
Qiara terlelap dalam pelukan hangat suaminya setelah puas mengeluarkan isi hatinya yang ternyata belum siap berhadapan langsung dengan wanita masa lalu pria kesayangannya.
Ada begitu banyak cerita yang gadis itu ketahui langsung dari mulut Faraz semakin menambah kekesalannya mengapa dulu tidak mencari tahu kehidupan Sandra yang merupakan sahabat terbaiknya itu.
Jika boleh meminta, Qiara justru menginginkan tidak akan pernah mau lagi bertemu apalagi melihat wanita itu apapun alasannya.
Faraz menghela nafas panjang, masih dalam posisi memeluk istrinya yang terlelap begitu nyenyaknya.
"Kalau lagi cemburu makin lucu," kekehnya pelan sembari mencium pucuk kepala wanita halalnya tersebut.
"Tunda ajah dulu ya pulang ke rumahnya, biar kamu ngga berpikiran macam-macam terus selama ada wanita itu."
Faraz tahu istrinya masih belum terbiasa dengan status baru mereka sekarang ini.
Itu sebabnya, demi menjaga kewarasan Qiara, akan jauh lebih baik liburan yang awalnya hanya perkiraan dua minggu saja, di tambah lagi seminggu agar ketika pulang ke rumah nanti sudah tidak ada sosok wanita cantik yang sengaja mereka hindari sampai pada waktu yang tepat.
.
.
Berbicara soal wanita cantik yang katanya tengah berada di kediaman utama Rafindra.
Rupanya sempat membuat semua anggota keluarga terkejut melihat kedatangannya yang begitu tiba-tiba, bahkan sekedar memberi kabar pun wanita itu tidak melakukannya.
Tuan Rafin dan Nyonya Ayshila hanya bisa saling pandang mendengar alasan kepulangan Sandra ke negara asal yang begitu memprihatinkan.
"Kamu rela balik lagi kesini hanya karena menerima kabar dari mereka yang pura-pura sakit parah?" tanya Nyonya Ayshila tidak habis pikir.
"Bahkan mereka rela berbohong demi membuat putri mereka pulang." Cebik Tuan Rafin kesal
Sandra tersenyum getir mengetahui fakta kedua orang tuanya hanya berbohong agar dia bisa kembali pulang ke negara asal.
"Mungkin aku perlu memutuskan komunikasi dengan mereka agar kelak tidak lagi merasa di bohongi seperti ini." Ucapnya lirih menahan sesak di dada
"Apakah hanya aku saja yang memendam rindu pada mereka?"
Nyonya Ayshila langsung memeluk Sandra penuh kasih sayang, merasa kasihan wanita itu menjadi korban atas kebohongan kedua orang tuanya yang kini tinggal jauh dari pusat kota.
"Sudahlah, anggap saja kepulangan kamu ada baiknya juga bisa ketemu Erzhan."
Sebagai seorang ibu yang juga memiliki putri cantik kesayangan, jelas Nyonya Ayshila memahami perasaan Sandra yang teramat merindukan Papa dan Mamanya.
__ADS_1
Akan tetapi, wanita cantik itu beserta anggota keluarga lainnya tidak bisa membantu apa-apa. Mengingat sudah ada perjanjian di antara mereka selaku pihak yang pernah di rugikan.
.
.
Meninggalkan Sandra yang memilih fokus menghabiskan waktu kepulangannya bersama Erzhan selama beberapa hari ke depan.
Kembali lagi ke pulau pribadi milik keluarga Rafindra.
Dimana pasangan suami istri yang baru pulang dari jalan-jalan menyusuri area pesisir pantai bersama Opa dan Oma.
Kini mereka tengah sibuk membuat kue di dapur tanpa bantuan pelayan, hanya di awasi Oma selaku pihak yang sengaja menguji keahlian sang cucu kesayangan.
Sudah ada Faraz dengan beberapa bahan untuk membuat kue, serta Qiara yang sibuk menyiapkan peralatannya.
"Mommy yakin mau buat kuenya?" tanya pria itu sedikit khawatir.
"Dulu bukannya kita pernah coba membuatnya tapi gagal kan?"
Qiara mendelik tidak suka kearah suami tampannya itu.
"Daddy ngga usah khawatir, aku sudah hapal takarannya."
"Semoga berhasil, kalau ngga. Bisa kena omel sama Nyonya besar." Kekeh Qiara sembari berbisik pelan
Akan tetapi, memang dasarnya indra penndegaran Oma sangat tajam, sudah pasti wanita baya itu mendengarnya.
Faraz maupun Qiara tertawa mendapati raut wajah masam Oma, karena mendengarkan obrolan mereka.
"Maaf Oma," seru pasangan suami istri tersebut bersamaan.
Melihat sang cucu kesayangan tampak bahagia, membuat hati Oma sangat lega.
Dulu wanita baya itu hampir setiap hari mendengarkan curhatan Qiara tanpa ada yang gadis itu sembunyikan.
Semoga kebahagiaan selalu menghampiri rumah tangga kalian berdua.
.
.
__ADS_1
Usai membuat kue yang hasilnya sangat memuaskan, terlebih melihat Oma dan Opa tampak menikmati hasil karya tangannya bersama suami tercinta.
Qiara langsung menuju lantai atas dimana kamar yang dia tempati bersama Faraz berada.
Rasa lelah dan gerah akibat seharian mengeluarkan banyak keringat, mulai dari jalan-jalan sampai berakhir di dapur.
Qiara ingin segera membersihkan diri agar segar dan harum sebelum akhirnya kembali turun ke lantai bawah mencari keberadaan Faraz yang pergi entah kemana usai membantunya.
Hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh lima menit, gadis itu keluar dari kamar lengkap dengan pakaian rumahan yang sopan.
Pikirannya langsung tertuju pada Faraz, berjalan terggesa-gesa keluar dari rumah mencari keberadaan suaminya tersebut.
Di halaman rumah tidak ada siapapun, mengingat Oma dan Opa sudah masuk ke dalam kamar untuk istrirahat.
"Daddy kemana sih?" gumamnya pelan sembari mengedarkan pandangan ke sembarang arah.
Faraz pergi tanpa memberitahu Qiara, itu sebabnya gadis itu sangat kesal bercampur khawatir terjadi sesuatu pada suaminya.
Tidak mau berpikiran negatif perihal hilangnya Faraz yang tidak tahu kemana perginya pria tampan itu, membuat Qiara berniat untuk menghubungi orang-orang kepercayaan keluarganya yang tersebar di setiap sudut pulau.
Namun, belum sempat gadis itu bergerak. Tiba-tiba dari arah pantai suara teriakan yang memanggil namanya lumayan kuat terdengar sampai Oma dan Opa yang baru saja keluar untuk menyusul sang cucu ikut tersentak kaget.
Qiara membulatkan kedua matanya dengan mulut menganga lebar, melihat penampilan suaminya yang selalu tampan. Kini berubah menjadi layaknya seperti nelayan dengan baju setengah robek di bagian lengan dan punggung.
"Mom, coba lihat apa yang aku bawa!" seru Faraz memperlihatkan beberapa ekor ikan hasil pancingannya dengan beberapa orang pria yang usianya mungkin seumuran Papi Rafin dan Papa Rasya.
"Aku di ajak memancing ikan di seberang sana."
Faraz langsung turun dari perahu setelah Qiara meminta ketiga pria yang membawa serta suami tampannya itu kembali ke rumah mereka sembari membawa hasil pancingan yang lumayan banyak.
Sungguh penampilan pria itu jauh dari kata baik-baik saja, membuat Qiara hanya bisa menghela nafas panjang.
"Daddy kalau mau ikutan mancing ikannya kenapa harus pakai baju yang modelannya kayak gini sih," gemasnya langsung membawa masuk Faraz melalui pintu samping rumah.
"Seru loh, Mom." Sahut pria itu dengan wajah bahagia
Qiara hanya diam, mulai menyiapkan air hangat yang bercampur dengan sabun serta aroma terapi untuk suaminya mandi, karena sudah bau amis ikan.
Semua di lakukan gadis itu, sampai akhirnya Faraz kembali tampan seperti semula. Tidak lagi memakai baju robek atau mengeluarkan aroma tidak sedap.
Pria tampan itu sangat menyukai apapun yang Qiara lakukan terhadap dirinya selama menikah.
__ADS_1
"Lama-lama sisi manja ku semakin besar, Mom."
๐๐๐๐๐