Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 162


__ADS_3

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, kini Oma dan Opa harus kembali lagi ke pulau setelah kurang lebih dua minggu lamanya menetap di kediaman utama Rafindra.


Selama itu juga Qiara berada di rumah bersama kedua orang tuanya, membagi waktu sebaik mungkin antara keluarga, suami dan tidak lupa si kecil Erzhan.


Sesekali wanita cantik itu ikut bersama Faraz ke kantor setelah mengantar putra kesayangan mereka ke sekolah.


Hal itu berlangsung selama dua minggu tanpa adanya perdebatan apalagi timbul rasa bosan, mengingat kedua pria Bramantya kesayangan Qiara mudah di runduh rasa bosan.


Beruntung kehadiran Oma dan Opa sangat membawa pengaruh positif bagi Faraz juga Erzhan, tidak jarang pasangan Ayah dan Anak itu sampai ikut kemana pun perginya Oma dan Opa. Mulai dari jalan-jalan keliling kota, mengajak makan di Restaurant atau lain sebagainya yang membuat liburan pasangan baya itu tidak selalu berputar di rumah, tetapi bisa menghirup udara segar selama berada di kota.


Tidak ada yang bisa menggantikan kenyamanan tinggal di pulau pribadi, tanpa adanya gangguan atau kebisingan. Hanya ada ketenangan dan kedamaian hati menghiasi kehidupan Oma dan Opa menjelang sisa umur mereka.


Pernah beberapa kali mereka sempat menawarkan agar Faraz mau tinggal di pulau bersama Qiara dan Erzhan.


Tetapi, rasanya mustahil. Mengingat suami tampan kesayangan Nyonya muda Bramantya tersebut memiliki tanggung jawab yang besar, sebagai ahli waris yang memegang penuh kerajaan bisnis keluarga yang nantinya juga akan di turunkan pada sang putra, Erzhan.


Kini Oma dan Opa harus rela kembali berpisah dengan semua anggota keluarga, terutama Qiara yang sedari pagi usai sarapan tampak uring-uringan selalu menempel kemana pun pasangan baya itu pergi.


"Qia masih rindu loh," rengek wanita cantik itu dalam pelukan Oma.


"Kan, bisa liburan ke pulau lagi bareng suami mu. Sekalian ajak Erzhan juga, biar kamu ngga culik anak orang kalau disana." Sahut Oma tertawa sembari memberi pengertian


Rasa berat meninggalkan jelas membuat wanita baya itu sedih, tetapi berlama-lama di kota sangat tidak baik untuk kesehatan suaminya.

__ADS_1


"Kalau masih di beri kesehatan dan umur panjang, pasti Opa dan Oma akan kemari lagi." Ucap Opa sembari mengusap lembut punggung sang cucu kesayangan


"Di kota tidak baik untuk kesehatan kami, jadi Qia ngga boleh sedih." Oma kembali memberi pengertian


Berharap wanita cantik itu mengerti, tidak lagi merengek bak anak kecil yang takut di tinggal ibunya.


Qiara memang seperti itu, dari luar tampak cuek seolah kehadiran Oma dan Opa selama di rumah utama di anggapnya seperti berada di pulau.


Melihat istrinya tidak mau lepas dari pelukan Oma, membuat Faraz tidak tahan lagi untuk tidak menghampiri wanita halalnya tersebut.


"Ijinin Oma dan Opa pulang ya," rayu pria itu seraya kedua tangannya menangkup wajah chubby sang istri yang berlinang air mata.


"Kasihan Opa ngga kuat dengan suasana di kota, sayang."


Cukup memakan waktu agar Qiara bisa merelakan pasangan baya itu pulang tanpa adanya drama rengekan apalagi tangisan.


Oma dan Opa akhirnya pulang dengan perasaan lega, mereka di antar langsung oleh ketiga Tuan muda Rafindra beserta Neta yang katanya ikut di buat penasaran akan ke indahan pulau pribadi tersebut.


Sementara Tuan Rafin dan Nyonya Ayshila justru sibuk mengajak Erzhan keluar jalan-jalan mengelilingi pusat perbelajaan usai kembali dari bandara.


Tersisa Qiara dan Faraz masih setia duduk santai di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari kawasan bandara.


Rupanya pasangan suami istri itu tengah asyik menikmati jajanan pinggir jalan yang penjualnya berjejer rapih di sekitar bandara.

__ADS_1


Faraz yang ingin menyalakan mesin mobil setelah berhasil merayu Qiara, siapa sangka pikirannya justru berbelok kearah makanan.


Mulai dari yang rasanya asin, pedas, asam dan manis terkumpul jadi satu. Membuat Qiara sampai menelan salivanya susah payah, belum percaya dengan apa yang kini tengah asyik di nikmati suaminya tersebut.


"Mommy yakin ngga mau? Ini enak banget loh," tawar Faraz entah sudah ke berapa kalinya pada sang istri yang hanya di jawab dengan gelengan kepala pelan.


"Yang asam sama pedas rasanya jauh lebih segar dan nikmat."


Pria itu semakin lahap menghabiskan semua jajanan tanpa sisa, mendadak tuli ketika di tegur Qiara saking kesalnya melihat beberapa kantong plastik berserakan di bawah kursi kemudi.


"Daddy jorok ih, beresin cepat atau Mommy tinggal sekarang juga." Ancam wanita itu tidak main-main


"Makan ajah sampai kena baju, ya ampun."


Qiara sangat cinta yang namanya kebersihan, bahkan tidak jarang dia mengomel ketika mendapati ruang kamar atau rumah dalam keadaan berantakan.


Faraz tertawa pelan sembari memperlihatkan deretan gigi yang terdapat cabai menempel di sela-selanya.


Tidak hanya itu, melihat semua makanan yang ia beli sudah habis tak tersisa. Pria itu kembali menuju beberapa kedai membeli jajanan yang sama untuk di bawa pulang ke rumah.


"Kenapa aku merasa ada yang tidak beres?" gumam Qiara seraya memperhatikan gelagat suaminya yang sedikit aneh.


"Daddy ngga lagi kesurupan kan?"

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2