I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Merasa Marah (Season 2)


__ADS_3

"Waaaah.. princess mama cantik banget.." Glesty memghampiri Lean yang terlihat gugup menantikan detik-detik menegangkan dalam pesta ulang tahunnya kali ini. Bagaimama tidak? Nara berjanji akan membawa Nino. Ya... Nino yang beberapa hari ini selalu mengganggu aktivitas otak dan jantungnya.


Wajah tampan Nino bolak-balik hinggap dalam pikirannya. Setiapa kali memikirkannya, jantung Lean terus saja berdebar tak karuan.


Teman-teman sudah pada berdatangan. Akan tetapi, Nara dan Nino belum juga muncul batang hidungnya.


*


Glesty berjalan menuju kamar putranya sulungnya. Ingin memastikan apakah putranya itu sudah siap.


Tok tok tok..


Cklek.. Glesty membuka pintu.


"Waah.. anak mama sudah siap."


"Maa..."


"Harus happy yah sayang hari ini.." Arles hanya mengangguk.


Glesty hanya berharap kekacauan seperti kemarin tidak terulang lagi. Glesty juga berharap, putranya itu selalu bahagia, menemukan wanita spesial yang bisa membawa suasana baru dalam hidup Arles.


Pesta hampir saja dimulai.


Arles dan Lean sudah berbaur dengan yang lain. Arles terlihat memasang raut wajah datar, lebih ke tak bersemangat. Entah kenapa pria itu merasa benar-benar tidak bersemangat setiap ulang tahunnya dalam 5 tahun terakhir ini. Lagi-lagi dirinya harus mengingat saat dia menunggu Calis selama berjam-jam untuk merayakan moment ulang tahunnya berdua saja.



Sedangkan Lean, gadis itu merasa sangat gelisah. Meskipun bibirnya terlihat selalu tersenyum.


"Dimana Nino sama Nara? Kok belum datang juga?" gumamnya.



Kedua sahabat Arles pun juga hadir disana. Fran datang sendirian tanpa patner.



Sedangkan Bagas, datang dengan membawa pacar tercintanya.



Fran mendekati Lean..


"Hai Lean.. makin cantik aja. Udah punya pacar belum?" Fran mulai menjahili Lean.


"Emang kenapa kalau belum?" Lean.


"Hadeeeh.. sudah umur berapa nih? Pacar belum punya?" Fran.


"Iddiiiihh.. kayak kamu gak jomblo aja." Ledek Lean.


"Yang penting udah punya mantan dong.." Fran masih menyombong.


"Ciiiih.. sudah jadi mantan juga masih nyombong." balas Lean. Lalu keduanya tertawa renyah, sedangkan Arles hanya diam tanpa mengubah ekspresinya.


"Waaah.. siapa tu yang datang? Panjang umur banget ya ni anak." Mata Lean tertuju pada Merry, mantan terindahnya Franata.



Fran terlihat mematung ditempatnya, tak bisa berkutik. wanita ini ternyata benar-benar masih menguasai seluruh hati Fran.


Ternyata Lean juga saling kenal dengan Merry.


Merry mendekati Lean dan Arles, tidak memperdulikan adanya sosok mantan didepannya saat ini. Gadis itu terlihat santai. Sedangkan Fran, lelaki itu salah tingkah sendirian.


"Hei... selamat ulang tahun ya buat kalian berdua." ucapnya, dan menyalami Arles dan Lean bergantian.


*


Acara tiup lilin telah usai.


Lean terlihat semakin tidak fokus. Dua orang yang ditunggunya belum juga muncul.


Lean kini mendekati mama yang sedang berbicara dengan papa dipojokan.


"Maaaa.. kok Nara belum datang juga yah? Aku bahkan sudah tiup lilin..."

__ADS_1


"Sayang.. Coba kamu telpon Nara deh." Mama Gles.


Saat Lean hendak menghubungi Calista Nara, tampak dari kejauhan orang yang dimaksud datang dengan seseorang disebelahnya.


"Yeeeessss.. Nara datang sama Ninooo"


Nino👇



"Aduuuuuu.. ganteng banget!" Lean menepuk gemes pipinya sendiri saking happy melihat Nino dan Nara.


"Tunggu! Tapi kenapa dia tidak mengenakan pemberian aku?" batin Lean, yang ternyata Nara datang namun tidak mengenakan mini dress yang ia berikan.


Tapi, ternyata tidak sesuai ekspektasi karena Nara datang dengan dress yang berbeda.


Ah.... Lean tidak peduli. yang terpenting, sahabatnya ini datang dengan membawa hadiah yang sangat Lean tunggu.


Calista melihat sikap yang berbeda dari Nino. Seperti yang telah mereka bahas tadi siang, bahwa Calista akan mengajaknya sebagai gandengan. Gandengan yang ia maksud yaaa dengan bergandeng tangan. Akan tetapi, Nino dengan lembut melepaskan rangkulan tangan Calis di lengannya.


"Sudahlah Calis.. tidak perlu menggandengku. Nanti para gadis disini akan mengira kita adalah pasangan dan tidak berani mendekatiku. Apa kau mengerti maksudku?" canda Nino dengan tersenyum paksa.


"Aku tidak mau kau melakukan ini dan akan semakin menyakitiku. Aku takut akan egois dan mengharapkan hal yang lebih darimu Calis!" batin Nino.


"Cieee.. yang mau cari gebetan" sahut Calist dengan senyum sumringah.


*


Fran, Bagas dan Arles tengah asik membahas hal yang tidak penting. Ralat, hanya Fran yang banyak bicara disini. Namun, pria itu tiba-tiba merubah ekspresi wajahnya. Bola matanya kini melotot saat melihat sosok yang sudah begitu dikenalnya.


"Kau kenapa?" Bagas bertanya pada Fran. namun, pria itu tidak menjawab dan hanya mematung dengan wajah tegang. Bagas lalu mengikuti arah pandang Fran dan menyadari bahwa sahabatnya kini tengah terhipnotis pada seorang gadis. Sedangkan Arles, dia masih membelakangi Calista. Tenti saja pria itu tidak menyadari kehadiran gadis yang masih dirindukannya tanpa sadar itu.


"Jadi kau terhipnotis pada cewek yang disana? Iya, dia cantik!" sahut Bagas. Fran belum mengatakan apapun. Yang berulang tahun disini adalah Arles, tapi Fran merasa bahwa dirinyalah yang mendapat kejutan. Ya... Fran merasa senang bukan main melihat Calis berada ditempat yang sama dengannya saat ini.


"Kau kenapa?" Akhirnya Arles bertanya karena merasa aneh.


"Berbaliklah Arles.. dia melihat gadis yang disana." pinta Bagas.


"Ku kira apa." ucap Arles, ia pun,... berbalik.


Degh.. "Dia?"



"Fraaan..kauuu... mengenalnya?" Arles.


Fran merangkul pundak kedua sahabatnya itu. "Broo.. gadis itu, iya.. aku mengenalnya." Fran terus saja tersenyum menatap Calis dari kejauhan. Arles merasa seakan ada bara api diatas kepalanya ketika melihat ekspresi senang sahabatnya ini menatap Calista.


"Kalian mau bukti? Akan ku hubungi dia sekarang." Fran mengambil ponselnya dan mencari nama kontak Calista, yang dia beri nama "SiCantik Langka" dan hal itu tak lepas dari pandangan Arles.


"siCantik Langka? ?" Batin Arles.


Fran mengaktifkan load speaker.


drrrrrt drrrrt drrrrt


Calis melihat layar ponselnya yang telah memberi tanda adanya panggilan.


"Halo Fran"


"Hai Calis.. kau sedang apa?"


"Aku... aku sedang ada acara. Maaf aku belum bisa menemanimu." jujur Calis, yang merasa bersalah telah mengabaikan kesepakatan mereka. Namun, perkataan itu disalah artikan oleh Arles.


"Oh tidak apa-apa Calis.. bersenang-senanglah!"


"Iya Fran.. terima kasih sudah mengerti."


tut tut tut...


"Bagaimana? Kalian percaya sekarang? Dia itu... manusia langka bro.. beda dari yang lain. Sepertinya.. aku harus menghampirinya." ucap Fran lalu melangkah.


"Tunggu!" tak disangka, Arles menahan Fran.


Fran mengerutkan keningnya "apa?"


"Kenapa.. kau harus menghampirinya?" Arles.

__ADS_1


"Hah? itu adalah urusanku bro.. kenapa? kau merasa keberatan?" tanya Fran bingung. Lalu menarik tangannya dari pegangan Arles dan melenggang pergi.


Selepas kepergian Fran, Arles mengusap kasar wajahnya. "Sial... kenapa Calista bisa kenal dengan sahabat baikku? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana dia bisa ada disini? Siapa yang mengundangnya?"


Belum lagi ada seorang pria yang dengan setianya berdiri disamping Calista, memasang senyum tampan yang ia punya. Hati Arles benar-benar panas dibuatnya.


***


"Naraaaaa..." Mama Gles kini menghampiri Nara dan Nino.


"Mama? Lean? Kenapa mereka terlihat sangat akrab?" Arles jadi tambah bingung. Apa lagi kini, mama dan Lean memeluk Calis dengan sangat bahagia. Seolah gadis itu adalah seseorang yang sangat berharga bagi mereka.


Saat memeluk Calis, Lean membisikkan sesuatu "kapan kamu akan memberikan hadiahku" bisiknya. Calis kembali tertawa.


Sedang Arles, ia hanya memandang dari jauh. "andai saja senyuman itu masih untukku" batinnya tanpa sadar.


*


"Maafkan keterlambatan kami. Tadi sangat macet dan temanku ini mengajakku mencari kado untuk Lean" ucap Calis, dan menyerahkan kado kepada Lean. Demikian juga Nino yang melakukan hal yang sama.


Fran? Pria itu mengurungkan niatnya menghampiri Calis, karena takut akan merusak kebahagiaan Lean. "Apa Calis saling kenal dengan Arles? kenapa aku merasa dia marah saat aku bilang mau menghampiri Calis?" Fran lalu mengedarkan pandamgannya kesegala arah untuk mencari keberadaan Merry, si mantan terindahnya.


*


"Halo semuanyaaaa. Inilah waktu yang kita tunggu-tunggu... kembalilah pada pasangan kalian masing-masing, karena kita akan mengadakan pesta dansa. marilah berdansa bersama pasangan masing-masing..." MC di acara itu mulai menghidupkan suasana, setelah dirasa, semua tamu sudah mengisih perut mereka dengan berbagai hidangan makanan dan minuman yang tersedia.


"Nino... maukah kau menolongku?" Tanya Calis, membisiki telinga Nino.


"Apa itu?"


"Berdansalah dengan Lean."


Nino terlihat berpikir sebelum menjawab. "Baiklah. Terus bagaimana dengan kamu?"


"Tenang saja. Tidak perlu memikirkanku!" Calista tersenyum.


dup dup dup..


Lampu-lampu dimatikan. Hanya tersisa lampu sorot yang menambah kesan romantis acara dansa malam ini.


"Hadirin sekalian, selamat berdansa.. oh maaf harus mengatakan ini.. bagi yang tidak menemukan pasangan berdansa, akan ada hukuman yang menantinya.


*


"Aaah.. dimana si Calis?" Batin Fran, karena kesusahan melihat didalam kegelapan ini. "Sial... Lampu sorot ini benar-benar tidak berfungsi." sambungnya lagi. Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Fran.


"Siapa ini?" Ucap Fran.


"Maaf, ini aku... dari pada kita sama-sama menerima hukuman konyol dari MC itu, lebih baik kita jadi pasangan."


"Merry?" Fran merasa sangat senang.


*


"Ehmmmm.." Nino memberikan tangannya kepada Lean. Lean, gadis itu menerimanya dengan senang hati. Keduanya pun mulai berdansa.


*


Arles kelabakan mencari keberadaan Calis.. Arles khawatir jika saja perempuan itu akan ditarik oleh lelaki lain untuk berdansa. Arles merasa muak memikirkannya.


"Sial..kenapa aku seperti ini? aku sangat membencinya, tapi aku lebih takut jika harus melihatnya bersentuhan dengan pria lain?." gumamnya dan terus berjalan.


Akhirnya, Arles menemukan Calis.. entahlah, meskipun hanya ada cahaya lampu sorot yang berpindah-pindah, Arles tetap bisa melihat Calista dengan sangat jelas.


Pria itu menyerahkan tangannya kearah Calista.


Calista menyadari hal itu, tapi dia tidak berminat menyambutnya. Dia tidak ingin sembarang bersentuhan dengan orang yang tak dikenalnya.


"Lebih baik aku menghindar... daripada mendapatkan hukuman." Calis pergi, bermaksud mencari tempat aman.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Gaes... jujur.. author sangat bimbang ketika menulis part ini. Bagaimana caranya membuat pertemuan mereka agar berkenan dihati kalian.


Author tiba2 kehilangan ide gaes.🤣


__ADS_2