Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
Bab 18


__ADS_3

Restoran J&J adalah sebuah restoran kelas atas dengan pelayanan VIP. Banyak pelanggan yang akan datang dan pergi hingga restoran tersebut tidak pernah terlihat sepi. Selain pelayanannya yang cukup baik, rasa masakan di restoran tersebut juga merupakan yang terbaik. Tidak pernah mengecewakan pelanggan. Hal itu menjadikan restoran J&J digemari oleh kalangan atas.


Malam ini Nia sengaja menemani Bima ke restoran J&J karena akan ada pertemuan besar antara Bima dan beberapa pengusaha lain. Ini merupakan agenda rutin yang akan dilakukan 3 bulan sekali antar perusahaan yang menjalin kerjasama dengan perusahaan Bima.


Ada total lebih dari 10 pengusaha yang di antaranya merupakan teman-teman Bima. Semua anggota membawa pasangan mereka masing-masing. Sama halnya dengan Bima yang membawa istrinya.


Nia sendiri sudah biasa ikut ke pertemuan seperti ini dengan Bima. Wanita itu tidak merasa jika dirinya tidak cocok untuk mendampingi Bima. Nia justru merasa ia adalah pasangan yang serasi dan cocok untuk suaminya. Meskipun, seringkali satu atau dua orang istri pengusaha yang merupakan anggota Bima mencibirnya dari belakang. Dia tidak peduli dengan ucapan orang lain selama orang itu tidak mengucapkannya secara langsung di hadapannya, maka Nia akan membiarkannya. Lain lagi jika orang itu berani mengucapkan hal buruk di belakangnya, Nia tidak akan repot-repot untuk mengurusinya.


Sama seperti malam ini. Saat Nia pergi ke toilet dan berada di salah satu bilik kamar mandi, wanita itu mendengarkan suara dua orang perempuan lain yang sedang membicarakan dirinya. Dia melipat tangannya di dada sambil bersandar pada dinding tembok mendengar apa yang dibicarakan mereka di luar.


"Istrinya pak Bima semakin sombong dari hari ke hari. Gayanya saja seperti orang yang sudah di atas langit."


Suara wanita pertama yang berbicara terdengar serak. Wanita itu berbicara dengan temannya yang sedang memasang lipstik di sebelahnya.


"Iya. Apanya yang harus dibanggakan dari perempuan yang merebut suami orang? Jadi istri kedua lagi." Temannya yang memiliki suara cempreng membalas. Nada bicaranya terdengar sangat sinis hingga orang berpikir jika mereka memiliki permusuhan yang teramat sangat besar.


"Aku lihat tadi dia dengan bangganya membawa tas mahal itu. Dia pikir hanya karena dia istrinya pak Bima, sampai harus membawa tas mahal ke pertemuan ini."


"Aku juga lihat tadi gaunnya. Itu pasti sangat mahal. Kalau istri kedua memang begitu, ya? Barang-barangnya pada branded dan mahal."


"Apa gunanya kalau punya barang mahal kalau jadi istri kedua? Perempuan enggak benar enggak akan hidup bahagia."

__ADS_1


Nia tersenyum miring mendengar apa yang diucapkan oleh kedua perempuan itu. Kedua perempuan itu memang tidak akan pernah menyangka jika orang yang mereka bicarakan berada di kamar mandi yang sama dengan mereka.


Nia tahu jika kedua perempuan itu memang iri dengan apa yang ia bawa malam ini. Semua barang yang ia miliki tentu saja diberikan oleh Bima. Jadi Nia harus memakainya. Memangnya ada yang salah memakai barang pemberian suami sendiri? Lagipula, Nia merasa tidak pernah merebut suami siapa pun. Dia tidak akan membalas apa yang dilakukan dua perempuan itu.


Setelah kedua orang itu pergi dari toilet, Nia keluar kemudian mencuci tangannya di wastafel. Tatapan mata wanita itu mengarah pada kaca yang memantulkan bayangannya. Nia tersenyum dingin dan melangkah keluar setelah mengeringkan tangannya.


"Eh, Bu Nia. Lama sekali ke kamar mandinya. Bu Niken dan Bu Ajeng saja sudah kembali lebih awal," tegur Bu Retno menatap Nia. Jelas tadi yang pertama kali pergi ke kamar mandi adalah Nia, namun yang kembali lebih awal justru Bu Niken dan Bu Ajeng.


Nia tersenyum tipis kemudian mendudukkan dirinya di kursi. Wanita itu menatap Bu Retno kemudian beralih pada dua wanita yang duduk di seberang mejanya.


"Saya memang lama di toilet. Sambil menguping orang yang membicarakan saya di belakang saya." Nia menjawab dengan santai. Wanita itu dengan sengaja mengangkat hand bag warna biru yang menyesuaikan dengan warna gaunnya kemudian meletakkannya di tengah-tengah meja. "Ibu-ibu tahu enggak, ini tas dibelikan oleh suami saya. Harganya mungkin sekitar 230 juta gitu." Nia tersenyum dengan wajah pamer membuat wajah Bu Niken dan Bu Ajeng bengkok.


"Iya, Bu. Saya juga punya itu. Tapi, warna merah. Nyari yang gold susah karena stock memang enggak banyak," celetuk Bu Ningsih. "Tapi, Bu, jangan terlalu merendah gitulah. Harga tas itu bukan 230 juta. Tapi harganya 560 juta. Saya kemarin belinya. Mungkin ini karena limited edition."


"Saya enggak tahu, Bu. Ini dikasih sama suami saya. Ada yang bilang, tas ini kemahalan untuk dibawa ke acara seperti ini." Nia barujar santai sambil menatap kedua wanita yang sudah membicarakannya.


"Huh, justru di acara seperti ini yang mengharuskan kita untuk bawa barang mahal. Ini namanya citra kita. Ya kali, mau ke perkumpulan suami, kita bawa tas murah. Intinya, kalau enggak mampu beli, jangan nyinyir orang di belakang. Kasihan, kelihatan enggak mampunya." Bu Hani adalah salah satu wanita dengan kesombongan di atas langit. Selain sombong dan angkuh, wanita itu juga selalu bicara blak-blakan. Dia tidak akan peduli jika orang lain akan sakit hati dengan ucapannya.


Ibu-ibu yang lain menutup mulut mereka berusaha menahan tawa akan apa yang diucapkan oleh Bu Hani. Mereka adalah kumpulan ibu-ibu sosialita yang tahu jelek buruknya komunitas pertemanan mereka. Ibu-ibu ini juga tidak bodoh jika saat ini mereka sedang menyindir dua orang wanita yang diduga orang yang dibicarakan oleh Nia.


Sementara dua orang wanita hanya bisa menunduk dengan tangan mengepal di bawah meja. Kali ini mereka kalah telak karena sudah membicarakan Nia dan ketahuan oleh wanita itu sendiri.

__ADS_1


Setelah acara perkumpulan selesai, Nia kemudian menggandeng lengan Bima melangkah keluar dari restoran diikuti oleh pasangan lainnya.


"Semoga kita bisa bertemu lagi 3 bulan kemudian." Bima berujar dengan santai pada teman-temannya.


"Iya, Pak. Senang dengan pembahasan kita malam ini," balas Pak Riki sambil tersenyum hangat.


Bima membalas senyumnya kemudian masuk ke dalam mobil setelah membukakan pintu untuk Nia. Begitu juga dengan pasangan yang lain kembali ke mobil mereka dan meninggalkan plataran restaurant.


Malam ini menjadi pelajaran bagi semua orang jika jangan membicarakan orang lain di tempat umum meskipun di toilet sekalipun karena bisa saja dinding toilet pun memiliki telinga.


__________


Open PRE ORDER untuk pdf yang terbit di *** karya Racan ya bep. Cerianya seru sih tapi bukan yg menye2. Ceritanya hanya tersedia dalam bentuk pdf aja ya.


Judul.


1: Istri Simpanan Pria Dingin harga 40


2: Menolak Turun Ranjang 45.


Promo untuk dua pdf harga 70k. Berlaku untuk 10 orang. Beli satuan, harga normal. Beli promo, harga segitu selama masa PO.

__ADS_1


Bagi yang mau hubungi 082319841041


__ADS_2