
Qiara menghela nafas panjang sembari menatap wajah tampan milik suaminya yang merenggut kesal. Dia tahu sikap posesif dan cemburu Faraz bukan lagi hal baru, melainkan setiap kali menyadari istrinya di perhatikan oleh pria lain, maka di situlah tingkat kekesalan dan emosinya di uji.
"Harusnya bukan cuma para wanita dan anak gadis saja yang aku minta pergi dari pulau, tahu gitu aku suruh pria-pria itu meninggalkan pulau sekalian biar ngga suka sembarangan lirik istri orang." Gerutu Faraz masih saja mengomel tanpa menghiraukan sudah segemas apa istrinya yang ingin sekali menggigit kedua pipinya yang bulat
"Aku capek-capek ngurus semua kebutuhan mereka selama di kota, tapi lupa kalau masih ada yang lain membuat kedua mata dan tangan ku rasanya tidak sabar ingin menguliti mereka hidup-hidup. Huhh--"
Sungguh kali ini bukan lagi Qiara yang khawatir mengetahui suaminya bisa saja di lirik apalagi sampai di dekati oleh wanita-wanita di luar sana termasuk yang berada di pulau namun sudah pria itu singkirkan terlebih dahulu.
Akan tetapi, situasinya terbalik. Faraz melupakan jika masih ada beberapa pria dewasa belum menikah serta anak remaja yang justru membuatnya tidak nyaman dan tenang setibanya di pulau.
Erzhan sudah aman bersama Oma dan Opa setelah puas bermain bersama teman barunya, namun sang Daddy justru masih di liputi perasaan kesal dan jengkel.
Beruntung hanya Qiara seorang yang menyaksikan sekacau apa suaminya, memilih diam mendengarkan sampai pria kesayangannya itu mulai kembali tenang hatinya meski belum pasti beberapa jam yang akan datang masih sama atau mungkin saja Faraz nekat mengirim keluar pria-pria tersebut sama seperti yang di alami beberapa wanita dan anak gadis ke kota.
Cukup lama pasangan suami istri itu masih setia duduk santai di sofa panjang, saling memberi pengertian serta tidak lupa meyakinkan diri mereka masing-masing jika selama liburan berlangsung, tidak akan ada pengganggu atau semacamnya.
Faraz benar-benar ingin mengirim keluar pria-pria yang sebelumnya nekat memandangi istrinya menuju pusat kota, sudah ada orang kepercayaannya yang bertugas mengawasi gerak-gerik mereka selama disana. Jadi para orang tua tidak perlu merasa khawatir selagi bukan hukuman yang pria itu berikan karena sudah berani menatap lama wanita halalnya.
"Udah ngomelnya?" sindir Qiara melihat suami tampannya itu tidak lagi bersuara.
Faraz memilih tidur dengan kepala berada di atas pangkuan istrinya, sesekali mencium perut buncit Qiara penuh kasih sayang.
"Sehat-sehat di dalam sana ya, jangan buat Mommy capek. Kasihan kalau tiap saat bolak balik kamar mandi, bisa pegal kaki Mommy." Bisiknya sembari terkekeh pelan
"Daddy ngga akan nakal kok, cuma ganggu Mommy sedikit ajah."
"Main-main di area favorit Daddy sangat menyenangkan loh, kalian masih belum boleh."
__ADS_1
Pletak
"Aw, sakit Mom." Keluh Faraz sekaligus kaget dahinya di sentil lumayan kuat oleh Qiara
"Daddy kalau ngomong suka aneh-aneh, ih." Protes si ibu hamil merasa malu sendiri karena ucapan suaminya yang suka semaunya sendiri
Pria itu hanya tertawa mendapati raut wajah masam Qiara yang memerah karena malu, ia cium kedua pipi chubhy wanita itu secara bergantian penuh rasa sayang dan cinta.
Tidak akan pernah bosan dalam hatinya selalu mengucap rasa syukur memiliki seorang istri yang bukan hanya sekedar pendamping hidupnya, melainkan bersama Qiara segalanya begitu indah dan nyaris sempurna.
Belum lagi masih ada si kecil Erzhan yang nyatanya tidak kalah ikut posesif terhadap Mommy kesayangannya tersebut.
Selama meraka liburan yang katanya sampai satu bulan lamanya itu, akan Faraz jadikan sebagai waktu luang untuk lebih memahami karakter istri dan anaknya yang nyaris mempunyai hoby dan kebiasaan yang sama.
Jika Qiara hobinya terus menempel pada suaminya karena suka mencium aroma tubuh pria kesayangannya itu, lain lagi dengan Erzhan yang maunya selalu ingin berada di dekat Mommy dan Daddy nya. Bukan memilih salah satu, jika keduanya saja boleh ia kuasai tanpa adanya protes kenapa tidak.
BRAKK
Pasangan suami istri itu terlonjak kaget mendengar pintu kamar di buka dengan sedikit kasar oleh putra kesayangan mereka.
Erzhan muncul bersama Oma sembari membawa bunga mawar putih yang tangkainya sudah di bersihkan durinya.
"Mommy dan Daddy ngapain?" tanyanya setelah berhasil naik ke atas pangkuan Faraz.
"Cuma duduk ajah, sayang." Jawab Qiara seraya mencium kedua pipi anak tampan itu
"Dari mana ajah, hmm?" tanya Faraz yang sibuk merapikan rambut sang putra.
__ADS_1
Mereka tampak hangat sebagai orang tua dan anak. Tidak jarang banyak yang sering merasa iri dan cemburu melihat kedekatan mereka, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mendekat apalagi sampai nekat merusak kebahagiaan milik keluarga kecil tersebut.
"Abang tadi habis main langsung mandi, terus Oma bawa Abang ke taman bunga--," Jawab Erzhan terjeda
Ia berikan bunga mawar putih pada sang Mommy yang tersenyum sangat manis sembari mengucapkan terima kasih lalu mencium keduanya pipinya tanpa ampun.
"Kok Abang bisa ingat bawain Mommy bunga?" goda Qiara sengaja ingin melihat reaksi Faraz seperti apa.
Kedua pria tampan kesayangannya itu jelas memiliki cara mereka sendiri untuk menyenangkannya, tidak jarang saling berebutan dan adu mulut hanya karena menginginkan sesuatu yang sama untuk di berikan padanya.
Qiara merasa tersanjung berada di antara para pria tampan yang begitu menyayanginya sepenuh hati, mengingat masih ada si kembar serta Tuan besar Rafindra tidak kalah ikut posesif dan sering merasa cemburu karena jarangnya memiliki waktu luang bersama.
Erzhan menatap sekilas wajah tampan milik Daddy nya seolah tidak sabar ingin tahu jawabannya. Senyum penuh arti menjadi tanda bendera perang siap di kibarkan.
"Apa sih yang ngga bisa Abang lakukan buat Mommy cantik dan baik hati kesayangan Abang, kalau pun boleh. Udah Abang bawa sekalian bunga yang lain, tapi hanya bunga mawar putih ini menurut Abang sangat menarik perhatian dan pastinya wangi kayak Mommy." Ucapnya panjang kali lebar
"Bunga mawar putih ini, bisa membuat Mommy tersenyum saat mencium aromanya yang wangi, jelas bunganya khusus Abang petik hanya untuk Mommy. Karena Abang tahu Mommy sangat suka bunga, iya kan?"
"Oh, satu lagi. Coba Mommy lihat! Tangan Abang sampai kena goresan duri loh, tapi ngga masalah buat Abang. Selagi Mommy suka, Abang tahan rasa sakitnya."
"Kan, Abang tuh sayang banget sama Mommy."
Qiara tercengang mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari mulut kecil Erzhan, tidak manyangka anak tampan itu bisa mengatakan sesuatu yang berhasil menyulut api cemburu di hati Faraz.
"Berantem yuk, Bang!"
๐๐๐๐๐
__ADS_1