
Tidak terasa sudah seminggu berlalu pasangan suami istri tersebut berada di pulau peribadi keluarga Rafindra.
Selama itu juga Faraz tanpa henti mengganggu Qiara baik siang hari atau malam hingga menjelang subuh, tidak akan pernah ada rasa puas jika tidak membiarkan istrinya mengaggur sedikit saja.
Beruntung wanita cantik kesayangannya itu tidak pernah mengeluarkan kalimat protes apalagi marah.
Qiara hanya akan balik menjahili suami tampannya itu dengan sengaja memberi berbagai macam alasan, seperti yang terjadi sekarang ini.
Dimana Faraz uring-uringan tidak mendapatkan apa yang sudah menjadi candu baginya, mengingat mereka tengah berada di rumah Oma dan Opa.
"Bentar ajah Mom, janji ngga lama." Rengek pria itu dengan wajah memelas bak anak kecil yang meminta permen pada ibunya
"Oma dan Opa lagi di kamar, boleh ya?" pintanya lagi seraya menarik baju atasan yang Qiara kenakan.
Wanita itu bukannya memberikan apa yang sedari beberapa menit yang lalu suaminya inginkan, dia justru semakin menyiksa pria kesayangannya itu tanpa belas kasihan.
"Ngga boleh, Daddy. Lagian tadi siang udah," kekehnya tanpa dosa.
"Aku tuh berasa kayak lagi ngurusin anak bayi tahu ngga sih, cuma bayi yang satu ini agak lain. Si bayi besar yang ngga pernah tahu apa artinya puas."
Qiara mencebik dengan kedua bola mata memutar malas kala suaminya justru bukannya malu, melainkan tertawa lepas sembari membuka paksa baju atasan yang dia kenakan.
"Diam!" bisik Faraz sedetik kemudian sudah bermain di area favoritnya tanpa peduli istrinya merenggut kesal.
"Dasar suami mesyum," gemas Qiara mengusap lembut kepala suaminya yang kini berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
Untung ajah ngga ada si Abang, kalau sampai tuh anak lihat Daddy nya nempel mulu sama aku kayak gini bisa kacau.
Qiara telah berjanji pada dirinya sendiri, akan menjadi Ibu sekaligus istri yang baik bagi Erzhan dan Faraz.
Jika dulu rasanya tidak mungkin dia memberikan perhatian dan kasih sayang berlebihan terhadap pasangan ayah dan anak tersebut, mengingat statusnya yang bukan siapa-siapa dan hanya sahabat baik dari wanita cantik bernama Sandra, selaku ibu kandung Erzhan juga istri dari Faraz.
Sekarang jelas berbeda, karena status Sandra bukan lagi siapa-siapa. Hanya mantan istri bagi Faraz, tetapi bukan mantan ibu Erzhan.
Tidak ada yang namanya seorang ibu kandung kehilangan haknya terhadap sang putra jika sudah berpisah dengan si mantan suami, jelas kapan pun Sandra ingin menemui Erzhan. Tidak ada yang melarangnya, apalagi sampai nekat menjauhkan keduanya.
__ADS_1
Dan, tugas Qiara yaitu menjadi perantara sekaligus penengah agar tidak ada sesuatu hal yang tidak di inginkan sampai terjadi.
Wanita itu harus mengasah tingkat kesabarannya seluas mungkin, sebab posisinya pun terbilang hanya ibu sambung untuk Erzhan dan bukan lah ibu kandung yang sesungguhnya.
Berat memang jika takdir menjadikannya harus berada dalam situasi yang lumayan menjadi bahan perbincangan orang-orang di luar sana, terkadang status sebagai ibu tiri jelas bukanlah perkara yang mudah bagi setiap kaum wanita. Ada pro dan kontra yang harus mereka pertimbangkan, jangan sampai bukannya menjadi malaikat pelindung seorang anak dari wanita lain yang merupakan si mantan istri dari suaminya, justru menjadi sosok penyihir jahat yang merusak pola pikir sang anak dengan segala ketakutannya terhadap sosok ibu tiri.
Tidak bisa di pungkiri, banyak sekali di luar sana kejadian seorang wanita yang menikah dengan pria sudah memiliki anak dari mantan istrinya, setelah menikah bukannya sayang dan perhatian terhadap si anak, malah yang terjadi sikapnya bertolak belakang dengan apa yang sebelumnya pernah dia perlihatkan sebelum menikah dengan pria pilihannya tersebut.
Hal itulah yang sering kali menghantui pikiran Nyonya muda Bramantya dua hari belakangan ini, menjadi seorang ibu tiri yang harus memusatkan seluruh perhatian dan kasih sayangnya terhadap Erzhan.
Qiara takut jika sampai melakukan kesalahan yang bisa saja menyakiti hati putra sambungnya tersebut, dia tidak bisa membayangkan akan bagaimana perasaan Erzhan nantinya.
Beruntung Faraz selalu meyakinkan istri cantiknya itu agar selalu yakin pada dirinya sendiri, jangan mudah terpengaruh dengan perkataan orang-orang di luar sana.
Bukan hanya itu, semua anggota keluarga pun mendukung Qiara dengan selalu memberikan yang terbaik. Menjadi tempat paling ternyaman untuk di ajak bicara, sehingga hati dan pikiran wanita itu semakin terbuka luas.
.
.
Qiara menghentikan aktifitas Faraz dengan cara mendorong wajah suaminya itu lumayan kuat.
"Jangan ngambek, aku ngga akan ngebujuk apalagi kasih hadiah." Kekehnya merasa lucu mendapati raut wajah masam pria kesayangannya itu
"Mommy pelit," sungut Faraz masih belum merasa puas tapi istrinya itu justru memintanya untuk menyudahi aktifitasnya beberapa menit yang lalu.
Bukannya kasihan, Qiara justru langsung bangkit dari tempat duduk menuju halaman samping rumah meninggalkan Faraz yang merenggut kesal.
Oma dan Opa muncul dari arah kamar dengan senyum hangat saling bergandengan tangan sampai di hadapan Faraz.
"Istrimu mana Kak?" tanya Oma memanggil Faraz dengan sebutan Kakak.
"Kok sendirian ajah, kemana istrimu?" kali ini Opa yang bertanya.
"Ada, barusan keluar lewat pintu samping. Katanya mau lihat taman bunga," jawab Faraz malas.
__ADS_1
Pasangan baya itu hanya bisa saling pandang lalu tersenyum mengerti situasi yang ada.
Tidak mau ambil pusing, mereka berjalan keluar rumah lewat pintu samping guna menemui Qiara yang kata suaminya berada di taman bunga.
Sementara Faraz yang sengaja di tinggal begitu saja, semakin di buat kesal melihat Oma dan Opa pergi meninggalkannya tanpa berniat mengajaknya ikut bersama menemui Qiara.
"Lebih baik telefon Abang ajah deh," gumamnya pelan seraya tersenyum penuh arti.
Faraz ingin tahu apa yang terjadi selama ia dan Qiara pergi liburan sekaligus Honeymoon tanpa memberi tahu pihak keluarga, kecuali si kembar.
Baru di dering pertama sambungan telefon langsung terhubung, sangat jelas suara Erzhan tengah mengomel saking kesalnya main di tinggalkan Mommy dan Daddy nya.
[Hallo, Daddy. Wahh, hebat ya kalian berdua tinggalin Abang gitu ajah]
[Kalian pergi liburan ngga ajak Abang, terus sengaja matiin ponsel biar Abang ngga bisa menghubungi kalian juga. Astaga, sungguh malang nasib putra tampan kesayangan kalian ini. Setiap malam cuma bisa tidur sambil peluk Aunty Tata, biar Abang ngga nyariin Mommy. Dan kalian ...]
[Abang ngambek pokoknya, jangan pulang dengan tangan kosong. Abang ngga akan mau bukain pintu buat Mommy dan Daddy, huhh]
Erzhan sangat kesal namun tidak mungkin sampai marah hanya karena di tinggal begitu saja oleh Mommy dan Daddy nya pergi liburan. Tetapi, ia mengancam jangan coba-coba pulang ke rumah tanpa membawa apapun.
Faraz hanya bisa mengulum senyum kala mendengarkan sang putra masih terus mengoceh hingga kondisi hati anak itu mulai tenang, ia sungguh merindukan Erzhan.
"Abang makin cerewet tahu ngga sih," kekehnya merasa sang putra kali ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya.
"Jangan tunggu Mommy dan Daddy pulang ya." Goda Faraz
[Kenapa? Abang ngga suka kalian main tebak-tebakkan dengan Abang, sangat membosankan]
[Tapi, kalau pulangnya bawa dede bayi sih ngga apa-apa. Nanti Abang bukain pintu rumah selebar mungkin]
Tawa Erzhan pecah seiring terdengarnya seruan dari beberapa orang yang ternyata berada tepat di samping anak tampan itu.
"Abang lagi sama siapa ajah?"
๐๐๐๐๐
__ADS_1