
๐น๐น๐น๐น๐น
Jalan-jalan yang harusnya cuma ada Qiara dan Erzhan, kini di tambah Faraz, ketiga putra kembar Rafindra, Tara dan Neta ikut bersama mereka.
Awalnya gadis itu menolak dengan alasan tidak mau kebersamaannya dengan Erzhan sampai terganggu, mengingat keduanya sangat jarang bertemu akhir-akhir ini.
Akan tetepi, mendengar penjelasan Faraz mengenai keamanannya jauh lebih penting. Mau tidak mau Qiara setuju membiarkan lainnya ikut, dengan catatan tidak boleh membatasi pergerakannya bersama Erzhan.
Rombongan Mobil mewah yang hanya terdapat beberapa unit di dunia tersebut menuju ke taman besar yang ada di area pusat kota.
Berbicara soal taman, Qiara kembali teringat kejadian dulu yang hampir membuatnya trauma. Meski tidak sampai menimbulkan ketakutan akan tempat tersebut, bukan berarti dia melupakan bagaimana nekatnya Sandra waktu itu.
Awalnya Erzhan menolak tidak mau ke taman kota lagi, sepertinya ia paham dengan perasaan sang Mommy Qiara belum sepenuhnya membaik. Tetapi melihat gadis cantik itu setuju, akhirnya anak tampan itu menyerah.
Tidak ada gunanya melarang, bukannya di dengarkan. Erzhan justru hanya akan mendapatkan godaan dari sang Daddy juga Paman Tara kesayangannya.
๐น
Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam lamanya di gunakan Qiara untuk istrirahat sejenak, rasa lelah dan kantuk membuatnya cepat terlelap.
Erzhan memilih duduk tenang seraya mengusap lembut pipi kiri sang Mommy, sebab Qiara tidur dengan kepala berada di atas pangkuannya.
Beruntung hanya mereka berdua di dalam mobil bersama sang sopir, jika tidak. Sudah pasti akan ada drama perdebatan antara Erzhan dengan Faraz.
Pasangan ayah dan anak tersebut saling memperebutkan Qiara, walau pada akhirnya tetaplah Erzhan yang menjadi pemenangnya.
Rombongan mobil akhirnya memasuki parkiran dekat taman kota yang kelihatannya sangat ramai pengunjung.
Qiara bangun dengan perasaan jauh lebih baik, tidurnya lumayan bisa menghilangkan rasa lelah.
"Abang kakinya sakit ya?" tanyanya khawatir melihat ke arah kedua kaki Erzhan yang sepertinya tidak baik-baik saja.
"Ngga Mom, cuma pegal dikit." Jawab anak tampan itu jujur
"Maaf ya, tadi Mommy ketiduran."
Qiara merasa sangat bersalah, terlebih anak tampan itu masih sangat kecil.
"Apaan sih, Mommy berlebihan tahu ngga?" kekeh Erzhan merasa baik-baik saja.
"Mending kita turun," ajaknya seraya membuka pintu mobil lumayan kuat.
Di luar mobil sudah ada si kembar, Tara, Neta dan pastinya Faraz.
Melihat Erzhan keluar mobil dengan Qiara memeluknya, sontak pandangan mereka tertuju pada keduanya yang tertawa lepas.
Pemandangan yang hanya bisa di lihat tanpa berani menginginkan sesuatu yang lebih, sebab tidak baik menaruh harapan yang belum pasti.
Semuanya langsung menuju ke taman, suasana yang ramai pengunjung tidak membuat Erzhan risih apalagi terganggu saking banyaknya anak-anak berlarian kesana kemari.
Faraz membawa sang putra ke area permainan tidak jauh dari tempat yang lainnya berkumpul, adapun niat hati ingin mengajak Qiara urung di lakukan.
Tampak jelas Qiara sedikit kurang nyaman dengan sesekali membuang nafas kasar, mungkin gadis itu teringat akan kejadian dulu sewaktu datang bersama Sandra tanpa pengawasan lebih.
__ADS_1
Ketiga kakak kembar Qiara menyadari gelagat aneh si bungsu kesayangan, begitu pun Neta yang sedari awal memperhatikan teman dekatnya tersebut.
"Queen ..."
"Baby ..."
Ke empat orang dewasa itu memanggil Qiara dengan sebutan berbeda secara bersamaan.
Qiara mengangkat wajahnya yang terlihat setetes cairan bening jatuh membasahi pipinya tanpa bisa di cegah.
"Aku takut," sahutnya pelan.
Neta segera meraih tubuh bergetar Qiara masuk ke dalam pelukannya untuk di tenangkan.
"Aku takut, Taa." Bisik gadis itu nyaris tidak terdengar
"Tenanglah, ada aku disini." Rayu Neta menenangkan
"Sandra pasti sangat membenciku, iya kan?" tanya Qiara dengan terisak.
"Aku sudah lancang masuk ke dalam masalahnya, Taa."
Qiara merasa bersalah sudah merebut kebahagiaan sahabatnya tersebut.
"Aku ini sahabat macam apa?"
"Jangan berkata seperti itu, kamu tidak bersalah."
"Aku tidak suka, kamu tahu kan?" tegas Neta.
Pertemanan mereka bukan hanya berlangsung satu dua hari, melainkan sudah beberapa tahun.
Meski Qiara lebih banyak menyimpan masalahnya sendiri tanpa mau bercerita pada Neta, bukan berarti hubungan mereka tidak dekat.
Justru bila di bandingkan dengan persahabatan gadis itu dengan Sandra, posisi Neta jauh lebih penting selama Qiara berada di luar negri untuk menimbah ilmu.
Sandra memang sahabat Qiara, tetapi Neta adalah obat sekaligus sosok terpenting gadis cantik itu dalam suka maupun duka.
Tangisan Qiara lumayan kuat mengingat posisinya berada di tempat yang terbuka, sudah ada beberapa pasang mata ikut memperhatikannya saking penasaran apa yang terjadi sampai dia menangis seperti itu.
Faraz dan Tara belum menyadari kerumunan yang berada tidak jauh dari area permainan, saking fokusnya mengawasi Erzhan tengah bermain sampai melupakan dengan siapa saja mereka datang ke taman kota.
.
.
.
Qiara yang mulai tenang setelah puas menangis hampir dua puluh menit lamanya, akhirnya bisa tersenyum layaknya seperti tidak terjadi apa-apa.
Matanya yang sembab langsung di kompres menggunakan es batu agar ketika Erzhan melihatnya tidak banyak bertanya, sungguh anak tampan itu sangat sulit di bohongi.
Pengalaman yang sampai kapan pun tidak akan pernah Neta lupakan. Begitu pun ketiga Tuan muda Rafindra, melihat bagaimana terpuruknya si bungsu hanya karena berada di antara pilihan yang sulit.
__ADS_1
Zaidan, Zafir dan Zhe hanya bisa menghela nafas panjang lalu membuangnya perlahan, tidak berani buka suara meski jauh di dalam hati mereka ingin sekali meminta si bungsu untuk berkata jujur.
Mereka biarkan Neta pergi membawa Qiara ke tempat jajanan pinggir jalan tidak jauh dari taman, biarlah Erzhan menjadi urusan mereka jika anak tampan itu bertanya.
Zafir mengajak kedua saudara kembarnya tersebut duduk santai di kursi taman dengan beberapa minuman kaleng juga cemilan yang ia ambil dari mobil.
"Pusing gue lama-lama," keluh Zaidan menatap ke arah seberang taman dimana Qiara dan kekasihnya berada.
"Queen tetap keras kepala mau balik keluar negri bersama Neta," imbuhnya.
Zafir maupun Zhe hanya diam.
"Kalian dengar ngga sih, barusan gue ngomong apa?" kesal Zaidan menyadari kedua adik kembarnya hanya diam tidak bersuara.
"Dengar Kak," jawab keduanya bersamaan.
"Terus kenapa diam ajah?" tanya Tuan muda pertama Rafindra tersebut.
"Mau jawab pun ngga ada gunanya," ucap Zafir santai memilih beranjak dari tempat duduk menyusul si bungsu kesayangan.
Zhe ikut mengekor di belakang meninggalkan Zaidan tengah mengoceh tanpa henti.
Pria itu belum menyadari kepergian kedua adik kembarnya, sedetik kemudian ia merenggut kesal menyadari tersisa dirinya berbicara sendiri dengan beberapa pasang mata ikut memperhatikannya.
"Astaga, adik-adik ngga ada akhlak." Teriaknya segera menyusul Zafir dan Zhe ke tempat jajanan
Lain halnya dengan Faraz dan Tara mulai kehabisan akal merayu Erzhan untuk berhenti bermain, pasalnya mereka harus segera mencari keberadaan yang lainnya.
"Ini maksudnya kita di tinggal begitu ajah?" heran Tara menyadari hanya ada mereka bertiga di taman kota.
"Cepat bawa Abang!" titahnya pada Faraz.
Mereka langsung membawa paksa Erzhan yang mengamuk tidak mau ikut, bukan Tara namanya jika menyetujui saran Faraz untuk membiarkan sejenak putranya bermain.
"Abang diam atau Paman jual ke tukang Ice cream, mau?" ancam Tara pura-pura marah.
"Lah. Memangnya si tukang ice cream mau gitu sama Abang?" sambung Faraz mengejek.
"Entah, gimana kalau di coba ajah dulu. Siapa tahu laku, iya kan?"
Tara nyaris tertawa lepas melihat raut wajah takut sang keponakan mendengar ia akan di jual ke tukang ice cream.
"Abang ngga nakal kok," seru Erzhan dengan tampang polos menggemaskan.
Faraz berdehem melirik ke arah sahabatnya yang tertawa.
"Iya ngga nakal," ucapnya mencium pucuk kepala sang putra.
"Tapi Abang mau main lagi, Dad." Kekeh anak tampan itu tanpa dosa
Sungguh Faraz maupun Tara hanya bisa membuang nafas kasar meladeni tingkah usilnya.
๐๐๐๐๐
__ADS_1