Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 31


__ADS_3

Nia melangkah masuk ke dalam ruangan suaminya setelah melewati Eren.


Wanita itu mengerut keningnya saat melihat sang suami berdiri di seberang meja menghadap ke arah di mana putri kecil mereka duduk sambil menonton sesuatu di laptop.


"Kamu kenapa berdiri di situ, Mas? Kayak penjaganya Alea aja," tegur Nia, membuat pria itu sadar akan kehadiran istrinya.


Tergesa-gesa, Bima menghampiri Nia dan membawa istrinya itu berdiri di tempatnya semula.


"Papa, Sayang. Bukan mas." Kembali Bima mengoreksi panggilan Nia untuknya. "Ada yang mau papa bilang sama mami."


Nia tersenyum geli mendengar panggilan Bima untuknya. Entah mengapa, sepertinya akan sulit untuk membiasakan diri memanggil suaminya dengan sebutan lain.


"Memangnya ada apaan? Kalau ini enggak penting, mas-- papa tidur di luar malam ini."


Nia melirik Bima dengan santai.  Tatapannya seolah mengancam agar apa yang diucapkan suaminya adalah suatu hal yang sangat penting.


Bima segera menariknya ke ruangan sebelah. Ia tidak ingin jika putrinya mendengar apa yang akan dia ceritakan pada istrinya.


Setelah tiba di ruangan sebelah, Bima dengan semangat menceritakan apa yang terjadi tadi di ruang kerjanya. Mulai dari apa yang diceritakan Alea dan apa yang dilakukan putri mereka tidak luput dari  ceritanya.


Nia sendiri yang mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya menatapnya aneh. Apa yang diceritakan oleh suaminya benar-benar tidak masuk nalar pikirannya.


"Alea seperti reinkarnasi, begitu? Apa transfusi?"


"Transmigrasi, Mi. Jauh banget dengan transfusi." Laki-laki itu memutar bola matanya. "Semacam transmigrasi atau semacam reinkarnasi begitu. Papa juga enggak mengerti tentang hal-hal seperti itu."


"Masa, Pa? Kok aku ragu."


"Bukan 'aku' tapi 'mami' sebutnya. Mami kenapa harus ditegur terus 'sih?" sahut Bima jengkel.


Pria itu sudah keluar dari topik pembahasan tentu saja membuat Nia diam-diam menggerutu di dalam hati.  Ada hal penting yang dibahas, tapi justru sahutan kurang penting yang dijawab. 


"Iya. Kok Mami enggak percaya dengan hal begituan.  Kayak drama China yang pernah mami tonton ceritanya." Nia terkekeh sumbang membayangkan jika putrinya adalah reinkarnasi dari seorang gadis berusia 22 tahun yang meninggal karena serangan jantung, katanya.


"Kalau Mami kurang percaya, kita bisa uji Alea. Kita kasih pertanyaan-pertanyaan sulit, dan suruh dia memeriksanya."


Nia setuju dengan usulan suaminya. Keduanya kemudian melangkah keluar dan duduk di sisi kanan dan kiri Alea. Nia tersenyum dan mengangkat laptop dari hadapan Alea dan meletakkannya di atas meja.


"Anak mami yang cantik, Papa tadi udah cerita sama Mami. Nah, mami kasih Alea pertanyaan seputar tentang sains  dulu. Alea mau menjawab?" Wanita itu bertanya dengan suara lembut pada putrinya.


"Mau, Mi."


"Ah, pertanyaannya mami kasih random aja, ya. Enggak apa-apa 'kan?"


Alea menggelengkan kepalanya pertanda jika tidak apa-apa bila maminya ingin memberikan pertanyaan random. Alea merasa ia bisa menjawab apa pun yang ditanyakan oleh sang mami.


Nia meminta Bima untuk mencari pertanyaan-pertanyaan  dari yang mudah hingga yang sulit.


Awalnya Bima bertanya dengan pertanyaan yang paling gampang kemudian semakin lama pertanyaan yang diberikan oleh pria itu semakin sulit dan yang membuat pasangan suami istri itu tercengang putri mereka bisa menjawab dengan mata lurus menatap mereka berdua secara bergantian.


Bima bahkan harus mencari pertanyaan paling sulit di internet guna memastikan  jika apa yang dikatakan oleh putri mereka adalah sebuah kebenaran.


"Pa?" Nia menatap suaminya yang terdiam setelah menyelesaikan beberapa puluh pertanyaan.


"Mi, gimana?"


Wanita yang menunggu respon suaminya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal karena sang suami justru bertanya padanya. Jawaban apa yang ingin ia katakan jika ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia komentari.


"Alea bisa apa lagi?" Nia mengalihkan tatapannya pada Alea.

__ADS_1


"Alea bisa merakit mesin. Tapi, bahannya enggak ada. Jadi enggak bisa merakit mesin." Gadis itu menjawab dengan mata bulatnya.


"Alea, kalau boleh jujur, mami ini kurang percaya dengan hal-hal seperti itu. Transmigrasi atau reinkarnasi itu sulit di percaya dengan nalar manusia biasa." Nia mengangkat tubuh putrinya dan memangkunya. "Tapi, apa pun itu, Alea adalah anak mami. Mami yang mengandung Alea selama 9 bulan, melahirkan Alea, dan membesarkan Alea sampai sekarang.  Alea adalah anak kandung mami."


Alea menatap maminya.


"Jadi, kalau Alea bilang Alea yang pernah hidup sebelumnya, oke mami akan coba percaya. Tapi, mami minta Alea jangan ceritakan ini ke siapa pun, ya? Apa pun yang terjadi, Mami hanya tahu Alea adalah anak mami. Alea paham maksud mami?"


Batita itu mengusap wajah maminya dengan tangan kecilnya. Gadis itu tersenyum dan menjawab, "Mami Nia dan papa Bima adalah orang tua kandung Alea. Bang Arga, Bang Jillo, dan Bang Kello kakak-kakak Alea. Alana adik kembar Alea. Uncle Dirga dan Aunty Dera adalah paman dan bibi Alea. Kak Chila adalah kakak ipar Alea, Clara dan Carla adalah keponakan Alea."


Gadis itu diam memikirkan nama-nama yang mungkin ia lupakan.


"Ah, Opa Roy dan Oma Rana adalah kakek dan nenek Alea."


Gadis kecil itu mengabsen satu persatu nama-nama orang terdekatnya.


"Nenek Idah, nenek Atun, dan Bu Yuni adalah keluarga kita juga."


Senyum melebar di sudut bibir Nia dan merasa bersyukur karena putrinya bisa menghafal nama-nama anggota keluarga besar mereka.


"Ayya, anaknya mami pintar banget." Wanita itu dengan gemas mencium pipi chubby putrinya. 


Bima sendiri tertawa dan mengusap kepala Alea dengan sayang.


Apa pun yang terjadi mereka hanya tahu jika Alea adalah putri kandung mereka.


Nia akhirnya kembali ke rumah sakit bersama Alea. Sebelum itu, ia harus menjemput Arga terlebih dahulu di kampusnya.  Putra sulungnya itu ternyata tidak membawa kendaraan saat berangkat kuliah dan menumpang pada temannya.


Turun dari mobil, Nia segera membawa Alea dalam gendongannya dan melangkah masuk ke dalam kampus.


Ada banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berkeliaran menunggu jadwal pelajaran datang. Wanita itu kemudian menyusuri koridor berniat untuk mencari Arga langsung. Ini karena putra sulungnya itu  tidak menjawab telepon darinya, membuat ia harus mencarinya secara langsung.


Alea menganggukkan kepalanya. Kemudian, dengan anteng ia duduk di atas kursi yang tersedia.


"Ingat, jangan pergi kemana-mana tunggu di sini."


"Iya, Mi." Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dan menatap punggung sang mami yang berlari kecil menjauh dari posisinya berada.


Tas kecil sang mami diselendangkan di lehernya yang berisi ponsel, dompet, dan beberapa surat lainnya.


Alea yang duduk di kursi dengan tenang tentu saja mendapatkan banyak perhatian dari para mahasiswa yang berada di sekitarnya. Mereka cukup gemas untuk menatap wajah cantik dan imut batita 3 tahun tersebut.


Alea duduk membelakangi kelas sehingga apa pun yang terjadi di dalam kelas dia mendengarnya. Gadis kecil itu menatap ke atas dan menemukan jika setengah dinding dari tembok tempatnya sekarang adalah kaca yang sudah lepas sehingga membentuk lubang yang besar.


Kaca tersebut memang sempat pecah dikarenakan ada mahasiswa yang berkelahi dan melempar kursi ke kaca kemarin dan tidak sempat diganti oleh pihak kampus.


Suara dosen yang menanyakan apakah ada mahasiswa dan mahasiswi yang dapat menjawab pertanyaan yang ia tulis di papan tulis terdengar sampai keluar. Apalagi suara dosen tersebut terdengar keras.


"Apa kalian tidak bisa jawab pertanyaanku? Ayolah para jantan dan betina. Kalian harus jawab." Suara  Pak Roma Siregar  terdengar. Pria paruh baya dengan perut sedikit membuncit menatap garang pada anak-anak didiknya.


  


Pria berusia 40 tahun itu mengajar di jurusan ekonomi dengan mata pelajaran statistik. Ada banyak angka yang muncul di papan tulis sehingga membuat para mahasiswanya mencoba yang terbaik untuk mencari jawaban atas soal di papan tulis tersebut.


Mendengar itu, Alea segera turun dari tempat duduknya dan mendorong dengan susah payah pintu kelas yang tertutup rapat.


Seluruh kelas menatap pintu yang terbuka sendiri. Tiba-tiba rasa merinding menghampiri mereka. Pintu kelas mereka berat dan angin kecil tidak akan mampu mendorongnya. Namun, tiba-tiba pintu terbuka sendiri tentu saja membuat pikiran horor menghantui mereka.


  Pak Roma khususnya melihat tidak ada orang di pintu. Ia akan mengalihkan tatapannya ke arah lain sebelum ia melihat sosok kecil melangkah masuk.

__ADS_1


"Bah, bayi siapa ini? Kalian ada yang bawa anak di kelas?"


Pak Roma segera menatap para mahasiswa dan mahasiswinya. Di kelas pak Roma juga ada beberapa muridnya yang memang sudah berkeluarga. Namun, ini kali pertama ia melihat ada pelajar yang membawa anak mereka.


Orang-orang di dalam kelas saling menatap kemudian mereka saling menggelengkan kepala menolak untuk mengakui jika batita imut dan lucu dengan rambut panjang ikal itu adalah anak mereka.


"Hei, anak kecil, di mana orang tuamu?" Pak Roma yang memiliki kasih sayang terhadap anak kecil mendekat dan berjongkok di hadapan Alea.


Pak Roma takut jika anak ini akan menangis. Jika tidak, mungkin pak Roma akan dengan gemas mencubit pipi gembulnya.


"Mami lagi pergi ke kamar mandi." Alea menjawab dengan suara kanak-kanaknya. Bocah itu kemudian menatap papan tulis dan menunjuk dengan jari-jari gemuknya. "Alea bisa jawab itu," katanya pada Pak Roma.


Pak Roma mengikuti arah telunjuk Alea dan terkekeh geli berpikir jika Alea hanya bercanda.


"Sudah, adik kecil main di luar saja. Tunggu maminya di luar. Biar kakak-kakak di sini belajar dengan tenang."


"Tapi Kakak-Kakak di sini  enggak tahu jawabannya."


Pak Roma kemudian melirik singkat pada para mahasiswanya kemudian menatap Alea.  Menurut Pak Roma, orang yang jauh lebih tua dari gadis kecil di hadapannya saja tidak tahu jawabannya, maka tidak mungkin gadis yang masih bau bedak bayi ini tahu jawabannya.


Tak mendapatkan respon dari pak Roma,  Alea kemudian melangkah ke arah depan papan tulis dan menatap semua tulisan yang ada di papan putih tersebut.


Jari-jari telunjuknya mengarah pada beberapa soal dan tanpa peringatan, dia mulai menyebutkan beberapa angka serta istilah yang ia ketahui tanpa melepaskan arah telunjuknya yang bergerak ke berbagai tulisan di atas.


Mendengar apa yang diucapkan oleh batita itu, Pak Roma kemudian mendekat dan menatapnya terkejut. Untuk memastikan sesuatu, Pak Roma kemudian mengangkat tubuh Alea dan memberikannya spidol agar gadis kecil itu bisa menulis jawaban.


Tanpa mengedipkan matanya, Alea kemudian menulis semua jawaban serta langkah-langkah untuk menemukan jawaban yang benar.


Apa yang ia tuliskan sangat simpel dan singkat. Namun, menemukan inti jawaban dari semua soal.


Pak Roma dan para muridnya tentu saja terkejut tak percaya.


"Hei, nama kamu siapa?"


Pak Roma segera menatap Alea yang masih berada di dalam gendongannya.


"Namaku--"


"Alea! Astaga, kamu ternyata ada di sini. Mami udah panik cari kamu."


Seorang wanita tergesa-gesa membuka pintu kelas kemudian berjalan menghampiri Alea dan mengambilnya dari gendongan Pak Roma.


"Saya benar-benar minta maaf Pak karena putri saya sudah mengganggu ketenangan belajar bapak dan semua yang ada di sini. Saya akan membawa putri saya keluar."


Nia meminta maaf dengan tergesa-gesa dan melangkah keluar membuka pintu kelas. Namun, gerakannya tertahan ketika mendengar suara pak Roma.


"Tunggu."


Nia menoleh menatap pak Roma dengan tatapan bertanya. "Iya?"


"Gadis kecil ini anaknya ibu?"


Meski bingung dengan pertanyaan pria dewasa di hadapannya, Nia tetap menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Iya, Pak. Anak saya."


Setelah itu Nia kemudian pergi keluar dari kelas tanpa menunggu respon dari pria dewasa tersebut. Arga ternyata sudah menunggunya di tempat parkir dan ia harus segera pergi.


Sementara Pak Roma sendiri hanya menatap punggung belakang wanita dan anak itu dengan tatapan tak terbaca. 

__ADS_1


PENGUMUMAN: OPEN PO BIMA DAN NIA SEASON 2 MASIH BERLANGSUNG. YANG ENGGAK MAU KETINGGALAN CERITA, SILAKAN PO EMAK-EMAKKU. HARGA 80RB BELUM TERMASUK ONGKIR.


__ADS_2