Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 114 ~ Foto


__ADS_3

๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di ruang tamu yang berukuran lumayan luas, sudah ada Qiara, Faraz, Sandra dan tidak lupa Adrian tengah duduk saling berhadapan dengan jarak lumayan dekat.


Ada sofa panjang di duduki Qiara dan Sandra, serta dua sofa single yang berdampingan di duduki Faraz juga Adrian tanpa saling tegur.


Mengingat kedua pria tampan itu belum meperkenalkan diri masing-masing sejak masuk ke dalam Apartement.


Sandra mau tidak mau langsung memperkenalkan sendiri adik tirinya itu pada Faraz dan Qiara, meski nyatanya tidak mengubah situasi yang mencekam di antara mereka.


"Kalian mau minum apa?" tanyanya kemudian.


"Air putih ajah," jawab Qiara dan Faraz bersamaan.


Adrian sampai tertawa melihat raut wajah terkejut keduanya.


"Ini kayaknya beneran jodoh dunia akhirat," kekehnya tanpa rasa bersalah ikut memuji kecantikan Qiara di hadapan Sandra yang hatinya langsung mencelos sakit.


"Kakak mu juga cantik, ngga baik loh muji wanita lain di depan kakak sendiri." Qiara menegur sikap Adrian yang menurutnya kurang sopan


"Ngga apa-apa, Qia. Memang kamu jauh lebih cantik dari aku," puji Sandra berusaha tersenyum walau terpaksa.


Melihatnya pun Faraz tidak mau, itu lah yang membuat Sandra begitu yakin akhir dari perjuangannya telah selesai.


Sandra telah kalah sejak awal menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh drama dan masalah, dia gagal mempertahankan pernikahannya.


Tidak ada yang menginginkan sebuah perpisahan yang berujung perceraian dan berdampak buruk terhadap orang lain terutama si kecil Erzhan.


Mungkin anak tampan itu akan merasa sedih bila suatu saat nanti menjelang dewasa lebih mengerti dan paham seperti apa masalah yang menimpa kedua orang tuanya.


Tidak ada yang menginginkan sebuah perceraian termasuk Sandra dan Faraz.


Keduanya sejak awal sepakat untuk bertahan meski nyatanya tetap harus berpisah demi kewarasan masing-masing.


.


.


.


"Menikahlah dengan Faraz," ucap Sandra dengan suara lantang tanpa adanya keraguan.


Baik Qiara, Faraz maupun Adrian menatapnya dengan raut wajah terkejut, apa yang barusan di katakan wanita itu benar adanya? Pikir mereka.


"Jangan menatap ku seperti itu, Faraz." Tegurnya pada sosok pria tampan yang kedua matanya sudah berkaca-kaca


"Aku tahu selama ini kamu hidup dalam tekanan ulah kedua orang tuaku, dan aku tahu semua yang tidak pernah kamu katakan. Padahal jelas aku bisa saja memilih untuk mundur saat kejadian dua tahun lalu."


"Tapi kenapa, hmm?"


Betapa sakit hati Sandra bila mengingat kembali insiden dua tahun lalu yang menyebabkan seorang wanita cantik tidak bersalah harus sampai kehilangan nyawa.

__ADS_1


"Kenapa dulu kamu diam saja di perlakukan seperti itu? Kamu justru lebih memilih bungkam seakan aku lah yang harus bertanggung jawab atas semuanya."


"Sakit. Rasanya sakit ketika bukan kita yang bersalah tapi rela menjadi umpan hanya demi sebuah pencapaian tidak ada hasilnya, sungguh miris rakdir hidup ku."


"Kenapa aku harus lahir dari keluarga yang serakah dan tamak, kenapa?" teriak Sandra menangis histeris.


Qiara langsung memeluk erat tubuh bergetar sahabatnya yang menangis, hatinya ikut merasakan sakit.


"Aku telah berdosa, Qia." Lirih Sandra menahan sesak dalam dadanya


"Dulu, aku mengira keputusan memiliki pria tampan yang aku cintai sangat mudah. Nyatanya aku salah besar, aku benar-benar menyesal."


"Aku--,"


"Sshtt, tenanglah. Hatiku sakit melihat kamu menangis seperti ini, tolong berhentilah!" mohon Qiara tanpa sadar cairan bening ikut jatuh membasahi kedua pipinya.


Adrian langsung keluar dari Apartement meninggalkan sang kakak yang masih menangis.


"Aku titip Kakak," pesannya pada Faraz sebelum menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.


Ia berteriak di dalam lift yang membawanya ke lantai paling atas. Meski lahir bukan dari rahim yang sama, bukan berarti hatinya tidak merasakan apa yang Sandra alami begitu menyakitkan.


Sepeninggalan Adrian, di dalam Apartement suasana ruang tamu semakin mencekam. Seiring tangisan Sandra dan Qiara saling bersahutan tanpa ada yang mau berhenti.


Faraz sendiri melihatnya bukan lagi kasihan, melainkan kesal. Sebab keduanya bagai tengah berlomba siapa yang paling lama menangis.


"Kalian bisa diam tidak?" teriaknya kesal sembari mengusap wajah kasar.


Sungguh telinganya sakit dan gatal.


"Jahat kamu," omel Qiara tidak senang di minta berhenti menangis.


"Ngga usah lebay."


Faraz hendak menuju arah dapur untuk minum.


"Ee, mau kemana kamu?" panik Sandra mencegah langkah suaminya tersebut.


Jangan sampai pria itu melihat beberapa foto yang sengaja dia letakkan di ruang tengah.


"Kamu kenapa lagi, sih? Aku mau minum, jadi minggir." Kesal Faraz ingin melangkahkan kakinya tapi kembali gagal


"Duduk ajah, biar aku yang ambilkan." Bukan Sandra yang bersuara melainkan Qiara


Sepertinya dia paham dengan situasi yang ada. Dan mau tidak mau Faraz akhirnya menurut, tidak lagi protes.


๐ŸŒน


Tebakan Qiara benar, alasan Sandra melarang Faraz ke dapur bukan karena wanita itu marah. Tetapi, untuk pergi ke dapur harus melewati ruang tengah dimana beberapa bingkai foto tertata rapih di dinding maupun tempat tertentu.


Ada foto pernikahan, foto keluarga, foto yang memperlihatkan keluarga kecil yang bahagia, foto bersama dan masih banyak lagi.

__ADS_1


"Sepertinya aku salah datang kemari," gumam Qiara lirih seraya memandangi foto dalam bingkai lumayan besar.


"Lihatlah, bahkan aku sendiri merasa paling berdosa nekat masuk di ruangan ini."


"Apa aku salah ya, datang kesini."


Qiara belum menyadari ada orang lain berdiri tepat di belakangnya.


"Aku bersalah pada sahabatku sendiri."


"Kamu tidak salah, jangan mengasihani takdir kurang beruntung sahabat mu ini." Ucap Sandra di balik punggung sahabatnya yang menangis


"Raa," panggil Qiara kaget.


Gadis itu tidak sadar, sejak masuk ke ruang tengah sengaja di ikuti Sandra dari belakang karena rasa penasaran.


"Hey, kamu sendiri yang memintaku agar berhenti menangis. Kenapa malah kamu yang gantian, sih?" heran Sandra berusaha terlihat baik-baik saja walau hatinya justru merasakan sakit luar biasa.


"Katanya mau ambilin air minum buat Faraz, sekarang mana airnya?"


Qiara tersenyum malu sembari menggigit bibir bawahnya.


"Lupa," jawabnya pelan.


"Kok bisa?" goda Sandra berhasil membuat kedua pipi sahabatnya itu memerah seperti tomat matang.


"Astaga Qiara, jangan bilang kamu penasaran dengan apa yang ada di ruangan ini?" tebaknya asal namun benar adanya.


Sandra tidak menyangka larangannya pada Faraz agar tidak ke dapur karena takut dengan reaksi pria itu jika melihat isi ruang tengah, justru di gantikan sahabatnya yang ternyata ikut di buat penasaran.


Padahal sebelumnya Qiara mengatakan ingin mengambil air minum untuk Faraz, bukan malah berada di ruang tengah dengan kedua matanya yang mengeluarkan cairan bening tanpa henti.


.


.


.


Faraz yang mulai gelisah karena rasa haus teramat menyiksa, dengan langkah panjang menyusul Qiara dan Sandra menuju arah dapur tanpa memikirkan reaksi kedua wanita itu bila melihatnya.


"Kenapa mereka lama sekali?" gumamnya kesal.


Baik Sandra maupun Qiara tidak menyadari kehadiran Faraz yang akan melewati ruang tengah, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


Faraz yang hendak bertanya setelah melihat Qiara lebih dulu malah tidak jadi, ia justru kaget mendapati puluhan foto yang menjadi alasan Sandra melarangnya sewaktu ingin ambil air minum.


"Jadi ini maksud kamu tidak mengijinkan aku pergi ke dapur?" tanyanya langsung.


"Kamu takut aku marah atau apa?"


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

__ADS_1


__ADS_2