Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 144


__ADS_3

Faraz sengaja mengantar Erzhan terlebih dahulu ke sekolah, sebelum ia menuju perusahaan bersama Qiara yang ikut menemani.


Jangan tanya mengapa pria itu selalu membawa serta istrinya, sebab tidak ada alasan untuk mengajak sang Nyonya muda kapan pun ia mau.


Beruntung Qiara tidak pernah mengeluarkan kalimat protes apalagi kesal, meski jauh di dasar hatinya ingin sekali mengunjungi kediaman Rafindra. Menemui Papi dan Mami kesayangannya juga si kembar.


Sudah satu minggu, Qiara menyandang status Nyonya muda Bramantya namun belum ada tanda-tanda gadis itu mengatakan kesiapannya dalam masalah hubungan suami istri.


Bukan Qiara menolak apalagi sampai menunda ingin memiliki anak, tetapi rasanya terlalu cepat jika Ibu sambung kesayangan si kecil tersebut untuk memiliki anak sendiri.


Erzhan baru berusia enam tahun, sangat butuh perhatian dan kasih sayangnya yang sekarang malah jauh lebih besar di bandingkan sebelum menikah dengan Faraz.


Sikap posesif Erzhan semakin menjadi dan sulit menerima orang baru selain kehadirannya di hidup sang Mommy kesayangan.


Faraz sudah mendiskusikan semuanya bersama Qiara beberapa hari yang lalu. Perihal anak bisa di bicarakan kembali, tanpa harus membuat anak yang lain merasa tersisi apalagi sampai terluka bathinnya.


๐Ÿ€


Tiba di depan sekolah, Erzhan langsung turun usai berpamitan dan mencium tangan Mommy dan Daddy nya bergantian.


"Abang sekolah dulu ya," ucapnya pelan sembari melanggang masuk bersama dua anak kecil lainnya.


Faraz menatap punggung kecil sang putra yang menghilang di balik pintu ruangan.


"Kamu ngga mau jalan lagi?" tanya Qiara membuyarkan lamunan suaminya tersebut.


"Idih, lagi mikirin apaan sih?" kekehnya merasa gemas dengan tingkah Faraz seperti ketahuan melakukan kesalahan.


Pria itu tersenyum malu, ketahuan melamun oleh istrinya.


"Jalan Daddy! Entar telat lagi ikut meeting nya," peringat Qiara mulai serius.


"Hmm." Faraz segera menjalankan mobilnya dengan kecepataan sedang meninggalkan area sekolah


Selama perjalanan menuju perusahaan, keduanya sesekali melempar candaan atau membicarakan banyak hal seputar masa depan Erzhan.


.


.


Dua puluh menit kemudian, mobil yang di kendarai Faraz sudah memasuki lobi parkiran perusahaan.


Pria itu langsung menuntun istrinya masuk ke dalam lift yang hanya boleh di gunakan oleh petinggi perusahaan.


Tring


Saat pintu terbuka lebar, Qiara melangkah keluar lebih dulu sembari menggandeng jemari besar Faraz yang mengekor di belakangnya.


Bohong jika gadis itu tidak merasakan bahagia pada akhirnya kembali di persatukan dengan sosok yang dulu sewaktu masih anak-anak sering mengajaknya bermain bersama.


Mereka yang sudah di jodohkan oleh kedua belah pihak keluarga, tentu sama-sama mengetahui perasaan masing-masing.


Hanya saja, Qiara tidak sepenuhnya yakin ketika si kembar menceritakan siapa Faraz.

__ADS_1


Kembali di pertemukan, namun dengan kehidupan yang berbeda jauh. Siapa yang masih bisa mengingatnya jika kedua anak manusia tersebut nyatanya sudah saling melupakan.


Ceklek


Qiara tersenyum manis, mendapati ruangan suaminya penuh dengan cemilan dan aneka macam kue.


"Apa Kak Delia sudah tiba lebih dulu?" gumamnya keheranan.


"Coba di periksa, siapa tahu dia memang sudah kembali." Seru Faraz tanpa menoleh kearah istrinya yang kebingungan


"Daddy ajah yang periksa sana!"


Qiara sebenarnya malas jika harus keluar lagi dari ruangan milik suaminya.


"Aku di sini, ngapain kalian malah berdebat?" cebik Sekertaris Delia menatap malas pasangan suami istri tersebut.


"Kue pesanan Nyonya Kamila juga ada di situ, kotak yang warna biru." Imbuhnya seraya menunjuk salah satu kotak lumayan besar di atas meja


Faraz hanya menoleh sekilas, ia kembali fokus menatap layar komputer untuk memastikan beberapa file penting sudah tersimpan dengan baik.


"Meeting jam berapa?" tanyanya pada sang sekertaris.


"Setengah jam lagi Bos, itu pun kalau anda tidak menunda waktunya." Jawab wanita cantik itu setengah menyindir


Seperti yang sudah-sudah, dimana Faraz sengaja mengulur waktu rapat atau pertemuan dengan klien hanya untuk bermesraan dengan Qiara.


Di larang pun tidak ada gunanya, selain pasrah meladeni tingkah manja dan jahil pria itu bila sudah menempel pada istrinya.


Dia ingin merapikan kembali pakaian suaminya yang sedikit berantakan.


"Ngga boleh?" tanyanya sengaja tidak di terusakan.


"Menyiksa karyawan," jawab Faraz malas.


Qiara tertawa gemas mendapati raut wajah masam suaminya tersebut.


CUP


"Udah ya, sana meeting! Kasihan Kak Delia," usirnya dengan halus mendorong punggung Faraz sampai keluar dari ruangan.


Ciuman barusan ternyata sangat ampuh, bisa mengembalikan mood pria itu seperti semula.


Melihat suaminya bersama Sekertaris Delia menghilang masuk ke dalam lift, baru lah Qiara menutup pintu ruangan tanpa di kunci.


Dia ingin menghubungi Neta, berharap calon kakak iparnya itu memiliki waktu luang sekedar mengobrol dengannya.


Sambungan telefon langsung terhubung, senyum Qiara tampak merekah saking rindunya.


[Hallo, pengantin baru yang lupa cara menghungi sahabatnya akhir-akhir ini]


[Tumben baru ingat aku?]


"Hallo, Taa. Sorry banget ya, aku kemarin-kemarin sibuk ngurus dua bayi." Sahut Qiara terkekeh

__ADS_1


[Hadeh, giliran udah nikah ajah. Kamu lupa sama aku, padahal aku tuh nunggu kabar dari kamu]


"Aku baru punya waktu luang sekerang, kamu tahu sendiri gimana kalau Ayah dan Anak itu sudah timbul sisi manja mereka."


[Hmm, iya deh. Aku kan, sekarang udah bukan lagi prioritas kamu. Mau merindu pun harus sadar diri]


"Heh, mulutmu."


Cukup lama Qiara mengobrol dengan Neta tanpa menyadari kehadiran Faraz di sampingnya.


Pria itu tampak merajuk setelah kembali dari meeting bersama Sekertaris Delia.


"Mom," panggilnya.


"Mommy," ulang Faraz mulai kehilangan sabar di acuhkan.


"Astaga, Qiara Rafindra." Pekiknya lumayan kuat berhasil menyadarkan gadis itu dari fokusnya berbicara lewat sambungan telefon dengan Neta


Qiara jelas kaget melihat suaminya yang duduk tepat di sampingnya dengan wajah masam.


"Loh, Daddy kapan masuk? Aku ngga dengar," ucapnya tanpa mematikan sambungan telefon.


"Menurutmu?" cebik Faraz menatap jengah istrinya yang tertawa tanpa dosa.


"Kasihan, suami aku lagi ngambek nih ceritanya?" goda Qiara sengaja mundur ke belakang tanpa berniat menenangkan suaminya.


"Bagus, kayak gitu ajah terus." kesal Faraz hendak bangkit dari sofa namun gerakannya langsung terhenti


Qiara menarik perlahan tubuhnya agar masuk ke dalam pelukan yang sejujurnya hanya itu ia butuhkan sekarang.


Di meeting tadi, seorang penanggung jawab dari salah satu proyek besar yang rencananya bulan depan akan di bangun. Tanpa rasa takut menjahili Faraz dengan cara berbohong, bahkan tidak segan-segan ikut andil menggoda atasannya sampai akhirnya pria itu keluar dari ruangan dengan merajuk dan pastinya kesal.


Faraz tidak habis pikir dengan semua orang kepercayaannya, tidak akan pernah puas membuatnya kesal walau ia tahu itu hanya bercanda.


Beruntung ada Qiara tempatnya mengadu, sebab istrinya akan mengomeli semua orang yang berani membuatnya tidak nyaman.


"Kalau perlu bulan ini ngga usah kasih bonus sekalian biar tahu rasa," seru Faraz mengompori istrinya yang mengintrogasi tiga orang di dalam ruangannya.


Tampak ketiga penangggung jawab proyek tersebut, menatap penuh permusuhan kearah sang Bos yang tertawa penuh kemenangan.


"Ok. Bulan ini berarti kalian ngga dapat bonus ya, siapa suruh gangguin suamiku. Udah tahu orangnya sekarang mudah sensian gara-gara kalah saing dengan putranya sendiri." Ucap Qiara dengan santai namun kalimat terakhirnya bersifat menyindir suaminya


Kedua bola mata Faraz sontak membulat sempurna dengan mulut yang menganga lebar.


"Wah, pencitraan sih ini."


"Kan, aku ngomong kenyataan Daddy."


"Tapi ..."


"Udah, ngaku ajah kalau ngga suka lihat Abang nempel sama aku. Bisa kita diskusikan lewat transferan atau sama kartunya ajah sekalian, biar aku besok jadi shoping bareng Mami, Mama dan Neta."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2