
Tidak terasa liburan selama kurang lebih satu bulan akhirnya selesai dengan kembalinya Faraz besama Qiara pulang ke rumah utama Rafindra.
Oma dan Opa ikut bersama pasangan suami istri itu tanpa memberi tahu pihak keluarga, alasannya ingin memberi kejutan pada mereka.
Perjalanan yang memakan waktu hampir setengah hari tersebut, menjadi pengalaman indah serta terasa menyenangkan bagi Oma dan Opa.
Faraz hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya, merasa takjub dengan keberanian Qiara sewaktu menerbangkan pesawat hingga mendarat sempurna di bandara.
Sungguh pria itu baru tahu istrinya sangat pintar dan penuh rahasia yang sampai detik ini belum pernah Qiara ceritakan padanya.
Oma dan Opa lebih dulu turun dari pesawat dengan bantuan dua petugas bandara, sementara Faraz masih berada di tempat duduknya. Enggan beranjak karena merajuk tidak tahu apapun tentang Qiara, padahal keduanya sudah menikah hampir tujuh bulan lamanya.
Melihat Faraz tidak bergerak sedikit pun, membuat Qiara bingung lalu menghampiri suaminya tersebut.
"Loh, Daddy ngapain belum turun?" tanyanya hendak mencium pipi kanan pria itu namun gagal.
Faraz menghindar tidak mau di cium apalagi melihat kearah istrinya yang semakin di buat kebingungan sendiri.
"Ish, kenapa sih? Aku ada buat salah?" heran Qiara belum menyadari situasi yang ada.
"Aku tinggal ya?" ancamnya pura-pura.
Sungguh gadis itu merasakan semua bagian tubuhnya sakit dan ingin segera istirahat, tetapi Faraz malah bertingkah bak anak kecil yang mencari perhatian ibunya.
__ADS_1
Cukup lama Qiara berpikir dengan segala sesuatu yang melintas di otaknya, hingga beberapa menit kemudian dia tersenyum sembari mengacak rambut Faraz saking gemasnya.
Seluruh bagian wajah tampan milik pria itu menjadi sasaran bibir Qiara, tidak peduli suaminya merengek minta di lepaskan.
"Udah Mom," kesal Faraz berusaha menghindar namun selalu gagal.
"Mommy," pekiknya lumayan kuat berhasil menghentikan Qiara.
Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Sebab, istri cantiknya tersebut kembali menciumnya dengan lembut dan lumayan lama.
"I love you, Daddy." Bisik Qiara pelan hendak berlari keluar turun dari atas pesawat namun langkahnya terhenti
"Momny bilang apa barusan?" tanya Faraz kembali memastikan apakah pendengarannya tidak bermasalah.
Sungguh pria itu terlihat sangat menggemaskan di mata Qiara, terlebih kedua pipinya yang memerah semakin membuat gadis itu senang menggoda suaminya tersebut.
"Mommy."
"Iya sayang."
Faraz hanya ingin mendengar kembali apa yang istrinya katakan, tetapi Qiara seolah pura-pura lupa.
Karena kasihan juga merasa tidak tega, akhirnya Qiara berhenti mengerjai pria kesayangannya itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, suamiku sayang."
"Sangat-sangat mencintaimu."
Ulang Qiara sembari menatap intens kedua mata Faraz tak berkedip.
"Maaf jika selama ini ada begitu banyak yang aku rahasiakan darimu, termasuk yang aku lakukan beberapa waktu lalu."
"Daddy pasti mikirnya aku sengaja tidak berkata jujur, iya kan?"
Di tatapnya kedua mata Faraz yang selalu menatapnya teduh penuh kasing sayang dan terselip banyak cinta di sana.
"Pulang rumah baru aku ceritakan semuanya, hmm?"
Faraz mengangguk pelan dengan kedua mata fokus menatap istrinya yang tersenyum manis.
Mungkin Qiara perlu waktu sampai belum berani mengatakan yang sejujurnya, mengingat pernikahan mereka terbilang masih baru.
Selang lima belas menit, baru lah pasangan suami istri tersebut beranjak keluar turun dari pesawat, langsung menemui Oma dan Opa.
Pasangan baya itu tampak gemas sekaligus kesal sudah di buat menunggu dalam kurun waktu lumayan lama.
"Kapan sampai rumah kalau harus nunggu mereka selesai bermesraan."
__ADS_1
๐๐๐๐๐