Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 99 ~ Keinginan Sandra


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Erzhan tidak percaya dengan apa yang kini tengah berada tepat di depan matanya.


Kehadiran dua wanita cantik yang satunya jelas sangat ia rindukan akhir-akhir ini, sempat tidak percaya jika mereka akan bertemu lagi.


Bukan sang ibu kandung yang lebih dulu mendapatkan pelukan penuh kerinduan Erzhan, melainkan si gadis cantik kesayangan keluarga Rafindra.


Jangan pernah berharap apapun, sebab dari anak tampan itu lahir ke dunia hanya pernah sekali merasakan pelukan hangat Sandra. Lebih dari itu harus meminta persetujuan terlebih dahulu baru di ijinkan, walau hanya sebatas melihat tanpa adanya kontak fisik.


Tidak heran jika sampai detik ini, Erzhan masih terlalu asing dengan kehadiran ibu kandungnya.


.


.


.


"Kangen Mommy banyak-banyak," bisik anak itu pelan tanpa melepas pelukan lumayan erat di leher Qiara.


"Mommy juga kangen banget sama Abang," sahut gadis cantik itu seraya mengusap penuh sayang punggung kecil Erzhan.


Pertemuan yang hanya berlangsung beberapa jam ke depan, tentu akan Qiara gunakan sebaik mungkin. Bahkan rasanya dia tidak ingin apa-apa lagi selain melihat dan mendengarkan suara Erzhan.


Sandra yang melihat kedekatan sang putra dengan sahabatnya memilih tidak banyak protes apalagi merasa iri dan cemburu, dia cukup sadar diri akan posisinya yang sedari awal tidak dekat dengan putranya sendiri.


"Kalian belum jawab pertanyaan Abang loh," seru anak tampan itu setelah melepas pelukannya dari Qiara.


"Mommy sama Mama Sandra barusan ngapain?" tanyanya menatap penuh selidik ke arah dua wanita cantik yang mendadak diam tersebut.


Lima menit yang lalu, sewaktu Erzhan masuk ke dalam ruangan bersama Faraz. Tidak sengaja kedua mata polos dan suci anak itu melihat pemandangan yang bisa di bilang terlalu ambigu untuk pikiran anak kecil sepertinya.


Dimana Sandra tanpa pikir panjang mencium seluruh bagian wajah Qiara tanpa ampun, jeritan sahabatnya pun tidak di hiraukan meski berulang kali memohon untuk di lepaskan.


Erzhan bergidik ngeri tanpa sadar kembali mengingat kejadian itu, ada perasaan aneh menyelimuti otak kecilnya yang mulai tercemar hanya karena salah paham.


"Abang ngga usah mikirin yang aneh-aneh dong, Mommy tadi cuma di cium sama Mama Sandra. Iya kan Ra?" ucap Qiara memberi penjelasan berharap anak tampan itu bisa mengerti.


"Jawab Ra!" kesalnya menatap tajam ke arah wanita cantik yang duduk diam sembari tertawa geli.


Sandra tidak menyangka sikap jahilnya pada sang sahabat berakhir dengan pertanyaan penuh selidik dari Erzhan.


"Aku ngapain? Perasaan tadi ngga ada tuh yang aneh," kekehnya tanpa merasa bersalah membuat Putri kesayangan Tuan besar Rafindra sangat kesal.


"Kamu jahat Ra, tuh si Abang mikirnya lain." Dengus Qiara tidak terima

__ADS_1


"Aku jahat, kenapa? Apa salahnya cium kamu kayak tadi, lagian bukannya dari dulu juga aku begitu." Bela Sandra membuat Qiara semakin kesal


"Tapi momennya itu ngga pas banget, Ra."


"Ya udah, tinggal di bikin enak ajah gampang kan?"


"Terserah, pusing aku lama-lama."


Qiara memilih duduk berdekatan dengan Erzhan tanpa menghiraukan tatapan mata penuh intimidasi Tuan muda Bramantya.


Sejak tadi, Faraz hanya diam sembari memperhatikan percakapan antara sang putra dengan kedua wanita cantik beda usia tersebut.


Melihat pria itu masih setia berdiam diri tanpa mau bergabung bersama mereka, justru merupakan kesempatan Sandra untuk berbicara empat mata dengan suaminya.


Wanita cantik itu meminta ijin pada Qiara dan Erzhan sebelum akhirnya menyusul Faraz keluar dari ruangan entah kemana perginya.


"Mau apa Mama Sandra ikutin Daddy?" tanya Erzhan dengan raut wajah bingung.


Qiara menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Entah, mungkin ada yang perlu mereka bicarakan berdua saja. Mending Abang temani Mommy ajah ya," jawabnya sengaja mengajak anak itu bermain.


Tidak ada yang tahu sebesar apa rasa sayang Qiara terhadap Erzhan, mungkin bisa di bilang pertemuan keduanya tanpa di sengaja.


๐ŸŒน


Pria itu tahu kehadiran Sandra yang mengikutinya dari belakang, mungkin sudah waktunya mereka berbicara lebih serius lagi.


"Mau sampai kapan berdiri di situ?"


Suara bariton milik Faraz berhasil mengagetkan Sandra.


"Aaa, maafkan aku."


"Jika ada yang ingin kamu bicarakan, cepat katakan! Jangan membuang waktuku," ucap Faraz dingin tanpa ekspresi.


Sandra langsung duduk tepat di hadapan pria itu hanya di batasi oleh meja kecil.


Banyak pertimbangan yang membuat wanita itu enggan mangatakan keinginannya di hadapan Faraz, tetapi kesempatan tidak datang dua kali. Sandra harus bisa meyakinkan suaminya itu agar kelak tidak ada kata perpisahan lagi di antara mereka.


Sudah ada Erzhan ikut melengkapi di tengah pernikahan mereka, jadi tidak menutup kemungkinan bagi seorang Faraz sampai rela menceraikan Sandra.


"Keputusan ku masih tetap sama dengan yang dulu," ucap wanita itu tegas masih bertahan dengan pendiriannya.


"Aku tidak mau bercerai apapun yang akan terjadi nanti," imbuhnya.

__ADS_1


Faraz hanya diam mendengarkan, ia tahu akan seperti ini akhirnya.


"Ingat Faraz, ada Erzhan yang sangat menginginkan orang tua yang lengkap sama seperti dengan lainnya." Ucap Sandra penuh keyakinan


"Kamu juga belum mendapatkan pengganti ku, bukan?" tanyanya dengan sangat percaya diri.


"Jadi, pernikahan kita tetap akan berlanjut sampai Erzhan dewasa. Mungkin kelak aku bisa," perkataannya langsung terpotong.


Melihat Faraz yang tertawa lepas seolah tengah mengejeknya.


"Apa kamu sedang bermimpi, Nona Sandra?" kekeh pria tampan itu dengan nada mengejek.


"Astaga, besar sekali keinginan mu untuk mempertahankan pernikahan ini."


"Memangnya kenapa, aku mengatakannya sesuai kenyataan bukan?" tantang Sandra hampir terbawa emosi.


Faraz langsung diam, ia tahu emosi wanita di hadapannya tersebut dalam kondisi buruk.


"Memang benar di antara kita sudah ada Erzhan sebagai pelengkap kebahagiaan, tapi apa kamu tahu alasan sampai detik ini sikap ku masih sama dengan yang dulu?"


Sandra menggeleng pelan, dia hanya fokus pada satu tujuan dan melupakan masalah lainnya.


Hal itu membuat Faraz semakin marah dan benci, siapa yang akan merasa nyaman hidup bersama seorang pembunuh.


"Kau ingin tahu apa yang salah darimu?"


Sandra menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Bibi meninggal karena berusaha menolong mu, kau ingat bukan?"


"Aku tidak membunuhnya," bantah Sandra tidak terima.


Faraz benar-benar sengaja melakukannya, pria itu hanya ingin memprofokasi istrinya.


"Kalau bukan kamu lalu siapa?" tanyanya semakin menyudutkan.


"Bukan aku pelakunya, Faraz." Teriak Sandra menggema


"Aku tidak pernah menaruh dendam apalagi sampai memiliki niat jadi seorang pembunuh, kenapa sampai detik ini kau masih saja menyudutkan ku?"


Keinginan Sandra hanya ingin mempertahankan pernikahannya, tetapi Faraz justru mengingatkannya kembali tentang masalah dua tahun lalu.


"Baiklah, jika kamu masih tetap keras kepala ingin mempertahankan pernikahan ini. Maka bersiaplah untuk sakit hati dan jangan pernah menyesal akan keputusan mu sendiri."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2