
Siang ini Nia meminta Arga untuk ikut bersamanya jalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Nia tidak hanya membawa Arga, tapi juga membawa Alana, Alea, dan Kello.
Alana dan Alea yang saat ini baru berusia 3 tahun begitu bersemangat saat dibawa jalan-jalan oleh Mami mereka.
Alana bahkan bertepuk tangan dengan heboh ketika melihat banyak orang jalan di sekitarnya. Hal yang paling disukai Alana adalah ketika anak-anak membawa mainan. Maka ia akan dengan senang hati menunjuk pada Arga seolah memberi kode jika ia juga menginginkan mainan itu. Sayangnya, Arga tidak cukup peka dengan keinginan adiknya itu.
"Kak," panggil Kello pada Arga.
"Apa?" Arga menoleh ke samping menatap adiknya.
"Si Alana mau mainan itu. Kakak enggak peka," cibir Kello menatap Arga.
Arga segera mengalihkan tatapannya pada Alana yang berada dalam gendongannya.
"Alana mau mainan?"
"Iya." Alana mengangguk dengan antusias. Arga berniat untuk memberikan apa yang diinginkan oleh Alana, namun lirikan tajam Nia menghentikan niat Arga.
"Enggak ada mainan baru. Mainan di rumah sudah banyak. Daripada banyak beli mainan lebih baik beli makanan atau baju. Sayang uangnya," ujar Nia, membuat Arga memutar bola matanya.
Mami mereka memang terlalu pelit untuk mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu yang dianggap tidak cukup penting.
Contohnya saja mau beli mainan. Jika mainan di rumah belum rusak parah dan masih bisa diperbaiki, jangan harap untuk mengganti yang baru.
Maka dari itu mainan yang dimiliki Alana dan Alea tidak sebanyak miliknya, Jillo, dan Kello saat kecil. Jika tidak mendapat hadiah dari ulang tahun atau mereka diam-diam membelinya tanpa sepengetahuan Mami Nia, Alea dan Alana mungkin tidak akan mendapat mainan baru.
"Mami memang pelit, Al," kata Arga pada Alana. Alana tentu saja mengangguk setuju dengan perkataan kakaknya.
"Pelit juga demi kebaikan kalian. Ingat, jangan pernah mengeluarkan uang untuk sesuatu yang enggak penting. Awas aja." Nia dengan santai mengangkat tinjunya sebagai bentuk ancaman pada Arga.
__ADS_1
Mereka semuanya jalan-jalan dan membelikan beberapa pakaian untuk Arga dan yang lainnya.
Masing-masing Arga dan Kello mendapatkan 3 set setelan yang dipilih oleh mereka dan dibayar oleh Nia. Kemudian Alea dan Alana juga mendapatkan 3 set pakaian.
Nia juga tidak lupa untuk membelikan Bima 3 set dan untuk dirinya 3 set. Setelah itu Nia mulai memilih pakaian untuk Jillo dan Chila serta si kecil yang akan dikirim minggu ini ke mereka. Meski hidup terpisah, Nia tidak pernah melupakan keberadaan anaknya itu. Apa yang didapatkan Arga dan yang lainnya, itu juga akan didapatkan oleh keduanya.
Perlakuan Nia cukup adil hingga membuat Bima begitu bangga memiliki istri seperti Nia. Tidak berhenti Bima mengucap syukur dikirim Tuhan istri yang begitu baik dan pengertian.
"Mi, lapar." Kello menyentuh perutnya dengan ekspresi melas, membuat Nia mengangguk.
"Kita cari restoran aja. Kello mau makan apa?"
"Terserah, Mi. Pokoknya yang penting aku kenyang."
Nia mengangguk setuju. Semuanya melangkah mencari restoran dengan Alea yang kini berada dalam gendongan Arga sementara Alana berada dalam gendongan Nia. Kello sendiri bertugas untuk membawa barang belanjaan mereka.
"Mi, Mi!" Nia segera menghentikan langkahnya ketika mendengar seruan Arga.
Arga nyengir menatap maminya. "Maaf, Mi. Habis aku kaget lihat papa," ujar Arga meminta maaf.
"Lihat papa kamu? Di mana?" Nia mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan keberadaan Bima. Namun, telunjuk Arga mengarah ke sebuah restoran tak jauh dari posisi mereka saat ini berada dan melihat seorang pria yang cukup ia kenali tengah duduk di meja makan bersama seorang wanita.
"Papa selingkuh, Mi?" Kello yang melihat arah tunjuk Arga spontan bertanya. Tidak ia sadari lirikan tajam Mami mereka ketika mendengar pertanyaannya.
"Berani selingkuh, habis papamu itu sama mami." Nia berucap dengan sinis. "Kita ke sana sekarang. Sudah lama juga kita enggak makan siang bareng-bareng."
Arga tentu saja mengangguk dengan semangat. Pemuda itu ingin melihat pertunjukan seru antara maminya dan juga Papa mereka. Bukan lagi rahasia jika papa mereka begitu tergila-gila pada Mami Nia. Maka ketika Mami Nia akan memergoki Papa mereka sedang makan bersama seorang wanita, Arga spontan bersemangat ingin melihat reaksi Bima.
Mereka semua berjalan santai memasuki restoran hingga akhirnya berdiri tak jauh dari meja Bima dan wanita itu berada.
__ADS_1
"Mas Bima suka juga makan udang goreng? Wah, kalau begitu kita sama. Saya juga suka udang goreng."
Nia spontan mendelik ketika mendengar nada bicara wanita itu yang terdengar seperti tengah menggoda suaminya.
"Iya." Bima hanya mengangguk singkat sebagai respons. Pria itu bahkan tidak mendongakkan kepala dan terus menyantap makan siangnya.
"Kapan-kapan kalau Mas Bima mau, kita bisa makan berdua seperti ini lagi. Saya traktir deh," ujar wanita itu, sambil tersenyum. Tidak lupa ia mengedipkan matanya saat melihat Bima mendongakkan kepala.
Tubuhnya merapat pada meja dengan gaya sensual saat Bima menatapnya dengan mata sedikit melotot. Wanita itu mengira jika Bima pasti terkejut dengan reaksinya yang dengan sengaja menunjuk belahan dadanya. Wanita itu tidak tahu saja jika saat ini tatapan Bima bukan tertuju padanya, melainkan pada wajah istrinya yang sudah terlihat ganas berdiri tepat di belakang wanita di hadapannya.
"S-sayang," panggil Bima gugup.
Deg!
Jantung wanita yang belum diketahui namanya itu berdebar kencang ketika Bima memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Mas, tolong jangan panggil seperti itu di tempat umum seperti ini. Enggak enak kalau didengar sama orang," ujar wanita itu malu-malu. Tanpa sadar ia menyelipkan sejumput rambutnya ke telinga dan mengedipkan matanya dengan polos pada Bima.
"Ha-ha!" Tawa Arga berderai mendengar percakapan wanita itu dengan papa mereka. Begitu juga dengan Alana yang tidak tahu apa-apa ikut tertawa diikuti oleh Kello hingga beberapa orang kini menatap ke arah mereka. Termasuk wanita yang sedang berbincang dengan Bima.
"Papa selingkuh? Awas nanti enggak dikasih jatah sama Mami," kata Arga sambil melangkah maju.
"Siapa yang selingkuh? Papa enggak selingkuh." Bima spontan melotot tajam menatap putra sulungnya.
Arga ini memang seringkali menghasut Nia agar mereka bermusuhan, pikir Bima kesal.
"Sayang, Mas bisa jelaskan. Mas enggak ada hubungan apa-apa dengan Bu Fatma. Bu Fatma hanya rekan kerja mas saja." Bima segera bangkit berdiri kemudian menghampiri Nia yang sedang menggendong Alana.
Melihat ekspresi wajah istrinya membuat jantung Bima berdebar keras. Pasalnya ekspresi wajah istrinya tidak cukup sedap untuk dipandang.
__ADS_1
"Aku juga enggak nuduh Mas selingkuh, kok. Lagi pula, enggak mungkin Mas mau selingkuh. Sementara aku masih muda dan fresh. Enggak ada saingannya perempuan lain sama aku." Nia berucap dengan senyum manis di bibirnya. Nia kemudian menepuk dada Bima dengan gerakan genit membuat jantung Bima berdebar keras.
Sialan, jelas sekali saat ini Nia sedang menyimpan amarah padanya. Gerakan dan kata-katanya memang manis. Tapi tatapan matanya yang mengerikan membuat Bima tahu jika saat ini istrinya sedang menyimpan amarah.