Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 129 ~ Abang Kenapa


__ADS_3

Faraz kembali lagi ke pusat perbelanjaan dimana Erzhan dan Sandra masih asyik berbelanja sampai lupa waktu saking bosannya menunggu kedatangan pria itu.


Beruntung tidak ada yang melaporkan jika sebenarnya Faraz bukan ada urusan pekerjaan melainkan pergi ke toko buku untuk menjemput Qiara sekalian mengantarnya pulang ke kediaman Rafindra.


Menjadi Erzhan tidak lah mudah, berada di tengah-tengah sebagai perantara dan penenang tanpa harus ada yang tersakiti.


Anak tampan itu masih berusaha untuk lebih dekat lagi dengan ibu kandungnya sendiri, meski rasanya sedikit sulit mengingat keduanya sengaja di pisahkan dalam kurun waktu yang lama.


Tinggal dalam satu atap yang sama, tidak menjadikan Sandra bebas melakukan apapun termasuk bertemu dengan putranya karena unsur kesalah pahaman yang berkepanjangan.


Sebagai seorang Ayah dengan segala pertimbangan dan mampu menilai sejauh mana kebaikan hati dari wanita cantik yang ia nikahi dan berhasil melahirkan putra kecil yang tampan.


Faraz tidak ingin mengambil resiko yang akan menyakiti mental putra semata wayangnya, sebab ia tahu siapa saja orang-orang yang berada di belakang istrinya untuk melakukan tindakan kejahatan tanpa mengenal siapa yang akan mereka sakiti terutama anak kecil seperti Erzhan.


Jika boleh memilih, akan jauh lebih baik dulu Faraz langsung menceraikan Sandra demi keselamatan anggota keluarganya. Tetapi, ia masih lah seorang manusia yang punya hati dan perasaan, tidak bersikap egois hanya untuk kepentingan diri sendiri.


Tidak masalah ada berapa banyak total jumlah uang yang pria itu keluarkan selama menjadi anak menantu dan suami.


Kini semuanya tinggal cerita yang mungkin sesekali akan teringat setelah putusan dari pengadilan sudah keluar dan status Faraz berubah menjadi Duda anak satu dan bukan lagi seorang suami yang rela bertahun-tahun di manfaatkan kedua mertuanya sendiri.


.


.


Lamunan Faraz seketika buyar mendengar suara anak kecil tengah memanggilnya berkali-kali.


Pria itu sudah tiba di lobi parkiran, tetapi belum juga turun menyusul anak dan istrinya di dalam pusat perbelanjaan.


Kehadiran Erzhan membuat Faraz terkejut dengan alis mengkerut setelah sadar tidak ada orang lain yang menemani anak tampan itu.


"Loh, Abang kesini sama siapa?" tanyanya pada sang putra yang meminta agar pintu mobil segera di buka.


"Mama Sandra mana? Kok ngga sama Abang kesini?"


Lagi-lagi pertanyaan Faraz tidak di jawab oleh putranya.


Entah apa yang terjadi selama pria itu pergi menjemput Qiara lalu mengantarnya pulang yang menurutnya tidak memakan waktu sampai satu jam lamanya.


Apa terjadi sesuatu selama aku pergi? Faraz bertanya dalam hati


Di tatapnya Erzhan penuh kasih sayang tidak lupa mengusap lembut pucuk kepalanya agar jauh lebih tenang.


Faraz tidak akan bertanya apapun lagi, tetapi ia tahu siapa yang bisa membuat putra kesayangannya itu mau terbuka dan mengatakan semuanya.


Hari yang semakin siang, kemacetan jalanan ibu kota menguji kesabaran pria itu agar tidak sampai mengeluarkan kata-kata yang kasar sepanjang perjalanan pulang menuju kediaman Rafindra.

__ADS_1


Ya. Si Tuan muda Bramantya yang sebentar lagi akan menjadi Duda tersebut, sengaja membawa Erzhan pulang ke rumah calon istrinya.


Tentu atas persetujuan Qiara terlebih dahulu, jika tidak. Mana boleh Faraz sesuka hati mengantar Erzhan tanpa memikirkan resiko yang ada.


Untuk Sandra, biarlah menjadi urusannya nanti. Sekarang yang jauh lebih penting bagaimana membuat Erzhan kembali tersenyum dan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


.


.


Tidak sampai dua puluh menit, Faraz tiba di kediaman Rafindra bersama putranya yang tertidur pulas.


Hatinya mencelos sakit mendapati ada sisa kebasahan di ujung mata anak tampan itu.


"Abang kenapa?" gumam pria itu lirih seraya menatap sendu wajah polos Erzhan yang tertidur.


Tidak mau membuang waktu, dengan perasaan campur aduk Faraz turun dari mobil seraya menggendong putranya, langsung masuk ke dalam rumah setelah pelayan membukakan pintu.


Di ruang tengah, Qiara sudah menunggu kedatangan mereka dengan perasaan gelisah.


Melihat Faraz muncul sambil menggendong Erzhan yang tertidur pulas, sontak gadis cantik itu mendekat ke arah pasangan ayah dan anak tersebut.


"Abang kenapa?" tanya Qiara khawatir.


"Ketiduran tadi di mobil," jawab Faraz dengan tersenyum tipis.


Qiara menurut tanpa bertanya, nanti setelah meletakkan calon anak sambungnya di kamar. Baru lah dia akan meminta penjelasan pada calon suami masa depannya tersebut.


Ceklek


Pintu kamar di buka lebar oleh Qiara, mempersilahkan Faraz masuk dan membaringkan Erzhan di tengah ranjang king size miliknya.


Di rasa anak tampan itu tidak terganggu, Qiara langsung mengajak Faraz keluar dari kamar menuju ruang perpustakaan.


Keduanya berjalanan beriringan sampai tiba di depan pintu ruangan bercat putih tersebut.


"Silahkan masuk!" ucap Qiara tanpa menoleh sedikit pun.


Pintu di biarkan tetap terbuka, sadar mereka belum menjadi pasangan suami istri dan baru mengadakan acara pertunangan saja.


Qiara duduk di sofa single, begitu pun dengan Faraz ikut duduk di sofa panjang saling berhadapan.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya gadis itu langsung tanpa basa basi.


"Kenapa Abang matanya bengkak?"

__ADS_1


Faraz menggelang pertanda tidak tahu apapun.


"Aku ngga tahu, waktu tiba di sana belum sempat masuk ke dalam. Kaget lihat Abang udah di luar mobil," jelasnya di barengi kekehan.


Qiara sampai mengernyitkan dahinya bingung.


"Itu gimana konsepnya coba? Jangan bilang kamu melamun dulu ya," tebaknya menatap penuh selidik ke arah pria tampan yang akhirnya tertawa.


"Astaga. Jadi Abang samperin kamu langsung di parkiran, begitu?"


Faraz mengangguk pelan dengan wajah memerah karena malu ketahuan sempat melamun dulu sebelum keluar dari mobil atau lebih tepatnya justru Erzhan yang datang menghampirinya.


"Aku mana tahu kalau Abang nekat ke parkiran sendirian," jelasnya semakin membuat Qiara penasaran sekaligus merasa ada yang tidak beres.


"Tunggu dulu. Tadi kamu bilang, Abang ke parkiran cuma sendiri?" tanya gadis itu tidak sabaran.


"Iya. Mana langsung minta bukain pintu mobil segala, tapi giliran di tanya ngga mau jawab. Cuma diam ajah terus sampai ketiduran," Faraz kesal jika teringat putranya hanya sendirian keluar dari Mall tanpa ada Sandra yang ikut menemani.


"Aku nanya dimana Sandra, tapi Abang ngga mau jawab." Sambungnya tidak habis pikir


Qiara paham. Jadi ini alasannya mengapa pria itu nekat membawa pulang Erzhan ke kediaman Rafindra setelah dia memberikan ijin.


"Jangan hubungi Sandra dulu!" cegah Faraz menyadari Mommy kesayangan putranya tersebut ingin meraih ponsel di atas meja.


"Tapi aku ngga terima Abang pulang dengan keadaan seperti itu," marah Qiara yang tidak senang melihat kondisi Erzhan.


"Ini semua salah aku. Coba ajah aku ngga maksa kamu dan Erzhan buat ajak Sandra pergi keluar jalan-jalan. Pasti kejadiannya ngga bakal kayak gini, pasti ada sesuatu yang terjadi."


"Aku ngga akan memaafkan Sandra jika dia menyakiti Abang seujung rambut pun," geram Qiara dengan tangan mengepal.


Namun, belum sempat Faraz angkat bicara. Ponsel di saku celananya bergetar pertanda ada sebuah pesan masuk, entah dari siapa.


Pria itu segera membuka aplikasi Room Chat dengan raut wajah sulit di artikan Qiara.


"Pesan dari siapa?" tanya gadis itu penasaran.


"Sandra," jawab Faraz seraya membuang nafas kasar.


"Apa yang dia katakan?"


Faraz menatap intens wajah khawatir Qiara dengan perasaan campur aduk.


"Sepertinya Abang nangis bukan karena Sandra, tapi kedatangan seseorang yang membawa paksa Sandra meninggalkan Abang di area tempat bermain."


"Abang pikir Mama nya sengaja pulang tanpa ia tahu, mungkin itu yang membuat Sandra akhirnya kembali lagi ke tempat bermain."

__ADS_1


"Tapi siapa yang berani maksa Sandra pergi dari sana?"


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2