Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 150


__ADS_3

Faraz akhirnya turun ke lantai bawa setelah Qiara mengingatkannya untuk makan siang bersama Oma dan Opa.


Keadaan rumah yang dulu pernah menjadi saksi bisu masa kecil pria itu bersama Tuan putri Rafindra, nyatanya masih tetap sama dan tidak ada yang berubah.


Semua tampak indah dengan lautan bunga yang mengelilingi halaman rumah mewah tersebut.


Faraz berdecak kagum, tidak menyangka Qiara justru membawanya kembali lagi ke tempat itu. Rasanya seperti mengulang masa lalu yang sempat hilang komunikasi di antara mereka, hanya karena sudah memiliki kehidupan masing-masing.


Sesampainya di lantai bawah, pria itu langsung saja menuju ruang makan dimana sudah ada Qiara beserta pasangan baya tengah asyik mengobrol sampai tidak melihat kearah Faraz.


Ehemm


Deheman pria itu mengalihkan fokus sang istri yang tersenyum menyambut kedatangannya.


"Wih, suami aku udah tampan." Kekeh Qiara sembari mempersilahkan suaminya duduk tepat di sampingnya


"Cium boleh?" bisiknya pelan di telinga Faraz yang langsung memerah karena malu di lihat Oma dan Opa.


Jika ujung-ujungnya sang istri tetap akan menciumnya, lalu untuk apa masih bertanya lagi.


Qiara sungguh tidak bisa menahan diri jika sudah melihat kedua pria tampan kesayangannya dalam kondisi wangi dan sudah mandi.


Baik Faraz maupun Erzhan tidak ada bedanya, jika mereka sudah tampak sangat tampan lalu menemui si cantik kesayangan. Pasti akan ada drama ciuman di seluruh bagian wajah tanpa henti sampai gadis itu merasa puas.


Hal itu juga, di lakukan Qiara sekarang terhadap suaminya. Bahkan dia melupakan keberadaan Oma dan Opa saking gemasnya pada Faraz tanpa kenal waktu dan tempat.


Gadis itu baru berhenti setelah suaminya memohon dengan wajah memelas saking malunya jadi bahan tontonan Oma dan Opa.


"Maaf Dad," kekehnya merasa kasihan tapi juga gemas.


"Mau makan apa?" tanya Qiara setelah berhasil mengalihkan fokusnya agar tidak lagi mengganggu suaminya tersebut.


Faraz tidak menjawab, hanya menunjuk beberapa menu kesukannya yang ternyata masih di ingat oleh pasangan baya itu.


Rasanya ia seperti kembali lagi ke masa kecil yang jauh dari masalah dan beban hidup.


"Makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan jika mau nambah lagi." Kekeh Opa melihat betapa lahapnya Faraz makan sembari di suapi oleh Qiara


"Mereka sangat lucu ya, sayang." Bisik Oma ikut memperhatikan bagaimana telatennya Qiara dalam mengurus suaminya

__ADS_1


Pasangan baya itu sangat bahagia campur terharu, bisa menyaksikan kedekatan Qiara dan Faraz seperti sekarang ini.


Dulu keduanya sempat berfikir, janji pernikahan antara kedua belah pihak keluarga mungkin tidak akan pernah bisa di wujudkan. Mengingat hubungan yang sempat bermasalah di antara pihak keluarga membuat jarak sampai untuk bertukar sapa pun rasanya sulit.


Tetapi, seiring berjalannya waktu. Akhirnya semua bisa kembali lagi seperti semula, walau harus ada drama yang menjadi benteng kuat dan saksi mata bagaimana perjuangan Tuan muda dari keluarga Bramantya meyakinkan Tuan putri dari keluarga Rafindra sampai akhirnya mereka di persatukan dalam ikatan pernikahan.


Pasangan baya itu sampai menitikan air mata saking bahagianya, bisa di beri kesempatan umur yang panjang hanya untuk menunggu kedatangan Faraz dan Qiara.


Kini harapan mereka sudah terwujud, melihat pasangan suami istri tersebut berada tepat di depan mata. Saling menyayangi dengan cara yang unik, terkesan lucu dan menggemaskan.


.


.


Usai makan siang, pasangan baya tersebut mengajak Faraz dan Qiara menuju sebuah Vila yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah.


Pulau keluarga yang tersembunyi, nyatanya bukan hanya di tinggali oleh pasangan baya itu. Melainkan ada kurang lebih sepuluh keluarga kecil yang menempati setiap sudut pulau tanpa ada yang saling menyakiti satu sama lain.


Mereka hidup dengan rukun, bahkan di katakan orang-orang itu merupakan kepercayaan keluarga Rafindra sejak Kepala keluarga masih hidup dan sengaja membawa mereka tinggal di sana.


Jarang terlihat bukan berarti tidak memantau dari jauh.


Terdengar aneh memang, sama seperti yang Faraz dan Qiara rasakan setelah mendengar cerita mengenai orang-orang itu.


"Jadi mereka tetap ngga mau juga bertemu dengan kita?" tanya Qiara bingung.


"Padahal aku ingin bermain dengan anak-anak mereka," lirihnya sembari menoleh kearah Faraz.


Mendadak rindu pada Erzhan rasanya sungguh menyakitkan bagi Qiara.


Dia yang baru pertama kali pergi jauh tanpa membawa anak tampan itu, sangat menyiksa hatinya ketika harus ikhlas menahan kerinduan yang begitu besarnya.


Faraz yang merasa kasihan melihat istrinya sedih, hanya bisa memeluknya dengan penuh kasih sayang. Tidak mungkin ia mau memberi saran agar putra mereka saja di minta kemari.


Abang ngga boleh ganggu Daddy mau Honeymoon bareng Mommy.


Pria itu tertawa merasa konyol dengan apa yang barusan ia katakan dalam hati.


Mereka yang belum ada satu jam tiba di Vila, langsung saja di tinggalkan Oma dan Opa setelah beberapa barang penting milik pasangan suami istri tersebut sudah di masukkan ke dalam kamar.

__ADS_1


Ya. Liburan sekaligus Honeymoon yang Qiara rencanakan dari jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan Faraz memang sengaja di rahasiakan.


Otak gadis itu sudah lama tercemar saking tidak pernah puas suaminya terus menggodanya walau tidak sampai ke tahap yang berlebihan.


Hanya seputar ciuman di bibir serta bermain-main sedikit di area leher tanpa meninggalkan bekas, membuat Qiara hampir kehabisan akal.


Untung saja, dia kepikiran pulau pribadi milik keluarganya sehari sebelum rencana menculik Faraz terjadi.


Dan alasan datangnya seorang wanita ke rumah, hanya demi mengalihkan perhatian si kembar beserta semua anggota keluarga Rafindra maupun Bramantya terutama si kecil tampan Erzhan.


.


.


Qiara tersenyum licik di balik punggung Faraz saat keduanya masih setia saling berpelukan tanpa ada yang berniat melepaskan.


Terdengar jeritan kecil dari bibir pria itu kala merasakan area telinga hingga lehernya menjadi sasaran bibir Qiara yang mulai nakal.


"Mom," panggilnya dengan deru nafas berantakan.


"Hmmp."


Hampir saja Faraz meNDesAh akibat ulah tangan nakal istrinya yang mulai masuk ke dalam kaos hitam polos yang ia kenakan.


"Daddy," bisik pelan Qiara memanggil suaminya yang mendadak lemas.


Gadis itu tersenyum penuh arti ketika melihat bayangan wajah tampan Faraz dari kaca besar yang berada tepat di hadapan mereka.


Rasanya sangat menyenangkan, melihat betapa tersiksanya pria itu karena ulah tangan jahil Qiara saat memainkan jemari lentiknya di dada bidang suaminya tersebut.


"Mom, please." Mohon Faraz tidak lagi bisa menahan sesuatu yang begitu menyiksa diri


Namun, bukan Qiara jika mengikuti keinginan suami tampannya itu.


Dengan tampang tidak berdosanya sudah berani membangunkan sesuatu yang tertidur, gadis itu justru memilih masuk ke dalam kamar dengan berlari lumayan cepat.


"Astaga, Mommy."


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2