
Niat hati ingin cepat-cepat pulang agar bisa menemui istri dan anak, nyatanya Faraz harus lembur mendadak akibat banyaknya tumpukan berkas yang membutuhkan tanda tangannya. Belum lagi, sang Sekertaris meminta ijin tidak menemaninya lembur karena ada pertemuan keluarga.
Faraz benar-benar sendirian tanpa ada yang ikut menemani. Padahal biasanya jika ia lembur seperti ini, akan ada Qiara ikut membantu sampai pekerjaannya selesai dengan cepat.
"Kalian jahat sama aku," gumamnya pelan sembari menatap nanar kearah layar ponsel.
"Mommy ngga kirim pesan atau telefon seharian ini? Astaga."
Pria itu mengacak rambutnya frustasi, masih banyak yang harus ia periksa. Tetapi, rasa rindu ingin segera pulang untuk menemui sang istri terus mengganggu konsentrasinya.
Cukup lama, Faraz berdiam diri. Menatap malas kearah beberapa berkas yang belum ia sentuh, hingga terdengar suara notifikasi dari ponsel yang terletak di samping komputer berhasil mengagetkannya.
Trin
"Siapa yang mengganggu ku?" gerutunya dengan malas meraih benda pipih tersebut.
Ada sebuah pesan masuk dari Qiara, karena penasaran akhirnya Faraz langsung membukanya dengan perasaan campur aduk.
Rentetan pesan masuk dari sang istri rupanya tidak lain hanya sekedar menanyakan beberapa pertanyaan biasa, tetapi ada beberapa pesan yang membuatnya penasaran juga sedikit bingung.
#My Queenπ
* Daddy pulang jam berapa?
* Hari ini lembur lagi?
* Jangan pulang larut malam, ok?
* Oh iya, pulang kerja langsung ke rumah utama ya! Aku sama Abang udah dari siang di sini.
* Daddy mandi dulu baru kemari, soalnya aku ngga mau cium bau keringat Daddy. Hehe
* Kata Abang, jangan lupa dandan yang rapih.
* Udah aah, males aku ngetik banyak. Capek jari-jari aku, mana baru habis ke salon bareng Mama Kamila dan Mami Ayshila.
* Di tunggu kepulangannya, suamiku.
###
Dahi Faraz mengkerut, kala membaca ulang beberapa isi pesan yang menurutnya sedikit aneh.
"Biasanya juga aku mandi pas udah di rumah, Mom." Gumamnya pelan merasa ada yang tengah di sembunyikan istrinya
"Kenapa sekarang harus mandi dulu? Terus harus rapih juga?"
Faraz menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Ngga Mommy nya, ngga anaknya sama ajah kelakuannya. Suka bikin pusing kepala, mikir yang aneh-aneh."
Karena waktu yang tersisa hanya tinggal dua jam lagi. Membuat pria itu segera menyelesaikan pekerjaannya, berharap tidak sampai larut malam.
__ADS_1
.
.
Dua jam kemudian.
Tring
Faraz keluar dari lift, melangkah tergesa menuju parkiran. Dimana sudah ada Paman sopir menunggu kedatangannya dari setengah jam yang lalu.
Ia langsung masuk ke dalam mobil sembari meminta maaf karena sudah membuat pria itu menunggu lama. Beruntung sudah mandi dan rapih sesuai pesan dari istri dan anaknya melalui pesan.
Perlahan kereta besi tersebut melesat keluar dari parkiran menuju kediaman Rafindra, hanya ada keheningan sepanjang perjalanan pulang, karena memang Faraz sangat lelah dan mengantuk.
Kurang lebih sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya mobil yang membawa Faraz sampai di rumah utama. Ia menoleh keluar mobil dengan perasaan bingung, melihat bangunan mewah tersebut sangat gelap, hanya di terangi cahaya lewat pantulan lampu mobil.
"Loh, kenapa ngga ada lampu?" tanyanya pada Paman Sopir yang diam seribu bahasa semenjak memasuki gerbang utama.
Tidak mungkin penghuni bangunan mewah dan besar itu sampai lupa membayar listrik. Pikirnya
Faraz berusaha menghubungi Qiara lewat panggilan telefon, namun sampai kelima kalinya di hubungi tidak ada jawaban dari istrinya.
"Kita sudah sampai, Tuan." Seru Paman Sopir dari balik kemudi
"Oh, iya. Terima kasih, Paman."
Faraz segera keluar dari mobil tanpa memperhatikan area sekitar, karena untuk sekedar menyalakan senter di ponsel tidak ia pikirkan.
Tampak semua anggota keluarga, baik Rafindra maupun Bramantya mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun sembari mendekat kearah Faraz.
Pria itu masih dalam keadaan terkejut, tetapi melihat Qiara mehampirinya bersama Erzhan seraya membawa kue yang ia tahu betul itu kue apa. Tanpa sadar kedua matanya sudah berkaca-kaca, siap mengeluarkan cairan bening saking tidak percaya akan mendapatkan kejutan seperti ini.
"Selamat ulang tahun." Ucap semuanya dengan serentak tidak lupa kembali menyalakan kembang api
Faraz tidak bisa menyembunyikan rasa harunya, melihat orang-orang yang ia sayangi ternyata mengingat hari istimewanya.
"Selamat ulang tahun, Daddy."
"Selamat ulang tahun, suamiku."
Qiara maupun Erzhan langsung mendekat kearah pria kesayangan mereka tersebut. Meminta Faraz untuk meniup lilin, tidak lupa berdoa dalam hati.
Hal serupa di lakukan Nyonya Kamila dan Ketiga Tuan muda Rafindra, senyum bahagia tergambar jelas di wajah mereka.
Malam yang semakin larut, tidak membuat pesta ulang tahun yang sengaja di buat semeria mungkin berakhir dengan cepat.
Semua tampak asyik menikmati hidangan serta menjamu para tamu undangan yang kebetulan ikut hadir memeriahkan acara, walau kenyataannya hanya segelintir orang yang datang.
Melihat Qiara tengah duduk santai di kursi panjang samping rumah hanya seorang diri, menjadi kesempatan Faraz untuk mendekati istri kesayangannya tersebut.
"Mom," panggilnya seraya berjalan mendekat kearah sang istri yang tersenyum begitu manis.
__ADS_1
"Apa, kangen ya?" sahut Qiara menggoda.
Pria tampan kesayangannya itu langsung berhambur ke dalam pelukan sembari mengomel.
"Jahat banget ih."
"Hey, bukan aku yang kasih idenya. Tapi Abang," kekeh wanita cantik itu seraya mengusap sayang punggung lebar suaminya.
Cukup lama keduanya berada dalam posisi masih saling berpelukan, meluapkan rasa rindu akibat seharian penuh saling hilang kabar.
Erzhan yang tidak tahu kemana anak tampan itu berada, membuat Faraz semakin leluasa berlama-lama dalam pelukan hangat sang istri tercinta, tanpa adanya gangguan.
.
.
Tepat jam 11 lewat tengah malam, akhirnya pesta selesai.
Semua anggota keluarga sudah masuk ke dalam kamar masing-masing untuk istirahat, termasuk pasangan suami istri tersebut.
Ceklek
Qiara masuk lebih dulu ke dalam kamar dengan Faraz ikut mengekor di belakang.
"Mom," panggil pria itu melihat sang istri hendak memasuki kamar mandi.
"Ada apa?" Tanya Qiara masih setia berdiri di ambang pintu seraya menatap kearah suaminya.
Bisa di lihat bagaimana raut wajah Faraz seolah meminta hadiah yang katanya akan wanita itu berikan usai pesta berakhir.
Hampir saja Qiara melupakan hadiah yang sudah dia siapkan bersama Erzhan kemarin.
"Ada di laci," serunya berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Faraz langsung mencari apa yang sejak tadi membuatnya penasaran.
Di bukanya laci kecil yang berada di meja rias dengan perasaan berdebar, seolah hadiah dari istrinya sangatlah istimewa.
Ada kotak persegi panjang dengan pita warna merah menghiasi kotak berukuran kecil tersebut. Dengan tidak sabar Faraz segera membukanya, penasaran apa isinya.
DEG
Jantung Faraz berdetak kencang, mana kala benda kecil yang ia tahu apa itu sudah berada dalam genggamannya.
Belum sempat ia buka suara, nyatanya Qiara datang sembari menanyakan apakah sudah mendapatkan hadiahnya.
"Daddy, hadiahnya udah ketemu?" tanya wanita itu penasaran.
Posisi Faraz yang membelakangi kamar mandi, tidak bisa Qiara lihat jika suaminya itu tengah menangis penuh haru.
πππππ
__ADS_1