Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 107 ~ Rencana Pernikahan


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Hampir jam 11 lewat tengah malam, akhirnya pesta ulang tahun perusahaan yang sengaja di buat terbuka untuk siapapun berakhir dengan aman dan pastinya tidak membuat semua tamu undangan pulang dengan perasaan kecewa. Sebab, orang yang mengadakan acara menyediakan souvenir untuk mereka bawah pulang.


Semua anggota keluarga Rafindra pulang belakangan, karena si bungsu yang merengek tidak mau pulang kecuali sang paman ikut bersama mereka.


"Ngga mau pulang, Uncle harus ikut pulang kalau gitu." Rengek Qiara masih betah bersembunyi di balik punggung Kenzo


"Mau ya, Uncle?" pintanya memohon dengan wajah sengaja di buat sesedih mungkin.


Di usia yang sebentar lagi menginjak 19 tahun bisa di bilang masih tahap lagi manja-manjanya, terlebih Qiara merupakan satu-satunya Tuan putri di keluarga besar Rafindra.


Meski sejak lahir hanya sekali merasakan pelukan hangat dari seorang ibu yang melahirkannya ke dunia, Qiara tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang dari anggota keluarga lainnya.


Tuan Rafin sangat melindungi putri bungsunya, terutama si kembar dan pastinya Tuan muda Kenzo yang ikut andil menyaksikan pertumbuhan Qiara hingga sekarang.


"Uncle Kenzo harus pulang ke rumahnya sendiri, Queen. Mana boleh ikut bersama kami," ucap Nyonya Ayshila gemas.


"Benar sayang, biarkan Uncle Kenzo pulang bersama Aunty Maira. OK?" sambung Tuan Rafin ingin mendekati sang putri namun belum apa-apa Qiara sudah mengamuk.


Kenzo yang pasrah akhirnya mengiyakan tanpa berpikir dua kali, meski kini terlihat raut wajah masam sang kekasih seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.


"Kamu berani ikut mereka pulang?" geram Maira penuh aura membunuh.


"Sabar sayang, lihat sendiri Queen ngga mau aku tinggal." Sahut Kenzo memelas seraya meminta pengertian kekasihnya


"Tapi aku ngga suka," protes si ibu hamil mulai sensitif.


Semua yang melihat kekesalan wanita cantik itu tampak hanya bisa membuang nafas kasar.


Tidak akan ada yang berhasil membujuk Qiara jika sudah menyangkut pria tampan yang kini berada di antara sang keponakan dan kekasihnya.


"Kalau ikut bersama ku mau?" ajak Kenzo mencari jalan tengah.


"Ngga mau, entar aku nya tetap kamu duakan." Jawab Maira ketus


"Terus maunya gimana?"


Sungguh Kenzo di buat pusing dengan situasi yang ia hadapi sekarang.


"Pulang bersama ku lah, memangnya apa lagi?" tanya Maira jengkel.


"Suruh anak nakal itu lepasin tangan kamu, sayang!" titahnya menatap tidak suka ke arah lengan milik sang kekasih masih di peluk erat Qiara.


Bukannya takut, gadis cantik itu justru semakin menempel di tubuh Kenzo. Alhasil perdebatan pun tidak terelakkan, membuat Tuan Rafin mau tidak mau turun tangan.


"Queen, ikut Papi pulang ya." Rayu pria itu berharap sang putri menurut


"Nanti kita beli ice cream," imbuhnya.


Qiara menggeleng kepala cepat sebagai tanda penolakan.


"Aunty jangan cemberut, kasihan loh. Entar Babynya ikut aku," kekehnya malah sengaja meledek.


"Kamu ..." geram Maira ingin sekali mencubit kedua pipi chubby keponakan cantik kekasihnya tersebut.

__ADS_1


"Aunty dengan Neta ajah ya, sekalian ada yang mau Neta omongin juga." Si gadis berparas bule yang sedari tadi hanya diam menyaksikan akhirnya buka suara


Maira tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk setuju.


"Kebetulan ada gosib baru," kekehnya yang tanpa pamit terlebih dahulu pada Kenzo langsung pergi begitu saja bersama Neta menuju lobi parkiran hotel.


"Aku di cuekin?" tanya Kenzo pada dirinya sendiri.


"Harap maklum Ken, namanya juga wanita. Kalau udah ketemu yang satu server pasti bawaannya ngegosib yang ada di otak mereka." Ucap Nyonya Ayshila tertawa


Drama rengekan Qiara akhirnya berakhir dengan pulangnya semua anggota keluarga Rafindra dengan Kenzo ikut bersama mereka.


Adapun Faraz dan si kecil tampan Erzhan memilih pulang ke kediaman Bramantya sesuai janji pria itu pada Tuan dan Nyonya besar Bramantya.


Kekhawatiran Tara akhirnya tidak terjadi, sebab pria tampan itu semenjak pesta berakhir tidak sejengkal pun meninggalkan Faraz walau sedetik.


"Tatapan macam apa itu?" seru Faraz menatap jengah ke arah samping kiri dimana Tara menghela nafas panjang seraya tersenyum.


"Kamu mikirin apa barusan?" tanyanya lagi begitu tidak sabaran.


"Ngga ada," jawab Tara singkat membuat sahabatnya kesal.


"Fokus jalan di depan!"


Faraz akhirnya fokus menyetir, sementara di bagian belakang ada Erzhan yang cekikikan lumayan kuat sampai mengundang rasa penasaran kedua pria tampan tersebut.


Si kecil yang asyik tertawa dengan kedua mata fokus melihat ke arah layar ponsel miliknya, tidak menyadari jika dirinya tengah di perhatikan.


Adanya sambungan vidio call dari si cantik Qiara beberapa menit yang lalu rupanya berhasil megembalikan mood Erzhan karena tidak suka melihat sang Mommy kesayangan lebih dekat dengan pria tampan lainnya.


Beruntungnya Qiara sangat pandai mengambil hati Erzhan, cukup merayunya dengan menjanjikan akan keluar jalan-jalan pada esok hari siapa yang bisa menolak.


Tara menyenggol lengan Faraz, bertanya lewat sorot mata yang hanya di jawab gelengan kepala tidak tahu oleh pria itu.


"Abang," panggilnya seraya tersenyum kecil.


Merasa ada yang memanggil, Erzhan sontak mengangkat wajahnya dengan senyum lebar.


"Lagi apa?" tanya pria itu setengah berbisik.


Bukannya menjawab, anak tampan itu justru memperlihatkan layar ponsel yang masih menampakkan sosok cantik dengan wajah di buat seseram mungkin.


"Aaaaa, hantu." Teriak Tara mengagetkan Faraz yang fokus menyetir


"Lo apa-apaan sih?" kesalnya menatap tajam ke arah sang sahabat.


Hampir saja Faraz menambrak pembatas jalan saking kagetnya ia tidak sengaja membanting stir ke arah sisi kanan jalan.


Beruntung suasana malam hari yang semakin gelap tidak banyak kendaraan berlalu lalang, jika tidak sudah pasti mereka akan mengalami yang namanya kecelakaan.


"Haha, paman Tara kenapa?" tawa Erzhan pecah mendapati raut wajah ketakutan pria tampan yang duduk di samping Daddy nya tersebut.


"Untung kita ngga sampai kecelakaan," sambungnya dengan tampang polos tidak berdosa.


Erzhan tanpa rasa bersalah semakin tertawa lepas, padahal ia sudah membuat kekacauan dan pastinya tidak baik untuk kesehatan jantung Tara.

__ADS_1


.


.


.


Sementara di tempat lain, atau lebih tepatnya sebuah mobil yang masih berada di jalan raya menuju kediaman Rafindra.


Tampak Qiara terkejut mendengar adanya keributan di seberang sana, dia yang melakukan vidio call dengan Erzhan tentu penasaran.


"Abang kenapa?" tanya gadis itu sedikit panik.


Di layar ponsel, terlihat Erzhan menggeleng kepalanya pelan.


[Ngga ada Mommy, itu paman Tara yang kelewatan parno lihat wajah Mommy barusan]


Qiara mengerutkan dahinya bingung.


"Astaga, jangan bilang Abang kasih lihat waktu Mommy kayak gini. Iya?" kekehnya tanpa rasa bersalah kembali memperlihatkan wajah seram ke arah layar ponsel dan itu berhasil membuat Tara semakin histeris karena takut.


Erzhan benar-benar mengarahkan lagi layar ponselnya ke arah Tara yang bukan hanya menjerit takut, melainkan hampir terjun keluar dari mobil dalam posisi berjalan lumayan cepat mengingat keadaan sekitar begitu sunyi.


Umpatan kasar akhirnya di layangkan Faraz karena terkejut bukan main, pria itu hampir saja menabrak pohon besar yang menjulang tinggi.


[Lo diam atau gue cekik!]


Suara bariton Faraz yang memekakkan telinga begitu nyaring.


[Aduh, Mommy. Entar ajah ya kita telfonan lagi, soalnya Daddy udah ngamuk]


Belum sempat Qiara menjawab, nyatanya sambungan vidio call sudah terputus.


"Uncle Kenzo kenapa tertawa?" tanya gadis itu bingung melihat sang paman masih tertawa.


"Tadi Erzhan kan?" tanya Kenzo balik.


Qiara mengangguk pelan.


"Kalau ngga salah, Daddy nya bernama Tuan Faraz. Benar?"


Lagi-lagi Qiara hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Wah, rupanya calon suami yang Uncle pikir belum ada pawangnya udah menikah."


"Maksud Uncle apa?" tanya gadis itu bingung.


"Siapa calon suami?" sosornya mulai tidak sabaran.


Kenzo yang merasa dirinya salah bicara pusing sendiri tidak tahu menjawab apa.


"Tuan muda Bramantya, rencana pernikahan kalian sudah di tetapkan."


Qiara syok mendengar jawaban yang keluar dari mulut Nyonya Ayshila.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2