
Faraz tiba di rumah utama Rafindra setelah kurang lebih empat jam perjalanan. Ia pun tidak sempat membuka ponsel yang ternyata baterainya habis, itu sebabnya pesan atau telefon dari Qiara tidak ia lihat dan baca.
Sekertaris Delia langsung pulang, tidak ikut mampir karena ada beberapa berkas penting yang harus dia periksa kembali sebelum akhirnya besok di serahkan pada Faraz.
"Makasih ya, Paman."
Faraz bergegas turun dari mobil sembari membawa beberapa bingkisan yang sengaja ia beli untuk Qiara, Erzhan serta anggota keluarga lainnya.
Senyum terukir jelas di wajah tampannya seolah tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan Qiara juga Erzhan.
Akan tetapi, pria itu belum tahu jika kedatangannya yang tiba-tiba seperti ini justru membuat semua anggota keluarganya marah besar, terutama kedua orang tuanya yang memang sengaja tinggal di kediaman Rafindra sejak pagi.
Bukan salah mereka, hanya karena ulah Faraz sendiri hingga semuanya pun ikut menerima hukuman akibat Qiara sampai merajuk tidak mau keluar dari kamar sebelum menerima kabar dari pria itu.
Lima menit berlalu.
Faraz muncul dari arah samping rumah, ia sengaja lewat pintu darurat agar segera sampai di ruang tengah.
Niat hati ingin segera menemui sang istri tercinta yang mungkin saja tengah berada di dalam kamar, Faraz justru langsung di cegah oleh ketiga Tuan muda Rafindra yang kebetulan melihatnya lebih dulu saat hendak masuk ke dalam lift.
"Ee, eee. Mau kemana kamu?" seru Zaidan menatap penuh permusushan ke arah adik iparnya tersebut.
Pria itu menarik paksa lengan kanan Faraz menuju ruang keluarga, dimana para orang tua masih setia mengobrol banyak hal.
__ADS_1
"Nah, ini nih pelakunya udah pulang." Timpal Zafir setengah mencibir saking kesalnya tidak bisa keluar rumah sekedar mencari angin
Sedangkan putra ketiga Rafindra atau pria tampan yang selalu menjadi sasaran kekesalan dari kedua saudara kembarnya tersebut, memilih tidak peduli meski rasa kesalnya pun masih ada.
Zhe atau Zizi, hanya diam menyaksikan ketika Faraz di seret dengan paksa ke hadapan semua anggota keluarga yang tercengang antara kaget dan marah bercampur jadi satu. Melihat sosok pria tampan yang membuat mereka ikut terlibat dalam rajukan Qiara beberapa waktu lalu hingga sekarang.
"Faraz!" pekik Tuan dan Nyonya besar Bramantya lumayan kuat.
Mereka terlalu syok dengan apa yang sudah di perbuat oleh putra semata wayang mereka tersebut.
"Kakak pulang kenapa ngga kasih tahu orang rumah?" cecar Nyonya Kamila dengan sorot mata tajam siap menghukum sang putra.
"Mama dan Papa sampai ngga bisa ke kantor gara-gara Qiara mengurung dirinya dalam kamar, terus Kakak pulang tanpa kabar begini. Ya ampun--,"
Ibu mana yang tidak akan marah jika anaknya pulang tanpa mengabari siapa pun, terutama pada wanita cantik yang merupakan istrinya sudah di buat menunggu dengan perasaan campur aduk.
Tuan Rafindra dan Nyonya Ayshila sejak awal kedatangan Faraz, tidak mengatakan apa-apa. Mereka tampak biasa saja seakan pulangnya sang menantu sudah di ketahui lebih dulu.
Tinggal menunggu kehadiran Qiara yang mungkin saja tengah asyik menonton atau sibuk memainkan ponselnya di dalam kamar. Itu pun kalau ada yang nekat memberitahu keberadaan Faraz.
Wanita itu sengaja tidak di minta turun ke lantai bawah, biarlah dia sendiri yang melihat langsung seperti apa rupa pria tampan kesayangannya itu setelah mendapat hukuman dari kedua orang tuanya.
.
__ADS_1
.
.
Sementara di dalam kamar yang memang pintunya sengaja di kunci rapat agar tidak ada satu orang pun yang berani masuk untuk menenangkannya.
Qiara seakan bisa merasakan kehadiran Faraz begitu dekat dengannya, tetapi berusaha menepis perasaannya jauh sebelum berakhir dengan rasa kecewa.
"Daddy kenapa belum kasih kabar juga sih?" gumamnya pelan seraya melihat jam yang terletak di atas nakas samping tempat tidur dengan perasaan sedih.
Baru saja wanita itu ingin menutup kedua matanya sejenak, terdengar suara ketukan pintu lumayan kuat sembari memanggil namanya berulang kali.
"Itu suara Daddy bukan sih?"
Qiara tidak langsung menuju pintu kamar, dia malah kembali memastikan apakah suara yang sedari pagi sangat di rindukanna itu benar-benar nyata atau justru pikirannya yang terganggu karena terlalu merindukan Faraz.
"Ngga mungkin aku lagi halusianasi kan?" tanyannnya pada diri sendiri.
Karena rasa penasaran ingin memastikan apakah dugaannya benar atau salah, perlahan kakinya melangkah dengan jantung berdebar kuat menuju arah pintu kamar.
Dari arah luar, semakin jelas terdengar suara teriakan Faraz yang menahan sakit akibat menerima hukuman dari Tuan Rasya beserta ketiga kakak iparnya.
Sekujur tubuh pria itu rasanya remuk dan nyeri karena hampir satu jam melakukan push up tanpa berhenti.
__ADS_1
"Mom, buka pintunya!"
๐๐๐๐๐