
"Abang lagi sama siapa di sana?" ulang Faraz semakin di buat penasaran kala mendengar ada suara gelak tawa tidak asing di telinganya.
Ia tidak ingin asal menebak, takut jangan sampai orang lain mengira ketika hanya bertanya saja justru di artikan lain.
[Ada banyak, Daddy. Mereka semua ada disini]
[Oh iya, hampir lupa. Semalam Mama Sandra baru tiba dari luar negri, sekarang lagi di rumah Kakek Rafin. Mau nginap di sini katanya sampai minggu depan]
DEG
Tebakan Faraz benar adanya.
Rupanya si mantan istri telah kembali ke negara asal, perihal apa alasannya pria itu jelas tidak tahu.
"Abang, udah dulu ya. Daddy mau lihat Mommy di halaman samping."
Faraz sengaja menyudahi pembicaraan dengan sang putra karena ingin menemui Qiara guna membahas sesuatu yang penting.
Ada perasaan gelisah kala mengetahui wanita yang dulu pernah menjadi istrinya sudah kembali dari tempat persembunyian.
Sebagai pria, tentu yang Faraz pikirkan adalah seperti apa perasaan istrinya nanti ketika tahu sahabat terbaiknya itu berada di negara asal. Terlebih hubungan mereka baru saja di mulai, setelah Qiara meyakinkan dirinya sendiri untuk percaya pada garis takdir yang kembali mempertemukan mereka lalu menikah.
Faraz hanya takut istrinya merasa bersalah, apalagi sampai berakhir timbul perdebatan seperti yang sudah sudah.
Sikap posesif dan cemburu Qiara semakin menjadi setelah mereka resmi menjadi pasangan suami istri, belum lagi kedatangan si masa lalu bisa saja menimbulkan pertikaian di antara mereka.
Resiko menikah dengan mantan suami dari sahabat baik sendiri ya begini, kalau ada kesalahan sedikit saja bisa bahaya.
*Aarrgh**h* ...
Faraz berteriak mengacak rambutnya frustasi.
"Aku harus bicara dengan Mommy," gumamnya seraya bangkit dari sofa langsung menuju halaman samping rumah.
Di taman bunga, sudah ada Oma dan Opa tengah asyik memperhatikan Qiara sembari duduk manis di kursi panjang.
Pasangan baya itu tampak sangat bahagia, melihat sang cucu kesayangan begitu fokus merangkai berbagai macam bunga yang katanya ingin di letakkan di Vas bunga.
Qiara terlalu serius memilih dan memilah beberapa jenis bunga hasil karya tangannya sampai tidak menyadari kehadiran Faraz dari arah belakang seraya mengendap-endak seperti pencuri.
__ADS_1
Grreb
"Aarrghhh," teriaknya lumayan kuat.
Sungguh kelakuan Faraz membuat jantung istrinya serasa hampir melompat keluar dari tempatnya.
"Ish, Daddy nakal."
"Maaf sayang, habisnya aku perhatikan dari jauh Mommy kayak serius gitu." Kekeh Faraz sembari memeluk sang istri tercinta dari arah belakang
Kedua tangannya melingkar dengan sempurna di perut Qiara yang masih rata, pertanda belum ada kehidupan di dalam sana.
"Aku mau taruh bunganya di dalam Vas, soalnya cantik. Aku suka," ucap Qiara dengan satu tangan mengusap lembut lengan suaminya.
"Tumben mau keluar, tadi bilangnya malas." Sindirnya halus membuat pria kesayangannya itu mencebik tidak suka
"Hati aku ngga tenang. Soalnya--," Faraz tidak berani meneruskan ucapannya.
Terlalu takut sekedar mengatakan jika beberapa menit yang lalu ia menghubungi Erzhan, namun kabar yang ia terima pun membuat hatinya gelisah.
Qiara di buat penasaran melihat gelagat suaminya yang jelas tidak baik-baik saja.
"Apa ada yang mau Daddy katakan, hmm?" tanyanya langsung.
Faraz semakin mengeratkan pelukannya, seolah ia begitu takut kehilangan sosok malaikat tampa sayap yang berhasil membuat hari-harinya semakin berwarna, jauh dari bayang-bayang masa lalu.
Jika ia menjawab yang sejujurnya malah takut akan timbul perdebatan lagi. Namun, kalau tidak di beritahu rasanya Faraz seperti pembohong.
"Tapi, Mommy janji ya. Ngga akan marah atau kaget, intinya apapun itu pas udah di kasih tahu. OK?" pintanya sedikit memohon belas kasihan.
Qiara sampai tertawa lepas mendapati raut wajah khawatir bercampur perasaan takut dan panik pria itu dalam waktu bersamaan.
"InsyaaAllah, ngga akan marah. Tergantung apa dulu masalahnya."
"Jadi ngga berani ngomong aku tuh," gumam Faraz sembari bergidik ngeri.
"Wajah Mommy kurang meyakinkan, sumpah."
Qiara sebenarnya tahu apa yang ingin suaminya itu katakan, hanya saja dia menunggu respon apa yang akan Faraz berikan ketika mengetahui sosok wanita cantik bernama Sandra alias si masa lalu nyatanya kini sudah pulang ke negara asal.
__ADS_1
Jika di tanya apakah perasaan cemburu dan lain sebagainya timbul mengusai diri Qiara?
Maka jawabannya sudah pasti ada. Sebab, pria tampan baik hati dan penuh kasih sayang tengah memeluk erat gadis itu sekarang, merupakan mantan suami dari sahabat terbaiknya sendiri.
Qiara hanya merasa takdir seolah tengah menguji batas kesabarannya dengan mendatangkan Sandra begitu cepat, belum lagi pernikahannya dengan Faraz masih dalam tahap berusaha saling percaya dan mau terbuka satu sama lain. Agar kelak tidak ada lagi yang namanya sebuah kebohongan apalagi sampai berkhianat.
"Daddy ngga akan lihat dia lagi kan?" tanyanya begitu pelan.
"Jujur ajah, rasa cemburu ku semakin besar dan mudah terpancing emosi."
Gadis itu hanya takut kejadian buruk menimpa rumah tangganya yang baru seumur jagung.
"Entah kenapa, setiap kali namanya di sebut. Hatiku rasanya sakit sekali, membayangkan bagaimana dulu tanpa kenal takut menjebak kalian hanya demi sebuah kekuasaan."
"Kali ini saja, aku mohon. Jangan mengasihani wanita itu apapun alasannya nanti," pinta Qiara mengiba.
"Dia pulang membawa maksud dan tujuan lain, kali ini aku pun tidak tahu."
Faraz membuang nafas kasar, dadanya sesak melihat kedua mata indah milik istrinya sudah berkaca-kaca.
"Setakut itukah Mommy akan keberadaan sahabat Mommy sendiri?" godanya di barengi kekehan.
"Aku ngga bercanda loh," kesal Qiara mulai kehabisan akal menghadapi sikap teramat santai suaminya tersebut.
"Mommy hanya berusaha melindungi suami Mommy, itu ajah ngga lebih." Imbuhnya
Pria itu tertawa. Ia tidak ingin melihat istrinya berpikiran macam-macam langsung membawa Qiara masuk ke dalam rumah dengan Oma dan Opa ikut mengekor di belakang.
Semua hanya perlu waktu saja, tidak akan mungkin sudah di persatukan dalam ikatan pernikahan lalu kembali di uji dengan kehadiran sosok si masa lalu.
Faraz yakin bukan karena niat buruk atau apapun itu, mengapa Sandra kembali lagi ke negara asal.
Akan jauh lebih baik mereka tidak bertemu dulu, sampai perasaan Qiara mulai tenang. Sebab, istri kesayangannya tersebut sangat pencemburu dan sensitif.
Semoga bukan sesuatu yang tidak baik, mengapa wanita itu kembali pulang.
Faraz berbicara dalam hati, meyakinkan dirinya tidak akan mudah terpengaruh lagi seperti dulu.
Hanya karena rasa kasihan terhadap mantan istrinya, terlebih hubungan mereka sekarang tinggal sebatas menjalin komunikasi biasa saja seputar menanyakan bagaimana kabar Erzhan.
__ADS_1
Dan semua itu tidak luput dari pengawasan Qiara, selaku istri SAH dari pria itu.
๐๐๐๐๐