
๐น๐น๐น๐น๐น
Faraz terkejut mendengar kalimat menohok Qiara barusan, ia sampai meminta gadis itu mengulang kembali ucapannya.
"Apa? Masih kurang jelas juga?" gemas Qiara ingin rasanya memukul kepala pria itu saking kesalnya.
"Kita masuk dulu baru bicara, OK?" ajak Faraz akhirnya sadar kemana arah pembicaraan gadis itu.
Erzhan yang langsung pindah ke dalam gendongannya masih dalam keadaan tidur pulas, sepertinya ia lelah akibat bosan menunggu lama sewaktu di kediaman Rafindra.
Sepasang suami istri paruh baya menyambut kedatangan mereka dengan raut wajah bahagia, keduanya tidak menyangka sang Tuan muda datang berkunjung setelah sekian lama.
Faraz masuk lebih dulu menuju salah satu kamar, meninggalkan Qiara bersama pasangan suami istri tersebut.
Mereka sengaja mengajak gadis itu jalan-jalan sembari melihat pemandangan di sekitar Fila, tampak raut bahagia menghiasi wajah cantik Qiara seakan pilihan Faraz sudah tepat mengajaknya kesini.
"Pemandangannya bagus, aku suka." Ucapnya tersenyum manis.
"Banarkah?" tanya pasangan suami istri itu bersamaan yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Qiara.
"Nona lah orang pertama yang Tuan muda bawa kesini," ucap pria paruh baya memberitahu.
Qiara sampai mengernyitkan dahi tidak percaya.
"Masa sih?" tanyanya merasa itu tidak mungkin sebab masih ada Sandra yang pastinya juga pernah di ajak ke tempat indah ini.
"Kenyataannya memang seperti itu, Nona." Jawab wanita paruh baya menggantikan suaminya bicara
"Tuan muda sangat pemilih dan tidak sembarangan membawa wanita," jelasnya semakin membuat Qiara penasaran ingin bertanya lebih banyak lagi.
"Bibi mau ya kasih tahu aku semuanya?" pinta gadis itu memohon.
Melihat wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, ada perasaan sulit di artikan menyelimuti hatinya sebagai Bibi pengasuh Faraz mulai dari dalam kandungan Nyonya Kamila.
Wanita paruh baya yang sering di panggil dengan sebutan Anne dan panggilan untuk suaminya adalah Baba oleh Tuan muda Bramantya, rupanya menaruh harapan besar pada Nona muda Rafindra di hadapan mereka tersebut.
Keberadaan Qiara sangat berpengaruh dalam hidup Tuan muda dan Tuan muda kecil Bramantya, semua terbukti bagaimana sikap keduanya yang begitu mengistimewakan gadis cantik itu dengan versi mereka sendiri.
Yang putranya tampak penyayang dan mudah dekat, berbeda dengan sang Daddy lebih banyak membuat masalah setiap kali mereka di pertemukan.
Akan tetapi, itu semua tidak mengurangi tingkat kepedulian mereka terhadap satu-satunya putri kesayangan di keluarga Rafindra tersebut.
.
.
__ADS_1
.
Qiara benar-benar menanyakan banyak hal seputar kehidupan Faraz beserta Erzhan selama empat tahun belakangan, sebelum dia hadir dan menjadi sosok paling berarti dalam hati pasangan ayah dan anak itu.
Anne mencerirakan semuanya pada Qiara tanpa ada yang sengaja di tutupi, mulai dari terjadinya pernikahan sampai hadirnya Erzhan di tengah-tengah masalah yang mengakibatkan hubungan rumah tangga Faraz dan Sandra berada di ambang perceraian.
"Tuan muda sangat tertutup dan lebih suka menyelesaikan setiap masalah sendirian, tanpa meminta bantuan pada siapa pun." Ucap wanita paruh baya itu dengan raut wajah sedih
"Aku pikir hubungan Tuan muda dan Nyonya Sandra berlangsung baik, ternyata dugaan ku salah besar. Tidak ada yang bisa menghentikan keinginan Tuan muda untuk berpisah kala itu, sampai Tuan kecil hadir dan menjadi penghubung mereka kembali walau kenyataannya semua itu tidak berlangsung lama."
"Kejadian dua tahun lalu menjadi bumerang hancurnya rumah tangga mereka--,"
Anne sengaja menghentikan ceritanya, membuat Qiara di liputi rasa ingin tahu.
"Ada kejadian apa waktu itu?" tanyanya penasaran.
"Nona yakin ingin tahu?"
Wanita paruh baya itu sebenarnya ragu melanjutkan ceritanya. Tetapi melihat rasa ingin tahu Qiara semakin menjadi-jadi, tentu dia merasa kasihan jika tidak mengatakan semuanya.
"Anne--," panggil gadis itu seraya memperlihatkan raut wajah imut.
"Iya Nona, ada apa?" sekuat tenaga wanita paruh baya itu menahan diri agar tidak tertawa.
"Bolehkah aku tahu sampai akhir ceritanya?" pinta Qiara setengah memohon.
"Tapi, Anne."
"Aku tidak menerima alasan apapun, cepat masuk ke kamar mu! Ada di sebelah kanan, bagian depan pintu ada gantungan hiasan bunga."
Sungguh Qiara merasa sangat kesal tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Meski dalam suasana hati kurang baik, akhirnya gadis itu menurut dengan pergi ke salah satu kamar yang katanya menjadi tempatnya untuk istrirahat selama berada di Fila.
.
.
.
Faraz berada di dalam kamar bersama Erzhan yang tertidur pulas, ia yang semula ingin keluar sekedar melihat Qiara malah tidak jadi.
Lima menit yang lalu pria itu mendengar suara Nona muda Rafindra melewati kamar yang ia tempati, sepertinya gadis itu berniat untuk mengistirahatkan diri sebelum makan malam tiba.
Hampir dua jam lamanya Erzhan tidur, membuat Faraz gemas tidak sadar malah nekat mencium seluruh bagian wajah putranya sampai terbangun dan merenggut kesal.
__ADS_1
"Daddy stop, ih." Teriak anak itu lumayan kuat
Pintu yang memang sengaja tidak di tutup rapat, ternyata mengundang rasa penasaran Qiara sewaktu melewati depan kamar.
"Abang kenapa teriak?" tanya gadis itu masih berdiri di depan pintu.
"Mommy boleh masuk?" tanyanya lagi.
Qiara masih setia menunggu, namun tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar.
"Apa cuma perasaan aku ajah ya?" gumamnya tidak ingin sembarangan berpikiir negatif.
"Tapi, Abang barusan teriak."
Rasa penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi membuat Qiara enggan beranjak dari tempatnya berdiri, hampir lima belas menit lamanya dia menunggu tepat di depan kamar yang pintunya tidak terkunci rapat.
Berharap pasangan ayah dan anak tersebut segera keluar dari sana, agar hatinya tidak merasa gelisa.
Sementara di dalam kamar atau lebih tepatnya di atas ranjang berukuran lumayan besar, tampak Erzhan merenggut kesal mendapati sebelah tangan Daddy nya menutup rapat mulutnya yang hendak bersuara.
Dengan perasaan jengkel anak tampan itu nekat menggigit telapak tangan Faraz sampai terdengar jeritan minta ampun.
"Abang sakit," adu pria tampan itu sembari menatap tajam ke arah putranya yang menyengir tanpa dosa.
"Suruh siapa nutup mulut Abang barusan?" cebik Erzhan menatap jengah Daddy nya.
Belum sempat Faraz membalas, secepat kilat anak tampan itu berlari keluar menemui Qiara dengan tawa penuh kemenangan.
"Dasar anak nakal," umpatnya.
Erzhan berhasil keluar dari kamar, melihat sang Mommy Qiara berdiri tepat di depan kamar langsung di hampiri seraya meminta untuk di peluk.
"Abang kenapa lari-lari?" tanya Qiara penasaran.
"Biasa, Daddy lagi kumat." Jawab anak tampan itu tertawa
Qiara tidak lagi bertanya, dia mengajak Erzhan keluar Fila untuk melihat kupu-kupu di halaman samping.
Melihat keduanya hendak berjalan ke arah taman bunga, tiba-tiba suara Anne mengejutkan mereka dari arah pintu samping.
"Nona dan Tuan kecil jangan kesana, sebentar lagi Maghrib." Tegur wanita paruh baya itu sedikit khawatir
"Disini tidak baik keluar rumah di waktu seprti ini, sebaiknya kalian masuk!"
Qiara mengangguk pelan seraya menuntun Erzhan kembali masuk ke dalam Fila.
__ADS_1
๐๐๐๐๐