
"Sudah siap?"
Bima menoleh ke samping di mana keberadaan wanita yang akan menjadi istri keduanya duduk tenang di kursi samping pengemudi.
Sementara sosok yang mendapat pertanyaan menoleh menatap pria tua tidak tahu malu yang bersemangat mempersunting gadis perawan seperti dirinya.
Nia sontak mendengus tidak suka. Meskipun wajah tampan Bima bisa menutupi usianya yang sudah beranjak 38 tahun lebih, tetap saja bagi seorang Nia, Bima hanyalah pria tua hidung belang, tak tahu malu, dan tak sadar umur. Harusnya Nia menikah dengan berondong saja biar awet muda. Jika menikah dengan pria di sampingnya, bisa-bisa Nia akan cepat tua.
"Hei."
Nia tersentak saat Bima menyentuh lengannya. Nia melotot. "Jangan sentuh saya ya, Pak. Bukan muhrim," tandasnya tanpa menghilangkan nada sinis.
Bima tersenyum tipis. Dia tidak mengambil hati dengan nada sinis Nia. "Kamu sudah siap?" tanya Bima lagi.
"Memangnya kalau saya tidak siap, bapak mau antar saya pulang?"
Bima menggeleng acuh sebagai jawaban.
"Sudah tahu seperti itu, masih saja tanya."
Bima ingat dengan kata-kata Nia yang mirip sekali dengan ucapan putra sulungnya malam itu.
"Ayo, turun. Calom anak-anakmu sudah menunggu." Bima turun dari mobil tanpa membukakan pintu untuk wanita dengan tensi darah tinggi itu.
"Tidak ada romantisnya. Benar-benar pria tua yang kaku seperti paku," gerutu Nia pelan.
"Ayo, masuk."
Dari carport mereka melewati taman kecil hingga tiba di pintu utama. Bima membuka pintu rumah besarnya di ikuti Nia dari belakang.
Nia di bawa duduk di ruang tamu dengan kursi besar, empuk dan nyaman. Nia menatap dinding polos yang menampakkan cat cream kalem hingga tidak membuat Nia sakit mata.
__ADS_1
Dari ruang tamu, Nia dapat melihat sebuah ruang besar di mana terdapat tangga spiral yang akan membawa ke lantai atas. Di tengah ruangan besar tersebut Nia bisa melihat sofa dengan mengarah ke layar televisi. Dugaan Nia jika itu adalah ruang keluarga yang memang sengaja tidak memiliki sekat dengan ruang tamu. Dari tempatnya duduk, Nia juga melihat beberapa pintu yang entah untuk pintu apa, Nia tidak tahu.
Hanya sebatas itu yang bisa di ekspos dengan matanya. Selebihnya tidak terlihat karena di tutup sekat.
"Kamu duduk dan tunggu di sini. Saya panggilkan anak-anak dulu."
Nia hanya mengangguk tanpa suara. Entah mengapa disuguhi pemandangan mewah yang memanjakan mata membuat Nia mendadak kalem.
Mendadak Nia menurunkan kepalanya dan menatap ke lantai di mana kaki terbalut sepatu dengan hak tingggi terpasang di kakinya. Bukan, Nia bukan sedang melihat kakinya atau sedang gugup. Wanita yang belum genap 28 tahun itu sedang menatap lantai yang terbuat dari bahan dasar granit mahal untuk ia bayangkan berapa uang yang akan ia terima jika dapat mencongkel satu buah granit putih di kakinya.
"Ehem!"
Entah sejak kapan Bima kembali. Tapi, saat Nia mendongakkan kepalanya, ia dihadapkan dengan empat pasang mata yang membuat Nia mendadak membeku.
Di tatapnya tiga laki-laki muda yang berjejer di samping Bima. Nia mendadak berdiri ketika mengenali salah satu dari tiga laki-laki di depannya.
"Kamu!" tunjuk Nia dengan mata terbelalak. Sementara orang yang ditunjuk juga tidak kalah terkejut.
Arga jelas aneh dengan kehadiran perempuan yang ia ikuti seharian penuh beberapa hari yang lalu. Perempuan yang tampak jutek dan keras tapi sebenarnya memiliki hati yang baik. Itu menurut penilaian sesaat Arga. Entah untuk sifat aslinya ia juga tidak tahu.
"Heh, sembarangan sumbangan. Walau pun saya ini punya utang sama rentenir gara-gara mantan cowok saya yang jelek, udik, hidup itu, saya juga tidak sudi mengemis," cetus Nia dengan wajah sinisnya. Tidak ada jaimnya untuk menjaga sikap.
"Idih, sensian. Orang cuma tanya basa-basi doang," sahut Arga. Segera setelah itu ia mendudukkan dirinya di sofa yang terdapat di ruang tamu.
"Jadi, ini calon istri papa yang baru?" Arga menatap papanya yang memiliki wajah tenang.
"Hm." Bima mengangguk sebagai jawabannya. "Kalia sudah kenal?" Bima menatap Arga dan Nia secara bergantian. Menunggu jawaban apa yang akan di sampaikan putranya ini.
"Kenal 'sih enggak. Tapi, cuma tahu nama dan pernah sekali ketemu."
"Ketemu di mana?" Bima menatap lekat putra sulungnya.
__ADS_1
"Di tempat makan," bohong Arga dengan wajah kalemnya, membuat Nia mendengkus.
Tempat tauran 'sih iya, batin Nia berujar sinis.
"Baiklah. Papa bawa tante Nia ke sini buat kenalin sama kalian. Sebentar lagi dia akan menjadi mama baru kalian dan mengurus kalian."
Jillo dan Kello menatap Nia dari atas ke bawah berulang kali hingga membuat Nia gemas ingin sekali mencolok mata anak-anak itu dengan telunjuknya. Jika tidak ingat sedang ada Arga dan Bima, Nia pasti sudah melakukannya. Ah, belum apa-apa sifat psyco dalam dirinya mendadak keluar.
"Terus mama?"
Tentu saja yang dimaksud oleh Jillo adalah mama kandung mereka yang sedang berada di lantai atas. Mama Hera.
"Mama Hera akan tetap menjadi mama kalian. Sekarang kenalan dulu sama tante Nia," ujar Bima pada kedua anaknya.
"Kakak. Jangan tante," ujar Nia tidak terima.
"Kenalin, Arkello, anak papa Bima yang paling ganteng." Kello lebih dulu memperkenalkan diri. Bungsu dari tiga saudara ini memang yang paling narsis di antara ketiga kakaknya.
"Kak Nia" balas Nia mengulurkan tangannya.
"Jillo." Kini bergantian Jillo yang memperkenalkan diri.
"Aku tidak perlu kenalan 'kan, Pa?" timpal Arga tanpa bangun dari tempat duduknya.
Bima menggeleng sebagai jawaban. "Kalau sudah kenal, tidak usah kenalan lagi." Bima kemudian menatap Nia. "Ayo, saya bawa ke atas ketemu istri pertama saya," ajaknya, membuat Nia mendadak kaku.
Nia sedang membayangkan hal apa yang akan ia dapatkan setelah bertemu dengan istri pertama Bima. Lampu hias, buku, tamparan, pukulan, atau mungkin saja pisau tajam. Ugh, membayangkannya saja Nia sudah lemas.
Bayangan memang tidak selalu terjadi. Apa yang ditakuti belum tentu terjadi. Terbukti dengan Hera--istri pertama Bima-- yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Nia bahkan tidak bisa membalas senyum tulus wanita itu saat suaminya sendiri membawa perempuan baru yang di kenalkan sebagai calon istri.
Gila! Batin Nia mengumpat.
__ADS_1
Hati istri mana yang rela di madu. Nia tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang kaya seperti mereka ini. Kalau itu terjadi pada diri Nia, mungkin ia sudah meraung menangis sambil menyumpah serapah suami dan madunya. Tapi, Nia justru disambut dengan senyum tulus yang entah mengapa membuat tulang tubuh Nia remuk.