Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW Bab 9


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Nia sudah terbangun menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan suaminya.


Kello sudah di dapur membantunya menghidangkan piring di atas meja. Sementara Arga entah berada di mana putranya itu.


Ini sudah satu minggu sejak kejadian di mana Joni dan semua orang yang terlibat untuk mengeroyok Arga datang. Mereka sudah sepakat untuk berdamai. Hal itu tentu saja membuat Nia merasa lega karena ia tidak harus turun tangan dalam mencari informasi  keberadaan anak-anak nakal itu.


"Pagi, Sayang. Kamu buat sarapan apa?"


Nia menoleh dan mendengus ketika Bima tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang. Bima seperti tidak sadar jika saat ini  tidak hanya ada dirinya melainkan ada Kello dan Bu Idah di dapur.


"Buat sarapannya nasi goreng biasa, Mas. Mas duduk aja di sana. Biar aku siapkan kopi untuk Mas."


"Oke."  Sebelum berbalik pergi, Bima sempat mencuri kecupan di bibir istrinya. Hal itu tentu saja membuat Nia memelototi suaminya. "Ada Kello," bisik Nia, sambil melirik putra bungsunya.


"Dia enggak akan ngerti."


"Kalau mas lupa, aku ingatkan,  Kello sekarang berada di kelas 10 SMA. Dia bukan anak-anak lagi," ujar Nia ketus.


Bima tak menyahut. Pria itu mengangkat bahunya kemudian melangkah menuju meja makan yang menyatu dengan dapur. Meja makan berukuran lebar tersebut berada di tengah ruangan dan ditempatkan dengan tempat strategis.


"Bang Arga udah bangun?" Bima menatap putra bungsunya yang sudah mengambil posisi duduk.


Kello menggeleng pelan kepalanya dan menjawab, "bang Arga kuliah masuk siang."


Bima menganggukkan kepalanya mengerti. Jika Arga kuliah masuk siang, itu tandanya si sulung tidak akan repot-repot untuk bangun pagi.


Tak lama hidangan akhirnya tersedia di atas meja.  Sarapan akhirnya dimulai dengan mereka bertiga di meja makan. Sementara untuk Alea dan Alana masih tidur.


Usai sarapan, Bima langsung mengantar Kello ke sekolahnya sebelum akhirnya ia menuju kantor tempatnya mengais rezeki.


Saat tiba di  ruangannya, pintu ruangan diketuk. Sosok Eren masuk  setelah dipersilakan oleh Bima.


"Pak, Pak Dirman Diningrat menghubungi saya pagi ini. Beliau ingin bertemu dengan bapak saat makan siang nanti."


"Dirman Diningrat?" ulang Bima sambil mengerutkan keningnya. Bima sepertinya tidak mengenali nama itu.  "Siapa itu?"


"Pak Dirman Diningrat memiliki nama lengkap Dirman Anwar Diningrat. Beliau adalah pengusaha batubara. Memiliki seorang Istri bernama Diayu Ratnasari dan mereka belum memiliki keturunan."


"Pasangan ini menikah sekitar 20 tahun yang lalu dan belum juga dikaruniai anak. Mereka tidak ingin mengadopsi anak karena berpikir bukan darah mereka langsung. Sementara keluarga Pak Dirman menuntut agar Pak Dirman memiliki anak."


"Total kekayaan mereka--"


"Stop," sela Bima mengangkat tangannya. "Hubungi beliau,  saya hanya punya waktu 30 menit," titah Bima.


Telinganya sudah terlalu panas mendengar ocehan sekretarisnya.  Padahal Bima hanya menanyakan siapa Dirman Diningrat itu. Namun, sekretarisnya justru menjelaskan secara terperinci asal-usul Dirman.


"Baik, Pak. Itu saja?"


"Iya."


"Kalau begitu saya permisi," pamit Eren.


Setelah itu, Eren melangkah pergi meninggalkan Bima yang terpekur sendiri. Bima sedang mencoba mengingat siapa sosok bernama Dirman Diningrat itu. Bima merasa tidak kenal pada sosok itu, tapi juga ia merasa seperti tidak asing.


Tak mau memikirkannya, Bima akhirnya memilih fokus pada pekerjaannya. Dari pada memikirkan sesuatu yang akan ia ketahui nanti.

__ADS_1


_____


Prank!


Ningrum membanting gelas yang sedang ia pegang ke lantai. Wanita tua itu menatap tajam putranya yang masih terlihat tenang menyantap makanannya.


"Mau sampai kapan ini, Dirman? Mama ingin memiliki cucu. Semua adik dan kakak mama bahkan sudah memiliki cicit. Sementara mama, satu pun enggak punya."


Wanita tua bernama Ningrum itu menatap putranya dengan napas memburu.  Keinginannya untuk memiliki cucu dari putra satu-satunya yang ia miliki, tidak akan pernah terkabul. Pasalnya, saat kembali dari luar negeri beberapa tahun lalu, Dirman membawa kabar mengejutkan untuknya.


Putranya setuju untuk meninggalkan kekasihnya yang sudah melahirkan dan kembali padanya. Namun, beberapa bulan kemudian sang putra kembali memberi kabar mengejutkan sehingga membuat Ningrum saat itu frustrasi.


Dirman dengan santainya bercerita jika ia pernah mengalami kecelakaan  sebelum pacarnya itu melahirkan. Dirman sempat dirawat selama sebulan dan akhirnya kembali normal seperti sedia kala. Namun, dokter memvonis kecelakaan yang terjadi mengakibatkan Dirman tidak akan bisa untuk memberikan keturunan pada pasangannya.


Saat itu Dirman merasa frustrasi. Tapi rasa frustrasinya hilang ketika mengetahui masih ada harapan anak di dalam perut kekasihnya. 


Dirman tentu saja memperlakukan kekasihnya dengan sangat baik. Pria itu bahkan tidak segan untuk melawan mamanya saat tahu jika Ningrum sudah mengetahui ia menyembunyikan pacarnya di luar negeri. 


Sangat disayangkan, Ningrum yang keras kepala akhirnya memutuskan untuk mencelakai pacar Dirman beberapa kali namun berakhir gagal. Tak tahan jika kekasihnya dicelakai oleh mamanya, Dirman akhirnya memilih untuk menyerah. Pria itu pulang ke Indonesia dengan dalih tak ingin kehilangan harta milik orang tuanya. 


Dirman akan membalas semua penderitaannya dan sang pacar pada mamanya lewat jalan Dirman yang tak bisa memiliki keturunan lagi.


Awal mula Ningrum senang karena putranya kembali padanya. Ningrum tidak tahu jika sang putra ternyata membawa bom dalam tubuhnya hingga membuat Ningrum terpaku tak percaya.


Ningrum bahkan sudah beberapa kali melakukan pemeriksaan pada tubuh Dirman, namun mereka memiliki hasil yang sama. Dirman memang tidak bisa memiliki keturunan.


"Untuk apa mama marah?" Dirman menatap mamanya dengan alis terangkat. "Bukannya ini yang Mama mau? Dulu, Hera datang ke sini untuk meminta pertanggungjawaban. Tapi, mama mengusirnya? Mama lupa?"


Ningrum terdiam kaku mendengar putranya kembali mengungkit masa lalu. Sementara duduk tak jauh darinya ada Ratna dan juga Husein--suami Ningrum-- makan dengan tenang tanpa memedulikan keributan.


"Saat aku membawa Hera ke luar negeri, Mama melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan Hera dan bayi kami."


Ningrum menatap tajam putranya. "Saat itu  mama enggak tahu kalau kamu enggak bisa punya anak lagi, Dirman. Kalau mama tahu, Mama enggak akan membuat kamu menelantarkan bayi itu," bantah Ningrum.


"Itu resiko dari keegoisan Mama di masa lalu,"  sahut Dirman cuek.


"Kalau begitu kamu ambil aja anak kamu dari perempuan itu. Mama yakin dia pasti akan mau menerima kamu," celetuk Ningrum.


Ide ini sebenarnya sudah lama ia cetuskan pada putranya. Namun, sang putra menolak karena malu jika tiba-tiba ia harus mengambil putranya yang bahkan tidak pernah ia rawat.


"Mama kira ngambil anak itu seperti ngambil barang? Kalau mama lupa, usianya sekarang sudah diperkirakan kurang lebih 20 tahun.  Usia di mana anakku sudah bisa berpikir dan mengambil keputusan." Dirman menatap mamanya.


"Itu bagus." Ningrum menyeringai puas. "Kamu ambil anak itu dan masukkan dia ke dalam keluarga kita. Mama enggak mau tahu, Dirman."


Tanpa menunggu respons dari putranya, Ningrum kemudian pergi meninggalkan 3 orang di meja makan dengan pikiran mereka masing-masing.


______


Flashback.


Sebuah tamparan yang dilayangkan seorang pria paruh baya mendarat pada pipi seorang gadis muda. Tanda merah dan cap tangan menempel erat pada pipi gadis tersebut dan membuatnya terhuyung jatuh ke lantai.


Gadis dengan tanktop dan rok mini setengah paha itu memegang pipinya dan mendongak menatap pria yang merupakan ayah kandungnya.


"Kenapa papa tampar aku? Aku hanya hamil dan itu bukan sesuatu yang harus dibesarkan!"

__ADS_1


Gadis itu mencoba bangkit dari duduknya dan menatap tanpa takut pada sosok papanya, Hari.


"Bukan sesuatu yang harus dibesarkan?" Hari menatap putrinya ngeri. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya dan berharap ia bisa membuat putrinya mati dalam genggamannya. Tapi, Hari sadar jika ia tidak bisa melakukannya.


"Kamu tahu apa yang kamu bicarakan, Hera? Kamu hamil di luar nikah dan siapa yang akan bertanggungjawab untuk ini, hah?" teriak Hari lepas kendali.


Beruntung ia tidak memiliki penyakit jantung. Jika ia memilikinya, mungkin saja ia akan sekarat sekarang.


"Pa, sudahlah. Ini semua sudah terjadi. Kita hanya perlu minta kekasih Hera untuk bertanggungjawab dan segera menikahkan mereka."


Hana yang sudah tidak tahan melihat putri kesayangannya terluka oleh perlakuan dan kata-kata kasar suaminya, memutuskan untuk melerai.


Hera adalah putri sulung mereka yang berusia 18 tahun. Hera memiliki seorang adik yang saat ini baru berusia 11 tahun yang masih bersekolah di sekolah dasar dan adik lainnya yang sudah berusia 16 tahun.


Hera besar dengan cara dimanjakan dan semua kesalahan yang ia buat akan dengan mudah diselesaikan. Tidak hanya itu saja, Hera pernah terlibat kasus tabrak lari saat usianya 17 tahun dan mengakibatkan korban dua orang meninggal dunia. Tentu saja dengan uang yang dimiliki keluarganya, Hana bisa menutupi kasus ini dan menyogok pasangan suami istri tua itu untuk merelakan nyawa putra dan menantu mereka sehingga Hera tidak mendapatkan hukuman.


Kasus bulying juga terjadi di sekolah Hera saat SMA, yang membuat dua orang siswi kelas sepuluh bunuh diri dengan meloncat dari lantai kelas yang terletak di lantai tiga. Dua siswi tersebut tidak kuat menahan bullying yang dilakukan Hera hingga menyebabkan mereka memilih mati karena tekanan mental.


Memiliki uang banyak tentu saja membuat mereka bisa melakukan apa saja, termasuk membeli nyawa orang-orang yang pergi dengan cara mengenaskan akibat ulah Hera.


Kali ini Hera sedang hamil tanpa memiliki suami. Hal tersebut membuat Hana memikirkan cara agar kekasih Hera mau bertanggung jawab.


Setelah menyusun rencana, Hera akhirnya menghampiri kekasihnya yang bernama Dirman Anwar yang merupakan salah satu anak pejabat di kota tempat mereka tinggal.


Sesampainya di rumah Dirman, bukannya mendapat sambutan antusias dari keluarga Dirman, Hera justru diusir dengan cara yang menyakitkan. Gadis 19 tahun itu dilempar dari gerbang hingga membuatnya jatuh ke aspal. Beruntung tidak ada luka parah atau sesuatu yang terjadi pada kandungannya.


Seorang wanita paruh baya keluar dari gerbang dan berdiri sambil berkacak pinggang di depan Hera yang kini sedang mencoba berdiri dari posisinya.


"Enggak tahu malu. Kamu kira, kamu siapa datang-datang minta pertanggungjawaban putra saya? Kamu kira, saya bodoh enggak ngerti trik yang kamu gunakan untuk merayu putra saya, hah?"


Wanita tersebut melotot menatap Hera dengan tatapan jijik. Dia tidak akan pernah mengizinkan putra kesayangannya, Dirman memiliki hubungan dengan perempuan acak seperti Hera. Apalagi keluarga Hera bukanlah keluarga dari orang-orang politik. Keluarga Hera hanya pengusaha biasa yang mengandalkan beberapa bisnis. Sementara mereka, selain menjadi pengusaha, juga terlibat dalam keanggotaan politik.


Dirman sendiri sudah ia kirim ke luar negeri untuk belajar yang lebih baik dan tidak akan pulang bertahun-tahun yang akan datang. Tentu saja ini memudahkannya untuk mengusir Hera dari kehidupan Dirman.


Masa depan anaknya masih akan cerah dan ia tidak mengizinkan seseorang merusak masa depan putranya.


"Tapi, Bu, saya sekarang hamil anak Dirman." Hera yang sombong dan lalim tidak berkutik ketika berhadapan dengan wanita paruh baya di depannya. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi menatap ibu kandung Dirman, lelaki yang ia cintai sekaligus ayah dari anaknya.


"Saya tahu kamu bohong. Sekarang, kamu pergi dari rumah saya atau saya enggak akan segan-segan menghancurkan usaha punya ayah kamu, Hari Yanto!"


Hera pulang dengan perasaan hancur. Gadis itu menceritakan apa yang terjadi di rumah Dirman. Mengetahui latar belakang orangtua Dirman, membuat Hana memeras otak bagaimana cara menyelesaikan masalah.


Saat Hana menyampaikan solusi untuk menggugurkan kandungannya, Hera tidak terima. Beberapa teman meninggal dunia karena aborsi dan ia tidak ingin menyusul teman-temannya pergi ke alam baka. Alih-alih membuang jabang bayi dalam perut, teman-temannya justru meninggal dunia. Hal tersebut tentu disaksikan Hera secara langsung dan membuatnya trauma dengan kasus aborsi.


Hana tidak punya pilihan lain selain mendatangi sahabat sekaligus tetangga sebelah rumahnya agar mau menikahkan putranya dengan Hera. Jika Nurmi--sahabatnya-- tidak setuju, maka Hana akan menggunakan kartu truf-nya untuk menjinakkan Nurmi. Terbukti, hanya sedikit ancamn darinya, Nurmi menyetujui langsung pernikahan putra sulungnya dengan Hera yang sedang hamil anak orang lain.


Mengetahui jika dirinya akan dinikahkan dengan putra sulung tetangganya bernama Bima Sanjaya, respons Hera tentu saja menolak gagasan tersebut.


Bima Sanjaya adalah cowok cupu yang tidak memiliki rupa tampan sama sekali. Meski kulitnya putih pucat seperti papanya yang keturunan bule, tetap saja, wajah dan penampilan Bima sangat jauh dari kata menarik.


Hera menatap mamanya kesal karena tidak bisa membantah arogansi mama dan titah mamanya.


"Kenapa Tante Nurmi langaung setuju saja? Pasti mama melakukan hal-hal buruk 'kan?" tuduhnya pada sang mama saat itu.


Hana tersenyum misterius. Tidak ada yang tidak mungkin bisa ia lakukan. Mengancam menggunakan rahasia Nurmi beberapa tahun ini, membuatnya tampak berkuasa daripada Nurmi sendiri. Rahasia yang ia sendiri yang tahu di mana bertahun-tahun lalu, ia memergoki Nurmi mendorong mama mertuanya alias ibu kandung Roy dari tangga lantai dua hingga tewas di tempat. Tidak hanya itu saja, perselingkuhan Nurmi dengan teman suaminya juga menjadi kartu AS untuk bisa membuat Nurmi memaksanya menikahkan putranya dengan putrinya.

__ADS_1


Nurmi meyakinkan suaminya tentang pernikahan antara Bima dengan Hera. Nurmi juga beralibi jika ia tidak tega melihat Hera beberapa kali akan melakukan bunuh diri karena tidak ada lelaki yang mau bertanggungjawab atas kehamilannya.


Roy yang saat itu berutang budi karena Hari membantunya menyelamatkan perusahaan yang diambang bangkrut tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya.


__ADS_2