Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 122 ~ Kejahilan Erzhan


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Menjelang pagi, Qiara tidak bisa lagi tidur usai menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.


Bayangan wajah sedih wanita cantik yang berada jauh di Apartement sangat mengganggu pikirannya.


"Apa perlu aku hubungi Sandra ajah kali ya?" gumamnya seraya menimbang-nimbang keputusan untuk memberitahu sahabatnya tersebut.


Tinggal wanita itu yang belum di beritahu perihal masalah pertunangan Qiara dan Faraz.


Pihak keluarga pun tidak ada yang melarang Qiara untuk mengatakannya pada Sandra, mengingat keputusannya ada pada gadis itu sendiri.


Cukup lama Qiara berdiam diri dengan isi pikirannya yang teramat rumit menurutnya.


Langkah terakhir, gadis itu akhirnya tetap menghubungi Sandra untuk mengatakan apa yang sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari oleh keluarganya.


Qiara segera mencari kontak sahabatnya yang kebetulan berada paling atas sebelum kontak milik Faraz tentunya.


Hanya dua orang tersebut yang selalu mengganggunya tanpa kenal waktu, meski terkadang Neta lah yang harus turun tangan menjadi juru bicara sekaligus menyampaikan pesan.


Sambungan telefon langsung terhubung hanya sekali berdering.


[Hallo, Qia]


Terdengar suara serak khas orang bangun tidur ketika menyapa.


"Eh, kamu masih tidur ya? Duh maaf aku ganggu," kaget Qiara merutuki kebodohannya berani menghubungi Sandra di waktu terbilang masih gelap.


[Ngga juga, aku sempat bangun untuk sholat. Tapi ketiduran lagi habis baca sholawat]


Hati Qiara mencelos sakit kala mendengar tawa kecil Sandra di seberang telefon.


"Kamu yakin dengan keputusan mu waktu itu, Raa?" tanyanya sembari menahan sesak di dada.


"Aku jahat banget ya, masuk tanpa permisi ke dalam hidup rumah tangga kalian."


[Ngaco kamu, jangan ngomong kayak gitu bisa kan?]


Sandra yakin dengan keputusannya untuk bercerai, meski ada tersisa sedikit rasa cemburu dan rindu pada suaminya dan putranya.


[Aku ikhlas, Qia]


[Tinggal menghitung hari putusan dari pengadilan akan di keluarkan, mungkin aku tidak akan berada di negara ini lagi. Semua telah di atur Papa dan Mama mertuaku dari jauh-jauh hari]


"Dan kamu terima semua keputusan mereka, begitu?" tanya Qiara sedikit kesal.


Sandra tertawa nyaring, sesekali menggoda sahabat terbaiknya tersebut.


[Besok hari pertunangan kalian bukan?]


"Eh. Dari mana kamu tahu?" kaget Qiara tidak percaya.


[Faraz dan Erzhan telefon aku pas udah lewat tengah malam, banyak yang mereka ceritakan termasuk acara pertunangan kalian]

__ADS_1


[Aku sangat bahagia mendengarnya, sebab itu merupakan keinginan Erzhan sewaktu aku masih tinggal di rumah Faraz]


[Kamu pasti ngga percaya kan?]


Tebak Sandra rasanya ingin sekali melihat raut wajah Qiara saat ini.


"Sepertinya otak kalian bermasalah," ketus si bungsu kesayangan Tuan besar Rafindra.


"Terserah kamu, males rasanya ngobrol sama kamu."


[Ya udah kalau males tinggal di matiin sambungan telefonnya aman, Qia]


"Au, aaa. Kesal aku tuh," omel Qiara langsung mematikan sambungan telefon.


Masih sempat-sempatnya wanita cantik yang mungkin saja tengah berdebat dengan hati dan pikirannya tertawa sebelum telefon berakhir.


.


.


.


Jam menunjukkan angka 06, tanpa menaruh curiga pada anggota keluarganya.


Qiara bergegas keluar dari kamar menuju arah dapur untuk mengisi perutnya yang mendadak lapar, sehabis berbicara dengan Sandra.


Keadaan Vila yang terlihat sunyi, membuatnya tidak berpikiran aneh-aneh. Hingga memasuki area dapur baru lah suara bising dari arah meja makan berhasil mengejutkannya.


Sudah ada Tuan Rafin, Nyonya Ayshila, Si kembar, Neta, Tara, Faraz, Erzhan dan pasangan suami istri yang sepertinya belum lama tiba di Vila.


Mereka tersenyum ke arah Qiara, terutama si kecil tampan yang meminta di peluk saking rindunya pada sang Mommy kesayangan.


Semalam Erzhan tidak di ijinkan tidur bersama Qiara, mengingat siang nanti akan di langsungkan acara pertunangan.


Mereka tidak ingin waktu istrirahat gadis cantik itu berkurang, terlebih Erzhan sangat susah di ajak tidur bila sudah bersama Mommy nya.


"Abang udah mandi?" tanya Qiara sudah memindahkan Erzhan di atas pangkuannya.


"Udah dong, tadi mandi bareng Daddy dan Paman Tara." Jawab anak tampan itu sembari tersenyum manis


"Tadi Daddy sama Paman saling lihat-lihat apa ya?" lanjutnya seolah mengingat sesuatu.


Faraz dan Tara langsung saling tatap dengan jantung berdetak kencang.


"Lihat apa?" tanya Qiara ikut di buat penasaran.


Otaknya yang masih polos tentu menganggap perkataan Erzhan biasa saja.


"Abang ingat," seru anak tanpan itu bertepuk tangan.


"Daddy dan Paman Tara lagi lihat burung yang ada bulunya," kekeh Erzhan antara sadar dan tidak sadar ucapannya berhasil membuat semua yang ada di meja makan sampai tersedak air minum.


Namun, tidak dengan Qiara yang dasarnya masih sangat polos dan menganggap burung yang Erzhan maksud adalah burung sungguhan.

__ADS_1


"Kan, burung memang ada bulunya, Abang." Gemas si cantik belum sadar


"Duh, ini burungnya beda loh. Mommy," kekeh Erzhan begitu jahil.


"Masa sih? Bedanya apa coba, setahu Mommy yang namanya burung pasti ada bulunya lah." Heran Qiara menatap anak tampan itu bingung


Sementara kedua pria tampan yang menjadi bahan kejahilan Erzhan sudah bersembunyi di balik kedua tangan yang menutup rapat wajah mereka saking malunya.


Nasib mengajak Erzhan mandi bersama sudah pasti tidak akan beres akhirnya, tetap saja ada yang membuat anak itu berulah sampai korban atas kejahilannya memohon untuk berhenti.


"Yakin Mommy pengen tahu?" Qiara mengangguk pelan meski sebenarnya ragu.


"Daddy, Paman Tara. Boleh ya Abang kasih tahu Mommy?"


Bukannya memberi jawaban pada sang Mommy, yang Erzhan lakukan justru bertanya ke arah dua pria tampan yang kini wajah mereka sudah memerah bak kepiting rebus.


Tampang polos tidak berdosanya sangat mengesalkan di mata Faraz juga Tara.


"Abang, jangan aneh-aneh kenapa sih?" kesal Tara ingin rasanya membekap mulut kecil Erzhan.


"Tahu nih, di kira bagus apa becandanya." Cebik Faraz ikut menimpali


Qiara yang semakin penasaran tentu mendesak Erzhan agar cepat mengatakannya.


Dan mau tidak mau anak itu akhirnya menjawab pertanyaan sang Mommy kesayangan.


"Itu loh, Mommy. Sebenarnya burung yang Abang bilang tadi, ada di Daddy sama Paman Tara," jawabnya pelan yang sedetik kemudian langsung berlari ke arah Tuan muda pertama Rafindra meminta perlindungan.


"Beneran ada sama kalian burungnya?" tanya Qiara tanpa menaruh curiga.


Raut wajahnya yang kelewatan polos tentunya membuat Faraz dan Tara membuang nafas kasar sembari mengacak rambut frustasi.


"Abang kebangetan ya kalau jahil," omel Faraz hendak meraih putranya namun Zaidan langsung melarangnya dengan tatapan mata tajam.


"Mau apa kamu?" tanya Tuan muda pertama Rafindra tidak bersahabat.


"Kemarikan putraku! Bukan urusanmu melarangku sekarang," kesal Faraz kembali meraih tubuh mungil Erzhan yang tertawa geli.


Pria itu berhasil merebut putranya yang sudah memohon ampun saking gelinya di bagian perut karena ulah Tara.


"Lah, ini beneran ngga ada yang kasih tahu sama aku gitu sebenarnya burung apa yang Abang bilang tadi?"


Semua orang menatap ke arah Qiara dengan ekspresi menahan tawa.


"Ngga usah di cari tahu lebih lanjut lagi Mommy," jerit Erzhan masih berada dalam gendongan Daddy nya.


"Abang bisa kehilangan jajan bulanan dari Paman Tara dan Daddy."


Perkara burung saja membuat ruang makan begitu heboh sebelum waktunya sarapan pagi.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


Dahlah, hilang akal mah aku nulis ini bab๐Ÿคฃ

__ADS_1


__ADS_2