Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 120 ~ Keberuntungan Atau Kesialan


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Qiara sengaja mengunci diri dalam kamar yang semula di tempati Erzhan dan Daddy nya.


Rasa kesal mendapati sikap Anne dan Baba langsung berubah terhadapnya, hanya karena perihal sosok wanita cantik yang bernama Ranila.


Erzhan tidak ikut masuk bersama Mommy kesayangannya tersebut, ia justru memilih pergi ke ruang tengah dimana pasangan suami istri yang merubah sikapnya pada sang Mommy beberapa waktu yang lalu.


Sudah ada Faraz duduk bersama mereka, saling berhadapan tanpa ada yang memulai percakapan.


Kehadiran Erzhan dari arah kamar membuat ketiga orang dewasa tersebut menoleh dengan ekspresi yang berbeda-beda.


Adapun perkataan anak tampan itu sangat mengejutkan, terutama Anne dan Baba selaku penanggung jawab dalam merawat Vila sampai sekarang.


"Kita pulang aja Daddy! Ngapain juga lama-lama di sini," ucap lantang Erzhan dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Mommy pasti ngga nyaman berada disini, terlebih sikap Anne dan Baba sangat mengecewakan." Imbuhnya lirih


Faraz sampai menghela nafas panjang, rencana liburan berubah kacau dalam waktu sekejap mata.


"Abang yakin mau pulang?" tanyanya masih berusaha untuk menjadi penengah.


"Yakin ngga yakin, Abang harus sadar diri lihat suasana hati Mommy Qiara udah ngga nyaman lagi." Jawab Erzhan ketus


"Coba bujuk Mommy, ya!"


Erzhan menggeleng cepat dengan raut wajah terlihat kecewa.


"Kalau Daddy mau disini ngga apa-apa, tapi Abang tetap akan pulang dengan Mommy Qiara." Balasnya tetap pada keputusan awal


"Ingat Dad! Semua anggota keluarga Mommy tahu dengan siapa Tuan putri kesayangan mereka pergi, setidaknya jangan biarkan Mommy Qiara pulang dengan suasana hati kurang baik."


Sungguh Erzhan sangat marah, tanpa sengaja melihat kedua mata Sang Mommy yang berkaca-kaca sebelum masuk ke dalam kamar dan mengabaikan panggilannya.


Hatinya ikut merasakan sakit, tanpa Faraz tahu dan menyadari perubahan sikap putranya.


Sementara di sofa panjang yang mengarah ke pintu masuk samping Vila, tampak Anne dan Baba mulai tidak enak hati sudah bersikap kurang baik pada tamu yang Faraz bawa kemari.


"Tuan muda," panggil Anne setengah menunduk takut.


Walaupun mereka bisa dibilang masih tergolong anggota keluarga paling terdekat, bukan berarti Faiz dan Nilma berlaku seenaknya pada satu-satunya ahli waris seluruh harta kekayaan milik keluarga, yang kedepannya akan beralih ke ponakan kesayangan putri mereka tersebut.


Faraz menoleh ke arah wanita paruh baya itu dengan tatapan sulit di artikan.

__ADS_1


"Tolong jangan pergi." Mohon Nilma penuh harap


"Kami benar-benar minta maaf sudah lancang membuat Nona Qiara tidak nyaman." Ujarnya penuh rasa bersalah


"Anne tidak bermaksud menyakiti perasaannya, sungguh."


Faraz hanya diam saja, namun tidak dengan putranya.


"Banakah?" tanya Erzhan mendapatkan anggukan kepala dari Anne dan Baba.


"Tapi kenyataannya itu lah yang terjadi sekarang, apa kalian ngga sadar?" dengusnya masih dalam mode marah.


"Kalian tidak tahu saja bagaimana sulitnya merayu Mommy agar mau keluar dari rumah."


Baik Nilma maupun Faiz hanya diam seraya menundukkan kepala dalam, keduanya sadar dengan apa yang sudah di lakukan.


Ingin meminta maaf pun rasanya sulit, tidak ada yang bisa menebak isi hati milik si cantik Qiara.


.


.


.


Ruang tengah yang terasa mencekam, sangat jauh berbeda dengan kamar yang menjadi tempat Nona muda Rafindra mengurung diri.


Waktu makan malam pun terlewat begitu saja, bahkan tidak sedikitpun makanan yang terhidang di atas meja tersentuh oleh Faraz maupun Erzhan.


Pasangan ayah dan anak tersebut memilih keluar Vila untuk mencari jajanan pinggir jalan tanpa mengajak Qiara ikut bersama.


Bukan tanpa alasan, rencananya mereka akan kembali tepat malam ini juga menuju salah satu Vila milik keluarga.


Anne dan Baba sudah berkali-kali memohon agar tidak ada yang pergi tanpa menginap walau hanya semalam, keputusan Erzhan tidak bisa di ganggu gugat meski sang Daddy sendiri yang merayu.


Kurang lebih, satu jam kemudian mobil Faraz memasuki kawasan Vila. Sudah ada Qiara tengah menunggu di depan halaman tanpa menoleh sedikit pun ke arah belakang


Rasa kesalnya tentu lebih besar di bandingkan rasa kasihan sudah mengabaikan Anne dan Baba, jelas Qiara masih belum menerima di perlakukan kurang baik.


"Ayo Mom!" seru Erzhan dari dalam mobil tanpa berniat turun.


"Anne dan Baba jaga kesehatan ya, kita pulang dulu." Teriaknya seraya melambaikan tangan ke arah Faiz dan Nilma


Faraz melakukan hal yang sama, namun tidak dengan Qiara yang memilih diam setelah masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping kursi kemudi.

__ADS_1


Mobil pergi meninggalkan Vila dengan kecepatan sedang, tidak ada yang bersuara selama perjalanan pulang karena Erzhan dan Qiara memilih tidur.


๐ŸŒน


Kurang lebih satu jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kawasan elit keluarga Bramantya yang berjejer Vila mewah sebagai tempat berlibur setiap akhir pekan.


Suasananya jauh lebih ramai, banyak yang datang berlibur bersama anggota keluarga tersayang.


"Ngga ada drama pulang lagi kan?" goda Faraz menoleh ke arah samping dimana Qiara tampak senang melihat keadaan di luar mobil.


"Ayo turun," ajaknya lebih dulu keluar dari mobil.


Faraz berjalan ke arah samping guna membukakan pintu untuk Qiara lalu Erzhan yang duduk di kursi bagian belakang.


Mereka berjalan beriringan memasuki salah satu Vila yang terlihat lebih mewah dari pada bangunan yang lain.


Entah suatu keberuntungan atau kesialan Faraz yang bertemu dengan Tara beserta anggota keluarga Rafindra sebelum masuk ke dalam Vila.


Qiara sempat di buat terkejut melihat Papi Rafin, Mami Ayshila, Neta juga ketiga kakak kembarnya berada disana.


Berbeda dengan Erzhan yang tertawa bahagia seraya berlari ke arah Tara meminta di gendong sang Paman.


Sementara Nyonya Ayshila langsung menghampiri putrinya sembari tersenyum hangat, dia begitu senang ada si bungsu ikut berlibur di tempat yang sama dengan mereka.


"Wah, ternyata firasat Mami benar ya Pih?" kekeh wanita cantik itu sengaja memanas manasi Faraz.


"Adek liburannya samaan dengan kita, sayang." Ucap Tuan Rafin tertawa


Rencana mereka akhirnya berhasil, melihat raut wajah frustasi Tuan muda Bramantya yang terkejut tidak percaya.


"Kalian sengaja bukan?" tanya Faraz ke arah Tuan dan Nyonya besar Rafindra penuh selidik.


"Pasti Tara yang kasih tahu," dengusnya kesal sembari menatap tajam sahabat baiknya tersebut.


"Eits. Jangan asal nuduh sembarangan," protes Tara merasa di jadikan kambing hitam.


Ia mau tidak mau langsung memberi penjelasan pada Faraz mengenai keberadaan anggota keluarga Rafindra tanpa ada yang sengaja di tutupi.


"Gue cuma di suruh Paman dan Bibi antar mereka, selebihnya mana gue tahu kalau ternyata kalian juga berlibur kesini." Ucap Tara berusaha meyakinkan


"Tapi yang aneh tuh, kenapa mereka sampai bawa koper banyak?" herannya kembali mengingat barang-barang milik anggota keluarga Rafindra.


Kini semua mata tertuju pada Tuan dan Nyonya besar Rafindra yang tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Kok perasaan Qia mulai ngga enak ya," gumam Qiara bergidik ngeri.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2