Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 168


__ADS_3

Faraz mendelik tidak suka mendengar kalimat sindiran yang terlontar dari bibir mungil istrinya.


"Cuma naik lima kilo doang, Mom."


"Besok aku olahraga bareng si kembar biar ngga di katain Boboho lagi."


Pria itu benar-benar tidak menyukai saat nama panggilan masa kecilnya kembali di ingatkan, terlebih sekarang kedua pipinya mulai terlihat bulat dan melebihi pipi chubby Qiara.


Bisa di bilang akibat porsi makan yang semakin bertambah setiap harinya, membuat Faraz tidak lagi memperhatikan bentuk tubuhnya yang semula tampak seksi dan kekar.


Hal itulah yang membuat Qiara tidak akan pernah mau berhenti menggoda suami kesayangannya tersebut, belum lagi masih ada ketiga Tuan muda Rafindra yang nasibnya tidak jauh berbeda dengan Faraz.


Berbicara soal ngidam, Qiara hampir lupa jika belum memberitahu anggota keluarganya setelah pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu dengan Neta yang ikut menemaninya.


Semua masih di rahasiakan. Kabar baiknya lagi belum ada yang menaruh curiga, terutama Nyonya Ayshila yang notabennya sudah bepengalaman.


Minggu depan adalah ulang tahun Faraz, dan rencananya kabar mengenai kehamilan Qiara akan menjadi kado terindah untuk suami kesayangannya tersebut.


Faraz selesai dengan ngidam jajanan pinggir jalan, waktunya pulang ke rumah. Tidak lupa ia membeli beberapa makanan untuk di bagikan pada orang rumah dan pastinya jaga-jaga bila ia kembali merasakan lapar di jam kritis.


Beruntungnya Qiara tidak lagi protes atau kesal melihat suaminya membawa pulang banyak makanan juga minuman, dia lebih memilih fokus pada Erzhan yang merengek karena mencari keberadaannya.


CUP


"Aku mencintaimu," bisik Faraz tepat di telinga sang istri yang sempat kaget mendapatkan ciuman tiba-tiba.


"Daddy ngagetin, ih." Protes Qiara sejujurnya malu karena di lihat Paman sopir yang tersenyum kecil di balik kursi kemudi


"Tidak apa-apa, Nyonya." Kekeh pria berusia 45 tahun tersebut seraya menyalakan mesin mobil


Faraz yang merasa tidak masalah jika ia kembali melayangkan ciuman pada istrinya, justru semakin jahil mengganggu Qiara tanpa peduli mendengar rengekan Erzhan yang terbangun.


"Daddy jangan nakal dong, kasihan Abang tidurnya ngga nyaman." Tegur Qiara sembari menatap tajam kearah suami tampannya itu


"Kangen Mom," rengek Faraz semakin mengeratkan pelukannya.


Erzhan memilih tidak protes atau marah ketika sang Mommy di kuasai oleh Daddy nya. Saking merasakan kantuk yang luar biasa, membuatnya kembali tertidur pulas sampai mereka tiba di rumah.


Seperti biasa, usai meletakkan Erzhan di kamarnya sendiri. Faraz kembali mengunci pintu kamar mereka setelah memastikan Qiara sudah masuk ke dalam kamar mandi, tidak mau mendapatkan amukan wanita halalnya itu karena ketahuan selalu mengunci pintu kamar agar tidak di ganggu sang putra menjelang pagi.

__ADS_1


"Abang nyebelin sih, makanya Daddy selalu kunci pintunya." Gumam Faraz di barengi kekehan


Qiara akhirnya keluar dari kamar mandi lengkap dengan piyama tidur berbahan tipis, sangat kontras dengan kulitnya yang putih mulus tanpa adanya noda.


"Daddy bersih-bersih dulu sana!" titahnya melihat sang suami masih asyik memainkan ponsel di atas ranjang.


"Males Mom, keburu ngantuk aku nya." Sahut Faraz meminta Qiara agar mendekat


"Ngga baik tidur dalam keadaan kotor, sayang."


"Hmm, lima menit ya."


"Kelamaan Daddy," gemas Qiara ingin melayangkan cubitan di perut suaminya namun urung dia lakukan.


"Iya, iya. Galak benar dah, main cubit sembarangan."


Faraz berlari masuk ke dalam kamar mandi tanpa menutup pintunya, sengaja ia biarkan terbuka agar Qiara kembali mengomel.


"Daddy," pekik sang istri menggema di setiap sudut kamar.


"Ya ampun, bisa-bisanya aku di berikan suami yang tingkahnya astagfirullah."


"Aku dengar ya, Mom."


Habislah kamu, Qiara. Jeritnya dalam hati


Langkah kaki pria itu terdengar mengerikan di indra pendengaran Qiara, seakan tengah berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Ehh!


"Aku tadi dengar ada yang mengataiku suami dengan tingkah astagfirullah," ucap Faraz di sertai seringai menghiasi wajah tampannya yang mendadak berubah mengerikan di mata sang istri.


"Daddy salah dengar kali, mana ada yang bilang kayak gitu." Elak Qiara sembari menjauhkan dirinya ke tengah ranjang


Ingin rasanya dia berlari keluar dari kamar menuju kamar Erzhan, tetapi pintunya dalam keadaan sudah terkunci. Semua jelas ulah Faraz yang tidak menyukai waktu tidurnya bersama sang istri terganggu.


Faraz semakin mendekat kearah ranjang, dimana terlihat jelas wajah ketakutan istrinya yang tampak menggemaskan juga sangat menggoda.


"Sayang," panggilnya seraya tersenyum sangat manis.


"Mau lari kemana, hmm?"

__ADS_1


Qiara memohon agar tidak di beri hukuman apapun hanya untuk malam ini saja.


"Aku ngantuk Daddy, please!"


"Siapa suruh mengatai suami sendiri di belakang, hmm?"


Faraz dengan jahil menarik kedua kaki istrinya agar mendekat, tidak peduli wanita halalnya itu menjerit minta tolong untuk di lepaskan.


"Ampun Daddy," mohon Qiara dengan wajah panik.


"Aku ngga sengaja, beneran."


"Aku tadi cu--, hmmpp."


Ucapannya langsung terhenti kala bibirnya di cium lumayan menuntut dan dalam, Faraz tidak membiarkan sepata kata pun terucap dari bibirnya.


Ciuman yang berubah menjadi lu-matan di sertai gigitan kecil semakin meningkatkan ga-irah Faraz yang sedari awal melihat istrinya hanya mengenakan piyama berbahan kain tipis keluar dari kamar mandi.


Aroma tubuh Qiara begitu wangi dan memabukkan, sangat di sayangkan jika di lewatkan begitu saja. Pikiran Faraz sudah di penuhi oleh kabut ga-irah dan hawa na-fsu. Ingin segera menghukum istri kesayangannya tersebut yang sudah berani nakal.


Pria itu melepas ciumannya ketika merasakan pasokan oksigen Qiara mulai menipis, tidak lupa mengusap lembut bibir mungil kemerahan yang terlihat sedikit bengkak akibat ulahnya.


"Mau lanjut atau tidur?" tanyanya seraya menatap instens wajah cantik sang istri.


Qiara hanya diam tanpa mengatakan apapun, pikirannya mulai kemana-mana.


"Diam berarti lanjut," bisik Faraz tepat di telinganya.


"Aku suka sikap diam mu, sayang."


"Eeuughh, Dad ..." Qiara menahan geli saat merasakan telinganya di mainkan.


"Cukup diam dan nikmati, hmm?"


Dengan pasrah Qiara membiarkan suaminya mulai melakukan apa yang ia inginkan.


Hal yang seharusnya terjadi pun akhinya terjadi. Malam itu, tidak lagi bisa di hitung sudah berapa kali Faraz membuat istrinya mencapai puncak kenikmatann yang sangat jarang mereka lakukan.


Sebab, ada Erzhan yang selalu menjadi prioritas Qiara hampir setiap waktu. Belum lagi, sekarang ada kehidupan dalam rahim wanita itu yang harus di jaga baik-baik.

__ADS_1


Terkadang Qiara sampai rela berbohong agar sewaktu Faraz ingin melakukan hubungan intim, tidak sampai membahayakan rahim yang ada dalam perutnya.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2