Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 28


__ADS_3

Kabar baik ❤️


Siap-siap menabung ya. Bima dan Nia season 2, akan segera OTW cetak.


-----


Nia mengerat selimut guna menghalau rasa dingin pada tubuhnya. Wanita itu mengernyit keningnya saat merasakan sentuhan lembut di keningnya.  Sentuhannya terasa dingin di kening membuat Nia spontan membuka kelopak matanya.


Rambut panjang menjuntai dengan kain putih yang menutup tubuhnya membuat Nia tercengang sebentar sebelum akhirnya matanya berkedip beberapa kali dan membukanya dengan lebar.


Tidak ada siapapun saat ia membuka kelopak matanya. Wanita itu kemudian bangkit dari tempat tidurnya saat mendengar suara langkah dari luar dan suara tangis seseorang. Wanita itu menatap ranjang di sampingnya di mana ada Dirga masih terbaring.


Suara tangis itu semakin terdengar jelas membuat Nia penasaran dan membuka pintu ruang rawat untuk melihat sekeliling koridor yang tampak sepi.  Namun, suara tangis itu semakin terdengar jelas membuat wanita itu tanpa sadar berjalan ke luar menyusuri koridor.


"Siapa yang nangis?" Nia bertanya pada dirinya sendiri sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.


Bulu kuduk wanita itu tiba-tiba berdiri membuatnya mengusap tengkuknya dengan gerakan perlahan. Udara di luar semakin dingin namun tak membuatnya berhenti untuk mencari sumber suara.


Nia segera memutar tubuhnya ke belakang saat mendengar suara langkah kaki namun saat ia memutar tubuhnya, ia tidak melihat siapa pun.


Kening wanita itu semakin mengerut memikirkan siapa yang berjalan di belakangnya tadi.  Padahal ia jelas mendengar suara langkah dari belakang.


Wanita itu kemudian memutar kembali tubuhnya dan berniat untuk melangkah lurus namun yang ia temukan di hadapannya adalah wajah pucat seorang wanita dengan rambut panjang  acak-acakan berdiri dengan darah di sekujur tubuh yang mengenakan gaun putih.


Bola mata wanita itu melebar. Bibirnya bergetar berusaha untuk mengeluarkan suara namun tidak ada yang keluar dari bibirnya sama sekali.


"Mmmmmmm."


"Ugghh."


Nia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya dan mengeluarkan suara. Namun, tubuhnya semakin kaku.


"Sayang, hei. Sadar. Kamu kenapa?"


Goncangan dan tepukan di wajahnya membuat Nia membuka kelopak matanya dengan napas memburu dan jantung berdebar kencang.


"Kamu mimpi buruk?"


Wanita itu berusaha untuk menormalkan debar jantungnya dan berusaha untuk melihat wajah seseorang yang  membangunkannya tadi.


"Mas."


Nia menggigit bibirnya kemudian masuk ke dalam pelukan Bima dan mengeratkan dekapannya pada sang suami.


"Kamu kenapa? Mimpi buruk?" Bima mengusap rambut istrinya yang terlihat bergetar.


"Aku tadi mimpi buruk, Mas. Aku mimpi ketemu Mbak kunti. Mukanya itu serem banget."


"Makanya kalau mau tidur itu baca doa. Mami tidurnya sebelum maghrib. Jadinya mami lupa baca doa dan mimpi buruk." Pria itu terkekeh mendengar suara istrinya yang bergetar ketakutan. Tak ia sangka jika istrinya  yang terlihat galak dan pemberani masih takut dengan hal gaib.

__ADS_1


"Ih, beneran seram mimpiku tadi, Mas. Masih kebayang." Nia melepaskan pelukannya dan mengusap wajahnya. Sedangkan Bima sendiri turun dari tempat tidur membuka dus  air putih yang sengaja dibeli dan menyerahkannya pada sang istri setelah ia memastikan ujung sedotan masuk ke dalam gelas plastik tersebut.


"Makanya baca doa sebelum tidur. Ya udah, mami tidur lagi. Mumpung masih jam tiga."


"Mas enggak tidur dari tadi?"


Saat ini baru lah Nia menatap wajah suaminya yang terlihat bukan seperti orang baru bangun tidur.


"Kita di rumah sakit nunggu orang sakit. Makanya  mas enggak tidur. Cuma tidur-tiduran di sebelah mami sambil main HP." Bima menunjuk handphone miliknya yang masih menampilkan layar di mana ada grafik saham terlihat jelas di mata Nia.


Bermain versi Bima tentu saja menghasilkan uang. Sangat berbeda dengan bermain versi orang lain.


"Ya udah, sekarang mami tidur dan jangan lupa baca doa. Mas enggak tidur malam ini dan bakalan jagain mami."


"Beneran, Mas?"


Bima mengangguk menyetujui. Lagi pula, ia cuti selama satu minggu. Besok ia akan pulang dan tidur di rumah sampai sore, kalau bisa.


Nia akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur diikuti Bima. Sangat beruntung tempat tidur yang mereka tempati muat menampung dua orang.  Jika tidak, maka jalan satu-satunya adalah Bima menggelar karpet di lantai dan akan mengajak istrinya untuk  tidur di bawah.


Keesokkan harinya Bima dan Nia pulang ke rumah setelah orang tuanya tiba di rumah sakit dan menjaga Dirga yang masih belum sadarkan diri. Sebenarnya, pasien belum boleh dikunjungi. Namun, dari pihak keluarga tidak ingin meninggalkan Dirga sendiri di dalam ruangan. Jadinya mereka memilih kamar dengan ukuran luas agar bisa menempati dua tempat tidur  dan memastikan jika mereka tidak akan berisik atau mengganggu pasien.


Tiba di rumah, Bima sempat bermain dengan kedua anak kembarnya lebih dulu sebelum akhirnya ia memilih untuk tidur dan mengistirahatkan diri. Sedangkan Arga sudah pergi bersama Jillo ke rumah sakit menemani Oma dan opa mereka.


"Bu, saya mau makan rujak cingur. Bisa minta tolong buatin?" Nia datang ke dapur meminta tolong Bu Idah untuk dibuatkan rujak yang ia inginkan.


"Neng Nia hamil lagi?" Bola mata Bu Idah melebar menatap nyonya majikan tak percaya.


"Yah, saya kira, neng Nia hamil lagi."


"Enggak deh, Bu. Saya enggak punya niat mau tambah. Lima anak udah cukup."


"Enggak di genepin, Neng?"


"Udah genap ini, Bu."


"Lho, Den Arga, Den Jillo, Den Kello, Non Alana, dan Non Alea. Baru lima, Neng." Bu Idah menghitung nama-nama majikan dan menunjuk lima jari dihadapan Nia.


"Enam, Bu. Chila juga anak saya. Jadi saya punya enam anak, dua cucu." Wanita itu mengangkat tangan Bu Idah kemudian menarik satu jempol dan menyatukannya dengan lima jari Bu Idah yang masih terangkat.


Nia tersenyum lebar. "Nah, ini baru benar."


Bu Idah tertawa dengan aksi nyonya majikan. Wanita paruh baya itu kemudian membuatkan apa yang dipesan sang nyonya dengan bumbu yang ada di kulkas. Beruntung tadi ia sempat membeli buah-buahan untuk stok di rumah.


Sedang Bu Idah menyiapkan rujak cingur pesanan Nia, wanita itu sendiri saat ini sedang bersantai di sofa yang menghadap ke arah layar televisi. Niatnya ingin merebahkan tubuh di atas sofa dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak sebelum sosok perempuan yang menjadi menantunya datang dengan membawa salah satu cucunya.


Terkadang Nia geli sendiri membayangkan jika ia sudah memiliki seorang cucu di usianya yang bahkan belum mencapai 33 tahun.


"Clara, enggak tidur siang?" Wanita itu mengulurkan tangannya dan mengambil bayi 2 tahun itu kemudian memangkunya.

__ADS_1


"Baru bangun tidur, grandma," sahut Chila menirukan suara bayi.


Nia tersenyum. Wanita itu bertanya, "gimana kamu sudah agak mendingan?"


"Sudah lumayan, Mi. Agak enakan. Tapi, aku enggak di kasih Bang Ji buat ikut ke rumah sakit. Katanya aku di suruh di rumah aja," sahut Chila dengan wajah malu. Pasalnya, sang mami mertua tahu jika ia sedang datang bulan. Meski tidak apa-apa jika mertuanya tahu, tetap saja Chila merasa tidak enak.


"Jillo masih posesif sama kamu?"


Nia bertanya dengan ringan.  Ia tahu jika putra nomor duanya itu sedikit posesif pada istrinya. Bahkan, tidak segan untuk melampiaskan emosinya jika cemburu sudah menghampiri. 


"Masih, Mi. Aku enggak tahu lagi mau bilang gimana sama Bang Ji biar enggak posesif lagi," sahut Chila. Perempuan itu mendudukkan dirinya di sebelah mami mertua sambil menatap putrinya yang duduk dengan tenang di pangkuan sang Oma.


"Kamu yang sabar saja menghadapinya. Jangan ikut terpancing kalau dia lagi marah.  Ingat, pernikahan kalian jangan sampai gagal. Makanya se-emosi apa pun, jangan pernah ngomong hal yang akan kamu sesali nanti." Nia menasehati menantunya. "Begitu juga dengan Jillo yang akan Mami nasehati."


"Terima kasih banyak, Mi. Aku beruntung punya Mami mertua seperti Mami yang baik dan perhatian," sahut Chila sambil tersenyum malu. Perempuan itu awalnya takut pada ibu tiri suaminya. Namun, lama-kelamaan ia mulai mengetahui sifat baik Ibu mertuanya dan membuat ia nyaman untuk berbagi cerita.


Rujak buatan Bu Idah sudah jadi dan dihidangkan di atas meja. Ada dua mangkuk rujak di mana satu mangkuk untuk Chila dan lainnya untuk Nia.


"Kamu nanti kuliah bareng sama Jillo atau mau beda kampus?" 


"Sepertinya bakalan satu kampus dengan Bang Ji, Mami. Tahu sendiri kalau Bang Ji enggak akan biarkan aku kuliah di tempat lain." Chila menyahut sambil menyendok rujak ke dalam mulutnya.


"Mami tahu itu. Oh, iya. Papa juga udah siapkan rumah untuk kalian tinggal. Kebetulan ada tetangga kita yang mau pindah rumah ke luar negeri dan rumahnya dijual. Makanya Papa punya rencana buat ambil rumah itu."


Chila segera menatap Mami mertuanya. "Tapi, rumah di komplek ini pasti sangat mahal.  Enggak enak kalau harus merepotkan papa dan mami," ujar Chila tidak enak hati. Perempuan itu tidak nyaman jika harus merepotkan keluarga suaminya terus menerus.


"Namanya juga dari orang tua untuk anak. Nanti kamu juga bakalan tahu saat anak-anak kamu sudah dewasa, dan menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kamu. Itu yang dilakukan Papa saat ini," timpal Nia tersenyum santai.


Chila menganggukkan kepalanya dan menunduk. Dalam pikirannya terbayang hari-harinya di desa selama 3 tahun terakhir. Hal inilah yang akan ia rindukan jika ia meninggalkan Desa tempat mereka tinggal.


Sore harinya Bima keluar dari kamar kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan paha  Nia sebagai bantalnya.


"Enggak cukup tidur dari tadi, Mas? Mau tambah tidur lagi?" Nia menunduk hanya untuk melihat wajah mengantuk sang suami.


"Cukup, Sayang. Cuma mas masih merasa kantuk aja dikit."  Bima mengucek matanya yang langsung ditahan oleh sang istri.


"Jangan dikucek, Mas. Bisa-bisa mata kamu sakit."


"Cium, Mi. Biar enggak mas kucek."


"Modus,"  cibir sebuah suara dari belakang.


Nia menoleh ke belakang dan mendapati sosok Kello berdiri dengan ransel yang menggantung di pundaknya. 


"Kello, sejak kapan kamu di situ?"


Kello tidak langsung menjawab tapi ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sebentar. Kemudian, dia berkata, "baru dua menit."


"Ya udah kalau begitu kamu langsung ke kamar terus ganti baju. Nanti mau ikut jenguk uncle Dirga 'kan?"

__ADS_1


"Iya, Mi. Kalau begitu aku ke atas dulu." Kello naik ke atas di mana kamarnya berada. Sementara Nia dan Bima masih bermalas-malasan di sofa yang menghadap ke arah layar televisi.


Keduanya berniat untuk pergi ke rumah sakit dan Nia akan pulang bersama anak-anaknya. Wanita itu tidak berniat untuk menginap di rumah sakit lagi.


__ADS_2