
Sandra merasa sangat bahagia, akhirnya bisa keluar jalan-jalan bersama suami dan putranya.
Terutama Erzhan. Sebab ada begitu banyak yang ingin wanita cantik itu tanyakan padanya. Tetapi mengingat keduanya tidak begitu akrab sebagai pasangan ibu dan anak, rasanya sedikit sulit bila Sandra melakukan sesuatu tanpa berpikir lebih dulu.
Putranya bukan tipe anak yang terbuka apalagi mau bercerita banyak hal pada orang lain, sejauh ini hanya Faraz yang lebih tahu seperti apa Erzhan. Dan mungkin saja Qiara menjadi orang berikutnya setelah pria itu.
Timbul rasa iri dan cemburu mengingat Sandra lah ibu kandung dari Erzhan, tetapi mengapa justru wanita lain yang paling tahu karakter putranya tersebut.
Dia telah mendapatkan karma atas semua perbuatan buruknya di masa lalu, menyesal pun tidak ada gunanya selain berusaha memperbaiki diri dan berjanji untuk tidak menyimpan pikiran negatif terhadap orang lain.
Lamuan Sandra seketika buyar, kala tangan mungil sang putra menyentuh pelan kedua pipinya.
"Mama Sandra kenapa?" tanya Erzhan menatap polos wanita tersebut.
"Tadi ada Paman badan tinggi dan besar kasih tahu, katanya Daddy mendadak ada urusan. Jadi tinggal kita berdua saja di sini," imbuhnya.
Sendra tampak mengerutkan dahinya bingung.
"Batal dong kita pergi belanja bertiga?" keluhnya merasa sediki kecewa.
"Daddy kan, selalu sibuk tiap harinya. Mungkin ada masalah penting, makanya ngga bisa ikut kita jalan-jalan." Erzhan memberi penjelasan karena tidak ingin membuat sang mama kecewa
__ADS_1
"Mama Sandra ngga akan marah cuma karena perginya Daddy kan?"
Sandra menggelengkan kepalanya cepat.
"Ngga Abang. Lagian cukup kita berdua ajah udah buat Mama senang dan bebas mau ngelakuin apapun." Kekehnya di barengi tawa Erzhan yang merasa lega usahanya berhasil
"Kita masuk ke tempat bermain ya?" ajak si kecil yang langsung di iyakan oleh Sandra
Keduanya langsung masak ke area permainan yang sengaja di kosongkan sebelum cucu kesayangan keluarga Bramantya tersebut sampai di pusat perbelanjaan.
Erzhan tampak senang bermain banyak permainan yang ia sukai, dengan Sandra berada tidak jauh mengawasinya jangan sampai terjadi apa-apa.
.
.
.
"Sorry banget Qia, sayang. Kayaknya hari ini batal ke toko bukunya, gimana kalau lain waktu ajah ya."
Hanya kalimat tersebut yang Neta ucapkan sebelum benar-benar kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Qiara mau marah pun tidak jadi, mengingat teman dekatnya terkenal sangat sibuk meski bukan di negara sendiri.
Beruntungnya ada telefon masuk dari calon suami masa depannya beberapa menit yang lalu.
Yang awalnya hanya pura-pura minta di jemput, nyatanya pria tampan itu langsung setuju karena mendengar satu nama tidak asing paling ia benci.
Senyum lebar terukir indah di wajah cantik Qiara yang tanpa sengaja melihat sebuah mobil tidak asing tengah melaju dalam kecepataan sedang menuju ke arahnya.
Gadis cantik itu langsung berdiri setelah bosan duduk sendirian di kursi panjang depan toko buku.
Tin tin tin
Bunyi klakson terdengar sedikit nyaring, ulah kejahilan Faraz yang sudah tertawa mendapati raut wajah masam calon istrinya tersebut.
"Wajahnya kenapa kusut begitu?" kekehnya setelah mobil berhenti tepat di depan Qiara.
"Ayo naik! Keburu hujan," ledek Faraz berhasil menyulut emosi putri kesayangan Tuan besar Rafindra saking kesalnya di tinggal begitu saja oleh Neta.
Jeritan minta ampun terdengar lumayan kuat, tanpa rasa kasihan Qiara menggigit lengan kanan Faraz.
"Ampun sayang."
__ADS_1
๐๐๐๐๐