Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 139


__ADS_3

Tidak terasa pesta pernikahan yang sengaja di gelar begitu mewah dengan mengundang ratusan tamu undangan mulai dari pagi sewaktu Akad Nikah sampai pada acara di malam hari, berlangsung dengan aman tanpa adanya kekurangan sedikitpun.


Kedua belah pihak keluarga, Baik Rafindra maupun Bramantya tidak membuat seluruh tamu pulang dalam keadaan kurang puas dan kecewa. Sebab mereka ikut menyediakan souvenir juga beberapa buaj tangan untuk di bawa pulang.


Banyaknya tamu yang hadir membuat pasangan pengantin baru yang sedari pagi hingga malam pesta hampir selesai, belum pernah merasakan istrirahat walau sejenak.


Sang Nona muda Rafindra harus berganti gaun sebanyak empat kali dalam sehari semalam, dan kabarnya pihak keluarga ingin gadis cantik itu kembali mengenakan sebuah gaun indah berwarna biru langit sebagai persembahan terakhir di pesta pernikahannya sendiri.


Bisa di bayangkan sekesal apa Qiara, hanya karena menuruti setiap kemauan Nyonya Ayshila dan Nyonya Kamila tanpa memikirkan betapa lelahnya dia menjadi objek percobaan.


Masih berada di dalam kamar ganti, terdengar jeritan kekesalan gadis itu yang menolak untuk berganti pakaian hanya untuk sesi foto keluarga dan lain sebagainya.


"Astaga, Mami. Please! Ijinkan Qia istirahat," ucapnya dengan kedua mata sudah berkaca-kaca.


"Qia lelah, Mih. Sejak pagi sampai sekarang terus menuruti keinginan kalian."


"Tidak bisakah acaranya di tunda besok, hmm?"


"Tolong ... Biarkan Qia istirahat."


Kemarahan gadis itu memuncak ketika mengetahui di balik keinginan sang Mami dan Ibu mertuanya, ada Neta yang menjadi pelaku utama.


Qiara di buat murka, sampai rasanya ingin mati saja karena di kerjai oleh calon kakak iparnya tersebut.


Beruntung semua tamu undangan sudah pergi, hanya tersisa keluarga inti dan beberapa kerabat dekat masih setia mengobrol di halaman samping kediaman Rafindra.


Jika mereka masih ada, sudah pasti akan timbul berita tidak baik keesokan harinya.


.


.


Si kembar Rafindra kabur entah kemana sembari membawa serta Neta, Erzhan juga Tara pergi bersama mereka.


Tidak ada yang berani menghadapi kemarahan Qiara terutama sang Kakak pertama, sebab calon istrinya lah pelaku utama mengapa si bungsu kesayangan mengamuk.


Zaidan sebisa mungkin menjadi penengah meski ia tidak dapat menjamin sepulang nanti ke rumah, terbebas dari amukan Qiara.


Tidak ada lagi drama pemaksaan terhadap istri kesayangan Tuan muda Bramantya tersebut, setelah mendapat teguran dari Tuan Rafin dan Tuan Rasya pada istri-istri mereka.


Semua yang masih berada di luar rumah beranjak masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat, mengingat malam semakin larut.


Beberapa menit yang lalu, Faraz sengaja mengajak Qiara menuju lantai atas dimana kamar istrinya sudah di sulap menjadi kamar pengantin.

__ADS_1


Keduanya tidak banyak bicara, secara bergantian mebersihkan diri sebelum istrirahat.


Awalnya pasangan pengantin baru tersebut sama-sama terlihat canggung dan malu, tidak bisa di pungkiri status baru mereka yang sekarang resmi menjadi pasangan suami istri, rasanya seperti mimpi.


Faraz yang tidak menyangka akan menikah untuk kedua kalinya, itupun dengan Tuan putri dari keluarga Rafindra yang masih single dan sangat muda.


Tidak jauh berbeda dengan Qiara yang masih belum percaya, dirinya sudah menjadi seorang istri dari mantan suami sahabatnya sendiri.


Mereka sama-sama di selimuti perasaan gelisah dan jantung berdebar, masih belum percaya akan bisa sampai ke tahap ini.


"Qiara ..."


"Faraz ..."


Keduanya langsung tertawa menyadari tingkah konyol masing-masing.


"Kamu duluan," ucap Faraz mengalah.


"Tidak, kamu saja yang duluan." Tolak Qiara enggan berbicara lebih dulu


Dia sejujurnya merasa sangat lelah dan mengantuk, tetapi melihat tatapan mata teduh Faraz seolah mengisyaratakan sesuatu, Qiara langsung waspada.


Pletak


"Hey, apa yang kamu pikirkan?" tanya Faraz sembari menggeleng pelan.


"Kamu takut aku melakukan sesuatu padamu, hmm?"


Kedua bola mata Qiara membulat sempurna dengan tubuh mundur perlahan ke belakang sampai mentok di kepala ranjang.


"Astaga, sayang." Kekeh Faraz merasa lucu dengan tingkah istri cantiknya tersebut


"Kemari lah, aku tidak akan memakanmu sekarang." Pintanya dengan senyum hangat menenangkan


Meski ragu dan sedikit khawatir bagaimana jika pria tampan yang tadi siang resmi menjadi suaminya itu berbuat macam-macam.


Qiara tetap mendekat dengan tatapan mata penuh intimidasi.


"Janji ngga apa-apain aku?" sahutnya dengan kedua mata menatap penuh selidik kearah Faraz.


"Iya, cepetan sini." Jawab pria itu sangat tidak sabaran hanya karena ingin memeluk istrinya tersebut


Perlahan tubuh langsing Qiara masuk ke dalam pelukan Faraz tanpa meminta persetujuan lebih dulu.

__ADS_1


"Jangan protes, aku hanya ingin memelukmu sebentar saja." Bisik pelan manatn Duda anak satu itu semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Qiara


Aroma wangi dari sabun mandi serta lotion yang gadis itu pakai beberapa waktu lalu, membuat Faraz nyaman berlama-lama disana.


Tidak ada nafsu yang timbul meski jarak di antara mereka begitu dekat.


Faraz tahu mengendalikan diri agar tidak menakuti istrinya yang terbilang masih sangat polos dan belum sepenuhnya menerima keberadaannya.


Ia tahu itu, bisa di rasakan lewat gerakan tubuh Qiara seperti gelisah dan masih belum terbiasa dengan kehadirannya.


"Kamu mau makan apa? Biar aku minta Bibi ambilkan," bisik pelan Faraz tanpa mau beranjak dari posisi ternyamannya.


"Jantung kamu kedengaran, sayang." Kekehnya yang sedetik kemudian menjerit


"Aw, jangan di gigit."


Faraz merasa ngilu manakala Qiara tanpa perasaan bersalah menggigit lumayan kuat lengan kirinya.


"Kamu bilang apa tadi?" kesal si cantik bertanya.


"Ampun, sayang."


Qiara benar-benar di buat kesal campur malu, ketika jantungnya tidak mau di ajak kerja sama.


"Aku ngga mau makan apapun," ucapnya pelan dengan mulut yang menguap.


"Mataku berat banget," rengek Qiara tidak tahan menahan panggilan alam mimpi.


Faraz yang paham, segera menjauhkan dirinya agar gadis itu bisa leluasa mengatur posisi tidur.


Di lihatnya bagaimana Qiara sudah menutup kedua matanya rapat saking lelah dan mengantuk tanpa bisa di tahan.


Ada seulas senyum menghiasi wajah tampan Faraz, kembali mengingat waktu yang terbilang singkat untuk mereka saling memantapkan diri sampai yakin memulai hubungan, akhirnya bisa di persatukan dalam ikatan pernikahan.


"Terima kasih sudah hadir menjadi pelengkap kami berdua," gumam Faraz pelan sembari mengusap lembut pipi kiri istrinya.


"Kamu datang membawa kebahagiaan yang belum pernah kami rasakan, menjadi alasan mengapa aku bisa kuat bertahan meski rasanya dunia begitu tidak adil terhadapaku dulu."


"Maaf atas sikap ku dulu, tidak bisa menjaga janji di antara kita dengan baik. Memilih acuh saat kebenaran jelas sudah di depan mata."


Faraz masih ingat bagaimana ia dulu memilih tidak peduli ketika semua kebenaran terungkap, hanya karena ingin menjaga perasaan mantan istrinya. Tetapi ia lupa jika ada hati wanita lain yang ikut merasakan luka.


"Aku tidak tahu, apakah sekarang sudah mencintaimu atau belum."

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2