Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 196


__ADS_3

Ketiga buah hati kesayangan Faraz dan Qiara semakin hari semakin pintar.


Sudah paham jika kedua orang tua mereka ingin pergi keluar kota atau negri untuk melakukan perjalanan bisnis, karena Faraz sendiri tidak mau lagi meninggalkan Qiara walau sehari.


Pria itu semakin mencintai istrinya, tidak pernah sekalipun memiliki niat tidak baik di luar sana apalagi sampai menyakiti hati wanita halalnya itu.


Adanya si masa lalu yang sering muncul dengan alasan menemui sang putra, membuat Faraz semula kurang nyaman. Tetapi, ia yakin rumah tangganya akan baik-baik saja.


Meski terkadang ujian pernikahan selalu datang, pria itu tetap setia pada istri keduanya.


Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Qiara dalama hidup Faraz, terlebih sekarang di antara mereka sudah ada si kembar yang mulai tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan pastinya sangat posesif terhadap Mommy mereka.


Faqi, Razqi dan Azqia memiliki ikatan bathin yang kuat dengan Qiara, salah sedikit maka sasaran mereka sudah pasti Ritz sendiri.


Sedangkan untuk Erzhan, justru anak tampan itu lebih bersikap dewasa dalam bertindak. Jika sudah tahu ada yang salah dengan perubahan suasana hati sang Mommy kesayangan, tindakan yang Erzhan ambil bukan lagi merayu Qiara menggunakan alasan jalan-jalan keluar atau semacamnya. Tetapi, ia akan menjadi pendengar yang baik sekaligus memberi saran agar masalahnya tidak melebar kemana-mana.


Erzhan sangat peka dan perasa, tidak jarang sering mendapati sang Mommy tengah menangis diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain, termasuk Daddy nya.


Seperti sekarang, tepat di sudut ruangan yang letaknya berada di lantai paling atas rumah mereka. Terlihat jelas bagaimana Qiara menahan tangisannya agar tidak terdengar, punggungnya bergetar sebagai tanda betapa wanita itu sangat kesulitan mengendalikan emosinya.


Erzhan yang sudah tahu pun, segera mendekat dengan harapan semoga Mommy nya bisa mereda tangisannya.


"Kali ini, masalah apalagi yang membuat air mata Mommy ku sampai keluar, hmm?" serunya berhasil mengagetkan Qiara.


"Loh, Abang. Ngapain disini?" tanya wanita itu dengan cepat menghapus sisa kebasahan di wajahnya yang sedikit memucat


Putra sambungnya itu langsung mendekat seraya membuka lebar kedua tangannya.

__ADS_1


"Sini, peluk Abang!" ucapnya dengan senyum manis semakin menambah ketampanannya


"Abang tahu kenapa Mommy sedih. Jadi, sini Abang mau peluk Mommy."


Qiara yang berusaha menahan agar tidak lagi menangis, akhirnya menerima pelukan dari anak tampan yang sangat dia sayangi tersebut.


Rasanya belum ikhlas menerima kenyataan putra sulungnya akan meninggalkannya dalam waktu dekat, meski niatnya sudah pasti demi kebaikan dan masa depan Erzhan sendiri.


Tadi pagi usai sarapan, Qiara tidak sengaja mencuri dengar sewaktu Faraz membahas soal pendidikan putra sulung mereka dengan Papi Rafindra dan Papa Rasya.


Tampaknya ketiga pria itu sudah memutuskan langkah apa yang akan mereka ambil demi masa depan Tuan muda kecil Bramantya tersebut.


Dan, mereka pun jelas masih akan membahasnya kembali bersama Qiara. Sebab, tanpa restu dan ridho dari wanita itu, bagaimana Erzhan bisa meraih cita-citanya di negri orang.


Qiara jelas akan mengamuk dengan berbagai macam drama, terlebih wanita itu sangat menyayangi Erzhan tanpa memandang dari rahim siapa anak itu lahir.


Baginya, tidak ada yang namanya anak sambung. Meski, pada kenyataannya memang Erzhan bukanlah anak yang lahir dari rahimnya sejak awal bertemu dan menikah dengan Faraz.


.


.


"Perasaan baru kemarin Mommy peluk Abang, kenapa sekarang sudah besar ajah, sih?" omelnya sembari memperhatikan postur tubuh Erzhan yang memang terlihat lebih tinggi dan pastinya sangat tampan.


Qiara menganggap putra sambungnya itu masih kecil, bahkan dia pun masih bisa menggendongnya walau tidak lama.


"Bayi Handsome nya, Mommy sudah besar ternyata." Gerutunya tidak terima

__ADS_1


"Masuk lagi ke perut yuk, Bang. Tapi, di perut Mommy ajah ya?"


Qiara sampai tertawa lepas di ikuti Erzhan yang merasa lucu mendengar kalimat candaan dari Mommy kesayangannya itu.


"Andai saja boleh, Mom. Sudah pasti Abang maunya balik lagi jadi bayi," kekeh Erzhan kembali memeluk sayang pemilik surganya itu.


"Mama Sandra mungkin yang melahirkan Abang ke dunia ini, tapi kenapa hanya pelukan Mommy yang lebih nyaman?" tanyanya masih betah menyembunyikan wajahnya di dada milik Qiara.


Detak jantung ibu sambungnya itu terasa menenangkan dan hangat, selalu tahu kapan Erzhan bersedih dan membutuhkannya.


"Terima kasih, Mom. Sudah bersedia menjadi malaikat tanpa sayap buat Abang, selalu menjadi orang pertama yang khawatir saat Abang punya masalah atau apapun itu." Bisiknya pelan tanpa mengangkat wajahnya


"Mommy adalah sosok ibu sambung yang perhatian dan kasih sayangnya jauh lebih besar dari ibu kandung. Tidak pernah membedakan antara si kembar dengan Abang, selalu sabar mengahadapi semua sikap Abang, bahkan Mommy rela bertengkar dengan Daddy hanya demi melindungi Abang dari hukuman."


"Abang sayang Mommy, tetap jadi Mommy kesayangan yang hatinya sangat penyabar. Karena, Abang ngga akan tahu kapan perpisahan itu datang."


Tangisan Erzhan langsung pecah ketika merasakan pelukan hangat dari arah belakang.


Ia melihat Daddy nya datang menghampiri mereka dengan perasaan yang sama sedihnya.


Qiara sendiri pun, justru memilih diam karena tidak sanggup lagi untuk bicara. Hanya merasakan dekapan hangat dari suaminya, membuat hatinya sedikit tenang.


"Abang dan Mommy kenapa malah sembunyi disini, hmm?" tanya Faraz setelah mengurai pelukannya dari istri dan putranya.


"Kalian menangis kenapa ngga ajak Daddy?" protesnya pura-pura merajuk.


"Males," sahut pasangan ibu dan anak itu sembari tertawa lepas.

__ADS_1


Ketiganya langsung beranjak dari tempat persembunyian, karena masih ada beberapa hal penting yang ingin Faraz bicarakan dengan Qiara hanya berdua saja.


Termasuk sekolah Erzhan, namun waktunya jelas belum sekarang. Masih ada dua tahun lagi, sebelum Erzhan lulus sekolah dasar.


__ADS_2