Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
NEW BAB 12


__ADS_3

Kembali Dirman didatangi oleh Ningrum di kantornya untuk memaksa agar Dirman segera membawa putranya ke rumah utama.


Terjadi pertengkaran sengit antara Dirman dan Ningrum hingga membuat beberapa orang segera masuk dan melerai perdebatan sengit yang terjadi.


"Cukup, Ningrum. Berhenti membuat keributan. Kedatangan kita ke sini untuk bicara dengan baik-baik pada Dirman," peringat  Husein pada istrinya.


Sebagai suami dari Ningrum, Husein sangat tahu watak keras kepala istrinya. Andai saja waktu muda dulu sang istri tidak keras kepala menolak wanita yang menjadi pilihan Dirman, mungkin keluarga mereka tidak akan sesuram sekarang. 


"Mas, kamu berhenti membela anak kamu ini. Gara-gara dia, kita enggak bisa memiliki cucu," marah Ningrum, membuat Husein memejamkan matanya.


"Kamu selalu egois, Ningrum. Melemparkan kesalahan kamu pada orang lain termasuk anak kamu sendiri." Husain mengibas tangannya. Pria tua itu kemudian mengalihkan tatapannya pada Dirman. "Bagaimana? Kamu sudah bertemu dengan laki-laki yang merawat cucu papa?"


Dirman menghela napas sejenak kemudian ia meminta pada papanya untuk duduk di sofa yang tersedia dalam ruang kerjanya.


Tanpa kata, Husein memilih duduk diikuti oleh Ningrum.


"Aku sudah bertemu dengan Bima, suaminya Hera. Dia meminta waktu untuk berbicara pelan-pelan dengan  Argano."


"Kenapa harus meminta waktu? Kamu Papa kandungnya, Dirman. Kamu yang lebih berhak atas putra kamu sendiri," sela Ningrum tak terima.


"Aku hanya menyumbang spermaku, Ma. Enggak lebih. Bahkan, untuk merawat dan menafkahinya saja enggak pernah aku lakukan."  Dirman mengusap wajahnya frustrasi dengan semua tuntutan mamanya.


"Tetap saja kamu--"


"Cukup, Ningrum. Jangan berdebat lagi. Kita hanya perlu menunggu jawaban dari laki-laki bernama Bima itu." Husein berujar dengan tegas, membuat Ningrum mau tak mau mengalah.


"Maaf, Pak. Ada yang ingin bertemu."


Sekretaris Dirman melangkah masuk dan memberitahu jika ada yang ingin bertemu.


"Siapa?"


"Perempuan dan laki-laki. Mereka bernama Pak Bima Sanjaya dan ibu Arrania," jawab sang sekretaris.


Dirman menatap kedua orang tuanya. Pria itu tidak menyangka jika Bima akan mendatanginya.


"Minta mereka masuk," titah Dirman, dengan jantung berdebar.


Dirman terlihat cemas  dengan apa yang akan disampaikan Bima. Dirman takut jika  Bima bisa saja tidak mengizinkannya bertemu dengan putra kandungnya.


Tak lama kemudian pintu ruangan dibuka. Terlihat dua sosok pria dan wanita melangkah masuk dengan penuh percaya diri.


Ningrum, Husein, dan Dirman segera bangkit dari duduk mereka menatap dua orang yang baru saja masuk.


"Pak Bima, apa kabar?" Dirman mengulurkan tangannya yang disambut Bima. Begitu juga dengan Nia yang menyambut uluran tangan  Dirman dengan wajah tak terbaca.


"Perkenalkan, ini orangtua saya." Dirman memperkenalkan orang tuanya pada Bima dan wanita yang mengaku sebagai Nia. Dirman tidak tahu mengapa Bima justru membawa wanita lain, bukan Hera untuk membahas tentang pertemuan antara keluarga Dirman dan Arga.


"Saya Bima Sanjaya dan ini istri saya, Nia."


Dirman menatap Bima dan Nia terkejut. Tidak menyangka jika wanita yang dibawa Bima adalah istrinya. Lalu, di mana Hera? Batin Dirman bertanya-tanya.


"Istri kamu bukannya Hera? Kenapa namanya bisa diganti? Terus, wajahnya juga sangat berubah."  Ningrum menyampaikan keheranannya. Ningrum ingat sekali wajah perempuan yang dihamili oleh putranya meskipun mereka sudah lama tidak bertemu.


Mengingat usia Bima dan Dirman saat ini, mustahil jika  Ibu dari cucunya itu memiliki wajah semuda ini.


Dirman memberi pelototan pada mamanya untuk diam.  Pria itu tidak ingin mamanya memberi kesan yang tidak baik pada Bima dan istrinya.


"Saya, Nia. Bukan Hera." Nia berkata sambil tersenyum.


Wanita itu bersama suaminya duduk setelah dipersilakan oleh Dirman.  Setelah itu ia menindai satu-persatu wajah ketiga orang asing yang baru ia temui.

__ADS_1


Tadi malam Bima sudah menceritakan tentang ayah kandung Arga yang ingin menemui Arga.


Awalnya Nia sedikit terkejut dan takut jika Arga akan diambil. Namun, berpikir lagi, Arga sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya.  Nia juga tidak mau putra sulungnya itu tidak mengenal ayah kandungnya. Meskipun ia tidak suka dengan fakta jika Arga bukan anak kandung Bima karena berpikir jika sewaktu-waktu Arga bisa diambil oleh ayah kandungnya. Tapi, Nia tidak ingin egois tetap menyembunyikan semuanya dari Arga.


"Kedatangan saya kesini untuk membahas tentang Argano." Bima berujar tanpa basa-basi. "Ada beberapa syarat yang harus kalian penuhi kalau seandainya Arga mau bertemu dengan kalian."


"Kenapa harus pakai syarat segala? Kami adalah keluarga kandung Arga. Kami juga berhak atas dia," sela Ningrum tidak terima.


Hal itu tentu saja membuat Nia segera menatap wanita tua yang duduk di tengah-tengah anak dan suaminya.


"Ibu bahas soal hak. Bagaimana kalau kami membahas soal kewajiban?" Nia menatap Ningrum dengan sebelah alis terangkat. "Saya 'sih siap membuat rincian tentang kewajiban kalian yang berstatus sebagai keluarga kandung Arga." Tak lupa Nia menekan kata kandung  agar Ningrum sadar dengan apa yang dilakukan wanita itu di masa lalu.


"Ma."  Husein melirik tajam istrinya.


Ningrum akhirnya memilih diam setelah mendapat peringatan dari suaminya.


"Kembali lagi ke topik. Saya hanya meminta beberapa syarat kalau seandainya Arga setuju untuk menemui kalian," ulang Bima, menatap Dirman dengan tegas.


"Apa saja syarat yang harus kami penuhi?" Dirman menatap Bima.


Bima menghembuskan napasnya menatap Dirman dengan tegas. Ini harus ia lakukan demi kenyamanan Arga.


"Pertama, saya minta kalian enggak memaksa Arga untuk mengikuti semua aturan kalian."


Terjadi keheningan dan mereka mendengar dengan seksama apa yang akan diucapkan Bima pada mereka.


"Kedua, Arga bukan tipe anak yang bisa diatur. Saat ini dia ingin bergabung dengan band dan dia ingin menjadi penyanyi. Saya harap kalian mengizinkannya untuk menjadi penyanyi."


"Ketiga, biarkan dia melakukan apa pun selama itu masih dalam batas normal.  Saya enggak mau karena masalah keluarga dan tekanan sana-sini membuat dia tertekan."


Terjadi keheningan sejenak. Bima menatap satu-persatu anggota keluarga Dirman.


Ningrum menatap Husein dan Dirman.  Wanita itu sepertinya tidak setuju dengan syarat yang diberikan oleh Bima.  Menjadi penyanyi? Ningrum tentu saja tidak setuju.  Wanita paruh baya itu ingin cucunya bergabung dengan anggota parlemen ataupun pengusaha.


"Kami menyetujui syarat itu. Jadi, kapan kami bisa bertemu dengan cucu kami?" Husein berujar sambil menatap Bima. Tidak masalah jika ia harus menyetujui syarat yang diberikan oleh Bima. Husein sadar jika mereka tidak berhak untuk mengatur kehidupan cucu mereka yang akan mereka temui setelah 20 tahun.


"Hari Minggu saya akan mengatur pertemuan kalian," putus Bima diangguki Husein.


Setelah pertemuan dengan keluarga Dirman, Bima dan juga Nia akhirnya pamit untuk kembali ke kantor mereka.


"Aku benar-benar enggak habis pikir dengan watak wanita tua itu. Semaunya aja," gerutu Nia ketika mereka sudah ada di mobil.


Wanita itu duduk di samping suaminya yang sedang melajukan kendaraan yang mereka naiki menuju kantor Bima.


Sejak tadi Nia tidak berhenti untuk mengoceh tentang perlakuan wanita tua yang diketahui bernama Ningrum juga merupakan ibu dari Dirman.


"Sabar. Mami jangan marah-marah. Nanti cepat tua."  Bima melirik istrinya sekilas kemudian beralih menatap lurus ke depan.


"Meskipun aku tua, tapi enggak lebih tua dari Mas Bima," balas Nia tidak mau kalah.


Sementara Bima hanya terkekeh mendengar balasan dari istrinya yang tidak berhenti mengoceh. Sengaja Bima membawa Nia ke kantor Dirman untuk mengetahui situasi yang akan dihadapi Arga ketika nanti bergabung dengan keluarga Dirman. Nia dapat melihat sendiri bagaimana wanita tua yang tak lain adalah nenek Arga bersikap.


"Aku enggak yakin kalau Arga bisa menerima mereka dengan tangan terbuka," gumamnya masih terdengar oleh Bima. 


"Makanya kita berdoa semoga saja, Arga bisa menerima keluarga barunya nanti."


"Terus kalau mereka paksa untuk mengambil Arga dari kita bagaimana, Mas?"


Jujur saja meskipun Arga bukan putra kandungnya, tetap saja Nia tidak rela kalau putra sulungnya akan diambil keluarga kandungnya. Nia tidak ingin berpisah dengan Arga.  Cukup Jillo yang sudah menjauh dari mereka.


"Itu enggak mungkin, Sayang.  Arga tahu di mana rumahnya yang sebenarnya untuk pulang. Jadi, jangan takut kalau Arga akan meninggalkan kita." Tangan Bima terulur untuk mengusap kepala istrinya. "Nanti malam kita akan kasih tahu Arga pelan-pelan tentang situasinya saat ini. Semoga Arga enggak marah," ujar Bima yang mendapat anggukan Nia.

__ADS_1


Iya, semoga saja, tambah Nia.


____


Arga saat ini berada di sebuah label rekaman. Setelah melalui proses panjang akhirnya ia sudah menandatangani kontrak untuk menjadi penyanyi di band yang baru saja terbentuk.


Mereka beranggotakan enam orang. Di antaranya Bastian, Juno, Arga, Hans, dan terakhir Axel.


Kelima pemuda itu memiliki wajah yang tampan. Satu di antara kelimanya yakni Juno diam-diam ternyata sudah memiliki seorang Istri.


"Setelah ini kalian pada mau ke mana?" Bastian dengan wajah tirus dan alis tebal itu menatap satu persatu teman barunya yang kini sudah bersiap untuk pergi.


"Gue mau nemenin Tasya ke supermarket. Bini gue mau belanja keperluan dapur." Juno menjawab sambil memasang ransel di punggungnya.


"Memangnya bini lo enggak bisa jalan sendiri, Jun?"   Axel menatap teman barunya itu.


"Bisa aja dia pergi. Tapi, gue yang enggak  bisa biarin dia pergi sendiri."


"Hah? Kenapa memangnya?"


"Juno itu posesif. Bininya aja enggak boleh keluar rumah  kalau tanpa dia," jawab Hans sambil menatap teman-temannya.


Hans adalah teman dekat Juno sejak mereka masih SMA. Saat ini mereka sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas. Tentu saja mereka bersama istri Juno yang bernama Tasya. Juno sangat menjaga istrinya itu agar tidak digoda atau dilirik oleh laki-laki lain. Akan sangat menyeramkan ketika melihat laki-laki pendiam itu marah.


"Ya ampun, bisa juga ya lo posesif. Gue kira lo enggak punya pacar," celetuk Bastian menatap teman barunya itu geli.


"Namanya juga Juno." Hans terkekeh. Kemudian tatapan pemuda itu beralih pada Arga. "Lo sendiri mau ke mana, Ar?" tanyanya pada Arga. Sejak tadi temannya itu hanya diam menonton percakapan mereka.


"Gue mau pulang."


"Enggak nongkrong dulu? Ini masih siang kalau lo mau langsung pulang." Bastian menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kemudian beralih menatap Arga yang menggeleng pelan kepalanya.


"Gue enggak bisa. Nanti mami nyari gue. Kalau beliau tahu gue pulang telat, bisa-bisa jatah jajan gue berkurang 10 persen," jelas Arga santai.


"Woah, anak mami juga ternyata lo." Axel berseru heboh sambil bertepuk tangan. Tidak disangka jika di antara mereka berlima,  Arga merupakan anak mami.


"Anak mami dan anak mama." Arga tersenyum miring. Setelah itu ia pamit pada teman-temannya dan melangkah pergi menuju pelataran parkir di mana motor sport yang ia kendarai berada.


Arga sedang bersiap untuk naik ke motor ketika mendengar suara dering ponsel dari ponselnya.


Arga segera mengangkat telepon yang berasal dari Oma muda.


"Iya, Oma?"


"Argano, sudah pulang, Nak?"


"Lagi mau pulang, Oma. Kenapa?"


"Oma bisa minta tolong sama kamu, Nak? Jemput Onty Dera, ya? Dia lagi di kafe yang enggak jauh dari kampusnya. Kalau kamu enggak keberatan, ya, nak."


"Iya, Oma. Pulang dari sini aku langsung jemput Onty Dera. Onty udah tunggu aku?"


"Sudah, Nak. Tadi Oma sudah menghubunginya dan minta dia nunggu kamu."


"Oke, Oma. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Aku langsung jemput Onty Dera."


"Terimakasih, ya, cucu Oma."


"Sama-sama, Oma."


Setelah itu Arga mematikan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.  Pemuda itu langsung bergegas ke kafe yang dimaksud oleh Oma mudanya untuk menjemput sang bibi.

__ADS_1


__ADS_2