
Setelah mengantarkan Bella dan anak-anaknya ke rumah miliknya, Nia langsung melajukan kendaraannya mencari supermarket terdekat untuk membeli semua kebutuhan Bella beserta anak-anaknya selama mereka tidak bisa keluar dari rumah dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Alex tidak akan tahu alamat rumah Nia yang dulu karena memang alamat rumahnya tidak pernah diketahui oleh Alex. Alex hanya tahu alamat rumahnya bersama Bima.
Nia kemudian turun dari mobil dan membawa troli besar untuk memasukkan semua kebutuhan yang sudah dicatat oleh Bella. Uang yang dibeli pun menggunakan uang miliknya lebih dulu karena Bella tidak bisa beraktivitas dengan kartu atm-nya jika tidak mau keberadaannya dilacak oleh Alex.
Sambil memilih beberapa bahan keperluan dapur, Nia mendapat telepon dari Arga yang meminta doa agar tidak gugup tampil di depan TV. Nia mengiyakan apa yang diminta oleh Arga. Tentu saja tanpa diminta oleh Arga, Nia akan selalu mendoakan anaknya itu.
Setelah berbincang selama beberapa menit untuk menenangkan Arga yang ternyata bisa gugup juga, Nia kemudian mematikan sambungan telepon dan memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
"Bu Nia?" sapa seseorang dengan hangat.
Wanita itu spontan menoleh dan tersenyum pada wanita yang ia kenali adalah istri dari Dirman--bapak kandung Arga-- yang tak lain bernama Ratna.
"Bu Ratna, ya? Belanja juga?" Nia membalas dengan ramah, membuat Ratna tersenyum tak kalah ramah juga.
"Iya, Bu. Biasa kebutuhan bulanan."
Tidak ia sangka jika wanita muda ini adalah istri dari Bima yang ia tahu merupakan suami pertama Hera. Ah, terlalu lika-liku untuk menyebutkannya, pikir Ratna dalam hati.
"Ibu biasa belanja sendiri untuk kebutuhan rumah?"
Ratna mengangguk sebagai jawaban. Saat ini wanita yang sudah menyandang status sebagai istri dari Dirman sedang memilah beberapa merk bumbu jadi yang biasa ia gunakan sehari-hari.
"Iya, Bu. Kalau belanja sendiri entah kenapa rasanya lebih memuaskan," jawab Ratna sambil menatap Nia. "Bu Nia, kalau bisa jangan panggil saya dengan sebutan 'ibu' ya? Panggil mbak juga bisa," pinta Ratna.
"Bisa, Mbak. Mbak Ratna juga jangan panggil saya Bu Nia. Panggil nama saja. Biar akrab." Nia terkekeh sambil memasukkan bumbu dapur ke dalam troli miliknya. Wanita itu kemudian bergeser sedikit untuk memilah beberapa kebutuhan lainnya.
"Bisa. Panggilnya Nia saja, ya?"
"Iya, Mbak."
Keduanya kemudian mulai memilih barang sambil bercerita hingga tak terasa waktu sudah berlalu. Nia kemudian pamit pulang dan berjanji pada Ratna jika mereka bisa mengobrol sesekali dan menghabiskan waktu.
Ratna tentu saja mengiyakan apa yang dikatakan oleh Nia. Akrab dengan ibu tiri dari anak tirinya tidak masalah bukan? Lagi pula Ratna berpikir jika Nia adalah wanita yang baik dan asik untuk diajak berbincang dan berteman.
__ADS_1
Nia kembali ke rumah lamanya kemudian memberikan apa yang dipesan oleh Bella yang langsung mengucapkan terima kasih dan meminta maaf karena sudah merepotkan temannya itu.
Bagi Nia direpotkan tidak masalah. Nia akan memberikan 100 kebaikan pada orang yang memiliki satu kebaikan padanya. Namun, wanita itu juga akan memberi 100 kejahatan pada orang yang memberikannya satu kejahatan.
Ini adalah hukum alam di mana yang baik tidak selamanya baik, dan jahat tidak selamanya jahat.
Setelah mengantar barang pesanan Bella, Nia langsung pulang ke rumahnya. Dia harus mandi dan membersihkan diri sebelum melakukan investigasi ke toko pakaian miliknya yang sudah memiliki beberapa cabang. Ada keluhan dari pelanggan yang mengatakan jika pelayanan toko sangat tidak memuaskan. Hal itu membuatnya penasaran akan pelayanan toko seperti apa hingga membuat pelanggan banyak mengeluh padanya.
Setelah tiba di rumah dan mandi untuk membersihkan diri, wanita itu sudah siap untuk berangkat kembali. Kali ini ia tidak membawa kedua bocah kembarnya karena jarak antara toko yang akan dikunjungi sedikit jauh dari rumah.
Wanita itu mengenakan celana kulot di bawah lutut dipadukan dengan baju kaos warna putih. Sementara sandalnya mengenakan sandal jepit wedges hingga memperlihatkan tinggi tubuhnya. Ini adalah jenis pakaian Nia sehari-hari jika wanita itu tidak sedang berada di acara formal.
Setelah memastikan kedua anaknya sudah rapi, Nia menitipkan mereka pada Bu Yuni. Baru setelah itu ia berangkat dengan menggunakan mobil miliknya. Ini adalah mobilnya saat ia masih gadis. Mobil merk sejuta umat yang tidak pernah ia pikirkan untuk dijual meskipun Nia sudah dibelikan beberapa jenis mobil oleh Bima. Sebenarnya mobil ini sempat Nia jual, namun saat itu Nia memimpikan kedua orang tuanya naik ke atas mobil ini. Mungkin ini pertanda jika dia tidak boleh menjual mobil ini sampai kapanpun, sehingga membuat wanita itu kembali membeli mobilnya. Tidak masalah jika Nia harus rajin menservis mobil ini. Uang Bima banyak untuk mengeluarkan dana perbaikan mobil, pikir Nia dalam hati.
Nia segera melajukan mobilnya ke sebuah toko yang terletak di pusat keramaian. Wanita itu memarkirkan mobilnya dan segera turun. Halaman depan toko terlihat luas karena memang Nia sengaja menyiapkan lahan parkir yang luas. Wanita itu kemudian melangkah masuk dengan tas yang ia selendang di pundaknya.
Nia masuk begitu saja tanpa ada karyawan yang menyapa. Wanita itu memang sering datang ke toko ini, namun selain manajer toko, tidak ada yang tahu jika Nia adalah pemiliknya.
Wanita itu kemudian melihat-lihat beberapa koleksi baju yang tersusun rapi. Tag harga terpasang dengan sempurna di antara deretan baju. Harganya cukup mahal hingga membuat Nia yang melihatnya mengerut kening. Toko ini memiliki target pasar untuk orang-orang yang berada di kelas bawah dan tengah. Jelas saja, harga baju di toko ini tidak akan mahal. Contohnya saja baju kaos yang sedang ia pegang, Nia ingat harganya tidak lebih dari 100 ribu. Namun, ketika ia melihat tag label, harganya 349 ribu. Keningnya mengerut kemudian beralih ke beberapa baju lainnya yang memiliki harga di atas dari harga yang sudah ia tentukan.
Orang pada biasanya memikirkan kualitas dan harga. Kebanyakan orang ingin barang yang bagus namun dengan harga yang murah. Nia sudah memutar otak dengan pemasaran pakaiannya. Jadi, wanita itu berpikir dalam 1 bulan ia bisa menghabiskan 3 ribu pcs pakaian yang ia jual dalam satu toko. Ditambah lagi mereka mengadakan online shop dengan menjual secara live. Namun, beberapa bulan terakhir, pendapatan toko tidak pernah sebanyak awal-awal mereka membuka toko. Hal itu membuat Nia penasaran mengapa hal ini bisa terjadi. Namun, sepertinya Nia sudah menemukan jawabannya.
Nia kemudian mulai berkeliling toko dan melihat tag harga di setiap pakaian hingga seorang karyawan toko menghampiri Nia dengan wajah judes miliknya.
"Mbak, kalau enggak beli dan cuma lihat-lihat aja, mending pergi. Mbak cuma memenuhi toko aja. Lihat, itu banyak pelanggan yang beli. Cuma mbak aja yang dari tadi keliling sambil lihat tag harga." Pelayan itu mengenakan kemeja kotak-kotak warna merah muda. Tangannya terlipat di dada sambil menatap judes pada sosok Nia. Sepertinya, ini adalah karyawan baru karena Nia belum pernah melihatnya sebelumnya.
"Saya hanya mengecek harga setiap pakaian. Enggak mengganggu pelanggan di sini." Nia melirik beberapa pembeli yang sedang memilih pakaian.
"Aduh, alasan aja, Mbak. Mbak pasti mau cari baju yang paling murah 'kan? Maaf, ya, Mbak, di sini enggak ada baju murah. Paling murah 200 ribu. Ini toko punya orang terkenal, bukan punya sembarangan orang." Pelayan toko berujar sinis. "Jadi Mbak tahu sendiri harganya."
"Oh, iya?" Nia menjadi semakin tertarik. "Bukannya toko ini cabang dari Toko Mami Nia collection. Saya pernah dengar, kalau toko mami Nia collection punya beberapa cabang dan semua harga barangnya murah. Kecuali, di butiknya." Nia menampilkan ekspresi serius saat mengatakan apa yang ia ketahui.
Selain toko baju, Nia juga memiliki butik yang bekerjasama dengan beberapa desainer daerah untuk membuat gaun pesta bagi kalangan atas.
"Mbak tahu toko Mami Nia collection? Kalau mbak tahu, berarti mbak juga tahu harga setiap produk di toko mami Nia collection. Ini enggak seperti toko yang sering mbak masuki di pasar." Pelayan toko itu menjawab dengan kasar membuat Nia terkejut dengan pelayanan toko yang sangat murah hati ini.
__ADS_1
Saat Nia akan membalas ucapan pelayan toko di hadapannya, terdengar suara keributan di kasir, membuat Nia dan pelayan toko yang berbicara dengannya segera menghampiri sumber suara.
"Saya benar-benar lupa membawa dompet saya. Ponsel saya juga lowbat. Saya enggak akan menipu untuk membeli pakaian di sini." Seorang wanita dengan baju terusan dibawah lutut menatap kasir di hadapannya dengan tenang. "Saya bisa pulang dulu dan ambil dompet saya. Lagi pula, pakaiannya masih di sini. Kalaupun seandainya saya enggak kembali, toko ini enggak akan merugi."
Wanita itu benar-benar lupa membawa dompetnya. Sebenarnya tadi ia sempat mengantar putra-putrinya ke sekolah dan langsung berniat untuk pulang ke rumah. Namun, saat di tengah perjalanan wanita itu melihat sekelompok anak memakai pakaian compang-camping di pinggir jalan sedang menjual makanan dan minuman. Hal tersebut membuat wanita itu berpikir untuk membelikan mereka beberapa pakaian yang layak untuk dipakai. Tujuannya langsung ke toko ini karena memang toko ini yang paling dekat dengan tempat anak-anak itu. Jadilah, ia memilih beberapa pakaian dan saat akan membayarnya, dompetnya ternyata tertinggal. Sementara sopir yang membawanya tadi sedang pergi untuk mengisi angin ban mobil.
"Enggak bisa begitu, dong, Bu. Ibu seharusnya paham kami memang enggak merugi dalam hal materi. Tapi, kami merugi dalam waktu. Saya sudah susah payah menjumlah belanjaan ibu, tapi ibu seenaknya membatalkan belanjaan," ujar kasir itu dengan ketus.
"Saya pasti akan kembali ke toko ini. Izinkan saya pulang sebentar untuk mengambil dompet saya yang tertinggal. Kalau Mbak enggak percaya, bisa suruh salah satu pegawai toko ini untuk ikut dengan saya," ujar wanita itu mencoba untuk bernegosiasi. Namun, kasir toko justru tetap mempertahankan keinginannya agar wanita itu segera membayar barang belanjaan yang sudah dia total.
Melihat itu, pelayan toko yang sempat berdebat dengan Nia segera melangkah maju. "Bu, kalau enggak punya uang, enggak usah sok-sokan mampir ke toko ini. Toko kami enggak melayani orang yang enggak punya uang."
Pelayan toko pertama berujar dengan sinis. Hal itu membuat wanita tadi menggeleng kepalanya menyaksikan pelayanan di toko ini yang sangat di luar dari ekspektasinya. Banyak dari wali murid teman anak-anaknya yang mengatakan jika toko ini sangat bagus. Sayangnya, wanita itu justru mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan.
Melihat itu, Nia segera menghampiri meja kasir. Wanita itu kemudian menyerahkan ponselnya pada wanita yang terlihat kebingungan.
"Maaf, Mbak hafal nomor orang rumah atau suami?" Nia bertanya dengan suara tenangnya. Namun rahang yang mengeras dan amarah yang tersimpan di hatinya terlihat jelas dari wajahnya.
"Saya hafal, Mbak. Saya tadi ingin meminjam ponsel mereka, tapi mereka enggak mengizinkannya." Wanita itu menjawab dengan tenang. "Boleh saya pinjem ponsel Mbak?"
"Silakan." Nia memberikan ponselnya pada wanita itu. Kemudian ia beralih pada pegawai toko yang berjumlah 4 orang sambil menggeleng pelan kepalanya. "Saya benar-benar enggak menyangka akan melihat hal seperti ini di toko baju yang cukup terkenal," ujar Nia.
Wanita itu menatap mereka satu persatu kemudian beralih menatap kasir toko. "Kamu kasir sudah berapa lama bekerja di sini? Kamu tahu kan SOP di sini?"
Kasir itu diam tidak menjawab. Namun, wajahnya yang ketus membuat Nia menghela napas. "Suruh manager kalian Bu Hasna datang ke sini sekarang. Bilang dengan beliau, kalau saya, Nia, ada di sini," titahnya dengan tegas.
"Bu Hasna enggak ada. Beliau orang sibuk." Kasir segera menjawab dengan ketus. Berpikir jika wanita di hadapannya mencari bu Hasna hanya untuk mencari muka di depan para pelanggan lainnya.
"Sibuk? Sibuk apa yang dilakukan oleh manajer toko sampai membuat pelayanan toko dan harga baju tidak begitu memuaskan untuk pelanggan?" Nia membalas dengan sinis. Nia mengambil ponsel yang diserahkan wanita tadi kemudian mengotak-atik sebentar sebelum ia menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Bu Hasna yang sibuk, saya sekarang ada di toko cabang yang dipimpin oleh Bu Hasna. Bisa ibu datang ke sini segera? Oh, sekalian bawa surat pengunduran diri ibu dan karyawan ibu." Setelah itu, Nia langsung mematikan sambungan telepon dan menatap beberapa karyawan yang menatapnya terkejut. "Kaget dengan apa yang saya ucapkan?" Nia tersenyum miring menatap mereka.
"Kita belum berkenalan. Saya Arrania Wilati, pemilik toko dari seluruh toko pakaian bernama Toko Mami Nia collection. Senang dengan penyambutan kalian hari ini," ujar Nia dengan saringannya.
Tentu saja apa yang diucapkan oleh Nia membuat para karyawan pucat di tempat. Mereka tidak tahu jika sejak tadi mereka sudah diawasi oleh pemilik toko yang sebenarnya.
__ADS_1