
Sandra pergi setelah menghabiskan waktu yang tersisa bersama Erzhan di salah satu pusat perbelanjaan, tidak lupa membelikan beberapa mainan kesukaan anak tampan itu sebagai kenang-kenangan.
Dia tidak akan pernah tahu pasti kapan bisa kembali pulang ke negara asal, mengingat hubungannya dengan sang sahabat Qiara tidak lagi sama seperti dulu.
Mungkin masih perlu waktu yang lumayan lama agar bisa kembali menjalin komunikasi yang baik dengan sahabatnya tersebut.
Sandra berharap itu tidak sampai hitungan tahun, karena baginya terlalu sulit menjalani hidup jika masih berada di antara perasaan bersalah.
Jika ingin mengetahui kabar mengenai Erzhan, bukan lagi pada mantan suaminya yang akan Sandra hubungi, melainkan kepala pelayan yang kedepannya akan menjadi perantara Ibu dan anak tersebut.
Tidak ada yang memberitahu pada Sandra mengenai kabar kehamilan Qiara, semua memilih bungkam sampai akhirnya wanita itu benar-benar pergi meninggalkan kota kelahirannya.
Akan jauh lebih baik seperti itu, jika tidak ingin ada sesuatu yang buruk sampai terjadi.
.
.
Faraz dan Qiara menerima kabar soal keberangkatan Sandra beberapa menit yang lalu dari orang kepercayaan mereka.
Tidak ada yang terucap keluar dari mulut pasangan suami istri itu sewaktu mendengarkan pesan singkat yang Sandra titipkan lewat pria tampan bernama Aryan.
Satu hal yang mereka pahami. Dimana wanita itu berpesan agar kelak hubungan di antara ketiganya jangan sampai ada yang saling menaruh dendam apalagi benci.
Biarlah semua berlalu dengan saling mengikhlaskan, karena Sandra pun cukup sadar diri tidak boleh melewati batas jika masih sayang dengan nyawanya sendiri.
__ADS_1
Perihal kedua orang tuanya yang memang sudah keterlaluan membohonginya agar kembali pulang, itu menjadi urusan pihak keluarga Rafindra maupun Bramantya yang akan memberi peringatan langsung.
Faraz tidak mau ambil pusing, begitu pun dengan Qiara. Sebab, mereka lebih memilih untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang jauh dari masalah serta bayang-bayang masa lalu bersama Erzhan dan calon buah hati mereka.
Masih banyak yang akan pasangan suami istri itu lalui di masa depan nanti, termasuk melihat tumbuh kembang Erzhan yang pastinya akan mewarisi sebagian harta kekayaan milik keluarga Bramantya.
Dan bukan hanya itu, beberapa aset milik keluarga Rafindra pun sudah berpindah tangan menjadi milik anak tampan itu.
Betapa putra sambung kesayangan Qiara sangat di sayang oleh semua anggota keluarga Rafindra tanpa menilai siapa ibu kandungnya dan bagaimana sampai anak tampan itu hadir ke dunia.
Semua menganggap Erzhan layak mendapatkan yang terbaik, termasuk perhatian dan kasih sayang dari Qiara.
Wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu tersebut, sangat menyayangi putra sambungnya seperti anak kandung sendiri. Membuat Faraz begitu mencintainya, bahkan tidak akan pernah habis pria itu mengucap rasa syukur karena memiliki seorang istri bukan hanya cantik wajahnya, melainkan cantik juga hatinya.
Tampak Qiara berada di tengah-tengah suami dan putranya yang memilih duduk lumayan jauh, khawatir jangan sampai wanita itu kesulitan bernafas.
Erzhan menatap sang Daddy memberi isyarat lewat tatapan mata yang sedetik kemudian keduanya langsung tersenyum lebar.
"Kami sangat mencintaimu, Mom." Seru pasangan Ayah dan Anak itu dengan kompak
Qiara tersenyum hangat, sengaja merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan penuh kasih sayang dari kedua pria tampan kesayangannya itu.
"Kemarilah!"
Baik Faraz maupun Erzhan langsung berhambur ke dalam pelukan wanita cantik kesayangan mereka sembari tertawa.
__ADS_1
"Mommy yang terbaik," bisik sang putra di telinga kanan Qiara.
Hal yang serupa pun di lakukan Faraz, sesekali mencium pipi chubby sang istri tercinta penuh sayang.
Tidak ada yang bisa menggambarkan seperti apa perasaan mereka saat ini.
Hampir lima menit ketiganya berada dalam posisi yang sama, membuat Qiara sedikit kesulitan bernafas dan meminta agar kedua pria itu menjauh.
"Besok mau jalan-jalan atau liburan ke pulau?" tanyanya setelah pelukan suami dan putranya sudah terlepas.
"Oma dan Opa sangat merindukan kalian, berharap liburan selanjutnya Abang ikut juga." Imbuhnya
Faraz tampak berpikir sejenak, belum pasti memiliki waktu luang atau tidak. Karena jujur saja, masih banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan.
"Kalau bulan depan boleh?"
"Abang ikut kata Mommy ajah," sahut Erzhan memberi jawaban.
"Mommy gimana baiknya menurut Daddy ajah sih. Kalau bisanya bulan depan ngga masalah juga, asalkan Oma dan Opa ngga sampai menaruh harapan besar pada kita." Timpal Qiara memilih keputusan suaminya
Liburan ke pulau memang sudah pernah di bicarakan bersama, hanya belum di tentukan kapan waktunya. Mengingat kandungan Qiara masih belum bisa di ajak bepergian yang jauh.
Itu sebabnya, Faraz ingin memastikan dulu kondisi istrinya baik-baik saja. Baru mereka boleh liburan, mengunjungi Oma dan Opa.
๐๐๐๐๐
__ADS_1