Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 109 ~ Meminta Nomor Ponsel


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Qiara menuntun Erzhan keluar dari Toko mainan dengan perasaan senang.


Hari ini, rencananya mereka akan pergi ke beberapa tempat yang belum pernah Erzhan kunjungi. Ada rasa kasihan timbul di hati Qiara mengingat bagaimana kerasnya ayah kandung dari anak tampan itu selama masalah pernikahan dengan sahabatnya Sandra belum ada tanda penyelesaian.


Aku tidak salah bukan, masuk ke tengah-tengah kehidupan mereka?


Qiara berbicara dalam hati.


.


.


.


"Makasih Mommy," seru Erzhan terlihat bahagia keinginannya untuk membeli mainan baru akhirnya terpenuhi.


Qiara mengusap sayang pucuk kepala anak tampan itu seraya tersenyum manis.


"Sama-sama, Handsome." Kekehnya langsung mencium gemas kedua pipi Erzhan


"Habis dari sini mau kemana lagi, hmm?"


Anak tampan itu tengah berpikir sejenak, ia bingung harus mulai dari mana. Sebab ada begitu banyak tempat yang sang Mommy tawarkan sebelumnya.


"Abang bingung Mom," keluhnya mendadak pusing sendiri.


"Mm, gimana kalau makan siang dulu?" tawar Qiara menyadari waktu makan siang hampir tiba.


Erzhan mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Kita antar ini semua ke mobil dulu ya?"


Keduanya berjalan ke arah lobi parkiran dimana sebuah mobil masih setia menunggu, padahal sudah di minta untuk pulang.


Qiara meminta tolong sang sopir meletakkan semua barang belanjaan di dalam mobil, sebelum akhirnya mengajak Erzhan ke sebuah Restaurant di dalam Mall.


Siapa saja yang melihat kedekatan mereka pasti mengira jika keduanya merupakan pasangan ibu dan anak kandung, meski kenyataannya justru bukanlah siapa-siapa.


Melainkan takdir lah yang mempertemukan Qiara dengan malaikat kecil tidak berdosa tersebut, lalu menjadi cahaya baginya yang belum pernah merasakan perhatian dan kasih sayang seorang ibu.


Qiara menggendong Erzhan sampai di Restaurant, beberapa pasang mata tampak saling berbisik melihat kedatangan Tuan putri Rafindra yang terkenal bar-bar dan keras kepala.


Mereka adalah sebagian orang yang kenal siapa Tuan besar Rafindra beserta anggota keluarganya, termasuk si bungsu yang sejak kecil tinggal di luar demi keselamatannya sebelum menginjak usia 18 tahun seperti sekarang.


Banyak yang tidak mengetahui identitas asli Qiara, sebab Tuan besar Rafindra belum mengumumkan keberadaannya beserta pulangnya sang istri tercinta ke media.


"Mommy yakin kita makan disini?" tanya Erzhan berbisik.


Ia dapat dengan jelas melihat tatapan aneh beberapa orang tidak mereka kenal setelah memasuki Restaurant.


"Pindah ajah yuk, Mom." Ajaknya mulai risih


"Ngga apa-apa, sayang. Biar kita cari tempat duduk paling nyaman ajah ya?"


Bukannya menyetujui permintaan anak tampan itu, nyatanya Qiara memilih duduk berjauhan dengan meminta pelayan untuk mengosongkan beberapa meja makan yang berada di dekat mereka.


Semua dia lakukan demi kenyamanan Erzhan, yang tidak menyukai keramaian dan tatapan aneh orang-orang ke arahnya.


"Sekarang udah aman, jadi ngga perlu cari tempat makan lain ya?" kekeh Qiara mengusap sayang kedua pipi anak tampan itu.


"Abang mau makan apa?" tanyanya seraya memperlihatkan buku menu pada Erzhan.


Lagi-lagi anak tampan itu hanya diam, ia bingung ingin makan apa. Membuat Qiara tidak tahan ingin menciumnya, andai sang empu masih diam.

__ADS_1


"Samain ajah kayak punya Mommy, cuma Abang ngga suka pedas." Ucapnya terdengar lucu karena ingin menghindari ciuman dari sang Mommy Qiara


"Wah, Abang curang." Protes gadis cantik itu membuat Erzhan tergelak


"Malu ih, banyak yang lihat."


"Kenapa harus malu?" tanya Qiara menggoda.


"Pokoknya ngga boleh Mommy, entar ada yang cemburu." Jawab Erzhan santai


Tanpa sadar perkataannya justru di tanggapi Qiara dengan maksud lain.


"Abang lihat siapa?" herannya memperhatikan gelagat Erzhan yang mencurigakan.


"Mommy beneran ngga sadar juga?"


Bukannya menjawab apa yang sang Mommy tanyakan, Erzhan malah balik bertanya.


"Ada apa? Mommy dari tadi ngga lihat apa-apa, sayang." Jawab Qiara jujur


"Memangnya ada apa sih?"


Erzhan menunjuk ke arah sudut Restaurant menggunakan sedotan yang berada dalam mulutnya, kedua matanya begitu fokus tanpa berkedip.


Mau tidak mau akhirnya Qiara menurut karena rasa penasarannya sudah meronta-ronta.


Kedua bola matanya langsung membulat sempurna menyadari ada yang tengah memperhatikan dari arah lumayan jauh.


"Loh, bukannya itu ..." ucap Qiara terputus.


"Daddy, memangnya siapa lagi." Sambung Erzhan memilih tidak peduli apa yang membuat sang Daddy terlihat di dekat Restaurant


"Mau apa Daddy kamu itu?" tanya Qiara hanya di jawab Erzhan dengan gelengan kepala tidak tahu.


Qiara tampak penasaran, namun rasa lapar membuatnya kembali fokus pada pesanan mereka yang berada di atas meja sangat menggoda ingin segera di makan.


.


.


.


Sementara pria tampan yang sempat mengganggu ketenangan Qiara dan Erzhan, tampak raut wajah tidak suka melihat beberapa pria ikut memperhatikan ke arah Tuan putri Rafindra tersebut.


Usia mereka sama dengan Qiara yaitu sekitar 18 atau 19 tahun, membuat Faraz uring-uringan rasanya ingin sekali menarik gadis cantik itu keluar dari Rastaurant sekarang juga.


"Apa mereka tidak ada pekerjaan?" gumamnya kesal seraya terus memperhatikan gerak-gerik sekelompok pria yang duduk lumayan jauh dari posisi dimana Qiara dan Erzhan tengah asyik menyantap makan siang tanpa merasa terganggu.


"Aarrgh, bodoh. Ngapain juga gue beridiri kayak orang aneh di sini?"


Faraz merutuki kebodohannya sendiri, ia bergegas masuk ke dalam Restaurant mengarah ke sudut ruangan dimana putranya berada.


Dari arah jauh Qiara bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana tidak sukanya pria tampan itu mendapati ada sekelompok pria tengah memperhatikan ke arahnya dan Erzhan.


Kenapa jantung ku kali ini? Tanyanya dalam hati.


Tidak mungkin Qiara sampai berpikiran yang aneh, jelas Faraz bukan hanya seorang pria tanpa status.


Aku pasti sudah gila, mengharapkannya lebih dari sekedar mengagumi.


Apa yang akan terjadi nanti, seandainya Qiara menyetujui pernikahannya dengan Tuan muda Bramantya tersebut.


Faraz yang berdiri tepat di hadapan Erzhan dan Qiara langsung menarik kursi lalu duduk tepat di samping Tuan putri Rafindra.


"Makanannya enak," serunya tanpa rasa bersalah meraih piring Qiara berisi nasi goreng dan memakannya tanpa sisa.

__ADS_1


Qiara sampai melongo tidak percaya dengan apa yang barusan di lakukan pria itu.


"Daddy kenapa makan itu?" tanya Erzhan kesal.


"Mommy lagi makan kenapa Daddy main ambil ajah sih?" omelnya tidak suka.


Faraz hanya tersenyum kecil dengan mulut penuh makanan.


Akan tetapi, rasa kesalnya kembali berlipat ganda melihat seorang pria berani mendekat ke arah meja makan dan meminta nomor pada Qiara.


"Maaf Nona. Bolehkah aku meminta nomor ponsel mu?" ucap pria itu seraya tersenyum.


"Perkenalkan aku, Hans. Pemilik Toko mainan yang kalian kujungi tadi," jelasnya tanpa rasa malu ikut duduk bersama di samping Faraz yang merenggut kesal.


Awalnya Qiara bingung melihat pria itu datang langsung meminta nomor ponsel padanya, tetapi dia lebih bingung lagi setelah mendengar penjelasan darinya.


Erzhan menatap tidak suka ke arah pria bernama Hans, tidak jauh berbeda dengan sang Daddy Faraz.


Melalui isyarat mata keduanya bekerja sama untuk menyingkirkan pria itu segera dari hadapan Qiara, sebelum masalahnya lebih parah.


"Mommy, kapan kita pergi beli ice cream?" seru Erzhan sengaja mengeraskan suaranya.


"Abang mau ice cream di depan sana, boleh ya Mom?"


Hans terkejut mendengar panggilan dari Erzhan, awalnya ia menyangka anak tampan itu bukanlah anak Qiara tetapi adiknya.


"Mommy?" tanyanya belum percaya.


"Iya, Mommy nya Abang. Kenapa?" ketus Erzhan sudah berpindah duduk di atas pangkuan Qiara.


"Aa, maaf. Aku pikir kalian adik kakak, soalnya wajahmu terlihat masih sangat muda."


Sungguh Hans merasa patah hati sebelum berjuang, ia mengira Qiara belum menikah apalagi sampai punya anak.


"Maaf sudah membuat kalian tidak nyaman," ucapnya seraya undur diri.


"Sangat, sangat tidak nyaman." Kesal Erzhan setengah berteriak membuat Qiara dan Faraz tertawa


"Abang ngga boleh gitu, ih." Gemas Qiara mencubit pelan kedua pipi anak tampan itu


Hampir saja dia melupakan sosok pria tampan yang mengatakan sudah kenyang dan berencana hendak pergi dari sana.


"Mau kemana kamu?"


Faraz tidak jadi beranjak dari tempat duduk mendengar suara datar Qiara.


"Ke toliet, boleh ya?" jawabnya takut.


"Toilet atau sengaja mau kabur, Dad?" sindir Erzhan tepat sasaran.


"Oh, mau kabur ya?" Qiara menyeringai penuh arti.


"Eh, mana ada. Jangan asal ngomong, Bang. Kata siapa Daddy kabur?"


"Benaran mau kabur kan?" tanya Erzhan kali ini tawanya pecah.


Qiara yang semula masih diam menahan sabar, kini satu tangannya sudah berada di telinga kiri Faraz.


"Maksud kamu ikutin kita dari tadi apa, hmm?"


"Susah banget ya, di kasih tahu."


Faraz sampai menjerit minta ampun rasanya begitu perih, mungkin habis ini telinganya akan memerah.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2