Istri Kedua Sang CEO

Istri Kedua Sang CEO
IKSC Bab 149


__ADS_3

Faraz baru sadar jika sedari awal ia masuk ke dalam rumah tidak memakai baju atasan, hanya celana panjang berbahan kain yang menempel di tubuhnya.


"Mom, baju aku mana?" tanyanya panik sembari berusaha menutupi tubuh bagian atasnya yang terpampang jelas.


Qiara merasa kasihan suaminya mulai tidak nyaman karena baju atasannya entah kemana.


"Sini Dad!" pintanya yang langsung di iyakan Faraz.


"Aku malu, Mom." Adu pria itu dengan wajah sudah bersembunyi di ceruk leher istrinya


Rasanya sangat malu ketika tubuhnya di lihat orang lain meski nyatanya hanya pasangan baya itu lah yang melihat Faraz tanpa atasan.


Qiara sengaja melepas kaos tipis yang melekat di tubuh kekar suaminya, karena tidak tega melihat pria tampan itu sudah banjir keringat.


"Daddy yang tenang ya, aku tadi sengaja lepas bajunya biar Daddy ngga keringatan mulu." Jelasnya dengan perlahan agar suaminya tidak salah paham dan berakhir merajuk


Faraz mengangkat sedikit wajahnya agar bisa melihat kedua manik mata sang istri apakah berbohong atau mengatakan yang sejujurnya.


"Benar ngga ada orang lain yang lihat kan?" tanyanya penuh selidik masih ragu akan penjelasan istri cantiknya itu.


"Ada yang lihat," jawab Qiara jujur apa adanya.


"Siapa?" Faraz tentu langsung panik.


"Hey, tentu saja Oma dan Opa. Memangnya Daddy pikir siapa lagi?"


Qiara sangat gemas melihat raut wajah panik suaminya itu, terlebih Faraz masih dalam keadaan tidak memakai atasan.


"Mommy jahat ih," kesal pria itu kembali menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang tertawa.


"Aku masih ngantuk," bisiknya pelan.


Qiara yang paham langsung meminta ijin pada Oma dan Opa.


"Qia sama Faraz mau ke kamar dulu ya, kalian boleh istrirahat." Pamitnya seraya meminta pria itu bangun terlebih dahulu


"Nanti, pas makan siang kami turun ke bawah."


Mereka langsung menuju arah tangga dengan berjalan beriringan sambil bergandengan tangan.


.


.


Tiba di lantai atas, Qiara mengajak Faraz masuk ke dalam kamar yang selalu tampak rapih dan bersih meski tidak pernah di tempati.


Faraz langsung merebahkan tubuhnya ke tengah ranjang, ia kembali merasakan kantuk luar biasa setelah merasakan pelukan dan usapan lembut dari istrinya.

__ADS_1


"Sini Mom, aku mau peluk." Pintanya pada Qiara yang langsung di iyakan


"Perasaan udah jam 10 loh, Dad. Masa iya ngantuknya belum hilang juga?" gemas gadis itu sudah berada di atas ranjang sembari memeluk suaminya yang matanya sudah tertutup rapat.


"Ngga tahu, tadi pas di peluk Mommy ngantuknya timbul lagi." Jawab Faraz mencari kenyamanan di dalam pelukan istrinya


Sungguh tidak ada yang bisa membuatnya senyaman ini, karena bersama dengan si mantan istri. Tidak pernah ada kedekatan yang terlalu jauh di antara mereka.


Faraz akan menjaga jarak, walau sudah ada Erzhan sebagai perantara.


Tetapi, bersama Qiara. Rasanya jelas berbeda jauh dan hanya gadis cantik itu yang paling tahu semua yang ada pada dirinya dan sang putra kesayangan.


Qiara memiliki tempat tertinggi di hati pasangan ayah dan anak tersebut, hingga rasanya tidak akan sanggup bila terpisah jarak walau kenyataannya mereka selalu bersama.


Menyadari Faraz sudah terlelap dengan nafas teratur, baru lah Qiara melepas pelukannya dari tubuh pria itu.


Masih banyak yang harus dia kerjakan, terutama menata semua barang yang mereka bawa untuk liburan selama dua minggu kedepan.


Jangan tanya bagaimana reaksi anggota keluarga mereka nanti, sebab Qiara sendiri bahkan tidak berani sekedar hanya membayangkannya saja.


"Pasti Mami dan Papi syok pas dengar kabar dari si kembar," kekeh gadis itu pelan.


"Terutama si Abang, duh. Maafkan Mommy ya ganteng, soalnya kalau ngga bawa Daddy kabur duluan. Takutnya Mommy khilaf bisa pukul orang."


Qiara mulai merapikan semua barang yang dia ambil di depan pintu kamar.


Sekitar satu jam lamanya, Qiara selesai merapikan isi lemari pakaian beserta kamar mandi yang airnya sudah siap untuk berendam.


"Daddy masih tidur," gumamnya pelan seraya mendekat kearah ranjang dimana Faraz tampak lelap seolah kebisingan beberapa waktu lalu tidak mengganggunya.


"Sayang, bangun yuk!" bisik Qiara tepat di telinga suaminya yang menggeliat pelan tanpa membuka mata.


"Ngantuk Mom," sahut Faraz bukannya bangun malah justru menarik tubuh langsing istrinya agar ikut berbaring.


"Bentar lagi makan siang, Dad."


"Hmm, lima menit."


Qiara tidak lagi mangatakan apa-apa, memilih ikut menutup matanya yang rasanya berat untuk di buka lebar.


Bukan tanpa alasan, Faraz sengaja membuat istrinya berbaring di atas ranjang. Ia tahu Qiara sangat lelah akibat membereskan barang mereka sendirian tanpa bantuan darinya sebagai seorang pria sekaligus suami.


"Aku tahu Mommy lelah," bisiknya pelan seraya mencium pucuk kepala sang istri penuh sayang.


"Makasih ya, udah culik aku sampai sini."


Faraz tertawa geli menyadari betapa nekatnya Qiara sewaktu membawanya ke pulau, tanpa ia sadar karena tertidur yang entah berapa lama.

__ADS_1


Bahkan ia baru terbangun ketika mereka sudah tiba di tempat tujuan. Parahnya lagi sempat beranggapan istrinya sengaja membuat ia tanpa atasan yang ternyata baru di lepas saat keringat membasahi tubuhnya.


Faraz mendadak malu dan salah tingkah, hanya karena aksi manjanya di lihat oleh pasangan baya tersebut.


"Makasih sayang," ucapnya pelan sembari mencium kening Qiara yang terlelap.


"Aku harap kamu sudah membalas perasaan ku, Raa."


Ia hanya berharap kelak istrinya sudah mau membuka hati dan lebih menyayanginya tanpa ada bayangan si mantan istri.


Sosok Sandra masih menjadi alasan Qiara mengapa belum siap untuk menjadi istri yang baik dan mau memenuhi kewajibannya.


Katanya gadis itu cemburu dan kesal bila teringat pada sahabatnya, padahal jelas Qiara tahu cerita yang sebenarnya dari mulut Faraz sendiri.


"Aku ngga mau tahu, liburan kali ini kita sekalian Honeymoon ya Mom?" kekeh Faraz merasa geli dengan ucapannya sendiri.


"Ngga kuat nahan lama-lama, aku nya sakit kepala terus." Keluhnya mulai mengeluarkan apa yang selama ini ia pendam


Qiara yang terlelap sudah pasti tidak bisa mendengarnya.


Akan tetapi, kalimat yang Faraz lontarkan selanjutnya ternyata di dengar istrinya.


"Kalau aku perkosa diam-diam halal ngga sih?" gumam Faraz dengan kedua mata fokus memperhatikan wajah cantik istrinya.


"Daddy mau perkosa aku?" sahut Qiara sembari mengangkat wajahnya agar bisa melihat suaminya yang terkejut.


"Barusan Daddy bilang mau perkosa aku diam-diam, iya?" ulangnya dengan sorot mata tajam penuh intimidasi kearah Faraz.


Pria itu menelan salivanya susah payah, mendadak lidahnya keluh sekedar menjawab pertanyaan dari istrinya tersebut.


"Mom," panggilnya berusaha mengalihkan pandangan namun kedua sisi wajahnya langsung di tahan Qiara.


"Daddy mulai nakal ya."


Tanpa aba-aba telinga Faraz sudah di gigit lumayan kuat, hingga terdengarlah suara jeritan minta ampun.


"Ampun Mom, sakit." Pekik pria itu meminta agar telinganya di lepaskan


"Aku cuma bercanda loh, sumpah."


Faraz merutuki kebodohannya beberapa waktu lalu.


"Bercanda ya," gemas Qiara sembari mengusap bagian yang terkena gigitannya berusan.


"Lain kali jangan asal bicara ya, aku ngga suka Dad."


Qiara hanya kaget walau dia tahu suaminya bercanda.

__ADS_1


๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2