
๐น๐น๐น๐น๐น
Kenzo membawa keponakan cantik dan posesifnya itu masuk ke dalam kamar yang ia tempati ketika ingin beristirahat.
"Rubah nakal," gemasnya seraya mencubit kedua pipi chubby Qiara tanpa ampun.
"Haha, ampun Uncle." Jerit gadis cantik itu meminta untuk du lepaskan
Kenzo sangat merindukan keponakannya tersebut, itu sebabnya ia tidak berani membuat Qiara sedih apalagi cemburu hanya karena hadirnya sang kekasih hati yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Aunty Maira pasti kesal banget," kekeh si cantik tanpa rasa bersalah sudah membuat si ibu hamil cemburu dan berakhir merajuk.
Qiara tahu karena ponsel sang paman terus berbunyi namun tidak sekali pun di angkat pria itu.
"Angkat saja Uncle!" serunya mulai kasihan.
"Yakin boleh nih?" tanya Kenzo memastikan.
Pasalnya ia tahu betul seperti apa keponakannya itu, sangat posesif dan cemburuan melekat dalam dirinya.
"Ya, katakan saja Uncle lagi bantuin Qia ganti baju." Jawabnya asal membuat Kenzo sontak membulatkan kedua matanya terkejut
"Hey, jawaban macam apa itu?" Protesnya tidak suka
"Uncle kenapa?" tanya Qiara tertawa.
"Kamu yang kenapa?" kesalnya hendak berlalu keluar dari kamar tetapi urung di lakukan setelah mendengar kalimat ancaman dari gadis itu.
"Uncle berani keluar dari sini, jangan salahkan Qia bila kelakuan Uncle saat mencium Letta sampai ke telinga Aunty Maira." Ancam Qiara
Dari mana dia tahu? Jelas gadis itu punya koneksi di beberapa tempat pusat perbelanjaan.
Dan kelakuan Kenzo yang berani mencium seorang gadis kecil merupakan keponakan Maira sendiri tentu diluar perkiraan.
"Kamu bicara apa?" pria itu mengelak tidak mau berkata jujur.
"Mana ada Uncle cium anak orang, bukannya kamu yang tadi cium Uncle tanpa permisi."
"Eh, beda lah Uncle." Protes Qiara membela diri
"Sama ajah," sahut Kenzo tersenyum menyeringai.
Gadis cantik itu jelas tidak terima, ada perbedaan antara caranya mencium Kenzo dengan ciuman yang pria itu lakukan pada seorang gadis bernama Letta.
"Kata siapa sama? Aku cium pipi kiri dan kanan doang, ngga kayak Uncle main nyosor cium bibir anak perawan orang." Balas Qiara telak berhasil membungkam sang paman
"Nah kan, ngga bisa jawab." Kekehnya penuh kemenangan
"Jahara sekali kamu," ujar Kenzo merenggut kesal.
"Ngga usah cemberut gitu, mendingan kita balik ke Aula." Qiara ingin keluar namun tangannya di tahan
__ADS_1
"Peluk boleh?" pria itu meminta ijin.
Dengan tersenyum Qiara mengangguk pelan seraya tersenyum sangat manis.
Putra tunggal yang merupakan anak dari Kakak kandung Mami Ayshila tersebut memiliki banyak beban di pundaknya, tanpa ada yang tahu kecuali hanya saat bersama Qiara.
Sebab, Kenzo akan dengan senang hati menceritakan semua keluh kesahnya pada sang keponakan tanpa ada yang harus ia tutupi.
Pelukan sayang Qiara membuat pria tampan itu merasa nyaman dan tenang seketika. Benar kata si kembar, jika kehadiran si bungsu kesayangan Tuan besar Rafindra tersebut. Menjadi obat penenang dan penyemangat bagi seluruh anggota keluarga maupun orang lain termasuk si kecil Erzhan.
Berbicara soal Tuan muda kecil Bramantya tersebut, sepertinya Qiara melihat kendaraan milik Faraz berada di lobi parkiran.
"Uncle," panggilnya seraya mengusap lembut punggung Kenzo yang setengah tertidur saking nyamannya.
"Hmm, ada apa?" tanya pria itu mendongakkan wajahnya yang kedua mata terlihat memerah kerana mengantuk.
"Tidak jadi, Uncle tidur lagi ajah." Jawab Qiara merasa kasihan sudah mengganggu tidur Kenzo
Sejak kecil, pria tampan itu memiliki tanggung jawab yang besar setelah mengetahui Nyonya Asyhila kembali hamil.
Wanita cantik yang merupakan Bibi kandungnya tersebut menikah dengan Tuan besar Rafindra, hubungan mereka pun bisa di katakan sangat dekat.
Akan tetapi, kabar yang beredar luas membuat hubungan adik kandung dari sang Mommy tercinta itu sempat hilang kontak.
Beruntung Kenzo memiliki akses luas demi mencari keberadaan anggota keluarga Rafindra, dan dari situlah awal mula ia dekat dengan Qiara sampai detik ini.
๐น
Setengah jam kemudian, Qiara datang bersama Kenzo saling bergenggaman tangan seperti ayah dan anak.
"Uncle kira bakal nambah tingginya, Queen." Kekeh Kenzo mengacak rambut gadis cantik itu gemas
"Ngga di kasih sama Tuhan. Katanya udah begini ajah lebih aman dan imut pastinya," sahut Qiara dengan percaya diri.
Kenzo menggeleng pelan, ada rasa bahagia melihat keponakan kesayangannya itu tertawa ceria.
Keadaan di dalam Aula semakin ramai, banyak tamu undangan terus berdatangan tanpa henti.
.
.
.
"Mommy ..." teriak Erzhan memanggil Qiara dari arah sisi kanan dimana semua anggota keluarganya berada.
Beberapa pasang mata ikut menoleh ke arah gadis cantik itu karena mendengar panggilan dari Erzhan.
"Loh, Abang kesini bareng siapa?" tanya Qiara terkejut melihat anak tampan itu berada di tengah-tengah kerumunan tamu undangan.
"Daddy mu ada?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Erzhan menunjuk ke arah sisi sebelah kiri dimana Faraz tengah sibuk mengobrol dengan beberapa pengusaha.
"Abang kangen Mommy Qiara," bisiknya pelan meminta di gendong.
"Mommy susah meluknya sayang," kekeh Qiara seraya memutar tubuhnya.
Erzhan tertawa lepas melupakan sekarang gadis cantik di hadapannya itu memakai pakaian yang sulit bergerak leluasa.
"Abang lupa Mom," ujarnya memilih tangan Qiara di gandeng menuju anggota keluarga Rafindra.
Dari arah jauh ternyata Faraz diam-diam memperhatikan interaksi keduanya ikut tersenyum bahagia.
"Betapa beruntungnya aku dan putraku bila kamu lah sosok malaikat dalam hidup kami," gumamnya lirih tanpa sadar setetes cairan bening jatuh dari ujung matanya.
"Sabar, kalau jodoh pasti kalian bersatu." Ucap Tara mengusap punggung sahabatnya tersebut.
"Aku tidak yakin," lirih Faraz dilema.
Pernikahannya dengan Sandra belum ada titik terang bagaimana cara menyelesaikannya.
"Aku bukan pria brengsek yang lepas tanggung jawab begitu saja, meski hatiku jauh lebih tersiksa menjalani hubungan ini."
"Salahkan saja mengapa wanita itu begitu tega padamu?" kesal Tara yang sampai detik ini sangat membenci Sandra apapun keadaannya.
"Kamu itu manusia, bukan alat pencetak uang apalagi tidak memiliki perasaan."
Tara muak setiap kali melihat Faraz berada di antara pilihan yang sulit hanya karena belum memiliki alasan tepat berpisah dengan wanita cantik bernama Sandra.
Bukan masalah wanita itu kurang baik, tetapi kedua orang tuanya lah yang membuat benteng besar sebagai penyangga agar Faraz tidak memiliki kuasa untuk menceraikan Sandra.
Dan perihal mengapa Tuan dan Nyonya besar Rafindra sangat akrab dengan orang tua Faraz, karena dulu sewaktu kepala keluarga Bramantya masih hidup. Mereka sengaja melakukan perjanjian pernikahan antara dua keluarga besar, setelah putra dan putri mereka tumbuh dewasa maka perjanjian itu harus segera di laksanakan.
Akan tetapi, karena sebuah kejadian tidak terkira membuat semuanya hancur berantakan. Tersisa rasa penyesalan dari keluarga besar Rafindra, karena mereka pernah menagih janji tersebut pada keluarga Bramantya namun harus mengalami kekecewaan luar biasa
"Kalau aku poligami boleh ngga sih?" tanya Faraz tiba-tiba.
Plak
"Aw, sakit. Ngapain lo pukul gue, haa?"
Tara menatap tajam ke arah Faraz.
"Gila ya lo, ngga ada habis-habisnya perasaan bicara ngaur." Protesnya jelas kaget
"Tapi aku menginginkannya," gumam Faraz menyeringai tipis.
"Eh, jangan macam-macam lo. Ngga takut mati kayaknya ni anak."
Tara bergidik ngeri langsung membayangkan kenekatan Faraz yang katanya ingin menjadikan Tuan putri kesayangan Tuan besar Rafindra sebagai istri kedua.
"Mau gue culik anak gadisnya nanti malam sepulang dari pesta." Faraz berjalan cepat meninggalkan sahabatnya yang syok
__ADS_1
"Jangan macam-macam, Faraz. Woy, lo mati di tangan gue kalau berani ngelakuin itu."
๐๐๐๐๐