Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 182


__ADS_3

Mereka akhirnya tiba di tempat tujuan, semua tampak baik-baik saja. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, bahkan sosok pria misterius yang beberapa waktu lalu masih sempat di lihat Qiara berada tidak jauh dari perahu yang mereka tumpangi kini menghilang entah kemana perginya.


Faraz yang merasa bingung dengan kediaman istrinya, mencoba untuk mengajaknya bicara. Ia tidak ingin sampai terjadi apa-apa, mengingat saat ini mereke tengah berada di tengah lautan meski kedalamannya tidak seberapa.


Sebelum mendekati Qiara, terlebih dahulu pria itu meminta salah satu orang kepercayaannya membawa Erzhan sedikit menjauh dari posisi mereka berada. Jangan sampai anak tampan itu mendengar apa yang ingin kedua orang tuanya bicarakan.


Melihat Erzhan sudah menjauh dari pandangan, baru lah Faraz menghampiri istrinya yang melamun sejak mereka tiba disana.


CUP


Qiara tersentak kaget mana kala sebuah ciuman singkat mendarat sempurna di pipi kirinya.


"Ish, Daddy ngagetin." Protesnya hanya di jawab kekehan dari pria itu


"Lagi mikirin apa sih, Mom?" tanya Faraz setelah berhasil membalikkan tubuh berisi wanita halalnya tersebut.


"Aku perhatiin dari tadi, Mommy selalu nengok kanan kiri gitu. Memangnya ada apa, hmm?"


Pria itu tentu merasa ada yang mencurigakan, sebab ia pun sempat melihat ada perahu milik nelayan seperti mengikkuti mereka walau dari jarak yang lumayan jauh.


Awalnya Ia masih berpikir positif, karena memang biasanya ada beberapa nelayan suka memancing ikan di kala cuaca mendukung. Tetapi, melihat Qiara seperti itu. Jelas Faraz harus memastikan jika tidak ada hal buruk yang mungkin saja datang menghampiri mereka tanpa di duga.


"Kalau Mommy rasa ngga nyaman, kasih tahu aku ya?" pinta Faraz dengan tatapan mata teduh menenangkan.


"Semoga ajah orang itu bukan berniat jahat pada kita." Imbuhnya


Qiara hanya mengangguk pelan, dia khawatir sekaligus penasaran akan sosok pria misterius tersebut.

__ADS_1


Sebaiknya aku minta Papi selidiki semua penghuni pulau, ngga aman rasanya kalau liburan harus di percepat.


Qiara tahu dimana pun mereka berada sudah pasti tidak akan pernah jauh dari yang namanya musibah, demi keamanan semua penduduk pulau terutama Oma dan Opa. Pilihan terbaik yaitu menghubungi pihak keluarga sebelum terlambat, karena tidak ada yang tahu di jam berikutnya akan terjadi apa.


Beruntung Nyonya muda Bramantya tersebut ikut membawa serta ponselnya, sehingga memudahkan untuk mengabari orang-orang terdekatnya terutama sang Papi tercinta.


Qiara menoleh ke arah samping dimana Faraz tengah sibuk mengabadikan momen indah taman laut, sesekali tertawa lepas mana kala tatapannya mengarah pada Erzhan yang tampak asyik bermain air dengan seorang pria ikut menemaninya.


"Daddy senang banget ya, akhirnya bisa liburan juga bertiga bareng Abang?" tanyanya setelah berhasil mengirim pesan pada ke empat pria kesayangannya yang berada di rumah.


Qiara jelas tidak mungkin hanya mengabari sang Papi, karena jauh sebelum mereka liburan nyatanya si kembar sudah berpesan agar tetap memberi kabar pada mereka jika terjadi apa-apa.


Faraz tersenyum hangat sembari mengangguk pelan, jujur saja ia merasa sangat bahagia akhirnya bisa meluangkan waktu bersama istri dan anaknya seperti ini.


"Jangan lupa, masih ada si kecil ini ikut liburan bersama kita." Kekehnya sembari mengusap lembut perut buncit Qiara


"Aku selalu berdoa, semoga keluarga kita di jauhkan dari hal-hal yang tidak baik."


Sejauh ini, belum ada masalah yang membuat pernikahan pasangan suami istri itu berada dalam tahap sedang di uji perjalanan rumah tangga mereka.


Itu sebabnya, baik Faraz maupun Qiara harus tetap berhati-hati dalam setiap mengambil langkah ke depan agar kelak mereka jauh dari yang namanya pertengkaran.


Ujian dalam pernikahan jelas ada, tetapi tinggal bagaimana mereka harus pintar menilai baik buruknya seperti apa.


.


.

__ADS_1


Mengamati keindahan taman laut buatan memang sangat menyenangkan, terlebih ada banyak anak-anak serta orang tua yang ikut menemeni keluarga kecil tersebut sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum jam makan siang tiba.


Faraz dan Qiara selalu mengawasi setiap orang yang berada disana, khawatir jangan sampai sosok misterius yang sempat mengikuti mereka tadi berada di antara orang-orang dewasa tersebut.


"Berasa kayak mata-mata kita ya, Dad?" bisik Qiara merasa lucu dengan apa yang kini mereka lakukan.


"Asal ngga ketahuan mereka ajah udah mending, Mom." Sahut Faraz dibarengi kekehan kecil


Pasangan suami istri itu langsung tertawa lepas ketika menyadari adanya si kecil tampan rupanya ikut mendengarkan, kedua mata putra mereka tampak menelisik tajam seolah ingin tahu.


Erzhan yang posisinya tepat berada di antara Daddy dan Mommy nya sudah pasti bisa mendengar dengan jelas apa saja yang keduanya bicarakan.


"Abang dengar semuanya loh, barusan kalian bisik-bisik kenapa ngga ngajak Abang sih?" protesnya dengan bibir mengerucut tanda merajuk


Faraz langsung menggendong putranya itu agar bisa leluasa menjawab pertanyaannya.


"Ada yang nakal, Bang." Bisiknya pelan di telinga Erzhan


"Siapa? Jangan bilang paman aneh yang sempat ngikutin kita pakai perahu nelayan tadi?"


"Eh, kok Abang bisa tahu sih?" kekeh Faraz tidak menyangka ternyata sang putra ikut melihat sosok misterius yang barusan ia dan istrinya bicarakan.


Erzhan memang sangat pintar dan penuh hati-hati, ia sangat peka dengan keadaan di sekitarnya.


"Kalau memang yang Daddy maksud adalah orang itu, maka Abang tahu siapa pelakunya."


"Loh, memangnya Abang pernah lihat orang itu?" tanya Qiara ikut di buat penasaran.

__ADS_1


Sejak tadi wanita itu hanya diam mendengarkan, tetapi perkataan sang putra jelas mengundang rasa ingin tahunya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2