
Hari yang di tunggu akhirnya tiba.
Faraz nekat pulang sehari sebelum waktu yang di tentukan, hanya karena rasa cemburunya mengetahui Qiara menemui pria lain di saat ia sendiri pun berada di luar kota.
Pekerjaan yang mengharuskannya tinggal hampir satu minggu di kota tersebut, siapa sangka justru di jadikan kesempatan bagi istrinya untuk keluar rumah dengan dalih pergi jalan-jalan bersam Neta dan seorang pria tampan yang tidak lain merupakan sahabatnya sendiri.
Tara seolah memberikan nyawanya dengan suka rela pada Faraz, tidak berpikir dua kali sebelum menyetujui ajakan Qiara dan Neta.
Setibanya di rumah nanti, Faraz berjanji akan membuat perhitungan dengan sahabatnya tersebut agar tidak sembarangan menerima apalagi setuju di ajak menemani kedua wanita itu.
Selama perjalanan pulang menggunakan mobil yang sengaja ikut membawa serta Paman sopir, tampak Sekertaris Delia hanya diam menjadi pendengar yang baik saat Faraz menceritakan kelakuan Qiara beberapa hari terakhir.
Sesekali wanita itu akan tertawa saking tidak percaya dengan apa yang dia dengar, terlebih hubungannya bersama Qiara terbilang sangat dekat melebihi layaknya saudara kandung.
Itu sebabnya, Sekertaris Delia begitu syok mana kala sang Bos menyebut nama seorang pria tampan yang menjadi alasan kepulangan mereka di percepat.
"Pria itu bukankah hanya kerabat dekat Nona Qiara?" tanyanya penasaran.
Pasalnya wanita itu tidak banyak tahu mengenai keluarga besar Rafindra, hanya beberapa dari mereka sudah pernah dia temui. Termasuk Nona muda Rafindra yang kini statusnya berubah menjadi Nyonya muda Bramantya atau lebih tepatnya istri dari sang Bos.
Faraz tidak memberikan penjelasan yang banyak pada Sekertaris nya itu, karena baginya tidak baik menceritakan privasi orang lain.
.
__ADS_1
.
.
Sementara di kediaman Rafindra.
Sesuai keinginan Qiara yang melarang siapa pun keluar dari rumah termasuk Tuan dan Nyonya besar Bramantya tepat selesai sarapan.
Kini semua anggota keluarga terlihat gelisah saat menyadari ada yang lain dari wanita hamil tersebut.
Raut wajahnya kelihatan panik dan sesekali menghela nafas panjang, seolah beban di pundaknya begitu berat.
Kepulangan Faraz masih belum di ketahui oleh siapa pun termasuk Qiara sendiri, tidak heran jika saat ini wanita itu sangat gelisah karena pria itu susah di hubungi.
Berharap ada pesan masuk dari suaminya tersebut, namun semuanya tinggal harapan semata. Karena sampai waktu makan siang tiba, belum juga ada kabar mengenai pria tampan itu.
Ketiga Tuan muda Rafindra sudah mencoba berbagai macam cara agar si bungsu kesayangan mereka tersebut mau makan, tetapi semua gagal karena Qiara jelas menolak setiap apapun yang mereka berikan.
"Aku ngga mau makan sebelum ada kabar dari suamiku," tegas Qiara langsung meninggalkan semua orang yang masih berada di meja makan.
Dia sangat khawatir sekarang, rasanya begitu menyakitkan seolah ada ribuan jarum menusuk jantungnya yang berdetak tidak karuan.
.
__ADS_1
.
Ceklek
Sampai di dalam kamar. Tidak ada yang Qiara lakukan selain terus menunggu kabar dari Faraz.
Beruntungnya Erzhan masih berada di luar rumah bersama Bibi pengasuh yang sengaja membawa anak tampan itu pergi agar tidak mengganggu Mommy nya.
Qiara sampai melupakan perannya sebagai seorang ibu yang harusnya saat ini bersiap untuk membawa Erzhan keluar jalan-jalan ke taman kota. Tetapi apa daya, pikirannya melayang jauh entah kemana, bahkan sejak pagi tadi hanya ada nama suaminya yang selalu dia sebut berulang kali.
"Kamu ngga lagi macam-macam kan, Dad?" ucapnya lirih dengan air mata tanpa sadar jatuh membasahi kedua pipinya.
Ini kali pertama bagi Faraz tidak memberinya kabar apapun sejak semalam, membuat Qiara uring-uringan hingga rasanya ingin berteriak dan menangis.
Dalam kondisi hamil seperti ini, kadang moodnya berubah ubah dan Qiara berusaha untuk tidak memiliki prasangka buruk terhadap suaminya.
"Daddy nakal ih, buat aku ngga bisa ngapa-ngapain."
"Awas ajah kalau ketahuan lagi sama wanita lain, ngga akan aku kasih ijin tidur di kamar."
Qiara coba sabar menunggu sampai sore, jika Faraz masih belum juga menghubunginya. Itu tandanya dia harus melakukan sesuatu agar perasaan gelisah dalam hatinya berkurang.
๐๐๐๐๐
__ADS_1