
Hai Guys... Cover kita udah di ganti oleh Noveltoon ya. Semoga kalian juga sukaπ€.
Okeh, Mari kita lanjut!
\=\=\=
Di Pernikahan Bagas.
"Bro.. selamat yah.. akhirnya kau menikahinya" ucap Arles saat menyalami Bagas dan istrinya yang sedang berbahagia.
Keduanya tersenyum kearah Arles dan dan Calista bergantian. "Selamat juga untukmu karena sudah mendapatkan cintamu kembali" ucap Bagas, tulus.
"Iya bag.. doakan supaya aku bisa menyusulmu, menjadi seorang suami." sambung Arles lagi. Tentu saja dia serius.
"Ehmmm. Arles, aku juga ada disini. Gantian aku lagi yang berbicara dengan si Bagas." celetuk Fran, yang sedari tadi merasa seperti obat nyamuk untuk dua pasangan ini. Benar-benar membuatnya iri.
"Hei.. Fran, kau ternyata datang sendiri." Bagas berbasa-basi yang sungguh terdengar menjengkelkan ditelinga Fran.
"Harap maklumi si Fran Bag, kasian dia masih terjebak masa lalu." celetuk Arles, santai, yang langsung dihadiahi lirikan tajam dari mata Fran.
Setelah mengucapkan selamat kepada Bagas, Fran pun berpamit untuk pulang. Namun sebelumnya, pria itu sempatkan waktu untuk mengganggu ketentraman hati Arles. "Ehmmm. Calista, apa kamu ingat yang pernah aku ajarkan waktu itu?"
Calista menengadahkan kepalanya menatap Fran, bingung.
"Hei.. jangan bingung. Kau harus membalas Arles seperti yang pernah ku ajarkan." Bisik Fran, mendekatkan kepalanya ke telinga Calista.
Calista pun tertawa renyah mendengarkan perkataan Fran. "Kau.. ini.. baiklah akan ku lakukan." ππ
"Eh.. eh.. apa yang kau lakukan?" Arles menjauhkan kepala Fran yang terlihat hampir menempel dengan kepala Calis.
"Santai bro.. kami hanya punya bisnis kecil."
"Cishhh! Bisnis palamu Fran. Si Merry lagi? Aku sudah bilang aku yang akan membantumu. Jangan merepotkan Calistaku."π
π"Kau sok tahu Arles. Tapi, baiklah aku menantikan hasil dari niat baikmu. Bye!" Fran pun pergi dari sana.
ππππ
Seorang pria, sedang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kemarahan kini menguasai hati dan pikirannya. Saking sakit hatinya, terlihat air matanya menetes. Pria itu menepikan mobilnya di jalan yang sepi lalu menangis.
1 Jam sebelumnya.
"Selamat malam tante.. Om.." sapa Nino, saat baru tiba untuk menjemput Lean.
Arland dan Glesty menyambutnya dengan sangat baik. "Silahkan masuk Nino, Lean masih dikamarnya.
Nino pun duduk dan terjadilah obrolan yang cukup panjang diantara mereka. Ya, hitung-hitung saling mengenal. Tak lama, Arland meninggalkan obrolan itu karena harus menerima telepon dari seseorang.
__ADS_1
Sampailah pada cerita masalalu Nino dengan Arles saat kecil. Nino membahasnya dengan santai dan tenang, sementara Glesty sangat terkejut mengetahui kenyataan itu. Seketika itu juga Glesty hilang rasa terhadap Nino.
Dengan sikap lembut agar tidak menyakiti Nino, Glesty menyampaikan rasa tidak setujunya akan hubungan Nino dan Lean. Glesty meminta maaf kepada Nino karena sikapnya ini. Dengan terpaksa Nino diminta pergi dari sana bahkan sebelum sempat bertemu Lean, pujaan hatinya.
π
Nino.
Pria itu keluar dari mobilnya membawa perasaannya yang kacau. Pikirannya kini tertuju pada seorang wanita setengah baya yang telah melahirkannya.
Ditempat lain.
Lean telah bersiap dengan penampilan cantik, dengan penuh semangat ia melangkahkan kakinya untuk menemui Nino.
"Loh Ma, Pa... tadi katanya Nino sudah datang. Trus dimana dia?" bertanya dengan wajah polos.
"Maaf sayang, Mama memintanya pergi. Kamu harus dengar dulu penjelasan mama sayang. Nino itu--"
"Apa maksud mama minta dia pergi? Pergi kemana? Jangan bilang dia pergi ninggalin aku!"
"Sayang, Nino... kamu... tidak bisa bersama Nino."
Kembali ke Nino.
Pria itu memaksa untuk tertawa. Menertawakan hidupnya yang terasa konyol. Semakin ingin tertawa, semakin pula pilu itu terasa.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa..." Nino berteriak.
"Maa... ini semua gara-gara mama.. lihat aku sekarang. Aku.. ditolak oleh keluarga wanita yang aku cintai karena mama...." Nino merasa kedua kakinya seakan melemah. Pria itu duduk disamping mobilnya dengan kepala tertunduk. Akhirnya, ia pun terisak dalam kesedihannya.
π
"Ya Tuhan.. kenapa aku harus menanggung rasa sakit hati mama? Kenapa ?" Lean mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menghubungi Nino.
Drruuut drruuut drruuut
"Halo.." Suara Nino dengan nada serak.
"Nino... kamu diamana? Kenapa tidak menungguku?"
"Lean,," Nino tidak bisa neruskan kata-katanya.
"Nino.. ayo bertemu.. kita harus bicara ya..."
"Kapan?"
"Sekarang Nino.. katakan kamu sedang dimana? Aku akan kesana yah..."
"Jangan Lean, jangan sekarang yah.."
"Tidak apa Nino.. mama dan papa pasti akan mengizinkanku."
__ADS_1
"Kalau begitu.. tunggulah.. aku... akan kembali kesana!" ucap Nino, pelan tak bersemangat.
π
Di Perjalanan.
"Sayang, besok aku akan berangkat selama 1 munggu. Papa memintaku mengurus beberapa pekerjaan."
"Oh ya? 1 minggu?"
"Iya.. kenapa? Mau ikut?" tanya Arles, berharap.
"Tidak.. untuk apa aku ikut kemanapun?" Calis mengerutkan dahi.
"Kalau saja kamu sudah sehat, pasti akan ku paksa untuk ikut."
"Cih.. kamu tuh.. ingat, jangan nakal disana.." ucap Calis malu-malu.
"Tenang aja sayang, aku tidak akan melupakanmu. Bahkan setiap waktu luangku, aku pasti akan menghubungimu."
"Iya.. iya.. percaya Arles.."
Tiba di apartemen.
"Sayang, aku pulang dulu yah.. kamu beristirahatlah." Arles pamit pulang setelah mengantar Calista sampai ke kamarnya.
"Iya... hati-hati dijalan sayang..."
Arles pun pergi setelah mengecup kening kekasihnya itu.
\=\=\=
"Nino.." Lean berlari ke arah Nino yang baru saja tiba. Tanpa banyak tanya, Lean langsung saja memeluk Nino. "Aku merindukanmu Nino.."
"Leaan... jangan menangis. Jangan seperti ini.." Nino berkata tanpa membalas pelukan gadis itu. Dirinya merasa tidak memiliki keberanian. Ini adalah kali pertama Nino memiliki seorang pacar. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan keadaan ini ataupun apa yang harus ia lakukan untuk mengembalikan restu dari keluarga Lean untuknya.
"Nino... kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak berusaha? Bilang ke mama papa kalau hal yang dulu sudah berubah."
"Lean.. kamu yang sabar yah.. aku akan berusaha. Aku juga tidak mau kehilangan kamu begitu saja. Aku akan pulang dulu.. kamu kembali ke dalam yah. Tidak enak jika nanti ada yang melihat kita seperti ini."
"Tunggu dulu Nino, aku masih merindukanmu." Lean terus memeluk Nino. Akhirnya, Nino membalas pelukan itu.
"Ehmmm..." Arles muncul entah dari mana.
Dua sejoli yang nampak terkejut itu tidak juga melepaskan pelukannya.
"Kenapa kalian berdua bermesraan disini... seperti.. pasangan backstreet.?" tanya Arles dalam ketidaktahuannya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
guys.. terima kasih.