Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 11


__ADS_3

Bab 11


"Agak kuat, Sayang. Ugh, enaknya."


"Ahh! Pelan dikit nekannya, Sayang."


"Ugh, nikmatnya."


"Bawah dikit, Mi. Iya, di situ."


Suara erangan dan juga racauan terdengar dari mulut Bima. Pria itu tengah memejamkan matanya menikmati pijatan dari sang istri yang saat ini sedang menduduki punggungnya.


Tidak tahu jin mana yang merasuki sang istri yang tiba-tiba saja ingin memijatnya malam ini. Padahal niatnya Bima ingin menceritakan kedatangan Dirman ayah biologis Arga pada istrinya. Sepertinya, Bima akan menundanya sebentar sebelum nanti ia akan menjelaskan dengan detail kedatangan Dirman ke kantornya.


Nia sendiri sengaja melakukan ini sebagai baktinya pada suami. Lebih lagi Nia memiliki misi penting malam ini sehingga ia mau memijat Bima tanpa diperintahkan oleh suaminya itu.


"Mas," panggil Nia. Ini saatnya, ujar batin wanita itu.


"Iya, Sayang. Kenapa?" Bima menyahut tanpa mengangkat kepalanya dari bantal. Pria itu sedang menikmati pijatan di punggungnya dan tidak berniat untuk bergerak. Jika ia bergerak dipastikan sang istri akan lari dari kamar dan tidak mau memijatnya.


"Tadi siang aku dapat surat dari label rekaman gitu."


"Maksudnya Mami mau ikut jadi penyanyi? Jangan deh, Mi. Suara Mami enggak enak didengar." Bima spontan memekik ketika mendapat cubitan di punggungnya dari sang istri. Cubitan Nia memang tidak pernah berubah, pikir Bima dalam hati.


"Bukan aku yang dapatnya, Mas. Tapi, Arga. Mas tahu 'kan kalau Arga itu anaknya malas berpikir. Dia juga enggak mau terjun ke dunia bisnis. Udah begitu, disuruh hitung dia paling males juga. Yah, aku saja kaget ternyata dia punya bakat menyanyi." Nia mulai merangkai kata. "Walaupun Mas sudah memberikan beberapa jenis usaha yang dikelola oleh orang lain buat anak-anak, tetap saja Arga minimal harus punya bakatnya sendiri."


"Aku sebenarnya enggak setuju kalau Arga jadi penyanyi. Tapi, aku justru makin enggak tega kalau semua adik-adiknya mewujudkan cita-cita mereka dengan keahlian mereka. Tapi, Arga enggak."


"Huh, kalau anak itu sudah jadi artis, pasti dia bakalan lupa sama kita dan sibuk. Tapi, setelah lulus kuliah enggak mungkin juga kita membiarkan dia jadi pengangguran."


"Apalagi pergaulan anak muda zaman sekarang, Mas. Banyak pengangguran, banyak pergaulan bebas sampai pakai narkoba. Makanya itu aku enggak mau Arga ikutan kayak anak-anak nakal itu."


Bima masih diam mendengar semua ocehan istrinya. Kalau sudah begini, Bima tidak memiliki pendapat apa pun karena apa yang ingin ia katakan sudah diucapkan oleh istrinya.


Bima ingin mengatakan hal-hal buruk tentang Arga jika menjadi penyanyi. Tapi, istrinya dengan licik sudah lebih dulu mendahului ucapannya dan berakhir dengan ia mendukung Arga menjadi penyanyi.


Licik sekali, pikir Bima.


"Jadi, maksud mami memijat mas dan bersikap manis malam ini, untuk membujuk mas agar mengizinkan Arga menjadi penyanyi. Begitu, Mi?"


Nia menghentikan pijatannya kemudian menunduk dan menatap wajah suaminya dari jarak dekat. "Mas, aku enggak ada bujuk mas, ya. Memangnya tadi aku ada bilang kalau Mas harus izinkan Arga menjadi penyanyi?" Nia menatap Bima dengan tatapan serius miliknya.


"Mami memang enggak ada sebut eperti itu. Tapi, ucapan mami menjurus ke sana." Bima tersenyum geli melihat ekspresi wajah Nia yang langsung berubah.


"Iya-iya." Nia menegakkan tubuhnya dan melanjutkan pekerjaannya kembali memijat punggung Bima. "Jadi, Mas izinkan enggak?"


"Suruh Arga bicara dengan mas."


"Hmm. Oke."


Nia tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan penuh semangat.


"Mas juga ada yang ingin dibahas dengan mami nanti."


"Bahas apa?"

__ADS_1


"Ada. Tentang Arga."


"Baiklah. Habis aku pijat ini, kita bicara," putus Nia yang mendapat anggukan dari Bima.


____


Nia melangkah memasuki kamar Arga kemudian berkacak pinggang di dekat tempat tidur melihat bagaimana Arga tertidur dengan kedua tangan dan kaki terlentang di atas kasur.


Ini sudah siang dan jam sudah menunjukkan pukul 11 tapi anak sulungnya yang pemalas ini belum juga bangun mentang-mentang tidak ada jadwal kuliah hari ini.


"Ga, bangun." Nia menggoyangkan lengan Arga namun tidak mendapat respons. Beberapa kali ia berusaha untuk membangunkan Arga namun pemuda itu tetap bergeming di tempatnya.


Nia menarik napasnya, kemudian menghembuskannya kembali. Beberapa kali ia melakukan itu sebelum akhirnya ia berteriak dengan suara menggelegar.


"Argano Sanjaya!"


Spontan kelopak mata Arga terbuka lebar. Pemuda itu menyentuh di mana letak jantung yang berdebar kencang karena suara teriakan maminya yang begitu mengejutkannya.


"Mami, bisa enggak, enggak usah teriak?" Arga dengan kesal memelototi maminya yang hobi sekali berteriak.


"Kamu yang bisa enggak dibangunkan sekali saja langsung bangun? Kamu kalau enggak dengar suara teriakan maut mami, mungkin kamu enggak akan bangun dari tidur." Nia melototi Arga yang kini sudah terduduk di tempatnya sambil mengusap debar jantungnya.


"Aku mana tahu kalau Mami bangunkan aku."


"Makanya kalau tidur enggak usah kayak kebo beranak. Susah banget dibangunin." Nia menggerutu seraya menarik gordeng kamar Arga hingga cahaya menyilaukan masuk melewati celah jendela yang sudah terbuka lebar.


"Memangnya Mami pernah lihat kebo beranak?"


Arga menatap maminya sambil menggaruk kepalanya yang gatal. Sepertinya Arga sudah banyak ketombe dan dia berniat untuk mengganti merk shampo yang ia pakai beberapa hari ini. Beberapa hari ini memang Arga mengambil shampo milik Kello hingga ia harus merasa gatal karena tak cocok.


"Siap-siap mau ke mana, Mi?" Arga menatap maminya dengan bingung.


"Tadi Oma Rana ke sini minta tolong sama kamu jemput onty Dera di kampus. Soalnya Dirga lagi ikut papa kamu ke kantor."


Arga mengerjap matanya kemudian menghembuskan napasnya pelan. Pemuda itu menganggukkan kepala dan memilih untuk bangkit dari tempat tidur sebelum maminya kembali berteriak.


Arga memang terkadang diminta oleh Rana--oma muda-- untuk menjemput bibinya yang berusia satu tahun di bawahnya. Tentunya Dera kuliah di universitas yang berbeda dengan Arga dan Dirga sehingga terkadang jadwal kuliah mereka tidak sama.


Dera sendiri meskipun sudah berusia 19 tahun, gadis itu tidak bisa mengendarai kendaraannya sendiri baik mobil ataupun motor. Diminta untuk naik taksi saja, Dera masih tidak berani. Jadinya terkadang Rana sebagai ibu Dera sering meminta bantuan sopir atau orang-orang terdekat untuk menjemput putrinya.


Setelah Arga masuk ke dalam kamar mandi, Nia kemudian merapikan tempat tidur Arga dan memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang. Wanita itu juga mempersiapkan pakaian untuk Arga yang akan digunakan oleh anaknya pergi nanti.


Setelah merapikan kamar Arga, Nia melangkah keluar menuju kamar kedua putrinya yang terletak di lantai dasar. Kedua putrinya memang memiliki kamar berpisah dengannya dan Bima agar mereka terbiasa tidur sendiri sejak kecil. Tapi, meski begitu saat malam mereka akan lebih dulu menemani kedua putri mereka sampai tertidur lelap sebelum kembali ke kamar mereka sendiri.


Sementara Arga sendiri sudah selesai mandi dan bersiap untuk pergi. Pemuda itu pamit pada Nia dan melangkah keluar naik ke motor sport miliknya.


3 tahun sudah berlalu dan Arga sendiri sudah beberapa kali ganti kendaraan. Arga kemudian melajukan kendaraannya menuju universitas di mana bibinya kuliah.


Arga sudah menghubungi Dera dan gadis itu baru akan keluar dari kelas beberapa menit lagi. Jadinya Arga harus menunggu lebih dulu di depan kampus.


Sementara sosok Dera sendiri baru keluar dari kelas ketika dosen selesai memberikan materi.


Langkah Dera terhenti ketika sosok Arkan berdiri menghadangnya sambil menatapnya dengan tatapan tajam.


Arkan dan Dera menjalin hubungan sejak beberapa bulan yang lalu. Saat ini hubungan mereka merenggang karena kecemburuan Arkan yang mengira jika Dera memiliki hubungan dengan pemuda lain. Hal itu dikompori juga oleh teman dekat Arkan yang bernama Melani.

__ADS_1


"Kita belum selesai bicara tadi," kata Arkan, membuat Dera memutar bola matanya.


"Apalagi yang harus dijelaskan? Aku sudah bilang kalau Dirga itu kakak aku. Kenapa kamu enggak percaya? Kamu justru percaya sama Melani. Sebenarnya pacar kamu itu aku atau Melani?" Dera membalas tak mau kalah. Tangannya terlipat di dada sambil menatap Arkan dengan tatapan tajamnya.


Dera sudah muak dengan segala tuduhan yang diberikan Arkan padanya.


"Enggak mungkin. Aku tahunya kamu anak tunggal dari papa dan mamamu." Arkan masih saja membantah, membuat Dera memutar bola matanya lagi.


"Kamu hanya tahu aku anak tunggal karena kamu belum pernah melihat ketiga kakakku. Kamu hanya percaya dengan ucapan Melani. Itu terserah kamu."


Tak mau memperpanjang perdebatannya dengan Arkan, Dera kemudian melangkah pergi meninggalkan Arkan yang masih berusaha untuk mengejarnya dan meminta penjelasan tentang hubungannya dengan Dirga.


Dua minggu yang lalu Arkan pernah melihat Dera jalan dengan seorang pemuda di sebuah pusat perbelanjaan. Dari situ semua bermula. Kecurigaan Arkan dan tuduhan Arkan terhadap Dera membuat Dera jengah meski sudah berbuih mulut Dera menjelaskan jika yang jalan saat ini adalah kakaknya, tetap saja Arkan tidak percaya.


"Arga!"


Arga yang sedang menatap sekeliling spontan menoleh ketika mendengar seruan seseorang.


Pemuda itu melempar senyum pada bibinya kemudian mengerut kening saat melihat seorang pemuda lain berusaha untuk mengejar bibinya.


Arga segera turun dari motor dan menghampiri Dera. Arga tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada bibinya.


"Kamu sudah lama sampainya?" Dera berusaha mengatur napasnya saat sudah berdiri di hadapan Arga.


"Baru 5 menit, Ty. Ty Dera langsung mau pulang atau kita nongkrong dulu?" Arga menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian beralih menatap bibinya.


"Mau nongkrong dulu. Memangnya kamu mau?"


"Ayo lah. Dari pada aku bengong enggak ada kerjaan di rumah."


"Enggak ada kerjaan apa? Orang kamu pasti bakal jadi sopirnya Kak Nia ke mana-mana."


Orang lain akan merasa aneh jika Dera bisa memanggil Nia dan Bima dengan sebutan 'kakak' mengingat selisih usia mereka. Namun, itu adalah kewajiban mengingat Dera dan Dirga adalah adik satu ayah lain ibu dengan Bima.


"Hari ini aku free, kok. Mami yang bilang aku boleh main sepuasnya," sahut Arga santai. Padahal pemuda itu sedang berdoa dan berharap di dalam hatinya agar maminya tidak mengoceh ia keluar mengajak bibinya untuk nongkrong.


"Ayo, kita pergi."


Dera bersiap naik ke atas motor sebelum tangannya ditahan oleh Arkan yang entah kapan sudah berdiri di sampingnya.


"Der, dia siapa?" Arkan menatap tajam Arga yang sudah naik ke atas motornya.


"Dia keponakan aku. Aku mau pulang bareng dia," jawab Dera sambil menatap Arkan. Sementara Arga sudah bersiap di atas motornya dan memasang helm di kepalanya. Tidak lupa ia juga memberikan helm yang ia bawa pada Dera.


"Kamu pikir aku percaya kalau dia keponakan kamu? Mana ada!" Arkan berseru membuat Arga yang sudah bersiap segera turun dari motornya.


"Jaga nada bicara lo jangan kasar." Arga mendorong Arkan menjauh dari bibinya. Arga tidak ingin jika bibinya disakiti oleh tuan muda yang bahkan tidak dikenalinya.


Menyadari jika akan ada perkelahian, Dera segera menarik Arga untuk naik ke atas motor dan membawanya pergi. Tolong, jangan sampai keponakannya ini bermain fisik dengan Arkan. Dera tidak ingin Arkan terluka karena mengingat Arga adalah mantan preman sekolah yang hobi tawuran. Jadi, sudah dipastikan Arkan akan kalah di tangan Arga.


"Kita pergi sekarang."


Segera Arga naik ke atas motor kemudian menyalakannya hingga melaju pergi meninggalkan Arkan yang menatap punggung kekasihnya yang bergerak menjauh dengan tatapan kecewa.


Kedua tangan Arkan terkepal membuat buku jemarinya memutih. Arkan tidak siap menerima hubungannya dengan sang kekasih hancur begitu saja. Arkan akan melakukan segala cara agar Radika Adera tetap menjadi kekasihnya.

__ADS_1


__ADS_2