
Nia mengerjap matanya pelan kemudian mendudukkan dirinya pada tempat tidur beralas sprei putih.
Nia tahu jika saat ini ia sedang berada di dalam ruang pribadi milik Bima. Nia juga menyadari jika ternyata diam-diam Bima mengangkat tubuhnya untuk dipindahkan dari sofa ruang kerja ke dalam ruangan pribadi pria itu sendiri.
Nia menguap sambil bangkit berdiri kemudian melangkah keluar. Wanita itu menutup pintu kamar pribadi Bima kemudian melangkah menuju ruang kerja sang suami.
"Mas, kamu sudah lama selesai meeting?" Nia bertanya sambil merebahkan tubuhnya kembali di atas sofa. Hal itu membuat Bima yang sedang mengerjakan pekerjaan kantornya segera bangkit dan menghampiri sofa di mana istrinya berbaring.
"Kalau masih ngantuk tidur aja lagi. Tadi malam 'kan Mami begadang." Bima menduduki tempat yang kosong di samping Nia dan mengusap sudut mata wanita itu.
"Ngantuk sih enggak lagi. Cuma agak males mau gerak." Nia memegang tangan Bima kemudian mencium tangan pria itu yang sangat halus. Ciri khas pria yang tidak pernah mengerjakan pekerjaan kasar seperti Bima ini, pikir Nia.
"Sekarang udah jam 12. Tadi mami tidur terlalu nyenyak. Jadinya mas enggak tega mau bangunin mami. Tadi, mas kelar meeting sekitar sejam yang lalu."
Nia mengangguk mendengar penjelasan suaminya.
"Kita delivery, mau?"
"Iya, Mas. Aku lagi malas untuk turun ke bawah."
"Baiklah. Mas minta Eren untuk memesan menu favorit mami."
Nia hanya mengangguk membiarkan Bima kembali ke meja kerjanya untuk menghubungi sekretarisnya yang berada di luar.
Sebenarnya agak geli mendengar Bima memanggilnya dengan sebutan mami. Tapi, daripada Bima memanggilnya dengan sebutan nama, memanggilnya dengan sebutan Mami jauh lebih baik.
Hal ini sudah dibiasakan Bima di depan anak-anak agar mereka tidak keliru untuk memanggil nama orangtua. Itu adalah alasan yang dipaparkan Bima sebelumnya padanya. Padahal sampai saat ini, anak-anaknya tidak pernah terdengar memanggil Bima dengan sebutan 'Mas' yang membuktikan jika alasan Bima untuk memanggilnya dengan sebutan 'mami' ternyata dibuat-buat.
Tak lama pesanan yang dipesan Bima datang. Nia dan Bima menyantap habis makanan yang dipesan oleh Eren. Keduanya memang sama-sama lapar dan keduanya memang memiliki hobi yang sama. Yaitu suka makan.
Bima menatap Nia dan mengusap sudut bibir istrinya yang terdapat butiran nasi.
__ADS_1
"Makasih, Mas."
"Sama-sama, Sayang. Sudah tugas mas ini memberi pelayanan yang terbaik untuk Ratuku."
"Bukannya kebalik? Seharusnya Ratu yang memberikan pelayanan yang terbaik untuk Raja supaya si raja ini enggak kepikiran kecantol sama perempuan lain di luar sana."
Nah, kan mulai lagi, gumam Bima dalam hatinya.
"Enggak mungkin Mas mau kecantolan sama perempuan di luar sana. Kalau Mas mau tertarik sama perempuan di luar sana, sudah Mas lakukan dari dulu."
"Mungkin karena Mas belum ketemu perempuan yang cantik, seksi, dan penuh perhatian seperti aku," balas Nia penuh percaya diri. Hal itu tentu saja membuat Bima tertawa dan mencubit gemas pipi istrinya.
Obrolan mereka terjeda karena Bima harus menyelesaikan pekerjaannya. Sementara Nia sendiri pamit untuk pulang ke rumah karena memang ia tidak bisa lama-lama di luar rumah dan meninggalkan kedua putrinya.
Sesampainya di rumah, Nia melihat ada beberapa remaja laki-laki dan perempuan yang duduk di ruang tamu sambil mengerjakan tugas kelompok mereka.
"Kello," sapa Nia pada putranya.
"Iya, Mi. Maaf, aku lupa kasih tahu Mami kalau aku ajak teman-teman aku untuk kerja kelompok di rumah kita." Kello tampak merasa bersalah karena tidak meminta izin pada maminya lebih dulu. Keputusan untuk kerja kelompok di rumah Kello memang mereka lakukan secara mendadak saat pulang sekolah tadi. Jadinya pemuda itu belum sempat meminta izin pada maminya.
"Iya, Mi."
"Adik-adik kamu di mana?"
"Mereka lagi tidur siang bareng Mbak Yuni."
"Kalau begitu Mami ke kamar dulu."
"Mami mau istirahat?"
Nia menggeleng dan menjawab, "Mami mau naro tas terus langsung ke gudang buat nota barang."
__ADS_1
"Kalau aku udah selesai kerja kelompok, aku bantu mami."
"Enggak usah. Mami bisa sendiri. Habis kerja kelompok, kamu langsung istirahat aja."
Setelah itu Nia kemudian masuk ke kamarnya dan meletakkan tas yang ia bawa di dalam lemari tempat biasa ia menyimpan tas dan sepatu koleksi miliknya.
Malam harinya.
Bima baru saja tiba di rumah pada pukul 7 lebih 30 menit. Hal itu membuat Nia yang menyambutnya pulang cemberut karena keterlambatan Bima pulang ke rumah. Nia curiga jika Bima melakukan sesuatu di luar. Mengingat, sahabatnya Bella saja yang menaruh kepercayaan penuh pada suami harus menelan pil pahit karena pengkhianatan.
Semenjak mendengar cerita Bella, Nia jadi sering negatif thinking terhadap Bima.
"Kenapa bisa telat pulang, Mas? Kamu enggak habis kencan di luar sana?"
Bima yang sedang menyungging senyum dan berniat untuk mencium kening istrinya membeku ketika mendengar pertanyaan bernada curiga dari Nia.
"Sayang, maksud kamu apa? Aku baru pulang dari kantor. Bukan dari kencan. Kalau enggak percaya, kamu tanya Herman." Bima menjelaskan sambil merangkul pundak istrinya dan membawa masuk ke dalam kamar. Bima tidak ingin jika perdebatannya disaksikan oleh anak-anak yang sedang duduk di ruang keluarga.
Saat masuk ke dalam kamar, Nia langsung melepaskan rangkulan Bima dan melipat tangan di dada sambil menatap tajam pria itu.
"Yakin kamu enggak habis ketemu sama perempuan lain di luar sana?"
"Astaga. Enggak, Sayang. Perempuan Mas itu cuma kamu, Alana, dan Alea. Lagi pula pikiran dari mana itu Mas sama cewek lain?" Bima meletakkan tas kerjanya di atas nakas kemudian menghampiri Nia dan membawanya ke tempat tidur.
"Siapa tahu kamu selingkuh di luar sana. Kamu jangan macam-macam sama aku, Mas. Berani kamu selingkuh, anak-anak aku bawa. Sebelum itu, semua harta kamu akan aku curi buat biaya hidup aku selama jadi janda." Nia menatap tajam manik mata Bima. "Aku juga bakal cari laki-laki lain yang lebih tampan, muda, dan sukses. Enggak akan aku lirik kamu atau kasih kamu kesempatan untuk balikan."
Ada tekad dan juga ancaman yang terlihat dari raut wajah Nia. Wanita itu mengancam Bima tidak main-main dan ia serius.
"Sayang, sudah aku bilang berapa kali sama kamu, kalau aku memang mau selingkuh sudah dari dulu banyak wanita yang akan aku tiduri dan kencani. Tapi, aku tetap bertahan di sisi Hera. Jadi, buang pikiran negatif kamu tentang aku yang bakalan selingkuh." Bima menyentil kening Nia dan tersenyum gemas.
"Siapa tahu kamu mau selingkuh."
__ADS_1
Bima menggeleng tegas. "Enggak ada perempuan lain selain kamu. Cuma Ibu Arrania Wilati yang ada di hati bapak Bima Sanjaya."
Mendengar itu, Nia tersipu. Bima memang tahu cara menyenangkannya.