I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
(TAMAT) + Promo Karya


__ADS_3

\=\=\=\=\=


"Sayang, bangun.." Arles lagi-lagi sudah bangun lebih dulu dari istrinya.


Arles meminta petugas hotel untuk mengantarkan sarapan pagi ke kamar saja, karena ingin sarapan berdua saja dengan Calista.


Setelah sarapan pagi itu datang, Arles kembali mendekati Calis untuk membangunkannya. "Sayang.. ini sarapannya sudah ada. Ayo sarapan dulu biar kita tetap sehat." Tak ada respon dari istrinya, Arles dengan iseng menyibak selimut tebal yang menutupi tubuh istrinya itu.


"Calista?" Arles tercekat menatap wajah pucat wanita yang baru 3 hari menjadi istrinya.


Tak ada respon dari wanita itu. "Calis... sayang..! suhu tubuhmu sangat panas sayang..."


"Arleseess.." panggilnya, pelan.


"Sayang.. kamu sakit!"


Calista hanya mengangguk membenarkan. Kerena memang, saat ini dia merasa sangat kesakitan seluruh badannya terasa remuk, terutama kakinya yang memang kebetulan belum pulih total.


Tidak ingin membiarkan keadaan istrinya berlarut dan berujung penyesalan, Arles segera memgangkat tubuh istrinya keluar dari hotel menuju klinik terdekat.


Tiba di klinik.


Para perawat dan dokter disana menyambut baik kedatangan pasangan muda ini. Arles dan Calista tidak menyadari bahwa keduanya kini menjadi pusat perhatian dan tranding topik seketika di area klinik tersebut. Kenapa? Karena ulah billboard raksasa yang menampilkan foto dan cuplikan video mereka berdua. Membuat keduanya langsung dikenali.


Datang ke klinik pagi-pagi sekali dan masih mengenakan piyama tidur serta hanya memakai alas kaki berstample hotel ternama itu dan sudah pasti belum mandi.


Semua orang yang berada disana menerka-nerka, pasangan muda ini pasti habis melakukan ritual malam pertama sepanjang malam hingga istrinya jatuh sakit. Hah.. sayangnya, itu sangat benar!


"Sayang, apa kau mengerti bahasa Prancis?" tanya Arles berbisik. Calista menjawab dengan cara menggeleng dan itu membuat Arles menyunggingkan senyum. "Sukurlah" batinnya.


"Kalau begitu diam saja, biar aku yang bicara dengan mereka." ucapnya lagi, dan Calista hanya mengangguk.


Arles pun mulai bertanya jawab dengan dokter yang telah menangani Calista. Tak disangka dokter yang sudah cukup tua dan sudah pasti telah banyak memakan asam garam itu, menanyakan hal yang tidak patut.


"Jadi kalian adalah pengantin baru?" tanya sang dokter dalam bahasa Prancis.


"Emmm.. kami sudah menikah cukup lama" jawab Arles, berbohong. Untuk apa pria tua ini menanyakan tentang pengantin baru? apa hibungannya dengan penyakit?


"Tuan.. kalian baru menikah.. ini buktinya.." seorang perawat yang berdiri di samping dokter itu menyodorkan layar ponselnya mendekat ke wajah Arles, kurang kerjaan.


"Aaarrrrh... Billboard sialan itu." umpat Arles, dalam hati.


"Lalu, berapa ronde tadi malam?" tanya dokter itu sambil melirik Calista. Pertanyaan dokter itu benar-benar sangat mengesalkan.


"Dok, aku kesini untuk mengobati istriku. Bukan mau menceritakan hal pribadi." Arles mulai tak terkontrol.


"Jangan terlalu memaksa istrimu lain kali. Kalau tidak, dia bukan hanya demam, tapi bisa tak sadarkan diri berhari-hari" terang dokter itu dengan santainya. Entah yang dikatakan dokter itu benar atau tidak, tapi Arles merasa bersalah pada Calista.


Setelah memastikan bahwa Calista menderita demam tinggi karena kelelahan, dokter lalu bersiap memasangkan infush untuk membantu proses penyembuhan Calista.


"Dok, biar saya saja"


Arles sepertinya ingin mengambil alih pasien yang adalah istrinya.


"Heh.. kau ini, tidak ada bedanya dengan si Arland," ucap dokter itu kepada Arles.


"Yah? dok, anda mengenal ayah saya?"


"Kenapa aku tidak mengenalnya? Dia temanku." menjawab santai.. "benar, papa pernah dibesarkan di kota ini." batin Arles.


"Lalu, kenapa anda tahu kalau saya anaknya dok?"


"Karena wajah kalian berdua terpampang nyata di sebuah billboard sejak tadi malam, aku menghubungi ayahmu untuk memastikannya... dan kau tahu, semua orang sedang membicarakannya."


"Aku bermaksud menyiapkan itu untuk istriku, bukan untuk jadi bahan gibahan emak-emak di kota ini"


Sementara Arles sedang memijat pelipisnya dan terlihat sangat pusing, dokter telah memasangkan infus ke tangan Calista.


"Jika obat ini habis dan istrimu sudah pulih, kalian boleh pergi." jelas dokter.


"Dok.. maaf, tentang kami yang ada di billboard, apa.. saya stop saja? bagaimana menurut anda?" Ternyata papan iklan itu mengganggu pikiran Arles.


"Untuk apa dihentikan? Itu sangat keren. Orang-orang mengaguminya."


"Benarkah? Bukankah orang-orang merasa terganggu?"


"Tidak sama sekali" jawab dokter itu lagi lalu pergi dari sana.


"Sayang, apa yang dokter katakan?" tanya Calis, pelan.


"Emmm.. dia bilang, kamu istirahat saja dulu sampai merasa sehat" Arles menjalaskan sembari mengelus kepala Calista.


"Lalu apa lagi sayang? Aku dengar banyak sekali yang dia katakan."


"Dia juga bilang selamat karena mendapatkan istri yang cantik. Kamu dibilang cantik"


"Aku merasa itu tipuanmu."


"Tapi istriku memang cantik kan!.. dia bilang, kita boleh kembali ke hotel saat kamu sudah bersemangat lagi. Dia juga berpesan kita boleh melakukannya sepuasnya saat kamu sudah sembuh"


"Cihh.. itu katamu.. bukan kata dokter.!"


Arles pun tertawa renyah. Istrinya ini memang tidak bisa dikibulin.


"Cintaa.. maafkan aku yah.. aku mungkin sudah menyakitimu.. aku sangat menyesal membuatmu sampai sakit seperti ini." Arles mengucup punggung tangan Calista. Dia terlihat sangat sedih.


"Tidak perlu minta maaf sayang.. mungkin aku yang memang tidak sehat jadi tidak bisa mengimbangimu.."


........


Di tempat lain.


Papa Arland sedang menunggu kedatangan seseorang.


Tok tok tok.


Pintu terbuka dengan sendirinya.


"Oh.. Nino, masuklah" Calon menantu itu pun masuk dan duduk di hadapan Arland, dengan perasaan gugup.


"Apa yang mau dikatakannya padaku? Jangan bilang beliau mau membatalkan pernikahanku dengan princessnya.. kumohon jangaaan!"


"Nino, santai saja.. jangan tegang begitu"


Terlihat Nino mengatur napasnya.


"Ada apa yah paman memanggil saya?


"Begini Nino, saya ingin membuat kesepakatan denganmu."


"Ya?" Nino reflek.


Arland menyunggingkan sedikit senyuman. "Nino, saya mau kamu membantu pekerjaan saya setelah kalian menikah."


"Ap--apa?.. Paman, kurasa anda sedang bercanda."


"Nino.. kau adalah harapan terbesarku setelah Lean. Kau tahu kan, putraku itu tidak berniat mengganti posisiku."


"Paman, saya ragu.. saya takut mengecewakan anda.. lagi pula, saya tidak berpengalaman. Saya ini hanya pemilik restoran." Nino merendah.


"Ya... untuk itu, kau harus membiasakan diri. Bisnis restoranmu terbilang sukses. berarti strategimu berhasil."


"Yang jelas, satu dia antara kalian akan menggantikanku dikursi ini nanti. Entah Lean, kau atau Arles.. atau mungkin menantuku, Calista.. tapi aku yakin, Arles tidak akan mengizinkan istrinya bekerja terlalu banyak."


"Paman, saya akan berusaha membantumu, tapi.. tidak untuk memgganti posisimu, saya tidak bisa paman."


"Ah... begini saja Nino, bertukar posisilah dengan Lean. Dia yang mengurus restoranmu dan kau menggantikan posisinya? Putriku itu sudah sangat banyak membantu dan dia pasti sudah jenuh.. Apa kau bersedia?"


"Saya... akan memikirkannya paman"


"Baiklah... saya akan mengandalkanmu Nino! dan... terima kasih, karena otakmu masih sangat sehat setelah kejadian itu!"


Nino mengerti yang dimaksudkan Arland adalah peristiwa saat dirinya dan Calista terjatuh dari tangga sekolah. Nino pun tersenyum kecil mengingatnya.


"Bukankah ini kebetulan yang unik Nino? Dua orang yang pernah menjadi korban kemarahan putraku kini sama-sama menjadi menantuku." Arland terkekeh diujung kalimatnya. Nino pun tersenyum membenarkan.


Tok tok tok.


Pintu terbuka.


"Sayanggg... kamu disini?" Suara itu auto mengejutkan Elnino dan Arland.


Nino berdiri dari duduknya secara reflek dan membalikkan tubuh.


Hug.. Lean memeluk kekasihnya itu dengan erat. Nino? tak mungkin dia berani membalasnya terang-terangan di hadapan Arland, kecuali kepepet. haha.


"Lean,,,, kamu tidak melihat disini ada papah?" celetuk Arland.


"Liat kok pah.. tapi maaf,,, aku kangen Nino pah.."


"Sayang, sudah.. tidak enak dilihat papa kamu!" bisik Nino.


"Sepertinya kalian berdua harus segera menikah! Tidak perlu menunggu dua minggu lagi. Majukan saja tanggalnya.. Menempel seperti itu hanya boleh bagi orang yang sudah sah Lean.." Arland menasehati.


Lean pun melepaskan pelukannya setelah dirasanya puas.


"Pah... makan siang bareng yuk, bareng mama juga. Mau yah pa" ajak Lean.


"Boleh" jawab Arland.


"Bagaimana kalau... makan di restoranku saja?" tawar Nino.


"Tidak sayang, kita ke tempat lain dulu.. mau yah!" Nino mengangguk.


Tibalah tiga orang itu di salah satu restoran, dimana mama Gles sudah menunggu disana.


"Sayang, kamu sudah lama menunggu?" tanya Arland pada istrinya.


"Belum pah.. ini mamah telpon Arles sama Calis dari tadi tapi mereka tidak menjawab sama sekali.."


"Ya elah ma,,, berhenti jadi pengganggu. Orang lagi bulan madu juga, anak kesayangan mama itu tidak akan habis dimakan Calista ma.. dia pasti baik-baik saja.."


"Siapa bilang mama menghawatirkan dia? mama lebih kepikiran sama menantu mama..!" Glesty seraya melirik suaminya.


"Bisa saja anak itu akan lebih kuat dan ganas melebihi Papanya..Ah... Semoga Calista baik-baik saja." Glesty berpikir jika Arles bisa saja mewarisi Arland yang sangat kuat dalam bercinta. Saat malam pertama mereka dulu, Glesty sampai tidak bisa bangun karena seluruh tubuhnya terasa remuk yang berujung terkena demam tinggi hanya gara-gara malam pertama.


"Ma.. apa yang kau khawatirkan? Takut menantumu sakit?" tanya Arland santai.


Drrrt... drrrt drrrt.


"Pah... ini mereka menelpon."


Glesty segera menjawab panggilan telpon dari anaknya dan mengaktifkan loadspeaker.

__ADS_1


"Halo sayang..." sapa Glesty.


"Iya mah.." jawab Arles dari kejauhan.


"Sayang.. kalian baik-baik saja kan? Bagaimana menantu mama?"


"Emmm kita baik kok mah," jawab Arles.


"Yang mama maksud, Calista sehat kah? Apa dia tidak sakit atau semacamnya?"


"Gawat.. kenapa mama bisa menanyakan tentang kesehatan Calis? Apa mereka secepat itu memiliki ikatan batin?"


"Istriku hanya sedikit demam mah" Ah.. Arles memang tidak bisa berbohong pada mama.


"Apa?... sedikit demam katamu sayang? Jawab yang benar. Hanya sedikit demam atau demam tinnggi?"


Arland hanya tersenyum mendengar percakapan itu.


"Dia itu hasil dari bibit unggulku sayang.. dia pasti sama denganku. Apa lagi, ini untuk pertama kali dia merasakannya. Anak itu pasti memintanya terus. Yang sabar saja kau Calista.." batin Arland.


Sementara Lean dan Nino hanya memperhatikan tanpa memahami makna mendalam dari kata demam.


\=\=


Satu munggu pun berlalu. Sudah waktunya Arles dan Calista harus pulang ke tanah Air setelah puas bermain-main di kota romantis itu. Keduanya sangat bahagia.


"Sayaaanng kalian sudah pulang!" Glesty menyambut Arles dan Calista dengan antusias. Kini wanita itu memeluk menantu perempuannya dengan sayang.


"Ma... apa aku tidak terlihat? Kenapa sepertinya mama hanya menyambut istriku?"


Pertanyaan Arles disambut gelak tawa semua orang.


\=\=


Pernikahan Lean dan Elnino.


Papa Arland dan princess Lean berjalan dengan bergandeng tangan menuju Altar pernikahan dimana Elnino sudah menunggu dengan wajah tersenyum haru.


"Benarkah ini? Aku sedang mengantar putriku ke altar-Nya? Dimana seorang pria tampan telah menunggu untuk menyambutnya! Ah.. hari ini putriku akan menjadi tanggungjawab seorang pria! Lean... semoga kamu berbahagia dengannya sayang.."


Seperti pada umumnya, dimana seorang ayah akan mengatakan sesuatu setelah mengantarkan putrinya pada sang pria, Arland pun demikian.


"Elnino, ini putri saya yang sangat saya cintai.. sangat saya sayangi. Mulai hari ini, aku percayakan padamu untuk memberikannya cinta dan kasih sayang."


"Elnino, Putri saya ini mungkin punya banyak kekurangan, tapi saya bisa menjamin, kau tidak akan kelaparan karena dia sangat ahli dalam memasak masakan enak dan sehat. Dia juga diajarkan dengan sangat baik oleh istriku untuk melakukan pekerjaan rumah. Saya yakin dia bisa menjadi istri yang sangat baik untukmu."


"Jagalah putriku ini seperti kami menjaganya." Arland benar-benar tak tahu lagi cara menyampaikan semuanya. Pria itu berbicara dengan nada bergetar. Suasana haru memenuhi seluruh ruangan.


Lean dan Nino akhirnya resmi menjadi sepasang suami istri.


Semua tamu dan keluarga yang hadir telah mengucapkan selamat pada Lean-Nino karena menjadi pasangan paling bahagia hari ini.


Arles dan Calista menghampiri Nino dan Lean untuk mengucapkan selamat.


"Bro... selamat memasuki babak baru hidupmu. Aku titip adikku. Bahagiakan dia."


"Iya Arles, kau tenang saja.. dia tak akan menangis selagi bersamaku!" janji Nino.


Malam Pertama.


Jangan mengira pasangan pengantin baru itu masih berada di Tanah Air kita. Setelah acara selesai, keduanya tiba-tiba saja mendarat di kota Seoul Korea selatan, setelah diantar oleh pesawat pribadi pinjaman papa Arland. (Tentu saja sama pilotnya sekalian loh yah..)


Hotel The Shilla.


Sepertinya dua insan ini sangat senang karena karena akhirnya menikah.


Nino lebih dulu masuk ke kamar mandi karena merasa gerah dan memang belum mandi. Keduanya langsung berangkat setelah acara selesai sore tadi dan belum sempat mandi.


Bukannya mandi bareng, pasangan yang masih canggung ini malah berantri ria menunggu giliran.


Setelah Nino selesai dengan mandinya, kini gantian Lean lagi yang masuk ke kamar mandi.


"Oh Tuhan, untuk pertama kalinya aku akan tidur dengan seorang pria."


Sementara Lean masih di dalam sana, Nino mondar mandir memikirkan sesuatu.. "Astaga.. bagaimana cara memulainya nanti? Siapa yang akan memulai? Aku atau Lean?


Nino mulai menserching beberapa info dari ponsel pintarnya, seputar malam pertama.




Baiklah... jika dia sudah keluar, maka aku akan mulai.


Ceklek, Lean keluar dari kamar mandi dengan mengenakan lingerie yang sangat tipis, berwarna hitam pula.


Menurut yang Nino baca, ada poin yang menuliskan tentang memakai baju tidur sexy.


"Waw..... Apa ini adalah kode?" Nino yang adalah pria normal tanpa menyimpang sedikitpun, auto menegang seketika.


Lean dapat menangkap gelagat Nino yang nampak menelan sesuatu yang nyangkut di tenggorokannya. "Yess, berhasil.. dia tergoda" batin Lean.


"Lean sayang," Nino mendekati istrinya itu dengan tatapan lapar. Pastilah, pria normal manapun jelas tergoda jika sesuatu seperti ini tersuguhkan di depannya. Apa lagi itu istri sendiri.


Seakan mengerti, Lean mengalungkan tangannya di tengkuk Nino.


"Tunggu apa lagi Nino, kau boleh melakukannya"


Tak membuang-buang waktu percuma, Nino ******* bibir itu dan mendapat balasannya.


Tangan Nino mulai menjalar kemana-mana mengabsen setiap lekuk tubuh istrinya. Dengan mudahnya, baju tipis istrinya itu lepas dari tempatnya.


"Astagaaa.. mama... aku malu.." Lean berteriak dalam hati.


Karena tubuh istrinya sudah dalam keadaan polos, Nino pun membuka pakaiannya sendiri.


Lean spontan saja menutup wajahnya sendiri dengan bantal, merasa malu melihat tubuh Nino.


"Sayang, jangan ditutup mukanya" Nino mengambil dan membuang bantal itu ke sembarang tempat dan kembali menindih tubuh istrinya. Perlahan ia menuntun tangan istrinya agar menyentuh juniornya yang sudah menegang sejak tadi.


"Nino.."


"Iya Sayang..."


Nino terus saja melancarkan aksinya untuk memberi rangsangan bagi Lean.


"Nino..."


"Iya sayang, terus saja panggil namaku!"


"Nino Sayang.."


Sepertinya Lean mulai dimabukkan oleh jamahan suaminya.


"Lean sayang.. apa aku sudah boleh masuk?" Bisik Nino.


Lean, mengangguk.


"Sayang, mungkin ini akan sakit.. aku akan pelan-pelan yah sayang..."


Lean mengangguk.


Dan... terjadilah malam pertama untuk mereka berdua.


\=\=\=\=\=


Arland dan Glesty berada di kamar mereka. Sekarang rasanya sangat berbeda. Si Kembar sudah menjadi milik orang lain.


"Sayang.."


"Hmmmm" jawab Glesty.


"Papa minta maaf ya,"


"Kenapa?"


Karena dulu, menikahimu dalam kesederhanaan, padahal... seharusnya kamu bisa merasakan pesta pernikahan seperti orang-orang.


"Sudahlah pa... itu sudah berlalu.. bahkan anak-anak kita sudah menikah."


"Iya sayang, sekarang kita berdua hanya akan fokus dengan kebahagiaan kita."


\=\=\=\=\=


1 bulan kemudian.


Calista sedang menatap tak percaya hasil USG yang ada di tangannya.


"Aku.. benar hamil?" Calis menitikkan airmata bahagia dengan tangan gemetar.


Saat ini, Calista berada di rumah sakit untuk melakukan USG. Memang, beberapa hari lalu dirinya melakukan test pack mandiri. Namun, untuk memastikannya ia melakukan USG.


Saat ini sang suami, Arles berpergian ke Korea Selatan untuk urusan bisnis dan akan pulang minggu depan.


Tiba di kediamana mertuanya, dimana dirinya dan Arles juga tinggal, Calita langsung menuju kamar mama papa untuk memberitahukan kabar ini.


Tok tok tok..


Ceklek..


"Ma.. bisa kita bicara?"


"Tentu sayang, sini masuk"


Calista pun masuk dan kebetulan ada Papa Arland juga disana.


"Ini Ma.. Pa.." Calista memberikan sebuah box kecil yang di hiasi dengan pita dan meletakkannya di hadapan kedua mertuanya.


"Apa ini sayang? Hadiah untuk Mama Papa?"


Calista tersenyum lalu mengangguk.


Glesty lalu buru-buru mengambil dan membukanya.


Terkejut, itulah ekspresi mama Gles saat melihat berbagai macam merek Test Pack bergaris dua di dalamnya.


"Sayang,, kamu.. hamil?" Mama Gles memastikan.


Calista mengangguk dengan air mata harunya yang kembali keluar.


Arland, Tak kalah terkejut mendapat kenyataan ini. Ia ikut melihat satu per satu test pack itu dan menatap hasil USG dari dokter kandungan yang juga ada di dalam kotak kecil tersebut.


"Ma... anak kita.. anak kita akan menjadi ayah.."

__ADS_1


"iya pah...."


Kedua orangtua itu berdiri dan menghampiri Calista lalu memeluknya bersamaan. Keduanya mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada istri putranya. Keduanya juga berpesan agar Calista menjaga dengan baik benih yang baru saja tumbuh dalam rahimnya itu.


"Pa... Ma.. jangan beritahu Arles dulu ya.. Calis mau surprise dia.."


"Iya sayang.. mama akan kirim bantuan surpirize untuk bantu kamu"


"Iya Ma.." kemudian Calista pergi dari kamar itu.


1 Minggu berlalu, Arles kembali pulang ke Tanah Air dengan perasaan bahagia.


Selain karena urusannya di sana semuanya berjalan lancar, dirinya juga bahagia akan bertemu lagi dengan istri tercinta yang menunggu di rumah.


"Arles pulang..." Mama menyambut anaknya itu dengan antusias.


"Ma.. dimana iatriku?" Arles merasa heran karena Calista sangat tumben tidak menyambutnya.


"Istri kamu sangat manja.. dia hanya malas-malasan di kamar" ucap Mama, ingin melihat reaksi Arles.


Arles seketika menatap mama. "Ma, mama tidak menjadi ibu mertua jahat dan menindas istriku kan?"


"Untuk apa aku menjahatinya? Dia akan memberiku hadiah cucu"


Arles setengah berlari ke kamarnya.


Ceklek..


Membuka pintu.


Netranya langsung berhadapan dengan dua kata yang bertuliskan "Hello Papa" yang menempel di tembok kamar. Belum lagi kamar ini dipenuhi dengan dekorasi unyu-unyu.


Ia tercekat di depan pintu. Calista tidak berada di kamar.


Greeep.. ada tangan yang memeluknya dari belakang. Arles seakan tak rela jika tidak memeluk istrinya. Ia memutar tubuhnya dan memeluk Calista. "Duuuuuh kangennya aku sama kamu!" Ia menghujani seluruh wajah istrinya dengan kecupan.


"Sayang," panggil Arles. Ia belum bisa menyimpulkan apa yang terjadi.


"Ayo masuk sayang," ajak Calista.


Mereka pun masuk.


"Ada apa dengan kamar kita sayang? dan apa maksudnya itu? Hello Papa?"


Calista menuntun suaminya itu untuk duduk di sisi tempat tidur. Setelah Arles sudah duduk disana, Calista naik ke pangkuan suaminya itu.


"Ad..ada apa ini sayang??.. Hei.. kau sudah tidak sabar? Tutuplah pintu terlebih dahulu" Bisik Arles, yang mengira istrinya ingin bermain panas.


Diambilnya kedua tangan Arles dan mengarahkannya ke perutnya yang masih rata.. "Halo sayang.. ini.. papa sudah pulang!"


"Ap.. apa.. maksudnya sayang..?" Arles semakin terlihat bingung. "Papa?.. Sayang, kamu.. hamil?"


Calista mengangguk.


"Hah.. yang bener kamu.. kamu tidak sedang ngeprank suami kan?"


"Beneran sayang.... di dalam ada anak kita. Mau lihat buktinya?" Calista lalu mengambil test pack dan hasil USG yang ada di bawah bantal dan memberikannya pada Arles.


Arles menatap lekat benda-benda itu dan perlahan airmatanya mulai menetes.


"Benar sayang... ini benar! Sayang... aku.. akan jadi bapak.."


Arles kembali memeluk istrinya itu sembari terus mencium perut yang masih sangat rata.


"Trima kasih Tuhan.. trima kasih Tuhan.. Terima kasih sayang.. Terima kasih sayang.."


"Cinta.. kamu senang?" Calista ikut menangis.


Arles mengangguk "Iya.. aku sangat sangat senang.. Sayang.. aku akan jaga kamu.. aku akan jaga kalian berdua.."


Ia lalu membaringkan istrinya dengan hati hati dan kembali mencium perut rata itu, dengan masih terisak dalam tangisnya. "Hei... anak papa jangan nakal di dalam ya sayang.. jangan nyusahin mamanya sayang.. anak papa yang pintar ya.."


"Iya papa" Calista mewakili anaknya untuk menjawab.


"Sini peluk lagi sayang.. Uuuhhh.. makin sayang aku sama kamu" Arles kembali memeluk tubuh istrinya.


"Ya Tuhan.. kuatkan istriku, tolong jaga istriku.. mampukan istriku melewati masa kehamilannya Tuhan.." Tak henti-hentinya Arles berdoa.


Keduanya tak menyadari ada papa dan mama yang sedang menikmati pemandangan manis dan mengharukan yang mereka berdua ciptakan. Tak hanya Glesty yang menangis, Arland pun juga menangis melihatnya..


"Ma... maafkan aku yang tidak menemanimu saat itu" Arland merasa bersalah ketika mengingat kembali masa dulu.


"Pa.. apa reaksimu juga akan seperti itu seandainya dulu kau mengetahui aku mengandung anak kita?" Mama Gles bertanya karena merasa ingin tahu.


"Tentu saja sayang.. sudah pasti aku sesenang itu"


\=\=


Setelah menghabiskan waktu kangen-kangenan dengan istrinya, Arles beranjak dari kasur meninggalakan Calista yang tertidur di bawah selimut.


Arles menuruni tangga dan nampak Papa dan Mama sedang duduk santai di depan Televisi.


"Arles, istri kamu mana?" Tanya mama Gles, kepo.


Bukannya menjawab, Arles malah merentangkan kedua tangannya ingin memeluk kedua orangtuanya, dengan mata berkaca-kaca. Papa dan mama sontak berdiri dari duduk mereka.


Arland dan Glesty mengetahui ada apa dengan putranya. Keduanya menerima pelukan Arles bersamaan "Selamat sayang.. kamu akan jadi papa" ucap mama papa, dan Arles hanya mengangguk sambil memeluk papa mama.


"Tokcer pah.. aku tokcer kan.."


"Iya boy.. kau hebat!" jawab Papa.


"Jadilah suami yang baik ya sayang.. jangan buat istrimu stress" saran mama.


"Ma.. Pa.. selama kehamilan istriku, mungkin kami tidak jadi pindah dari rumah ini.. aku ingin istriku dijaga dirumah ini saat aku sedang bekerja"


"Huss.. memangnya siapa yang izinkan kalian pindah? Mama akan urus sendiri menantu dan cucu mama"


"Ah trima kasih Ma.. mama yang terbaik!"


"Arless.. pelan-pelan saja saat sayang-sayangan dengan istrimu ya nak, mama tidak mau terjadi apa-apa dengan cucu mama didalam"


"Maaa.. aku tahu Maaa.. hal itu tidak perlu dijelaskan"


\=\=\=\=\=


Hari-hari telah belalu, bulan berganti bulan. Arles dan Calista kini memiliki seorang bayi berumur 3 bulan yang mereka panggil dengan nama baby Gescho.


Lean dan Nino juga sedang menantikan kelahiran putri pertama mereka.


Arland dan Glesty merasa kehidupan mereka semakin sempurna dengan hadirnya cucu yang menjadi salah satu sumber kehangatan di kediaman mereka.


"Sayang, mama papa mau pinjam baby Gesco dulu ya," mama masuk ke kamar untuk mengambil bayi itu.."


"Oke ma.. kalau anakku nangis tolong dibalikin ya.."


"Iya.. iya Arles.. tar kalau mama tidak balikin malah kamu yang habiskan susunya" Sindir mama, berhasil menuai pelototan Arles.


"Selamat ya ma..sekarang sudah jadi oma! ingat, jangan bikin paman kecil untuk Gescho" teriak Arles, menatap kepergian bayi dan oma tersebut.


"Sayang, kamu ada-ada saja.." Calista tak tahan untuk tidak tertawa. Suami coolnya ini terkadang memiliki jiwa humor yang tinggi.


"Nah.. baby boy sudah pergi.. sekarang, giliran papanya yang dapet jatah!"


Arles mendekati Calista dan... dan.. menuntut haknya yang sudah sangat jarang ia dapatkan.


\=\=\=


Begitulah kisahnya..


...TAMAT....


Ocehan Author:


Guyss.. trima kasih banyak yah.. kalian telah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir. Oh ya.. tanpa kalian, cerita ini tak akan berkembang sampai ke titik ini. Trima kasih untuk waktu luang yang kalian gunakan untuk membaca kisah ini, menunggu update, memberi like, Vote, komen yang lucu² membuat aku senyum² sendiri saat membacanya.


Aku tidak bisa menyenangkan semua pembaca, tapi aku sangat sadar kok kalau cerita ini tu masih sangat jauh dari kata sempurna. hehehe.. tenang, aku akan lebih giat lagi belajar dan memperbaiki kesalahan.


PENGUMUMAN PEMENANG RANGKING periode 29 Maret - 4 April 2021👇.



Untuk Klaim hadiahnya, 10 nama yang ada di SS👆.. silahkan folow akun othor ya ges.. mungkin juga ada yang sudah aku follow, tolong followback.


Ditunggu ya.


Hadiah akan di bagikan mulai tanggal 20 April 2021.👌


\=\=\=


REKOMENDASI CERITA Othor yg sudah tamat dan ga kalah seru😁 👇


Judul: Perjodohan Mama Papa




Satu lagi,



Atau kalian bisa klik profil aku dan langsung menemukan novelku yg lain☺☺.


Rekomendasi cerita punya temen othor (Tamat)👇



On going



ini lagi👇




Silahkan mampir, siapa tau kalian suka ya..


Oia, Othor bakal rilis cerita tentang Dion Alnaro adik dari Calista Nara ya guys, dan juga novel yang lainnya Tapi belum di publish. Tar othor kabarin disini, kali aja kalian suka.


.............

__ADS_1


Akhir kata, terima kasih banyak kepada kalian semua.. yuk, klik profil aku gess, temukan ceritaku yang lainnya.


Love u all and God Bless.


__ADS_2