
Malam ini Bima dan Nia sedang membicarakan hal serius dengan Arga. Kini mereka berada di ruang kerja Bima dan hanya ada mereka bertiga saja.
"Papa sama mami mau bicara apa? Kok, kelihatannya serius," ujar Arga menatap kedua orang tuanya.
Entah mengapa firasat Arga tidak enak saat melihat wajah serius kedua orang tuanya.
"Begini, Gano. Ada yang ingin Papa bicarakan. Papa harap kamu enggak marah atau berpikir yang aneh-aneh. Semua keputusan ada di kamu." Bima menatap putra sulungnya yang kini mengernyit dahinya.
"Soal apa?"
"Kamu tahu 'kan kalau kamu bukan anak kandung papa?" Bima menatap Arga hati-hati. Melihat Arga mengangguk dengan ekspresi santai, Bima kemudian menjelaskan pokok persoalan yang harus ia sampaikan pada Arga.
"Begini, beberapa waktu lalu ada laki-laki datang ke kantor papa. Beliau adalah Pak Dirman, Papa biologis kamu, Gano. Beliau meminta kamu bertemu dengan beliau dan keluarganya."
"Kebetulan Pak Dirman juga sudah memiliki seorang Istri. Namun, sejak kecelakaan itu, beliau enggak bisa memiliki keturunan."
"Ada opa dan Oma yang juga mau ketemu kamu."
Arga mengangkat sebelah alisnya. Pemuda itu tersenyum sinis. "Buat apa mau ketemu sama aku? Apa aku punya utang sama mereka di masa lalu?"
"Bukan seperti itu." Bima menghela napas. "Mereka hanya ingin bertemu dengan kamu. Setidaknya mereka memiliki keturunan yang akan melanjutkan garis keturunan mereka."
Arga meletakkan tangannya di dagu terlihat sedang berpikir keras sambil menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak terbaca.
"Begini, Pa, Mi. Kalau seandainya mereka punya keturunan begitu, apa mereka masih punya pikiran untuk bertemu dengan aku? Apa mereka masih ingat kalau ada aku di dunia ini?"
Bima dan Nia saling tatap. Keduanya terdiam dan berpikir jika memang keluarga Dirman memiliki keturunan, mereka mungkin tidak akan pernah mengingat adanya Arga. Namun, mereka juga tidak mungkin untuk memaparkan apa yang ada dipikiran mereka.
Bima dan Nia harus membujuk Arga agar mau bertemu dan mungkin menerima keluarga Dirman sebagai keluarganya. Bima dan Nia tentu saja tidak keberatan. Namun, untuk memisahkan mereka dari Arga tentu saja Bima dan Nia tidak akan tinggal diam.
"Arga, Mami dan papa sayang sama kamu. Kami ingin yang terbaik untuk kamu. Terserah kamu mau bertemu dengan mereka atau enggak. Tapi, Mami berharap kamu mau bertemu dengan papa kamu. Perkara kamu mau menerima beliau dan memaafkan kesalahan beliau yang mengabaikan mama Hera, itu nanti urusan belakang." Nia kemudian menatap Arga. "Semua keputusan ada di tangan kamu. Kalau kamu siap untuk bertemu dengan mereka, papa akan atur pertemuan kalian," tambah Nia.
"Apa Papa dan Mami mengusir aku supaya ikut dengan keluarga kandungku?" Arga menatap Nia dan Bima dengan tatapan sedih. Entah mengapa Arga merasa saat ini ia sedang dibuang oleh keluarganya.
"Arga." Suara Nia terdengar sendu. Wanita itu segera bangkit berdiri kemudian menghampiri Arga yang duduk di seberang meja. "Kamu anak mami."
__ADS_1
"Argh, Mami sakit."
Arga kembali meringis ketika merasakan capitan kepiting di telinganya. Siapa lagi pelakunya jika bukan sang mami yang tiba-tiba menjewer telinganya. Arga mengira akan ada tangis haru biru saat ia menyampaikan isi hatinya.
"Ngomong sekali lagi kamu soal Mami dan papa yang ngusir kamu, kami usir beneran kamu dan suruh kamu tinggal di TPU sana. Mau?"
"Tempat pemakaman umum?" seru Arga dengan mata terbelalak lebar.
Nia menggeleng kepalanya.
"Terus apa, Mi?"
"Tempat pembuangan ulat."
"Ish. Aku bukan ulat," gerutu Arga tidak terima. Pemuda itu kemudian mengusap telinganya yang baru saja menjadi korban maminya.
"Siapa suruh kamu ngomongnya ngawur." Nia kembali duduk di samping Bima. "Jadi, bagaimana? Kamu mau enggak ketemu sama papa kamu itu?"
"Atur aja sama mami dan papa. Aku mau nolak juga percuma karena pasti bakalan banyak pihak yang memaksa aku untuk ikut," gumam Arga malas.
"Jadi kamu setuju? Minggu ini papa akan atur pertemuan kamu dengan Pak Dirman."
Bima menganggukkan kepala karena memang apa yang ingin dia sampaikan sudah ia katakan pada Arga.
Arga segera melangkah keluar meninggalkan kedua orang tuanya yang mungkin akan bermesraan di ruang kerja sang papa.
Saat sudah keluar dari pintu, wajah tengil Arga berubah menjadi dingin. Pemuda itu tersenyum sinis sambil melangkahkan kakinya menuju lantai dua di mana kamarnya berada.
"Keluarga, eh? Bullshit."
Arga berniat untuk masuk ke dalam kamarnya kemudian ia melihat Kello yang sudah berpakaian rapi membuat Arga segera menghampiri adik bungsunya itu.
"Mau ke mana, lo?"
Kello menghentikan langkahnya kemudian menatap kakak sulungnya. "Aku mau antar Onty Dera. Disuruh sama Oma karena Onty Dera mau beli beberapa kebutuhannya."
__ADS_1
"Memangnya uncle Dirga di mana?"
"Kata Oma muda, uncle belum pulang. Makanya aku yang di minta tolong. Sementara opa Roy juga lagi enggak di rumah."
Arga terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya pemuda itu tersenyum dan merangkul pundak Kello.
"Kalau begitu, kita jalan bertiga aja naik mobil Abang."
"Abang pasti mau morotin onty 'kan?" tuduh Kello tepat sasaran. Sementara yang mendapat tuduhan hanya nyengir sebagai tanggapan.
Kello dan Arga akhirnya menemani Dera ke minimarket yang terletak tak jauh dari posisi kompleks perumahan tempat mereka tinggal.
Arga dengan penuh semangat menarik troli dan tidak membiarkan bibinya itu menyentuh troli.
"Biar aku aja, Onty, yang bawa troly. Onty tinggal pilih apa aja yang Onty mau."
Dera menggeleng pelan kepalanya melihat keponakannya ini. Dera sangat tahu jika saat ini Arga sedang mencari muka karena pasti ada maunya juga, gumam Dera dalam hati.
Gadis itu kemudian memilih sabun, pasta gigi, body lotion, dan beberapa kebutuhan lainnya.
"Mau yang bersayap biar bisa terbang, Onty," celetuk Arga, mendapat delikan Dera.
Dera malu sendiri saat Arga berkomentar tentang pembalut yang sedang ia pegang. Arga memang tidak tahu malu, rutuk gadis itu.
"Udah, Bang. Enggak usah komentar tentang hal privasi cewek. Enggak sopan," tegur Kello pada kakaknya.
"Enggak sopan apa? Abang cuma bilang pilih yang bersayap biar bisa terbang."
"Sama aja."
"Kalian mau apa pilih aja. Jangan ganggu aku," ujar Dera menyela mereka.
"Yee! Dari tadi aku menunggu kalimat ini keluar dari mulut onty. Akhirnya."
Segera tanpa kata Arga segera berbalik meninggalkan Kello dan Dera untuk mengambil beberapa bungkus cemilan serta minuman yang akan dijadikan stok di dalam kamarnya.
__ADS_1
Niatnya tadi Arga akan meminta uang pada papanya untuk mengisi kulkas di dalam kamarnya, urung ia lakukan karena sedang tidak mood membahas uang ketika papanya membahas tentang keluarga kandungnya.
Kebetulan bibinya memiliki banyak uang. Jangan kira Arga tidak tahu jika uang jajan yang diberikan oleh opa Roy sangat banyak setiap bulannya untuk bibi dan pamannya itu.