salah satu ruangan besar di hotel X yang telah disulap menjadi sangat indah. Tentunya dengan dekorasi yang sesuai dengan tema acara malam ini, yaitu Aniversary ke 50th. Kebayang kan, kalau sudah ke 50th, artinya sejoli ini sudah pasti telah menua.
Di dalam perjalanan. Nino dan oma menuju tempat acara diantar dengan mobil yang sama.
"Nino.. oma jadi teringat sama sahabat kamu itu, siapa namanya? Calista?" tanya oma.
"Iya.. Calista oma.." menjawab singkat.
"Apa masih dia gadis yang kamu sukai?"
"Hah? Bukan oma.. Calista sudah ada yang punya."
"Jadi kalau belum? Kamu masih suka?"
"Omaa..Calis itu tidak menyukai aku sebagai pria. Jangan diungkit."
"Owh.. kasihan sekali cucu oma...! Tapi syukurlah.. kamu sudah bisa tertarik pada gadis lain, tidak terjebak dalam perasanmu yang tak terbalas itu."
"Hmmmmm" gumam Nino.
Tiba di hotel X.
"Wah.. sayang, ternyata kita hampir terlambat." kata Oma kepada Nino.
"Tidak apa oma. Aku menduga acaranya juga belum mulai. Biasalah, Indonesia kan agak ngaret gak bisa ontime."
"Ah kamu ini. Ayo turun, jangan lupa kamu ambil kado yang ada di belakang." perintah oma sebelum turun dari mobil.
"Oma.. tidak bisakah oma membawa sendiri kado ini? Ini juga tidak berat. Kenapa harus Nino yang bawa?" gerutu Nino yang berjalan di samping omanya.
"Apa matamu buta? Oma sudah berdandan secantik ini, masa iya harus menenteng benda itu lagi Nino? Diamlah, dan ikuti oma." Sengaja si oma ngerjai cucunya.
"Apa ku bilang oma, acaranya belum mulai kan?"
"Iya.. prediksi cucuku memabg selaku tepat."
"Jadi, acara ini tidak hanya dihadiri oleh para sepu ya oma," sahut Nino.
"Sudah oma bilang, para teman oma sudah berjanji mengajak cucu mereka. Bagaimana nasib oma kalau kamu tidak ikut? Sudah pasti memalukan."
"Iya oma.. ini aku ikut kan."
"Tapi oma, lihatlah mereka. tidak ada yang menenteng kado satu pun sepertiku. Oma keterlaluan." Lagi-lagi Nino menggerutu.
"Ah Nino, duduklah disana, agar bisa meletakkan kado yang sangat mengganggumu itu. Oma akan menyapa teman oma."
__ADS_1
Nino segera mengiyakan "lebih baik aku duduk disitu sambil memainkan ponsel mungkin," pikir Nino.
.
Tak lama kemudian, MC mulai mengambil alih acara. Ia mengatakan bahwa acara akan segera di mulai. Keluarga besar pemilik acara ini akan memasuki ruangan. Semua tamu pun bersiap-siap menantikan kehadiran mereka. Red karpet segera dikosongkan. Tidak ada lagi yang berlalu lalang disana.
Pertama-tama, masuklah sepasan lansia dengan langkah anggun, senyuman manis yang menggambarkan betapa bahagianya mereka boleh tiba di usia emas pernikahan mereka ini.
Di belakang mereka disusul oleh Arland dan Glesty yang muncul dengan pesona yang tidak kalah jauh dari dua orangtua itu.
Dibelakang Glesty dan Arland masuklah Lean bersama mami Rina, ibunya Aurell, karena keduanya tidak memiliki pasangan. Dibelakang mereka, muncul adik perempuan Arland dan suaminya, lalu Uncle Devan dan istrinya, yaitu onty Lea, lanjut lagi menyusul ucle Leon dengan sang istri, lalu Kak Aurell dan suami. Pasangan terakhir yang muncul sudah pasti Arles dan Calista. Di belakang mereka ada adik-adik sepupu yang masih ABG, yang merupakan anak dari pasangan onty uncle mereka.
Berbeda dari yang lainnya, dimana semua pasangan masuk dengan cara bergandeng tangan mesra, lain halnya dengan Arles yang hanya mendorong kursi roda yang untuk membawa kekasih hatinya itu. Namun, hal itu tidak mengurangi perasaan bahagia Arles. Baginya, asalkan bersama Calista, apapun yang terjadi, itu akan selalu membahagiakan.
Semua orang menatap kagum pada keluarga besar ini. Banyak pula yang menyayangkan bahwa ternyata Arles, cucu dari sejoli ini sudah memiliki partner hidup. Padahal, banyak diantara kolega oma opa itu yang berancang untuk mendekatkan cucu cantik mereka dengannya. Lebih tak rela lagi ketika mereka melihat bahwa gadis yang bersama Arles hanya seorang gadis lumpuh.
Setelah meninggalkan red karpet yang menjadi pusat perhatian banyak orang itu, Arles membawa Calista untuk mengambil posisi duduk.
"Arles.. aku merasa banyak mata sedang mengintimidasiku," bisik Calis kepada Arles, tatkala mereka berdua sedang duduk berhadapan.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan sayang? Apa aku harus mencungkil mata mereka?" tanya Arles, membuat Calista bergidik ngeri.
"Kau ini ada-ada saja!"
Drrrrt drrrt drrrt.
Nino menelepon Arles.
"Elnino?"
"Hallo Arles. Apa kau mendengar suaraku?"
"Tidak jelas Nino. Disini berisik. Aku tidak mendengarmu! Lagipula aku sedang di luar kota."
tut tut tut. Arles mengakhiri panggilan.
"Sayang, Elnino menghubungimu? Kalian akrab sekarang?" tanya Calista, sedikit penasaran.
"Tidak. Dia hanya sedang membutuhkan bantuanku." jawab Arles sekenanya.
"Kau ini, bilang saja kalau kalian berteman. Kenapa harus bilang tidak?"🙄
"Si Elnino menyukai Lean."
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk.." Calista tersedak mendengar pernyataan Arles.
"Sayang, kenapa bisa tersedak? Ini minum dulu." Arles dengan telaten membantu Calista, menyodorkan air mineral kearah Calis serta mengelus punggungnya.
"Arles, katamu, si Nino menyukai Lean?"
Arles menjawab "Iya benar. Kenapa? Kamu tidak cemburu kan sayang?" selidik nya.
"Astaga... kamu ini, kenapa aku harus cemburu?" Calis mencubit gemas pipi Arles.
"Sayang jangan seperti itu. Orang akan mengira aku ini seorang bocah menggemashkan." canda Arles, yang disusul dengan senyum manisnya. Keduanya pun tertawa bersama.
🍁
Nino sedang memainkan ponselnya sambil menggerutu menyebut nama Arles. "Sialan, pria bertempramen buruk itu seenaknya menyudahi panggilanku begitu saja."
Di sisi lain.
Tiba saatnya para oma opa, kakek nenek dan sebagainya menyapa pasangan lansia yang berbahagia ini.
"Ehmmm.. sayang, selamat yah, rumah tangga kalian masih hangat sampai hari ini." oma dari Nino memeluk oma opa Arles secara bergantian.
"Trima kasih.. karna kau datang. Tapi, dimana cucumu yang katanya sangat tampan itu?"
"Oh... dia ada di sebelah sana. Tapi, siapa ini? Cantik sekali?"
"Halo oma, saya Lean" memperkenalkan diri dengan sikap hormat dan santun.
"Dia cucuku. Kembarannya yang duduk disitu." menunjuk Arles.
"Calista? Dia ada disini?"
"Ah.. bukan dia. Yang laki-laki di depannya itu yang saya maksud. Tapiii.. kau mengenal Calista?"
"Ya.. tentu saja.. aku mengenalnya dengan sangat baik."
"Benarkah oma? Kalau begitu aku akan membawanya beremu denganmu oma," Lean segera menghampiri Calista.
.
.
Bersambung dulu gaess.
Trima kasih atas suport kalian ye🥰🥰
__ADS_1
oia,, "Perjodohan Janda Duda" sama "My First Love and My Son" sudah up ya guys🤗